
“Hai, Ram.” Sapa Rudy, sang paman kepada Rama, di lobby kantornya saat jam makan siang.
“Maaf, Om. Rama mengganggu waktu, Om.”
“Ah, tidak. Kalau pekerjaan memang tidak ada habisnya. Om Rudy sampai jarang sekali berkunjung ke rumahmu.”
“Tidak apa, Om. Memang semua punya urusan masing-masing.” Jawab Rama, yang memang selalu dia dan sang ibu yang berkunjung kerumah adik dari almarhum ayahnya itu.
“Bagaimana? Apa yang bisa Om bisa bantu?” Tanya Rudy yang tahu akan maksud kedatangan keponakannya ini.
“Begini, Om. Saya ingin meminta tolong lagi, tolong lamarkan saya.”
“Akhirnya kamu move on juga, Ram.”
Rama terenyum dan mengangguk pelan.
“Siapa wanita itu?” Tanya Rudy.
“Om, pasti kenal.”
“Oh, ya?”
“Iya, dia itu anak bungsu Om Surya.”
“Apa?” Rudy terkejut.
Ia sangat mengenal persahabatan antara Surya dan almarhum kakaknya. Ia juga berterima kasih pada Surya, karena telah banyak membantu keluarga Rama, di tengah dirinya yang tidak bisa membantu banyak karena gajinya yang hanya cukup untuk membiayai keluarganya sendiri.
“Kok bisa? Wah Om banyak ketinggalan berita nih.”
“Ceritanya panjang, Om. Tapi yang penting saya ingin secepatnya menjadi suami Melisa.”
“Baiklah. Om akan siap untuk menjadi walimu. Kapanpun itu.” Rudy menepuk bahu Rama.
“Terima kasih, Om.” Rama memeluk sang paman dan berjalan menuju kantin.
Mereka bercengkrama santai, sambil menikmati makan siang di kantin kantor Rudy.
****
Kali ini, Rama bernar-benar bersunguh-sungguh untuk bertanggung jawab pada Edrick dan menebus kesalahannya pada Melisa.
Dret.. dret.. dret..
Ponsel Melisa berdering, tertera nama “Melinda” pada layar ponselnya. Melisa, meraih ponsenya dan menekan tombol hijau.
“Halo.”
“Dek. Kamu jahat banget sih.” Ucap Melinda langsung menembak sang adik.
“Jahat kenapa?” Tanya Melisa bingung.
“Bilang katanya ngga kenal Rama, baru kakak kenalin kamu sama dia sekali, masa’ dia udah langsung terpesona sama kamu.”
“Maksudnya?’ Melisa semakin bingung.
“Si Rama itu gentle banget, semalam dia datang dengan om Rudy meminta kamu untuk jadi istrinya. Ternyata sebelumnya kalian pernah bertemu di Bali. Dia udah lama ngincer kamu tapi kamunya cuek. Hmm.. pantesan waktu di pengadialn kamu sok cool gitu. Di ajak salaman ngga mau. Ih ngegemesin deh, kamu Dek.”
“Apan sih, Kak. Aku beneran ngga ngerti.” Kata Melisa lagi.
“Pokoknya kita semua udah tau cerita kamu dan Rama. Papa juga sudah merestui, malah Papa seneng banget, kamu di lamar Rama. Kita semua mendukung dan bahagia dengan kabar ini, Dek.” Melinda terus berbicara.
__ADS_1
“Mau tidak mau, kamu harus mau, karena Papa sudah menerima lamaran Rama.” Kata Melinda lagi.
Melisa mengeryitkan dahinya.
“Rese banget itu cowok.” Gumam Melisa.
“Kamu ngomong apa, Dek?” Tanya Melinda dari sambungan telepon itu yang tak mendengar jelas gumaman Melisa tadi.
“Ngga, Kak. Ngga apa-apa. Ya udah kakak kerja lagi, aku juga masih ada urusan.”
Melisa menutup sambungan telepon itu. Ia bergegas pergi dan menuju kantor pengacara itu.
Melisa mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ia kesal dengan Rama, ia ingin segera menemui pria brengsek itu.
Setengah jam kemudian, ia sampai di kantor lawyer itu. Dengan cepat, ia membuka pintu lobby dan menerobos masuk.
“Maaf, Bu. Ingin bertemu siapa?” Tanya resepsionis itu.
“Pak Rama, Rama Adhitya.” Jawab Melisa.
“Oh, sebentar.” Resepsionis itu menelepon Rama untuk memberi tahu.
“Maaf, Bu. Dengan Ibu siapa?” Tanya resepsionis itu pada Melisa.
“Melisa.”
Resepsionis itu mengangguk dan menyebut kembali nama itu pada sambungan telepon yang masih ia pegang.
“Silahkan , Bu. Saya antar ke ruang Pak Rama.” Kata resepsionis itu lagi.
Tok.. Tok.. Tok..
Resepsionis itu mengetuk pintu ruangan Rama dan membukanya setelah mendapat perintah.
“Terima kasih.” Ucap Melisa masih dengan raut wajah yang dingin.
Rama tersenyum dan brdiri dari duduknya untuk menghampiri ibu dari anaknya ini.
“Apa maksudmu?” Tanya Melisa marah.
“Apa?” Rama mengerdikkan bahunya.
Melisa mendorong dada Rama. “Dasar pria brengsek, apa maksudmu datang ke keluargaku dan memintaku untuk jadi istrimu?”
