Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
~bonus chapter 3~


__ADS_3

"Mas, aku mau di bawa kemana?" Tanya Sari dengan mata yang tertutup, di giring David menuju tempat yang sudah ia sediakan.


Sudah dua hari David berada di Bali bersama istri dan anaknya, di temani oleh Nina yang mengasuh Melvin, agar ketika David hanya ingin berdua saja dengan sang istri, Melvin ada yang menemani. Seperti malam ini, David membawa Sari menikmati deburan ombak dan angin malam, sambil menikmati makan malam romantis.


David sengaja mengajak sang istri berlibur di tengah usia kehamilannya yang menginjak tujuh bulan.


"Nah, sampai." Kata David.


Ia melepas kain yang menutup mata Sari. Sari pun langsung tergugu melihat keindahan dekorasi yang di buat sang suami. Ia terharu, menutup mulutnya dan tak sengaja mengeluarkan air mata.


"Hey, kenapa menangis? Aku membuat ini agar kamu bahagia."


"Mas." Sari memeluk suaminya.


"Aku bahagia, selalu bersamamu saja sudah membuatku bahagia, tidak perlu seperti ini."


David tersenyum. Ia beruntung memiliki istri yang tulus mencintainya seperti Sari.


"Tapi kamu suka?"


"Banget." Sari nyengir.


David kembali tertàwa.


"Aku senang, jika kamu senang." Ucap David.


Lalu, ia menarik kursi itu dan mendudukkan istrinya di sana.


"Kita makan dulu."


Sari mengangguk.


Tak lama kemudian, pelayanan menyiapkan makanan yang sudah David pesan ke meja itu.


"Waw.. makanannya banyak sekali, stamina untukku?"


David tertawa.


"Mengapa arah pembicaraanmu selalu ke sana, memang aku memberimu makanan bergizi hanya untuk agar kuat melayaniku?"


Sari tertawa. Pikirannya sudah korslet gara-gara setiap hari bersama bule gila ini.


David melayani sang istri dengan mengisi makanan ke dalam piring Sari.


"Kamu mau ini?" Tanya David menunjuk salah satu makanan di sana satu persatu.


Sari mengangguk. "Aku mau semuanya."


"Dasar gembul." Ledek David.


"Biarin, aku mau gendut. Aku mau lihat apa sikapmu berubah, jika aku gendut." Ucap Sari asal.


"Bukannya sekarang sudah gendut?" Tanya David, tetap dengan senyum meledek.


"Hmm.." Sari merengek dan melempar satu biji kacang almond ke arah suaminya.


David tertawa. "Tapi aku tetap seperti ini dan tidak berubah kan?"


"Aku lebih suka wanita berisi, lebih enak di pegang dan lebih kenyal, seperti squishi." Kata David lagi santai, sambil menyuap makanannya.


"Aaa.. nyebelin, ngomong sama kamu tentang ini, malah bikin aku esmosi. Ganti topik lain." Bibir Sari cemberut.


Sementara, David tetap mengulas senyum dengan bibir yang tetap mengunyah makanannya.


David memperhatikan Sari yang sedang memotong daging panggang.


"Bisa ngga?"


"Bisa, percuma dua tahun jadi istri bule, kalau makan beginian masih belum bisa."


Lagi-lagi David tertawa. Sari memang selalu membuat hari-harinya menyenangkan.


David langsung mengambil piring Sari dan memotong daging panggang itu menjadi kecil-kecil. Setelah selesai, ia pun memberikannya lagi pada Sari.


Sari nyengir, saat piring itu sudah ada di hadapannya lagi.


"Terima kasih, hubby."


"Hmm.." David pura-pura tak mendengar panggilan sayang Sari padanya.


****


Melvin yang kini berusia satu tahun dua bulan, sangatlah aktif dan energik. Terkadang Nina kuwalahan menjaganya.


"Capek, Sayang? Kita istirahat dulu." Ucap David yang mengajak anak dan istrinya ke sebuah pasar rakyat di Bali.

