Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
Roti sobek


__ADS_3

Hari ini, David benar-benar ingin meluangkan waktunya bersama sang istri. Ia sudah siap akan mengajak Sari jalan-jalan.


Sari keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Ia mengenakan kaos oblong putih dengan celana jeans selutut di tambah outer tanpa lengan berwarna biru dongker.


David yang sedang menunggu Sari dan duduk di tepi tempat tidur menatap lekat penampilan sang istri.


Sari tersenyum ke arah suaminya.


“Bagaimana? Bagus kan?” Tanya Sari seraya memutarkan tubuhnya di hadapan David.


“Aku seperti akan jalan dengan anak ABG.”


Sari melihat dirinya dari atas hingga ujung kaki.


“Masa sih? Ini tuh keren.” Ucap Sari lagi.


“Sini!” David memerintahkan Sari untuk lebih mendekat padanya.


Sari menurut dan berjalan menuju suaminya yang masih duduk di tepi tempat tidur. Ia berdiri persis di hadapan David tanpa jarak.


Tangan David meraih pinggang Sari.


“Apa tidak sesak memakai celana seperti ini?” Tanya David, sambil memegang bahan tebal celana jeans itu di pinggang dan perut Sari.


Sari menggeleng. “Perutku belum terlalu besar. Jadi masih nyaman untuk memakai ini.”


“Ganti dengan pakaian yang sudah aku belikan untukmu.” Kata David.


“Tapi pakaian yang kamu belikan itu semuanya dress, tidak ada model lain.” Rengek Sari.


“Bukankah pakaian seperti itu baik untuk ibu hamil? Kasihan dia akan merasa sesak di sini.” Kata David lagi, sambil mengelus perut sang istri.


Sari menyerah, dan menuruti kata suaminya. Ia membalikkan tubuhnya untuk kembali menuju kamar mandi.


“Mau kemana?” Tanya David, langsung mencekal tangan istrinya yang akan pergi.


“Ganti baju.”


“Di sini saja. Nanti aku ambilkan.” David nerdiri dan mengambil pakaian di dalam lemarinya.


Tak lama kemudian, ia kembali berdiri di hadapan Sari.

__ADS_1


“Ini, pakai!”


“Kamu keluar dulu sana!” Kata Sari yang akan membuka bajunya.


“Please beib. Aku sudah hafal bentuk tubuhmu. Ayo cepat ganti! Atau kita akan seharian berada di kamar saja. Itu lebih baik.” David tersenyum licik.


“Enggak.. Ish.. mesum.” Sari memukul dada David yang sudah tertawa.


Perlahan Sari membuka bajunya. Arah matanya terus memandang David kesal dengan bibir yang mengerucut.


“Dasar pemaksa.” Umpat Sari.


David hanya tersenyum melihat ekspresi istrinya, sambil menyilangkan kedua tangannya di dada dan duduk di tepi tempat tidur itu.


****


David membawa Sari menuju salah satu mall besar di Jakarta. Namun, sebelum itu ia memarkirkan mobilnya di sebuah butik yang menjual tas branded import, sepatu, sandal, dan aksesoris wanita lainnya.


“Mau apa kita ke sini?” Tanya Sari bingung.


“Sepatumu terlalu tinggi, cari yang tidak berhigh heels.” Jawab David santai.


“Ayo!”


Sari ikut turun dan melihat sandal yang ia kenakan.


“Kalau pakai sandal yang tidak berhigh heels, aku akan terlihat semakin pendek.” Rengek Sari, yang memang tinggi badannya sangat jauh dari David.


David merangkul sang istri. “Apa itu masalah?”


“Masalah, karena aku semakin malu jalan beriringan denganmu.”


David tertawa dan langsung meraih kepala Sari untuk menempel pada dadanya, sambil terus berjalan.


David dan Sari memasuki butik itu. Di sana terlihat agak ramai, meski bukan di hari libur. Ada sekelompok wanita sosialita paruh baya yang sedang berkumpul di sana.


David mencari sandal yang elegan dan cocok untuk sang istri. Sari pun demikian, ia ikut melihat-lihat barang-barang yang di diplay di sana.


“Wah..” Sari menutup mulutnya saat memegang slah satu sandal dengan harga sebelas juta lebih.


“Ini jalannya melayang kali ya.” Gumam Sari.

__ADS_1


Tiba-tiba, David menghampiri Sari.


“Ini. Ayo di coba!” David membawa sandal Hermes Aloha berwarna merah marun, di sesuaikan dengan warna dres pink yang Sari kenakan saat ini.


David menuntun Sari untuk duduk, sementara ia berjongkok persis di depannya. Ia membuka perlahan sandal high heel yang sedang Sari pakai, lalu di ganti dengan sandal pilihannya.


“Nah, seperti ini terlihat lebih nyaman dan tidak menyiksa.” Kata David menenggakkan kepalanya, setela selesai memakaikan sandal itu di kaki Sari.


Sari mencoba sandal itu.


"Iya, enak. Empuk lagi.” Ia berdiri dan berjalan sedikit.


Lalu, Sari duduk kembali dan melihat harga pada sandal itu.


“Ini harganya tidak salah?” Tanya Sari menganga, karena harga di sana tertera enam juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah.


‘Aku tidak mau. Modelnya biasa tapi harganya selangit.” Ucap Sari lagi sambil menyerahkan sandal yang David pilihkan.


David masih berjongkok, melihat sang istri yang memilih sendiri sandal yang terdisplay di sana.


“Aku mau ini aja.” Sari menunjuk sapasang sandal merk Havaianas dengan model jepit dengan satu tali menyilang di pagian tengah dan tali belakang.


David tersenyum melihat kepolosan istrinya, karena Sari malah lebih memilih sandal yang harganya jauh lebih murah dari sandal yang ia pilih.


Lalu, kembali David memakaikan sandal pilihan istrinya tadi.


Di seberang sana, banyak sepasang mata yang melihat adegan romantis David dan Sari. Mereka adalah sekelompok wanita sosialita paruh baya.


“Ya ampun, itu bule udah ganteng so sweet banget sama istrinya.” Kata salah satu wanita paruh baya sosialita itu.


“Eh jeng, itu bukannya calon istrinya Rama dulu ya?” Tanya salah satu wanita yang lain, yang masih satu kelompok itu.


Ya, ternyata sekelompok wanita sosialita paruh baya itu adalah Sofia dan teman-temannya. Sofia langsung melirik ke arah Sari dan David. Di sana terlihat adegan di mana David dengan lembut memakaikan Sari sandal sambil berjongkok. Seperti seorang pangeran yang memakaikan sepatu kacanya pada cinderella.


“Eh iya benar. Perempuan itu calon istrinya Rama. Pantas saja mereka tidak jadi menikah, Rama kalah saing rupanya.” Ledek salah satu teman sofia yang lain.


Sekelompok wanita paruh baya itu tertawa, kecuali Sofia. Teryata benar apa yang di katakan Ihsan. Sari telah menikahi pengusaha kaya yang tampan.


“Ganteng banget loh, Jeng. Lihat dadanya waw, roti sobek tuh pasti.” Ucap salah satu wanita yag lain lagi.


Sofia hanya bisa diam. Ia tak mampu menjawab celotehan teman-temannya. Ia hanya bisa melihat gadis yang selalu ia hina dengan sebutan ‘gadis kampung’ itu dengan mata tak berkedip. Kini Sari menjelma menjadi seorang putri, dengan balutan dress elegan dan aksesoris yang melekat pada tubuhnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2