
“Mimi, aku ingin tidur dengan Melvin,” ucap Maher pada sang ibu.
Inka mengangguk. “Iya, Sayang.”
“Mama, Melvin tidur sama abang maher ya,” Melvin menampilkan wajah yang lucu pada sang ibu.
Sari juga mengangguk. “Iya, Sayang.”
“Hore ...” teriak Melvin, yang langsung di gandeng bahunya oleh Maher.
Melvin dan Maher terlihat sangat akrab walau beda usia. Maher yang sangat menginginkan adik laki-laki pun sangat senang dengan Melvin. Sayangnya, ia hanya memiliki adik perempuan yang merupakan kembarannya itu.
Mahira pun ingin memiliki adik perempuan yang bisa ia ajak untuk bermain boneka. Oleh karena itu, ia pun terlihat ngemong pada Quinza.
“Pipi, kalau Mimi boleh ga, malam ini tidur sama Sari,” Inka memeluk Mario dan mengelus dadanya.
“Pa, Mama juga boleh ya, malam ini tidur bareng Miss Inka,” ucap Sari.
David dan Mario saling berpandangan. Apa yang mereka takutkan kini terjadi lagi. Oleh sebab itu, mereka enggan untuk ngedate bersama, karena mereka yakin akan ditinggalkan oleh sang istri karena Inka dan Sari memilih tidur bersama dan meninggalkan para suaminya di kaamr sendirian.
“Terserah,” jawab David pada Sari. Lalu, ia jalan menuju kamar.
“Pa, jangan nagmbek!” kata Sari mengikuti langkah suaminya.
“Ngga,” jawab David santai sembari tetap melangkahkan kakinya menuju kamar mereka yang telah disiapkan Mario.
Sementara, Mahira dan Quinza masih asyik main bersama di ruang keluarga. sedangkan, Maher dan Melvin sudah berada di kamar Maher.
“Ck, Mi. Tega banget sih. Masa Pipi tidur sendirian lagi. Gini kan kalo ngedate bareng sari,” ucap Mario lesu.
Mereka maih berada di teras belakang.
Inka tertawa. “Cuma semalem doang kok, Pi. Sari aja diizinin.”
“David juga terpaksa ngizininnya,” sahut Mario.
Inka tersenyum. “Pipi ganteng deh.”
“Ck, kalau itu emang dari dulu.” Mario berdiri dan hendak menginggalkan Inka.
“Pi,” panggil Inka manja dan mengikuti langkah kaki suaminya.
“Pi,” panggil Inka lagi dengan menarik ujung kaos Mario.
“Apa?” Mario menoleh ke arah sang istri.
“Aku tidur di kamar Mahira bareng Sari dan Quinza. Please, cuma malam ini. kami masih ingin ngobrol.”
“Terserah,” ucap Mario dan tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Ia pun melewati Mahira yang masih bermain dengan Quinza.
“Sayang, kamu belum ngantuk?” tanya Mario pada putrinya.
“Quin juga belum ngantuk?” tanya Mario pada putri David.
“Belum.” Mahira dan Quinza menjawab bersamaan. Di iringi gelengan kepala dari Quinza yang imut.
“Sudah malam, Sayang. besok mainnya dilanjutkan lagi,” ucap David yang tiba-tiba juga ada di ruangan itu.
“Eh, kirain uah tidur lu,” sapa Mario pada David.
“Ngga bisa lah, apalagi tuh minta tidur sama bini lu.”
Mario tertawa. “Sama dong.”
“Ya, biarlah, biar mereka seneng,” sahut David.
__ADS_1
“Ayo, sayang kita tidur.” Sari mengajak putrinya untuk tidur, diirngi suara Inka yang mengajak putrinya ke kamarnya.
“Ya udah, kita ngobrol aja di sini, Dav,” kata Mario.
David mengangguk. “Setuju.”
“Maaf ya, Pa.” Sari mengedipkan satu matanya ke arah David.
Inka pun mengikuti. “Semalam aja kok, Pi.”
“Ya.” David dan Mario menjawab bersamaan.
“Ish, kompak banget sih mereka.” Sari tertawa pada Inka, seembari bersama melangkahkan kaki mereka menuju kamar Mahira yang cukup luas.
Di ruang televisi, Mario dan David duduk dan berbincang. David mengerlingkan pandangannya, sementara Mario menyetel film Fast and Furious 8, seperti persahabatan mereka berlima yang memang juga menyukai balap mobil.
“Yo, lu masih suka minum?” tanya David, ketika pandangannya tertuju pada v*dka merah yang ada di lemari mini bar yang terlihat dari ruangan itu.
“Cuma koleksi doang, minum mah udah ga pernah sama sekali.”
“Takut sama bini,” ledek David.
Mario tertawa. “Lu juga.”
David ikut tertawa. Mereka menengadahkan kepala pada penyangga sofa.
“Ternyata wanita bisa merubah kita, pria ga jelas,” ucap Mario.
“That’s right. Dan, sialnya wanita kita juga sangat dekat,” ujar David.
“Karena lu, selalu suka cewek yang gue suka,” kesal Mario, jika ingat saat David ingin memiliki istrinya.
David tertawa. “Karena gue akui, selera lu bagus, Bro.”
“Ah, si*l.” Mario tertawa.
“Minum, Bro,” David menunjuk botol yang terpanjang di lemari itu.
David kembali tertawa. “Dulu, kita tidak pernah takut apapun. Eh sekarang, malah takutnya sama wanita.”
Mario juga ikut tertawa. “Begitulah pria, jika sudah mencintai, akan menuruti apapun yang wanita itu inginkan.”
