
Keesokan harinya, Rama masih datang untuk menjenguk Sari.
“Bagaimana keadaanmu, Sar?” Tanya Rama, saat pintu ruangan itu terbuka dan ia langsung masuk ke sana.
Sari menoleh ke arah Rama, sedangkan di ruangan itu pun ada David yang tengah menggendong bayinya menghadap jendela. Walau saat ini David kesal karena Rama masih saja datang menemui istrinya. Namun, David tidak bisa marah lagi, karena pada perjanjian terakhir, Sari tidak ingin privasinya di ganggu, begitu pun sebaliknya. Mereka masih status suami istri, tapi benar-benar seperti orang asing.
“Aku baik.” Jawab Sari.
Rama pun menoleh ke arah david yang sedang membelakanginya. David sengaja tetep berada di ruangan itu.
Rama merapihkan makanan yang ia bawa.
“Sar, aku bawakan makanan kesukaannmu.” Rama menunjuk Pizza.
Sari tersenyum. Ia menatap wajah Rama dan menghirup nafas banyak. Rama pun tersenyum dan menatap wajahnya.
“Mas, aku ingin bicara.”
“Iya.” Rama menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Sari.
“Hmm.. Aku berterima kasih karena kamu telah menolongku dan membawaku ke sini. Tapi boleh aku meminta sesuatu?”
“Apa, Sar?’ Tanya Rama antusias.
“Apa kamu akan mewujudkannya?” Sari balik bertanya.
__ADS_1
“Apa?” Rama semakin penasaran. Sementara di sana, david yang tengah membelakangi mereka, memasang telinganya lebar untuk mendengar percakapan itu.
“Jawab dulu, apa kamu akan mewujudkannya?” Tanya Sari lagi.
Rama mengangguk.
“Mas, Rama. Tolong lupakan aku. Aku bukan lagi Sari yang dulu, bukan lagi Sari yang pernah menjadi tunangan, Mas. Tolong jangan pernah lagi menemuiku.”
Rama tertunduk lemas.
“Sar, aku masih sangat mencintaimu. Lagi pula kalian tidak bahagia. Tolong izinkan aku untuk membuatmu bahagia.”
Sari menggeleng. “Tidak ada yang membuatku bahagia, Mas. Tidak diri mu dan tidak juga dia.” Arah mata Sari tertuju pada David yang membelakanginya.
Rama mengikuti arah mata Sari. Sedangkan David hanya terdiam, dia mengerti siapa “dia” yang sari maksud, karena itu pasti adalah dirinya.
Rama tersenyum. Ini adalah kali pertama Sari berkata pada intinya. Biasanya, dia akan berhati-hati bicara pada orang lain, dia akan menjaga perasaan orang lain jika bicara, tapi kali ini Sari benar-benar hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia lelah harus menjaga perasaan orang lain, sementara orang lain tidak pernah menjaga perasaannya.
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” Tanya Rama lagi.
“itu bukan urusanmu.” Jawab Sari dingin.
Rama kembali tersenyum. Sari semakin tak bisa di jangkaunya.
“Kamu semakin berubah.” Kata Rama.
__ADS_1
“Tapi itu pilihanmu, dan aku selalu mendukung apapun keputusanmu.” Rama bangkit dari duduknya.
Kali ini, ia memang benar-benar harus melepas Sari. Ia tidak ingin membuat wanita pujaannya semakin menderita.
“Baiklah, Sar. Aku pergi. Jika kamu membutuhkan sesuatu, aku akan selalu ada untukmu.” Rama tersenyum dan menggenggam jemari Sari.
“Maafkan aku.” Rama punlangsung pergi meninggalkan ruangan itu. Tanpa di sadari air matanya menetes di pipinya.
Begitu pun David yang sedari tadi mendengar percakapan itu. Sungguh ia telah menorehkan luka yang teramat dalam untuk Sari. Tanpa sadar air mata David pun mengalir di pipinya. Terlebih, ia tengah menatap wajah tampan Melvin yang masih terlelap di gendongannya, setelah Sari memberinya ASI. Ia tak tahu bagaimana nasib anak ini nanti setelah enam bulan ke depan, akan kah Sari tega meninggalkannya? Namun, yang pasti ia akan sekuat tenaga untuk meluluhkan hati Sari kembali dan meminta maaf dengan berbagai macam cara.
****
Malik menjemput Ratih di bandahara, sedangkan David dan Elvira menemani Sari untuk kembali pulang ke apartemen.
“Ibu, duduk di kursi roda ini ya.” Pinta salah satu suster itu, sementara suster yang satu lagi memegangi kursi roda untuk Sari.
Jarak antara ruang perawatan itu menuju lobby cukup jauh, sedangkan Sari masih dalam pemulihan setelah operasi. Oleh karenanya, suster menyiapkan kursi roda ini untuknya.
“Bisa berdiri, Bu.” Kata salah satu suster itu, meminta Sari pindah dari tempat tidur ke kursi roda itu.
Perlahan Sari bangkit, tapi dengan cepat David langsung menggendong Sari. Sari pun menerima bantuan itu, karena memang ia merasa dirinya msih lemah. Sari melingkarkan tangannya pada leher David.
“Tidak perlu kursi roda ini, Sus. Saya akan bawa istri saya langsung saja.” David langsung mendekati Sari dan menggendong ala bridal.
Ia melangkahkan kakinya keluar menuju lobby, membuat semua orang yang mereka lewati menoleh ke arahnya, dan Sari membuat iri para ibu-ibu muda di sana dengan menyenggol lengan para suaminya meminta di perlakukan yang sama seperti itu.
__ADS_1
Sementara Sari tak mendongakkan wajahnya ke wajah David. Sedangkan David sesekali melirik ke arah Sari. Sari tak mau menatap wajah itu, ia tak mau pendiriannya goyah hanya karena perlakuan manis darinya.
Elvira yang membuntuti keduanya dari belakang hanya tersenyum melihat adegan itu, sambil menggendong bayi Malvin. David memang paling bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan.