Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
titik terang


__ADS_3

Sari masih berbincang dengan wanita paruh baya yang menolongnya itu. Elvira begitu friendly dan bersahabat, dari gaya bicara juga terlihat bahwa dia berpendidikan.


“Mommy El.” Paggil salah satu anak perempuan, sambil melambaikan tangannya ke arah Elvira dan Sari.


Elvira pun membalas lambaian tangan itu.


“Sari, Mommy pergi dulu ya, seperti anak-anak sudah puas bermain.” Ucap Elvira yang hendak beranjak dari kursi taman itu.


“Mommy..” Panggil Sari.


“Ya.” Elvira menoleh ke arah Sari.


“Apa setelah ini, kita masih bisa bertemu? Sungguh saya berterima kasih karena telah di tolong tadi. Apa jadinya jika mommy tak menahan lenganku, pasti tadi.. ah..” Sari tak kuasa melanjutkan perkataannya.


Elvira tersenyum dan menepuk pundak Sari.


“Pasti, kita bisa bertemu lagi. Kalau sempat datang saja ke panti asuhan Mommy di jalan Dharmawangsa 10 No 7, di sana terpampang nama panti asuhan Harapan Bangsa.”


“Baiklah, nanti saya akan segera ke sana. sekali lagi terima kasih mommy.” Sari memeluk tubuh wanita paruh baya itu.


Elvira pun membalasnya. “Sama-sama, Sayang. Lain kali jalannya hati-hati ya.”


Sari mengangguk dan tersenyum, saat pelukan mereka terlepas.


“Iya, Mom.”


Beberapa detik Elvira menghilang, David pun berjalan menghampiri sang istri. David memandang punggung sosok wanita paruh baya yang baru saja berbincang dengan istrinya.


“Kamu bicara dengan siapa?” Tanya David dengan membawa dua es krim di tangannya.


“Itu, tadi aku hampir terjatuh, untung ada ibu itu yang menolongku.”


“Jatuh? Di mana?” Tanya David panik.


“Di situ.” Sari menunjuk undakan tangga di sana.


“Aku tidak lihat di sana ada tangga, terus kakiku tereleset. Untung saja ibu tadi membantu menahan lenganku, kalau tidak aku tidak tahu apa yang terjadi.” Jawab Sari lirih.


“Kamu memang ceroboh, lain kali harus hat-hati.”


“Iya.”


David memberikan es krim untuk Sari.


“Wah enak.” Sari menerima es krim itu dengan mata berbinar.


Mereka duduk berdampingan dengan menikmati es krim, sambil melihat sekelilingnya. Elvira dan rombongan anak-anak kecil yang di bawanya sudah tak terlihat di sana.


“Mas..” Panggil Sari pada David.


“Ya.” David menoleh ke arah Sari.


“Boleh ya, nanti aku menemui ibu itu lagi sebagai ucapan terima kasih.”


“Kalian berkenalan? Jangan mudah percaya dengan orang yang baru di kenal.” Jawab David santai.

__ADS_1


“Iya, tadi kami berkenalan. Dia mengelola panti asuhan. Aku ingin mengunjungi sekalian memberikan sedikit hadiah untuk anak-anak panti asuhannya.” Ucap Sari antusias.


“Boleh, asalkan bawa Nina untuk menjagamu.”


“Siap, Bos.” Sari menjejerkan kelima jarinya di dahinya.


David tersenyum dan memandang lagi ke depan.


Jauh di seberang David dan Sari duduk, ada Rama yang juga duduk di sana. Rama duduk sendiri, sambil menikmati secangkir kopi latte di sebuah caffe dengan kaca besar berwarna bening, yang dapat melihat suasana taman itu.


****


Hari berjalan dan berganti. Sari berjalan di lorong apartemen itu. Sesekali ia menoleh ke belakang karena seperti ada orang yang membuntutinya.


Sari kembali menoleh ke belakang, tapi tak terlihat ada orang di sana. Ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju pintu apartemennya.


Rama bersembunyi di balik dinding, jika sari menoleh ke belakang. Hingga ia melihat Sari benar-benar menghilang di balik pintu apartemennya. Ia kembali menyandarkan tubuhnya di balik dinding itu.


“Bisa melihatmu saja, sudah membuat hatiku senang, Sar. Sungguh aku rindu ingin memelukmu.” Gumam Rama.


Setelah Sari menutup pintu apartemennya, ia bersandar di sana.


“Ibu kenapa?” Tanya Nina yang melihat sari terengah-engah.


“Ngga tau Nin, tadi seperti ada orang yang mengikutiku.” Jawab sari dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


“Perasaan ibu aja kali. Saya juga suka merasa seperti itu.” Ucap Nina berusaha menenangkan Sari.


“Iya mungkin, hanya perasaan aku saja.” Sari mengangguk dan masuk menuju dapur, merapihkan belanjaan yang ia beli.


Ponsel Sari berbunyi, tertera di sana nama Ardi melalui panggila video call.


Sari menekan tombol hijau, wajahnya pun langsung terlihat, begitu pun dengan wajah sang adik.


“Hai, mba ku yang cantik.” Sapa Ardi.


“Eh ada si lanang jelek.” Ardi mengerucutkan bibirnya.


“Udah di puji malah di balas mencela.” Ucap Ardi.


Sari nyengir, menampilkan jejeran giginya.


“Minggu depan jadi ke sini kan?” Tanya Sari.


“Justru ini Ardi mau kasih tahu, kami ndak jadi datang minggu depan, tapi minggu depannya lagi.”


“Loh kenapa?”


“Ardi mau ikut tes akpol dulu, Mba.”


“Lah kemarin bukannya kamu sudah ikut ujian bersama untuk masuk perguruan tinggi negeri.”


“Iya, tapi Ardi mau coba ini juga, terserah nanti di terimanya di mana. Mumpung ada rekemendasi mba, walau tetap dengan tes. Soalnya kata pakde Ghino, postur badan Ardi bagus.” Ucap Ardi jumawa.


“Uuuh... Gaya banget.”

__ADS_1


“Iya donk.” Ardi memegang kerah bajunya dengan bergaya cool.


“Mana ibu?” Tanya Sari, yang langsung menampilkan sosok Ratih.


“Ibu...” Teriak Sari yang sudah sangat merindukan ibunya.


“Nduk.. piye kabarmu?” Tanya Ratih dengan senyum.


“Baik, Bu. Padahal Sari sudah sangat rindu.”


“Sama, ibu juga. Habis mau bagaimana lagi, padahal ayahmu juga sudah mengajukan cuti untuk menemuimu di sana. Tapi demi masa depan Ardi.”


“Iya sih, masa depan Ardi juga penting, Bu.”


“Lah, iya. Sabar sedikit ya nduk, kami pasti menemuimu nanti.”


“Iya, Bu.”


Kemudian, di ponsel Sari menampilkan wajah ibu dan adiknya bersamaan.


“Mba Sari hanya bisa mendoakan kamu Ar, semoga dapat yag terbaik.”


Ardi menunjukkan ibu jarinya.


“Miss You.” Ucap Sari lagi.


“Gaya mentang-mentang punya suami bule, sekarang ngomongnya Miss You.” Ledek Ardi membuat Sari dan Ratih pun tertawa.


“Daahh..” Sari melambaikan tangannya.


“Jaga dirimu ya, Nak. Assalamualaikum.” Ucap Ratih.


“Waalaikumsalam.”


Panggilan video call itu terputus.


Tak lama kemudian, Sari menekan nomor “bule gila”.


Tut.. Tut.. Tut..


Sari menunggu panggilannya di angkat, tapi tak kunjung di angkat.


Akhirnya, Sari tidak jadi menelepon sang suami, ia hanya memberi pesan whatsapp.


“Mas, aku jadi ya ke panti asuhan Harapan Bangsa.”


Tak lama pesan itu di jawab.


“Maaf, sayang. Aku tak menjawab teleponmu karena sedang bertemu klien. Oke, hati-hati, aku kirim supir untukmu dan jangan lupa minta Nina untuk menemani.”


“Siap, bos.” Jawab Sari.


David tersenyum membaca balasan pesan dari istrinya. Kemudian ia pun kembali melakukan aktifitasnya.


Setelah itu, Sari dan Nina bergegas pergi. Sari meminta Nina untuk membawa beberapa kue yang baru saja ia beli tadi. Di jalan, ia pun menyempatkan diri untuk menepi ke sebuah restoran ayam krispy untuk di bagikan ke semua anak di sana.

__ADS_1


__ADS_2