Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
tamu asing


__ADS_3

Sari memasuki apartemennya, setelah membeli banyak barang untuk kebutuhan sehari-hari. Nina kuwalahan membawa banyak barang di tangannya, hingga di bantu oleh security apartemen yang lain.


Tut.. Tut.. Tut..


Panggilan dari “Bule gila” melalui video call.


“Sudah belanjanya?” Tanya David saat Sari menerima panggilan itu.


Sari mengangguk. “Sudah, aku menggunakan kartumu.”


David tersenyum. “itu kartumu, kamu bebas menggunakannya untuk apa saja dan kapan saja.”


Sari menampilkan jejeran giginya yang putih dan rapih. “Terima kasih suamiku.”


“Apa?” Tanya David yang pura-pura tidak mendengar.


“Terima kasih suamiku.” Teriak Sari.


“Apa? Sepertinya sinyal di sini kurang bagus.” Ucap David bohong.


“Terima kasih, suamiku yang tampan dan baik hati, jadi makin cinta deh.” Ucap Sari asal, mengingat sinyal di sana yang buruk, membuat Sari yakin jika David tak


Sari menatap wajah serius suaminya di dalam ponsel yang ia pegang.


“Eh kamu denger perkataan aku tadi?”


David menampilkan wajah yang mengangguk di iringi senyum yang mengembang.


“Ah.” Sari menutup wajahnya malu.


“Udah ya, aku sibuk.” Sari langsung memutuskan sambungan telepon itu sepihak.


Di sana, David terus mengulas senyum. Ia semakin tak ingin membicarakan tentang jebakan yang ia buat di hotel pada malam petaka itu. Awalnya, ia ingin memberitahu Sari tentang hal itu, tapi saat ini sepertinya tidak perlu, karena Sari sudah menerimanya, bahkan sudah mencintainya. Ia hanya ingin fokus membahagiakan istri dan anaknya nanti.


Hati wanita memang mudah di luluhkan oleh perhatian dan tanggung jawab. Dua dasar itu yang membuat Sari sekarang bisa menerima David dan mulai mencintainya. Dan dua dasar itu yang David yakini untuk memikat hati Sari. Walau ia pun merasakan hal yang sama, tapi David belum pernah mengatakan cinta langsung pada Sari, membuat Sari pun malu untuk mengatakan itu lebih dulu.


****


Ting.. Tong...


Bunyi bel apartemen sari terdengar.


Sari menghampiri pintu itu dan membukanya.


Ceklek.


Ia melihat seorang wanita tengah berdiri. Seorang wanita yang sedang mengandung dengan usia kehamilan yang lebih tua sedikit dengannya.


“Ada yang bisa saya bantu?’ Tanya Sari.

__ADS_1


“Ini benar apartemen David?” wanita itu balik bertanya.


“Benar.” Kata Sari.


“Saya kesulitan mencari keberadaan David, akhirnya ketemu juga.” Jawab waita itu.


“Anda siapa?” Tanya wanita itu lagi.


“Loh, justru seharusnya saya yang bertanya seperti itu. Anda siapa?” Sari balik bertanya.


“Saya pacarnya David.”


Deg.


Sari terkejut, jantungnya seolah ingin keluar.


“Kamu siapa?” wanita itu bertanya lagi.


“Aku istrinya.”


“Apa? Kapan David menikah?” Tanya wanita itu tak percaya.


Kemudian, langkah Sari memundur, karena wanita itu terus maju, padahal Sari belum memberi izin tamunya itu untuk masuk.


“Aku tidak percaya, dia sudah menikah. Karena David pria yang tidak akan terikat dengan penikahan.” Ucap wanita itu lagi sambil melihat sekeliling apartemen itu.


“Aku pacarnya sudah lebih dari 3 tahun, dan kami tinggal bersama selama berpacaran, dan ini.” Ia menunjuk pada perutnya.


“Ini anaknya, sebelum ia pergi tanpa kabar.” Kata wanita itu lagi panjang lebar.


Air di pelupuk mata Sari kian menggenang. Ia sadar David bukanlah pria baik, ia tahu bahwa david pernah berhubungan dengan wanita sebelum dia, tapi Sari tak pernah menyangka ada wanita lain yang sedang mengandung anaknya juga.


“Aku ingin bertemu David.” Kata wanita itu lagi.


