
Di rumah minimalis Melisa, terdengar hening karena malam ini, semua sudah tertidur pulas, padahal waktu baru menujukkan pukul sembilan malam. Melisa kembali melihat suaminya yang sudah terlelap dengan memeluk pinggangnya dari belakang.
Melisa masih belum mengantuk. Perlahan, ia pun mengambil tangan Rama dan meletakkannya di atas guling itu. Melisa bangkit dan mengambil ponsel Rama, ia ingin mengecek dengan isi ponsel itu. Entah mengapa ia masih harus berjaga-jaga, walau pun Rama tak pernah menunjukkan gelagat selingkuh.
Melisa serisu mengotak ngatik ponsel Rama sembari mendudukkan dirinya di sofa yang mengarah ke jendela persis di depan tempat tidur itu. Rama sedikit menoleh ke arah sang istri yang serius memegang ponselnya. Ia pun hanya tersenyum dan melanjutkan tidurnya. Sejak Melisa mengambil tangannya dari pinggang itu, ia memang belum sepenuhnya terlelap.
Tak lama ponsel Melisa berdering. Ia pun dengan cepat mengangkat telepon yang di sana tertera nama ‘Sari’. Ia pun menekan tombol meloudspeaker.
“Iya, Sar.”
“Gimana, Mel. Semua aman?” Tanya Sari di sana.
Setelah kejadian itu, sari sering menelepon Melisa untuk menanyakan keadaannya.
“Sejauh ini sih aman, Sar. Tapi aku masih takut ya, takut Rama selingkuh.” Jawab Melisa.
“Mel, justru kalo kamu khawatir, gelisah, malah akan kejadian.”
“Ih, amit-amit, Sar. Jangan nakutin dong.” Jawab Melisa merengek.
“Makanya, ga usah terlalu khawatir. Nanti malah kamu kesannya terlalu posesive sama suami. Terus Mas Rama akan merasa tidak di percaya. Kan ga enak Mel, kalo kita di curgiain mulu.”
“Abis, tampangnya emang bikin orang curiga.”
Sari tertawa. “Tampang playboy, emang gitu.”
Melisa ikut tertawa.
“Ya udah sih, bismillah aja. Lillahita’ala. Berdoa semoga suamimu selalu dalam lindunganNya. Dari pada kesel dan bawaannya curiga mulu, bikin capek tau.”
“Iya, bener.” Sahut Melisa.
“Sar, tengkyu banget ya. Sumpah deh kalo ga ada kamu, aku bingung cerita ini ke siapa.” Kata Melisa lagi.
“It’s oke. Mel. Positif thinking ya.” Ucap Sari.
“Oke, aku coba. sekali lagi tengkyu.”
“Oke. Bye.”
“Bye.” Sahut Melisa dan menutup sambungan telepon itu.
Ia sedikit lega setelah berbincang dengan Sari. wanita iu memang dewasa, padahal usianya lebih tua Melisa. Namun, cara berpikir Sari lebih terbuka.
Di tempat tidur, Rama mendengar semua pembicaraan itu. Ia sadar selama ini selalu di stalking oleh sang istri. Namun, ia tak mempermasalahkan. Toh dirinya tidak pernah menduakan sang istri. Ia pun tak merasa di curigai, karena ia tahu Melisa memang memiliki sifat seperti ini. Justru ia merasa sangat di cinai oleh istrinya. Ia merasa Melisa sangat takut kehilangan dirinya.
Rama pura-pura menggeliat.
“Mel.” Rama dengan suara seraknya memanggil Melisa dalam keadaan berbaring.
__ADS_1
Melisa sontak langsung meletakkan ponsel Rama lagi ke tempat sebelumnya. Ia juga langsung berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur itu.
“Aku masih belum ngantuk, jadi main ponsel dulu.”
“Tidurlah, sudah malam.” Kata Rama.
Lalu, Melisa kembali berbaring membelakangi Rama, sedangkan Rama kembali menaruh tangannya di pinggang ramping itu.
“Ram.”
“Hmm..”
Melisa membalikkan tubuhnya. Selama dua tahun menikah, mereka memang belum secara langsung mengatakan cinta. Mereka hanya menjalani rumah tangga degan sebaik-baiknya dan mengikuti arus ssbagaimana mestinya saja.
“Ram.” Melisa kembali memanggil nama suaminya.
Rama pun membuka matanya. “Apa?”
“Hmm..” Melisa masih enggan untuk menanyakan itu.
“Kamu mau tanya apa? Mau tanya apa Anita masih menghubungiku?” Ungkap Rama mengalihkan maksud Melisa yang cukup ia ketahui.
Melisa menggeleng. “Aku tidak akan lagi mencurigaimu. Aku akan mulai sepenuhnya percaya padamu.”
“Good.”
“Tapi, kalau kamu ga bisa jaga kepercayaan aku. Maka aku akan bawa anak-anak dan pergi jauh darimu.”
“Pertama sudah termasuk terakhir, karena di kamusku tidak ada kesempatan kedua.” Jawab Melisa tegas.