“Karena kamu ibu dari anakku. Aku akan bertanggung jawab pada kalian. Walau seharusnya hal ini aku lakukan sejak dulu, harusnya hal ini aku lakukan sebelum anak kita lahir, harusnya kamu datang menemuiku dan meminta pertanggung jawaban padaku bukan pada orang lain.”
“Apa kamu akan percaya, jika aku datang padamu dulu? Sementara kamu tau aku bukan wanita baik-baik.” Jawab Melisa, membuat Rama terdiam.
“Setidaknya, aku tidak akan mengecewakan putri dari seseorang yang telah berjasa dalam hidupku.”
“Oh, jadi kamu mau bertanggung jawab padaku karena apa yang sudah papa lakukan padamu dan keluargamu?” Tanya Melisa sewot.
“Kamu tidak perlu repot-repot, tuan Rama yang terhormat. Aku bisa membiayai anakmu sendiri, aku bisa hidup tanpa tanggung jawabmu, dan aku tidak perlu rasa bersalahmu.” Ucap Melisa penuh penekanan, lalu membalikkan tubuhnya untuk pergi.
Berlama-lama di sini membuatnya muak.
Dengan cepat, Rama mencekal tangan Melisa.
“Ini bukan hanya tanggung jawab untukmu, tapi untukku. Aku ingin menjadi ayah yang baik untuk Edrick. Walau saat ini dia belum membutuhkannya, tapi nanti dia akan membutuhkannya, dia akan butuh figur seorang ayah.”
“Tolonglah, Mel.” Rama Menarik nafasnya panjang dan membuangnya kasar.
__ADS_1
“Ini bukan hanya tentang kita, tapi tentang Edrick dan masa depannya. Ketika dia mulai bersekolah, dia akan membutuhkan kartu keluarga yang tertera nama ayah dan ibunya. Kamu tidak bisa egois.” Ucap Rama lagi.
Melisa terdiam. Benar, saat ini memang Edrick tak membutuhkan Rama, tapi ketika anak itu mulai besar dan merasa berbeda dengan yang lain, pasti dia akan sedih dan kecewa.
“Ayolah, Mel. Menikahlah denganku. Walau ini terlambat, tapi tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik.”
Melisa menatap wajah Rama dengan intens, begitu pun Rama. Mereka saling memandang lama.
“Kami telah menetapkan hari pernikahan kita, aku pun sudah mendaftarkannya di KUA, semua surat sudah lengkap.”
“Hah, secepat itu?” Tanya Melisa.
“Ya, dua minggu lagi, kita menikah. Semua hal, sudah di siapkan oleh ibuku dan kakakku, juga ibu dan kakakmu.”
Melisa tersenyum kecut.
“Kalian mengambil keputusan sendiri tanpa memberitahuku?”
“Hah..” Melisa semakin kesal.
Rama menunduk. “Maaf.”
“Apa papa tau semua tentang yang kita lakukan di Bali? Tentang Edrick adalah anakmu?”
Rama menggeleng. “Tidak, aku tidak menceritakan sedetail itu.”
“Aku yakin kamu tidak akan berani.”
“Aku berani untuk mengakui itu pada Om Surya, tapi tidak sekarang. Karena yang terpenting sekarang adalah menikahimu dulu.”
“Dasar licik.” Melisa memutar tangannya agar cekalan tangan Rama yang masih menempel di pergelangan tangannya itu terbuka.
“Lepas, Ram.” Ucap Melisa lagi.
Rama tersenyum.
“Tunggu, kita makan siang bersama.” Rama mengambil ponsel yang ada di atas meja kerjanya dengan tetap memegang pergelangan tangan Melisa.
“Siapa yang mau makan siang denganmu?”
“Aku anggap kedatanganmu kesini untuk mengajak calon suamimu makan siang.” Rama menyungging senyum.
“Percaya diri sekali kamu.”
“Hmm.. pekerjaanku memang menuntut kami untuk percaya diri dan sedikit licik.” Ucap Rama dengan senyum menyeringai, membawa Melisa yang tetap dalam genggamannya keluar dari ruangan itu.
Akhirnya, mau tidak mau Melisa menuruti keinginan Rama. Mereka berjalan beriringan menuju mobil Rama, dan Rama mengajak Melisa ke sebuah tempat makan favorit Melisa dulu, sewaktu masih SMA.
Sesampainya di tempat itu, Melisa melebarkan senyum. Ia bisa melihat tempat itu dari kaca jendelanya.
“Kamu tau dari mana tempat ini?” Tanya Melisa, menoleh ke aah Rama yang masih menyetir pelan untuk mencari tempat parkir.
“Melinda.”
“Aku tau semua tentangmu. Anak pembangkak, tidak suka di atur, tapi suka mengatur, selalu menggunakan snekers, tidak suka asin dan langsung radang kalau terkena vetsin. Hobbynya memakai pakaian sexy dan menggunakan dalaman berwarna hitam. Seperti saat ini.” Rama melirik dada dan bagian bawah Melisa yang tengah duduk di sampingnya.
Melisa langsung menyilangkan tangannya di dada dan menutupi bagian bawahnya.
“Kenapa kamu bisa tau?”
Rama tertawa. Lalu, mengacak-acak rambut Melisa.
__ADS_1
“Ayo turun! Aku sudah lapar.”