Lalu, wanita itu menghampiri Sari. ‘Sepertinya usia kandungan kita tak jauh berbeda.”


Ia membandingkan perutnya dengan perut Sari. Sedangkan Sari hanya tertunduk lemah.


“Kapan David pulang?”


“Sore.”


“Baiklah, aku akan datang lagi nanti malam. Aku sudah rindu sentuhannya.” Kata wanita itu sensual, sambil meluyur pergi.


Sari terduduk lemas, di sana Nina pun menyaksikan apa yang terjadi. Nina langsung menghampiri Sari.


“Ibu, tidak apa-apa? Saya telepon bapak ya bu?’


Sari mencekal tangan Nina yang akan meraih gagang telepon.

__ADS_1


“Jangan, Nin! Biarkan saja. Toh wanita itu akan datang lagi nanti.”


“Bu.” Nina berempati, ia memeluk tubuh Sari, dan Sari pun menerima pelukan itu erat. Ia memang buth seseorang saat ini.


****


Jam mennunjukkan pukul empat sore. Sari bersiap-siap karena David sudah menelepon untuk menjemputnya sekarang. Seperti janjinya tadi pagi, David akan mengajak Sari untuk memeriksa kandungannya.


Aktifitas Sari hari ini jadi tak menggairahkan. Sebenarnya, ia malas untuk bepergian, apalagi bertemu David. Namun, ia tak punya pilihan. Ia hanya bisa diam dan tak banyak bicara.


"Kamu sakit?” Tanya David pada Sari yang duduk di samping pengemudi.


Sari menggeleng.


“Hanya rindu pada ibu, ayah, dan Ardi.” Jawab Sari bohong.


“Mereka akan datang ke sini minggu depan.” Ucap David, yang memang sudah mempersiapkan tiket untuk keluarga Sari.


Ya, Ratih dan Teguh akan mengunjungi anak perempuannya. Mereka sudah lama tak bertemu. Teguh sengaja meminta izin cuti dari jauh-jauh ahri. Sementara Ardi sudah selesai melaksanakan ujian Sekolah dan Ujian test Perguruan Tinggi Negeri, hanya tinggal menunggu hasilnya saja.


Sari kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela. Tak ada senyum dan tak ada raut ceria yang biasa Sari tampilkan.


David menoleh ke arah sang istri. Ia tahu apa yang sedang terjadi, karena David melihat dan mendengar percakapan Sari dengan tamu wanita yang datang ke apartemennya siang ini. ia melihat dari cctv yang terhubung pada ponselnya. Ia menanti Sari yang marah atau memukulnya. Namun, semua ekspektasi David salah, nyatanya Sari hanya memilih diam.


Mereka sampai di rumah sakit. Keduanya berjalan beriringan. Sari membiarkan tangan david menggenggam tangannya. Ia pun membiarkan David merangkul pundak atau pinggangnya.


“Dari tadi kamu tak banyak bicara. Apa adayang terjadi?” Tanya David lagi, saat mereka duduk di ruang tunggu.


Sari menggeleng. “Tidak ada, hanya ingin diam saja.”


“Oh.” David mengangguk.


Lalu, nama Sari pun di panggil suster. Kemudian, mereka msuk ke ruang dokter.


‘Wah janinnya semakin kuat, nih. Jantungnya bagus, paru-parunya sudah mulai berkembang. Ini tangan dan kakinya.” Ucap dokter Mitha tersenyum.


David dan Sari melihat monitor yang menunjukan bentuk calon bayi yang ada di dalam perut Sari. Janin itu sudah terbentuk sempurna menjadi bentuk manusia dalam keadaan telungkup. Usia kehamilan sari sudah memsuki trimester kedua.


“Apa jenis kelaminnya, Dok?” Tanya David, sementara sari masih diam dan hanya memperhatikan saja.


“Coba saya lihat lagi.” Mitha mennggoyangkan alat yang sudah di baluri dengan gel, yang ada di atas perut Sari.


“Wah sepertinya, ini monas. Iya monas.” Ucap Mitha lagi.


“Maksudnya, Dok?” Tanya david antusias.


“Anak bapak berjenis kelamin laki-laki.”


David langsung mengembang senyum. Ia memang sangat menginginkan anak laki-laki. Ia kembali mengelus rambut Sari.

__ADS_1


__ADS_2