Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
Rama, Melisa, dan Anita 1


__ADS_3

Bruk


Rama yang berjalan cepat, karena ingin segera hadir di ruang persidangan itu pun menubruk seorang wanita, hingga wanita itu terjatuh.


"Maaf." Kata Rama sembari mengulurkan tanganya agar wanita itu bangkit.


wanita itu menengadahkan wajahnya.


"Rama?" Tanya wanita itu memastikan pria yang sedang mengulurkan tangannya itu.


"Anita." Rama pun sedikit terkejut melihat wanita yang berdiri di hadapannya, wanita yang dulu adalah sahabat baiknya sekaligus partner s*xnya.


"Rama, long time no see."


Rama mengangguk.


Mereka memang cukup lama tidak berkomunikasi. Tepatnya setelah Rama menggila dan mengejar Sari, ia langsung memutus kontak dengan sahabatnya ini dan tidak pernah bertemu lagi, apalagi berkencan.


Jauh sebelum Rama menikah dengan Melisa, Anita lebih dulu menikah dengan teman kerjanya karena hamil.


"An, aku buru-buru. Bye." Kata Rama meninggalkan Anita yang masih berdiri di sana.


"Rama makin ganteng aja lu." Gumam Anita, saat melihat punggung Rama yang semakin jauh dari pandangannya.


Di salah satu ruang sidang pengadilan agama itu, Rama menjadi pendamping hukum seorang pria. Rama menjadi pengacara sidang cerai seorang pengusaha muda yang cukup sukses yang mendapati istrinya tengah berselingkuh dengan assisten pribadinya.


Anita menunggu Rama keluar dari ruangan itu.


Beberapa jam kemudian, hakim memutuskan untuk break dan akan di lanjutkan setelah istirahat dan makan siang.


Rama keluar dari ruangan itu dan mendapati Anita yang menunggunya di sana.


"Eh, An. Masih di sini?" Tanya Rama santai.


"Iya, udah lama banget kita ga ketemu. Jarang-jarang kan bertemu kebetulan seperti ini."


"Iya sih." Rama mengangguk.


Sejak dulu, Rama selalu menganggapnAnita sebagai sahabatnya, walau mereka pernah melakukan lebih dari sekedar sahabat, tapi di hati Rama tidak pernah ada cinta sebagai kekasih untuk Anita


"Kamu jadi cerai?" Tanya Rama yang memang mengetahui kabar tentang Anita dari sang ibu.


Anita mengangguk. "Pasti kamu tau dari mama Sofie."


Rama mengangguk. "Ya, dari siapa lagi?"


"Kamu sekarang makin ganteng, Ram. Dan, makin berisi." Ucap Anita lagi.


"Ya, Melisa memang bisa mengurusku." Jawab Rama memuji istrinya.


"Wah kelihatannya sayang banget nih sama istri. ngiri gue." Kata Anita lagi.


Rama tertawa.


"Makan siang bareng, yuk." Ajak Rama.


Anita pun langsung mengangguk dan mengikui langkah Rama. Mereka berjalan beriringan.


"Setelah ini masih lanjut sidang?" Tanya Anita.


"Masih. Kita makan yang deket-deket sini aja ya."


"Oke."


Mereka pun pergi ke restoran yang berada di sebuah yang tak jauh dari gedung pengadilan agama itu.


"By the way, istrimu ga marah nih, kamu jalan sama aku."


"Memang kenapa? kita hanya teman lama yang lama tak bertemu, bukan?" Jawab Rama memicingkan matanya.


"Iya sih."


"Lagi pula, Melisa wanita modern yang betfikir praktis." Kata Rama lagi memuji istrinya.


"Sepertinya kamu sangat memuja Melisa." Ucap Anita ketika mereka memasuki area restoran itu.

__ADS_1


Mereka pun duduk berhadapan.


"Ya. aku beruntung memilikinya. Walau kami bukan orang baik-baik sebelumnya. Tapi kami sama-sama belajar untuk menjadi pribadi yang baik sekarang."


"Wuih, beda ya kata-katamu sekarang, Ram. bijak banget." Jawab Anita tersenyum.


"Udah tua, An. udah punya anak juga. Mau ngapain lagi coba?" Tanya Rama.


"Sekarang aku cuma berusaha menjadi ayah dan suami yang baik. Itu aja." Kata Rama lagi.


"Salut deh aku. coba mantan suamiku seperti kamu, Ram. mungkin kita ga akan cerai." Ucap Anita lirih sembari menunduk dan memainkan sedotan di dalam minuman dingin yang baru saja di atar oleh pegawai resto tadi.