“Tega sekali.” Ucap Rama dengan senyum menyeringai.
“Memang kamu niat selingkuh?” Tanya Melisa dengan membulatkan matanya.
Rama tertawa.
“Aku sudah bilang. Tidak ada wanita yang memiliki dada sebesar ini.” Rama mencubit p*t*ng Melisa yang terhalang tangtop berwarna hitam.
“Ish.” Melisa mencoba menghalau cubitan itu.
Rama kembali tertawa.
“Sudah ada Edrick dan Nayna. Aku tidak akan macam-macam. Untuk apa? Aku sudah punya istri yang cantik, yang sangat mencintaiku hingga takut kehilanganku seperti ini.”
“Ih, percaya diri sekali kamu.” Melisa berdecih.
“Iya dong. Buktinya udah keliatan.” Jawab Rama jumawa.
“Terus kalau kamu memang tidak mencintaiku?” Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari mulut Melisa.
__ADS_1
Rama mengangkat tangannya dan mengelus pipi Melisa.
“Menurutmu? Apa aku tidak terlihat mencintaimu?” Rama balik bertanya.
Melisa mengangkat bahunya. Ia tak pernah merasakan di cintai oleh lawan jenis, karena selama ini setiap pria yang dekat dengannya hanya menginginkan tubuhnya saja. Ia berpikir Rama pun seperti itu, di tambah adanya Eldrick. Ia merasa rama baik dan perhatian hanya karena sebuah tanggung jawab saja.
“Kamu tidak merasakan kalau aku mencintaimu?”
Melisa terdiam.
“Kamu ingat pada saat Nayna lahir dan kamu mengalami pendarahan hebat? Aku menangis dan selalu ada di sampingmu untuk memberi support. Bahkan hingga sekarang aku masih trauma dan tidak ingin kamu melahirkan lagi karena apa?”
Melisa masih terdiam dan hanya menatap kedua bola mata suaminya dengan lekat.
“Karena aku tidak ingin kehilanganmu. Cukup kamu ada di sini, menemaniku dan menua bersamaku. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu.”
Rama menarik nafas dan membuangnya kasar. “Aku mencintaimu, Melisa. Gadis tomboy yang menolongku, saat aku di palak oleh anak-anak tanggung di jalan pada waktu itu.”
Melisa mengeryitkan dahinya. “Emang iya?”
Rama tersenyum dan mengelus rambut istrinya. Ia mengangguk. “Kamu pasti tidak ingat.”
Melisa menggeleng. Ia memang tidak mengingat kejadian yang suaminya ceritakan tadi.
“Waktu itu aku ingin ke rumahmu, karena papaku menunggu di sana. papaku sedang bertandang kerumah papamu dan aku ingin pulang bareng bersama papaku dan berjalan kaki menuju rumahmu. Di jalan aku di jegat oleh segerombol anak SMA yang entah dari SMA mana, aku pun saat itu tengah memakai seragam sekolah. Mereka mengira aku dari SMA lawan, kemudian mereka ingin mengambil jam tanganku. Lalu kamu datang dengan sepeda motor king itu dan berteriak pada segeronbol anak tanggung itu. Melihatmu saja, mereka langsung lari berhamburan.” Rama terkekeh geli.
“Oh. Ya? Aku lupa.” Melisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Kamu memang tak menoleh ke arahku, aku juga tak terlalu jelas melihat wajahmu karena kamu memakai helm. Terus, kamu langsung pergi dan aku melihat kamu masuk ke rumah Om Surya.”
“Kok tahu kalau itu adalah aku?” Tanya Melisa.
“Ya karena, Melinda ga bisa bawa motor. Apalagi motor king.” Tawa Rama.
Melisa pun nyengir.
“Walau pada saat itu aku tidak begitu jelas melihat wajahmu. Tapi aku suka gayamu.” Kata Rama lagi.
“Masa?’ Ucap Melisa menghilangkan rasa tersanjung di hatinya.
“Masa?’ Rama meniru gaya bicara Melisa sembari menggelitiki pinggangnya.
“Aaa.. Rama.” Teriak Melisa kegelian sembari menatap tajam suaminya.
Kemudian, Rama bangkit dan menindih tubuh istrinya.
“Karena kamu belum mengantuk, bagaimana jika kita olahraga malam dulu, pasti setelah itu kamu akan mengantuk.” Ucap Rama sembari menautkan alisnya.
“Ish, itu sih maumu.” Melisa kembali berdecih.
__ADS_1
“Yakin ga mau?” Rama mulai menelusuri leher Melisa dan menjilat daun telinganya, karena itu salah satu letak sensitif istrinya.
Lalu, tangan Rama mulai bergerilya meremas gunung kembar istrinya dan menjalar hingga tepat di area vitalnya. Jari itu berputar dan menyingkirkan bahan penutup itu hingga Melisa mendesah karena merasakan tangan suaminya yang bermain langsung di kulit sensitifnya itu.