“Setuju.” David menunjuk ke arah Mario.
Di dalam kamar Mahira, Sari dan Inka masih belum tidur. Walau, putri-putri mereka sudah terlelap, karena sembari berbincang, Sari dan Inka menepuk bok*ong kedua putri mereka pelan agar segera terlelap.
Mereka mendengar suara tawa Mario dan David di luar sana.
“Mereka ngapain sih, sampe ketawa gitu?” tanya Inka pada Sari dengan suara berbisik, agar putri mereka tidak terbangun.
“Paling lagi nostalgia, ngomongin mantan-mantan pacarnya yang pernah mereka kencani,” jawab Sari asal.
“Masa’ sih? Wah ga beres dong.”
“Cemburu, Miss?” tanya Sari pada Inka.
“Emang kamu ngga cemburu?” Inka balik bertanya pada Sari.
Sari menggeleng. “Ngapain, nanti dia gede kepala, kalau cuek jadinya kan dia yang keblingsatan.”
“Dasar kamu, Sar.” Inka tertawa menukul pelan lengan Sari.
Setelah beberapa menit. Suara David dan Mario masih terdengar tertawa beberapa kali, malah terkadang tawa Mario menggelegar.
“Miss, mau kemana?” tanya Sari pada Inka yang sudah menurunkan perlahan kakinya ke lantai.
“Haus, Sar. Aku mau keluar ambil minum. Sekalian pengen lihat, mereka itu ngapain sih,” jawab Inka yang keypo dengan kegiatan kedua pria di luar sana.
__ADS_1
“Ikut,” sahut Sari, yang juga perlahan bangkit dan menurunkan kakinya dari atas tempat tidur itu.
“Ck, itu gaya lu pas sama Catty,” ucap David
Ia tertawa, saat mengingat kejahilannya pada wanita yang sering ia dan Mario gunakan sewaktu masih kuliah di tempat kelahiran David.
“Ah, geli gue kalau inget itu,” ucap Mario.
“Gila, tapi kenapa mau?”
“Terpaksa.”
Mario dan David tertawa lagi. Sari benar, ternyata mereka tengah bernostalgia dengan wanita-wanita yang pernah mereka tiduri dulu. Walau saat ini, mereka pun geli sendiri dengan kelakuan buruk itu.
Inka dan Sari keluar dari kamar dan mendapati para suami sedang menonton film blue. Ternyata, mereka tak lagi menonton film Vin Diesel lagi.
“Ya ampun, lihat Miss, kelakuan mereka tuh.” Sari menunjuk televisi besar itu.
Di sana terlhat adegan syur empa orang dengan dua laki-laki dan dua wanita. Mereka melakukan aktifitas panas bersamaan.
“ish, gila! Nanti kalau anak-anak ada yang bangun dan keluar kamar gimana?” kata Inka kesal pada kedua pria yang asyik tertawa dan menonton itu.
“Emang, kelakuan mereka tuh ya. Udah tua mesumnya masih ga ilang-ilang,” ucap sari membuat Inka tertawa.
“Grebek aja yuk!” kata Inka menarik lengan Sari.
“Yo, double s*x seperti itu, Yuk! Ajak David tak bersungguh-sungguh. Ia hanya mengetes sejaiuh mana kegilaan Mario kini.
“Gila! Ngga lah. Gue ngga segila lu.”
“Gue juga ngga segila itu juga kali.”
“Terus kenapa nawarin?” tanya Mario.
“Ngetes lu doang.”
Keduanya tertawa dan menggelengkan kepala. Ternyata mereka akhirnya kembali waras, setelah dahulu kewarasan mereka hampir hilang. Untung saja ada wanita yang mau dengan ikhlas dan penuh cinta membuat kewarasan itu kembali pada tempatnya.
Inka dan Sari bertolak pinggang di depan televisi, membuat kedua pria itu pun berhenti tertawa.
“Bagus ya, ga tau apa kalau di sini ada anak-anak. Kalau mereka bangun terus liat kelakuan Daddy nya seperti ini, gimana coba?” kata Inka.
Sari mengangguk. “Bener banget. Udah ketawanya kenceng banget lagi. Bikin orang ga bisa tidur.”
Inka ikut mengangguk. “Iya.’
Kedua wanita itu menatap suaminya masing-masing sambil cemberut.
David dan Mario mengeryitkan dahi dan saling bertatapan. Mereka pun tersenyum, lalu berlari menuju istrinya masing-masing.
Mario membopong Inka seperti karung beras. David pun melakukan yang sama.
“Aaah..” Sari dan Inka sedikti berteriak kaget karena, suami mereka melakukan itu dengan tiba-tiba.
Kemudian, Mario dan David membawa istri mereka ke akamr masing-masing untuk melakukan adegan yang ia tonton tadi. Mereka pun berlari menuju kamarnya.
“Kak, Tivi nya belum di matiin.” Inka menunjuk pada televisi yang masih menyala.
‘Oh iya.” Mario menepuk jidat dan kembali ke arah itu untuk mengambil remot sembari memanggul Inka di bahu kanannya.
“Gue duluan, Bro.” David melambaikan tangannya pada Mario sambil tertawa.
“Kurang ajar, dia duluan,” sungut Mario yang langsung mematikan televisi dan berlari ke kamarnya.
Malam ini, Sari dan Inka tidak jadi tidur bersama, karena kemesuman suami mereka yang tidak pernah bisa ditinggalkan, walau hanya satu malam.
**********
__ADS_1
Setelah ini, mampir ke karya baruku yuks say,, dijamin ngga kalah seru.