
Sari tengah duduk di meja rias dan mengeringkan rambutnya yang basah. Ia memperhatikan David yang sedang merapihkan diri dari cermin. Terkadang Sari masih menyungging senyum, saat ingat ciuman panasnya di kamar mandi tadi.
Arah mata David menoleh ke cermin, menangkap tatapan Sari yang masih memperhatikannya dari sana. David langsung tersenyum dan Sari pun menunduk malu. David terus menyungging senyum saat ia masih sibuk memakai celana cargo panjangnya.
Setelah merapihkan diri, David menghampiri sang istri yang masih duduk di meja rias. Sari pun selesai memake-up tipis wajahnya. Ia memang tak suka memakai make-up berlebihan.
“Beautyfull.” Ucap David tepat di telinga Sari.
David menempelkan wajahnya pada pundak Sari, menghirup aroma tubuh yang menjadi candunya sekarang. Ia pun menelusuri lagi leher jenjang Sari dengan bibirnya. Sari mendongakkan kepalanya, memberi suaminya akses untuk melakukan yang dia inginkan. Wajah Sari sedikit sayu, ia menggigit bibirnya merasakan sensani lembut yang di berikan David.
Tok.. Tok.. Tok...
“Mba, Mas, Ayo berangkat!” Teriak Ardi di luar pintu.
Sari dan David terkejut, dan segera melepaskan aktifitasnya.
“Iya, sebentar.” Jawab Sari dari dalam kamarnya.
Sari menghelakan nafasnya kasar, sementara David hanya tersenyum. Mereka kembali merapihkan pakaiannya. Lalu, keluar bersama.
Sebelum berangkat mengantar keluarga Sari ke bandara, David mmberikan banyak pesan pada Nur. Sari hanya melihat dari kejauhan, suaminya yang sedang berkata pada Nur dan Nur hanya mengangguk-angguk saja sambil menunduk.
“Ayo! Kita ke mobil duluan, Mba.” Ajak Ardi, sementara Sari masih menunggu suaminya.
“Aku tunggu, Mas David dulu.”
“Jiah, mulai lengket nih kaya perangko.” Ledek Ardi.
Sari memukul lengan sang adik.
“Bukan begitu, lagian dia kok mau anter ke bandara aja seperti yang mau pergi jauh. Kan nanti juga pulang lagi, ngapain coba ngasih pesan panjang lebar ke si Nur.”
“Yah, kan emang mba sama mas David mau pergi.” Sahut Ardi.
“Udah, yuk! Tunggu mas David di mobil aja, ibu sama ayah juga sudah di sana.” Ardi berkata lagi dengan menunjukkan tangannya ke luar.
Sari mengikuti langkah sang adik.
Tak lama kemudian, David memasuki mobil.
“Sudah tak ada yang tertinggal?” Tanya David, menolehkan tubuhnya ke belakang.
David duduk di samping supirnya, sementara Ratih dan Sari di tengah. Kemudian Teguh dan Ardi duduk di paling belakang.
“Ada, sambel terasi.” Jawab Ratih.
__ADS_1
“Ibu, itu kan buat Sari.” Sahut Sari, sementara Ratih hanya tersenyum.
“Baiklah, kalau begitu kita berangkat.” Ucap David dan kembali menluruskan tubuhnya.
Empat puluh menit di perjalanan, Akhirnya David, Sari dan keluarganya sampai di Bandar Udara Internasional Changi, Singapura. Mereka keluar dari mobil dan mendorong barangnya masing-masing. Ratih berjalan bersama Teguh, sambil mendorong troli barang di tangan Teguh. Sari berjalan beriringan dengan david, sambil mendorong troli di tangan David. Sementara Ardi sibuk memfoto kedua pasang suami istri itu dari depan.
“Kurang mesra, Mba! Ah payah, masa kalah mesra sama Ayah Ibu sih.” Ucap Ardi, saat tengah memfoto kedua pasang suami istri yang beda usia itu.
“iya, donk. Ibu kan ndak bisa jauh dari ayah.” Ratih mengeratkan tangannya pada lengan Teguh.
“Ih, Ibu suka malu-maluin deh.” Sari mencibir.
“Ayo donk, mba Sari mesra ya. Satu dua tiga.”
Cekrek
Tiba-tiba Sari mencium pipi David. Namun dengan cepat David mengalihkan pipinya menjadi bibir. Alhasil foto itu menampilkan david dan Sari yang sedang berciuman.
“Ah... ini mah adegan dewasa.” Ucap Ardi yang melihat hasil jepretannya.
Ratih langsung meraih ponsel Ardi. “Ya, ampun.”
“Hapus, terlalu vulgar.” Kata Sari, yang ikut melihatnya.
Ardi langsung meraih ponselnya. “Biarin aja deh, lumayan buat koleksiku.”
"Eh masih, kecil. jangan macem macem! Nanti ngga mba kasih uang jajan lagi nih.” Ancam Sari pada adiknya.
