Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
bertemu Rama


__ADS_3

Sari sampai di alamat yang Elvira berikan.


“Sari..” Panggil Elvira dari kejauhan. Ia memeluk tubuh Sari.


“Mommy El, apa kabar?” Sapa Sari sumringah.


“Alhamdulillah baik, ayo masuk!” Sari dan Nina masuk ke dalam panti itu.


Supir David mondar mandir membawakan banyak box makanan.


“Wah, kamu bawa makanan sebanyak ini?” Tanya Elvira senang.


“Iya, Mom. Ini untuk anak-anak. Dan ini untuk Mommy.” Sari menyerahkan empat kotak kue tiramisu cheese cake untuk Elvira dan stafnya.


“Wah terima kasih banyak.” Jawab Elvira.


“Sama-sama, Mom. Ini ucapan terima kasih saya juga.”


Lalu, mereka ke dalam beriringan.


Setelah lama, Sari bermain di ruang yang cukup besar bersama-sama anak-anak, kemudian Sari beralih ke taman. Ia menggendong bayi perempuan berusia delapan bulan.


“Mom, anak ini cantik sekali.” Ucap Sari sambil menggendong bayi itu.


“Iya, sungguh tega ibu yang telah meninggalkan anak secantik ini.” Ucap Sari lagi.


Namun ekspresi Elvira berubah, ia terlihat sedih dan diam.


“Kenapa, Mom?” Tanya sari bingung.


“Ah Tidak, tidak apa. Mommy jadi ingat putera mommy.”


“Memang mommy punya putra?” Tanya sari menyelidik.


“Punya.”


"Pasti putra mommy beruntung karena memiliki ibu mulia seperti mommy.”


“Justru dia membenciku, karena aku meninggalkannya.” Jawab Elvira lirih.


Deg


Jantung Sari terhentak, karena persamaan ini semakin jelas.

__ADS_1


“Oh iya, boleh saya tanya nama belakang mommy? Itu nama keluarga? Mommy bukan asli orang Indonesia?” Tanya Sari lagi.


“Oh, Itu nama almarhum suami mommy.”


Deg


Sari kembali terkejut.


“Suami mommy orang Inggris, dulu Mommy bekerja di sana dan kepincut pria sana, tapi budaya kami berbeda, sehingga mommy harus pergi meninggalkan mereka.”


“Oh.”


Tiba-tiba Nina datang.


“Bu, Bapak minta kita untuk pulang. Tadi supir Bapak memberitahu.”


Sari mengangguk dan menyerahkan bayi itu kepada Elvira.


“Mom, boleh sari ke sini lagi?”


“Dengan senang hati, sayang.” Jawab Elvira.


“Oh iya, terima kasih smoked salmonnya, Mom. Tadi lezat sekali.”


“Berarti kalau Sari ke sini lagi, boleh Sari minta di buatkan itu lagi, terus Sari bawa pulang sidikit, karena suami Sari juga keturunan Inggris, dia pasti suka masakan mommy.”


“Oh, ya? Pasti Nak, dengan senang hati.” Ujar Elvira tersenyum, sambil mengantarkan Sari dan nina keluar.


Sari meninggalkan Elvira, setelah mencium punggung tangan wanita paruh baya yang sangat ramah itu. Ia semakin yakin, jika Elvira adalah ibunya David, karena begitu banyak persamaan dari ceriat Elvira dan cerita suaminya. Namun, Sari tidak mau gegabah, ia akan memastikan kebenaran ini. ia pun bertekap akan menyatukan kembali jalinan ibu dan anak itu, karena terlihat dari wajah sedih Elvira saat menceritakan tentang putranya, ia yakin bahwa yang di tuduhkan David pada Elvira itu tidak benar. Mungkin karena keadaan mendesak, Elvira meninggalkan putranya.


****


Setelah sampai di apartemennya. Sari dan Nina di turunkan di lobby, lalu supir david kembali menjemput bossnya di kantor.


“Nin, kita mampir ke dalam mall dulu ya. Aku mau beli makanan untuk bapak, karena sepertinya kau malas memasak.”


“Iya, Bu.” Nina mengangguk dan mengikuti langkah Sari.


Sari menelusuri restoran yang akan ia masuki. Kemudian, ia masuk ke restoran steak. Sari dan Nina duduk dan membuka menu makanan yang di sediakan.


“Steak sirloin tiga, yang ini di tambah lumpia hongking dan gyoza.”


“Semua take away ya.” Ucap sari lagi.

__ADS_1


Pelayan itu mengangguk. “Baik, Bu.”


Nina memainkan ponselnya, sedangkan sari menopang dagu dan mengerdarkan pandangannya. Kemudian nomor antrian Sari di panggil untuk melakukan pembayaran. Sari berdiri menuju kasir, tiba-tiba


Bruk


Tubuh sari sedikit terhuyung karena tertabrak oleh tubuh seorang laki-laki.


“Mas Rama..” Sapa Sari terkejut.


“Sari..” Ucap Rama tersenyum, sambil memegang pinggang Sari untuk menahan agar Sari tak terjatuh saat mereka bertabrakan.


“Oh, maaf.” Sari mencoba untuk lepas dari pegangan Rama.


“Oh, iya maaf.” Ucap Rama juga.


Kemudian, mereka berdiri bersampingan.


“Apa kabarmu, Sar? Long time no see.” Tanya Rama dengan tatapan ke depan.


“Baik.” Jawab Sari juga dengan tatapan lurus ke depan, ke arah kasir.


Rama menoleh ke arah sari dan melihat perut Sari yang terlihat membuncit.


“Hamilmu sudah semakin besar.”


Sari mengangguk. “Iya.”


“Apa kita akan canggung seperti ini, jika bertemu?” Tanya Rama dengan senyum sumringah, mencoba melerai kecanggugan mereka.


Sari menoleh ke arah Rama dan tersenyum.


“Seharusnya tidak, karena kita sudah hidup dengan hidup kita masing-masing.”


Rama menagngguk. “Iya, betul.”


“Ladies first.” Rama mempersilahkan Sari untuk maju lebih dulu ke depan kasir.


Sari tersenyum dan melangkahkan kakinya ke depan.


Di balik tubuh Sari, Rama mengembang senyum. Akhirnya, ia dapat berbincang dengan wanita pujaannya lagi, walau hanya sebentar, karena Sari langsung pamit setelah ia selesai membayar makanan pesanannya.


“Bye, hati-hati.” Rama melambaikan tangannya, saat Sari berpamitan untuk pergi lebih dulu.

__ADS_1


“Ini baru pertemuan awal, setelah kamu meninggalkanku. Selanjutnya, kita akan lebih sering bertemu.” Gumam Rama, sambil memandang punggung Sari yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.


__ADS_2