__ADS_1


Pasar itu di lengkapi dengan permainan anak, tembak-tembakan, baju pantai, dan lain-lain.


"Ngga kok, aku ngga capek." Kata Sari, yang memang senang berjalan kaki.


David menggendong Melvin. Anak itu merengek meminta naik biang lala. Namun, David yang tidak suka ketinggian itu, melarang putranya. Tapi Melvin tetap menangis dan tubuhnya menunjuk ke arah itu.


"Mas, kasihan. sana gih, naik. aku tunggu di sini."


David menarik nafasnya kasar.


"Aku tidak suka ketinggian."


"Loh, bukannya kamu sering naik gunung dan berpetualang dulu."


"Itu dulu, kalau sekarang aku lebih suka menaikimu."


"Mas.. seŕius." Sari memukul lengan suaminya berkali-kali.


David tertawa. "Sungguh."


"Mas, ih. jadi orang ngeselin, jawabannya selalu bikes."


"Apa tuh?"


"Bikin kesel."


Mereka pun tertawa. Sedangkan Melvin masih merengek.


"Ma.. Tu." Melvin terus menunjuk biang lala itu. Ia melihat hingga menengakkan kepalanya.


"Mas, kasihan itu Melvin. Sana gih, aku tunggu di sini." Kata Sari.


"Sudahlah, ajak dia ke tempat yang lain." Kata David yang tidak ingin meninggalkan Sari sendiri di bawah.


Memang bukan David yang tidak menyukai ketinggian, tapi ia tahu bahwa Sari takut ketinggian. Ia tahu istrinya tidak akan menaiki permainan itu.


David membawa Melvin ke area yang lain Area tembak-tembakan. Ia mengajak melvin memegang senjata api mainan dan Melvin pun langsung terdiam, lalu mengikuti arahan sang ayah.


"Mas, tembak yang itu, supaya dapat boneka besar ini." Kata Sari antusias.


David pun memegang senjata api mainan itu engan fokus dan membidiknya.


Duar


"Yeaay.. Kamu hebat Mas. Hebat." Sari memeluk tubuh kekar suaminya.


Lalu, ia meletakkan senjata api mainan itu dan tangan kirinya meraih bahu sang istri, sedangkan tangan kanannya masih menggendong Melvin.


"Wah, selamat. Ini boneka untuk tuan dan nyonya." Kata si pemilik permainan itu.


"Yeay.. aku bisa memeluk ini, jika kamu lagi sibuk di kantor dan pulang malam." Kata Sari sambil memeluk erat boneka teddy bear yang panjangnya 100 sentimeter itu.


"Kalau begitu balikin" David meraih boneka itu untuk di berikan kembali pada pemilik permainan tadi.


"Loh, kenapa?"


"Karena tidak boleh ada yang menggantikan posisiku, walau itu hanya sebuah boneka."


"Mas."


Lalu, David meletakkan boneka itu di meja tempat bermain tembakan tadi.


"Ih, Mas. Kok gitu."


"Udah, ayo pulang!" David memegang lengan Sari dan mengajaknya pergi dari tempat itu.


"Mas, kamu tuh lebay banget deh."


"Biarin."


David membuka pintu mobilnya dan meminta Sari untuk masuk. Ia pun meletakkan Melvin di pangkuan Sari. Malam ini, mereka meninggalkan Nina di hotel, karena gadis itu sedang sakit kepala.


Di sepanjang perjalanan, Sari diam dan hanya bercanda dengan Melvin yang duduk di pangkuannya.


"Hey, kamu marah." David mencolek bahu Sari yang duduk di sampingnya.


"Ck, apa sih colek colek."


David tersenyum.


"Maaf, ya udah, nanti aku belikan lagi."


"Tidak usah."


"Kalau marah, nanti aku minta tiga ronde." David menunjuk tiga jarinya ke atas.

__ADS_1


Sari membulatkan matanya. "Orang lagi marah, mana bisa melayani tiga ronde, satu ronde juga ogah."


David tertawa.