“Ngga perlu, Ardi ngga perlu di kasih uang sama mba Sari, kan udah ada mas David, bisa langsung minta sama mas David.” Ardi mencibir Sari, dan menoleh ke arah David yang masih berjalan dengan mendorong troli nya.
“Kurang ajar! Ibu. Ayah. masa Ardi malakin suami Sari.”
“Suami nih ye.” Ledek Ratih, melewati Sari.
Sari menutup mulutnya, ia tak sengaja menyebut bahwa David adalah miliknya. Wajah Sari mulai memerah dengan mata mengarah pada David. Lalu, Ardi menggantikan David mendorong troli itu, dan menggenggam tangan Sari.
“Jangan malu, istriku! Aku suka kau menyebutku seperti itu.” Wajah Sari semakin merona.
Tanpa di sadari, mereka telah memasuki area yang sudah tak lagi bisa di antar pengunjung.
Langkah Sari terhenti. “Ayah, Ibu, Ardi. Aku masih akan merindukan kalian.”
Teguh, Ratih, Ardi menoleh ke arah Sari. Begitu pun David, yang masih berjalan lurus, sementara Sari berhenti sendiri dan melepas genggamannya.
“Loh, memang kamu tidak ikut?” Tanya Teguh.
__ADS_1
“Biarin aja, mba Sari di sini sendirian.” Sahut Ardi.
“Memang, aku ikut kemana?” Tanya Sari bingung.
“Ya, ke Malanglah, kita pulang bersama.” Jawab Ratih.
“Terus, Mas David?” Sari semakin bingung antara keluarga dan suaminya. Arah matanya bergantian menatap keluarganya dan David.
“Ikutlah.” Ucap David menyerahkan Sari pada keluargnya.
Sari menggeleng. “Aku tidak mau, aku tidak bisa pergi tanpamu.”
“Ciyee.. yang udah bucin, sampe ndak bisa di tinggalin.” Ledek Ardi.
David tersenyum mendengar perkataan sang istri. Ia merengkuh tubuh Sari dari samping.
“Sudah tidak bisa jauh dariku?” Tanyanya.
“Ya, kan karena kamu suamiku.”
“Okey.” David tak henti mengulas senyum, dan melanjutkan langkah mereka.
****
“Kamu jahat! Mengapa ngga bilang kalau kita akan ikut pulang juga.” Sari terus memukul dada David pelan, saat mereka sudah berada di dalam pesawat dan duduk berdua.
Mereka menaiki kelas bisnis. Padahal David sudah menwarkan pada Teguh untuk menyewa jet pribadi, agar perjalanan mereka nyaman. Namun, Teguh menolak.
“Surprise.” Jawab David, sambil menahan pergelangan Sari yang sibuk memukul dadanya.
“Pantes saja, tadi kamu banyak memberikan pesan ke mba Nur.”
David tertawa.
“Ngga lucu. Terus bajuku?” Tanya Sari bingung, pasalnya ia tak mempersiapkan apapun untuk pulang.
“Ck.. masih memikirkan baju? Tidak usah pakai baju di depanku juga tidak masalah.” jawab santai David.
“Ish..” Sari masih memukul dada David.
David pun tertawa.
“Aku akan buka kantor pusat di Jakarta, tapi sebelumnya kita mampir ke rumahmu.” Ujar David.
Ya, ternyata David sudah memberi tahu Teguh dan Ratih tentang rencana berangkat pulang bersana, kecuali Sari. Selama ini, David hanya mempunyai kantor kecil di Bali, dan kantor manajemen Mall di sebuah Mall yang cukup besar di Singapura. Tapi ia belum membuka kantor pusat yang memusatkan pengelolaan semua bisnisnya. Bersama Rey, David mulai mengembangi bisnis yang sama, ia pun beberapa kali memenangi tender pembuatan jalan layang di Bali, dan beberapa underpas yang baru akan ia garap di Jakarta. Sebelumnya ia masih menumpang nama pada perusahaan Rey. Walau Rey pun mendapat keuntungan sepuluh persen, padahal Rey tak memintanya. Namun, David bukan orang yang kacang lupa kulit. Ia sadar bisnis ini di mulai karena nama Rey yang sudah lebih dulu terkenal di jalur ini.
__ADS_1
Sementara bisnis makanan olahan yang di miliki David di Inggris, di pegang oleh pamannya. Karena selepas ayah David meninggal, ia lebih memilih untuk tidak berada di negaranya, meninggalkan semua luka dan kenangan buruk di sana. Namun, hasil usaha di sana tetap di kirimkan ke rekening David, sehingga ia tetap memiliki pundi-pundi yang banyak, walau tidak bekerja dan suka foya-foya di Bali. Hingga akhirnya ia lelah dengan gaya hidupnya, dan ingin kembali normal menjalani hidup. Di tambah bayi yang ada di perut Sari sekarang, membuat David kini jauh lebih bersemangat menjalani bisnisnya yang baru bersama Rey dan Andre.