"Kegagalan awal dari kebahagiaan, An. Jangan patah semangat. Yakinlah Tuhan menyiapkan yang lebih baik dari mantan suamimu." Sahut Rama.


"Aamiin."


"Tapi kamu juga harus lebih baik, An." Ucap Rama lagi santai.


"Iya, aku juga udah berubah kok. Ga seperti itu lagi."


"Bagus kalo gitu." Rama mengangguk dan memulai memakan makanan yang sudah tersaji di hadapannya.


Anita pun melakukan hal yang sama. Mereka menikmati makan siang bersama sambil berincang dan bercengkrama ria.


****


"Hai, nyonya Osbonrne. Akhirnya datang juga." Seru Melisa saat melihat kedatangan Sari di salon spa yang ia kelola.


Walau Sari tak pernah mau mengambil alih salon spa dan kecantikan itu, tapi Melisa tetap membagi hasil keuntungan hasil usaha itu. Melisa membagi 50 50 untuknya dan Sari. Sarinpun setuju karena dan sering bertandang ke tempat ini untuk melakukan perawatan.


"Iya nih, udah dua minggu aku ga ke sini. Rasanya badan pada pegel." Kata Sari yang mengajak Nina juga kedua anaknya.


Sari memang selalu mengajak mereka, kemanapun ia pergi. Selain tempat ini membuat relaks ibunya yang sedang memanjakan diri, di sini juga menyediakan area bermain balita. Sehingga ia dapat meninggalkan Melvin yang kini berusia tiga tahun dan Quinza yang berusia satu tahun tujuh bulan itu dengan tenang.


"Iyalah, pegel. Tiap malam melayani si bulgil." Sahut Melisa tertawa.


Sari pun ikut tertawa, karena apa yang di katakan Melisa sangatlah benar. Apalagi kini Sari semakin cantik dan berisi. Ia tak pernah absen melakukan perawatan, membuat David semakin tergila-gila pada istrinya itu, di tambah servis Sari di ranjang yang kian memabukkan.


"Memang Rama juga tidak begitu?" Tanya Sari pada Melisa.


"Kalau gitu kita sama. Hahahaha..." Sahut Sari. Lalu, keduanya tertawa geli.


Kemudian, Sari menuntun Melvin berjalan mengikuti Melisa di iringi Nina yang menggendong Quinza ke tempat area anak.


"Kamu ga bawa Edric dan Nayna?" Tanya Sari pada Melisa yang berjalan pelan.


"Edric ada di sana." Melisa menunjuk area anak yang masih sedikit jauh dari langkah mereka.


"Kalau Nayna, aku tinggal di rumah sama Bi Tati." Jawab Melisa lagi.


"Kenapa ga di bawa sekalian main bareng sama Melvin dan Quinza." Kata Sari.


"Nayna masih tujuh bulan, Sar. Masih ribet kalo di bawa kesini."


"Iya sih." Sari mengangguk.


Lalu, Sari meninggalkan Melvin dan Quinza di area bermain anak bersama Nina yang akan menjaganga. Ketika Sari sudah selesai memanjakan diri, barulah ia bergantian menjaga kedua anaknya dan menyuruh Nina merelaksasi dirinya di dalam.


Hampir setengah harian, Sari berada di salon ini dan sudah tiga kali David meneleponnya.


"Iya, Mas. Nanti aku belikan." Kata Sari pada David yang berbincang melalui telepon selular.


"Kamu pulang di antar Melisa?" Tanya David di sana.


"Sebentar aku tanya Melisa." Jawab Sari menjauhkan ponselnya dari telinga.


Belum Sari bertanya pada Melisa, Melisa langsung berteriak mendekat pada ponsel Sari.


"Iya, Tuan Osborne. Saya akan mengantar istri anda sampai depan rumah." Ucap Melisa tertawa.


"Tenang Tuan Osborne. Tidak perlu khawatir dan berhenti menelepon. perbincangan kami jadi terganggu gara-gara anda menelepon istri anda terus." Celetuk Melisa lagi.


Sari tertawa, mendengar penuturan Melisa. Kedua wanita itu pun terkikik geli.


"Dasar kalian. Ya sudah. Bye.. Sayang." Ucap David pada istrinya.

__ADS_1


"Ya, bye.. hubby." Jawab Sari memberi kecupan di akhir teleponnya.


Sari menutup telepon itu dan memasukkan kembali ke dalam tas.


"Ribet ya punya suami possesive." Ledek Melisa.


"Ya, begitu deh." Jawab Sari santai.


Melisa menemani Sari di area bermain anak, karena kali ini Nina yang sedang menikmati pelayanan dari jasa ini. Memang seperti ini, jika Sari yang datang. Melisa akan menemani Sari dan akan mengantarnya pulang bersama.