"Gemess.." David mencubit pipi Sari


****


Usia kehamilan Sari semakin besar dan sudah menginjak hampir sembilan bulan. David pun semakin bergairah melihat perut istrinya yang bulat. Di matanya, tubuh Sari yang sedang mengandung itu, terlihat lebih sexy dan meningkatkan libidonya.


"Sssss.." Sari meringis, ketika ia hendak bangun dari ranjangnya.


David yang masih berbaring di sebelah Sari pun ikit terbangun karena suara rintihan itu.


"Kenapa, Sayang? Ada yang sakit?" Tanya David sedikit panik.


"Mungkin keram saja."


David mengelus perut istrinya. "Maaf Sayang, aku terlalu bersemangat semalam."


"Sepertinya, kamu memang selalu bersemangat kalau untuk urusan ini." Ledek Sari.


David tersenyum.


"Mas, jadwalku melahirkan, jadinya kapan?"


"Dua minggu lagi, aku sengaja meminta tanggal yang bagus." Jawab David.


"1-8-18, bagus bukan?"


Sari tersenyum dan mengangguk.


Akhirnya, Sari melahirkan di negara ini, ia tak mau ketika David mengajaknya melahirkan di negaranya, karena menurut Sari di sini pun perlengkapannya sudah semakin canggih. Mereka pun menemukan treatment melahirkan dengan sedikit rasa sakit.


Dua minggu kemudian, jadwal Sari melahirkanpun tiba. David setia mendampingi sang istri di dalam ruang operasi. Sementara Teguh dan Ratih, berada di ruang tunggu.


Sejak menikah dengan Samuel, Elvira ikut dan tinggal di negara Sam. Ia menyerahkan panti asuhan itu untuk di kelola Teguh dan Ratih, dan empat bulan sekali ia akan melihat perkembangannya ke sini.


"Mas, aku takut." Kata Sari yang sudah berbaring di meja operasi.


David terus menggenngam tangan istrinya. "Ada aku di sini. Jangan takut, sayang."


David mengelus rambut Sari dengan lembut. Ia tahu betapa besar perjuangan menjadi seorang ibu. Ia sangat mencintai Sari dan semakin mencintai Sari, karena wanita ini rela dengan tulus melahirkan buah hatinya.


"Hey ingat waktu di Singapura, kamu memanggilku om, aku rindu di panggil itu." David terus mengoceh,mengajak Sari berbincang agar Sari lupa bahwa saat ini ia hendak akan di suntik.


Operasi pun tengah berlangsung dan David terus mengajak istrinya berbicara.


"Kamu tahu, apa yang membuatku semakin mencintaimu?" Tanya David, walau sesungguhnya ia sedih melihat istrinya terbaring lemah.


"Karena aku lucu dan selalu membuatmu tertawa." Jawab Sari.


David tertawa.


"Karena kamu baik, tulus, dan milikku hanya ingin bersarang pada milikmu."


"Hmm.." Rengek Sari.


Perkataan David sontak membuat petugas medis tersenyum geli.


"Mesum."


David kembali tertawa.


Selang beberapa detik, suara tangis lun terdengar.


"Ooee..Ooee..Ooee.."


David terharu dan mengucap syukur.


"Selamat Pak, bayi anda perempuan. Cantik sekali seperti ibunya." Kata dokter yang menangani proses persalinan itu, sambil menggendong bayi mungil David yang masih berlumuran darah.


"Sayang, puteri kita, cantik sepertimu." Bisik David menunjukkan puterinya pada Sari yang terbaring lemah.


Sari tersenyum. "Alhamdulillah."


"Terima kasih, Sayang." David mencium seluruh wajah Sari.


Lalu, menggendong bayi itu setelah di bersihkan. perlahan, David mengadzankan puterinya tepat di telinga bayi mungil itu.


_____________________________________________


Hai cinta,, kisah Malik Angel dengan judul Melanggar Janji sudah rilis, bisa klik di profilku. Sesuai janjiku sebelumnya 10 bab pertama, InsyaAllah setiap hari up 2 sampe 3 bab hehehehe


Luv U 😘😘

__ADS_1


__ADS_2