"Tapi aku ga keberatan Mas David possesive. karena aku tau dia melakukan itu karena cinta banget sama aku." Kata Sari lagi.


Melisa memgangguk. "Ya memang harus seperti itu. Kita memang harus saling mengerti, sehingga pernikahan berjalan dengan sehat."


Sari pun ikut mengangguk. "Betul."


Tak lama kemudian, Nina menghampiri Sari dan Melisa di sana. Ia sudah selesai dengan segala ritual pelayanan di jasa perawatan dan kecantikan ini.


"Bu, saya sudah selesai." Kata Nina yang langsung menggendong Quinza.


"Kalau begitu, kita pulang bareng. Tunggu, aku ambil kunci mobil di atas." Kata melisa yang langsung berdiri. Ia segera ke ruangannya untuk mengambil tas dan kunci mobil.


Sari dan Nina terlihat segar. Keduanya tampak cantik dan cerah. Melisa pun sama, wanita itu memang selalu terlihat cantik dan modis.


Sari duduk di bangku depan, si samping Melisa yang sedang menyetir. Sementara, Nina yang memangku Quinza, di temani Edric dan Melvin di sampingnya yang duduj di bangku belakang.


Seketika, mereka melewati gedung pengadilan agama tempat Rama sedang menggelar sidang di sana. Mobil Melisa berjalan pelan, karena terjadi kemacetan yang di sebabkan aktifitas terakhir di gedung itu membuat semua orang di sana keluar bersamaan.


"Rama juga lagi ada di sana, sekarang." Melisa menunjuk gedung yang masih ada jauh di depannya.


"Oh ya? Kali ini siapa kliennya?" Tanya Sari.


Kemudian akhirnya mereka bergosip, menceritakan klien Rama yang menceraikan istrinya karena kepergok selingkuh.


"Ya ampun lagian ngapain sih selingkuh, kan suaminya pengusaha?" Tanya Sari heran.


Melisa mengangkat bahunya. "Pengusaha tapi klo ga bikin senang batin. Susah juga, Sar."


"Iya sih, semua harus seimbang." Jawab Sari lirih.


Mobil Melisa semakin mendekat dengan arah keluar gedung pengadilan agama itu.


"Oalah, jadi macet itu gara-gara ini." Kata Sari.


Namun, Melisa menghiraukan perkataan Sari karena ia tengah serius menangkap sosok pria yang tengah berjalan dengan wanita.


"Sar, itu Rama bukan sih?" Tanyanya.


"Mana?" Sari mengikuti arah tangan yang di tunjuk Melisa.


"Itu, hmm.. Rama jalan sama siapa itu?" Tanya Melisa sembari meraung.


"Tenang, Mel. siapa tau itu hanya rekan kerja Mas Rama aja." Sari berusaha menenangkan Melisa.


Sebelunya, Rama pun kaget saat keluar ruangan persidangan dan mendapati Anita yang masih menunggunya, padahal mereka sudah makan siang bersama. Lalu, Anita meminta pulang bersama, karena searah Rama pun tidak menolak. Tidak ada maksud apapun dari Rama, ia murni hanya mengantar Anita karena searah dengan jalannya pulang.


"Oh, aku kenal wanita itu, Mel." Sari melihat dengan jelas wanita yang tengah berjalan beriringan dengan Rama menuju mobil yang terparkir di luar jalan.


"Itu Anita temannya Mas Rama waktu SMA. Sekaligus teman yang pernah.." Ucapan Sari terhenti.


"Yang pernah apa, Sar?" Tanya Melisa yang semakin penasaran.


"Yang pernah apa ya? Aku lupa tadi mau ngomong apa." Jawab Sari pura-pura lupa, karena ia tak mau membuat Melisa semakin berpikiran negatif pada suaminya.


"Mel sudah ayo jalan!" Ucap Sari lagi karena Melisa memberhentikan mobilnya di tepi jalan.


"Aku mau buntutin mereka, Sar."


"Ga usah, Mel. Percayalah, Mas Rama sudah banyak berubah kok. Apalagi istrinya cantik begini. Dia ga akan macem-macem."


"Tapi wanita itu." Melisa masih merengek.


"Wanita itu bukan siapa-siapa, Mel. itu cuma temannya Mas Rama aja. Aku tahu kok. Mungkin mereka ga sengaja ketemu di sana." Ucap Sari lagi menenangkan Melisa.


Melisa pun kembali menjalankan mobilnya dan berusaha tenang. Ia ikuti saran Sari untuk tidak langsung berpikiran negatif oleh suaminya.

__ADS_1


__ADS_2