
"Mas." Rengek Sari.
"Apa, Sayang? Kenapa?" Tanya David bingung melihat wajah kesal sang istri.
Baru saja, ia selesai membersihkan diri setelah pulang dari kantor dan sengaja berada di ruang keluarga untuk bermain bersama kedua anaknya.
"Sini." Sari menarik lengan David, hingga kamar mereka.
"Nina, tolong jaga anak-anak sebentar." Ucap Sari di pertengahan jalan menuju kamarnya.
"Ada apa sih, Sayang?" Tanya David yang semakin bingung.
Sari terus menarik lengan suaminya.
"Jelasin ini!" Sari menunjuk kemeja David yang tergeletak di atas tempat tidur.
"Jelasin apa?" David menaikkan bahunya.
"Jangan pura-pura kamu, Mas. Memang saat ini aku sedang tidak bisa melayanimu, tapi tidak dengan orang lain juga kamu melampiaskannya." Sari terduduk lemas di ujung tempat tidur itu, persis di samping kemeja David yang tergeletak.
"Apa sih maksudnya?" Tanya David lagi sembari mengambil kemeja itu.
"Lihat! itu bibir merah siapa?" Tanya Sari dengan mata yang sudah berkaca-kaca menunjuk kearah kerah kemeja David yang mencetak sebuah bibir.
"Ya ampun, ini." David tertawa.
"Ngga lucu, Mas. Benar kata Ibu, kalau anak banyak, nanti aku tidak keurus karena kecapean, badanku gendut dan tidak cantik lagi. Terus kamu nanti beralih ke wani.."
David langsung membungkam bibir Sari dengan bibirnya. Ia ******* bibir itu, hingga puas dan melepasnya.
"Jangan di teruskan! Aku tidak suka mendengarnya."
"Kamu nyebelin, Mas." Rengek Sari dengan terus memukul dada David.
David malah tertawa.
"Kamu udah ketauan seperti ini masih bisa tertawa. Terlalu kamu, Mas." Sari semakin kesal dengan ekspresi suaminya, padahal sudah tertangkap basah.
"Memang aku salah apa?"
"Ini buktinya, Mas David. Ini bibir siapa?"
"Ya, bibir kamu. Siapa lagi?" David balik bertanya.
Seketika amarah Sari meredam. "Emang iya? Masa sih."
"Masa sih." David meniru gaya istrinya.
"Tadi pagi, kamu kan mencoba lipstik baru, Terus kamu tunjukkin ke aku. Dan, aku bilang bagus. Terus kamu cium semua wajahku hingga ke leher. Ya, mungkin bibir merahmu tersangkut di kerah kemejaku tanpa sengaja." Jawab David panjang lebar.
"Iya, ya? Masa sih?" Tanya Sari sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Gara-gara lipstik ini, aku jadi pusat perhatian di kantor pagi tadi. Walau berkat lipstik ini juga, tenderku lolos karena salah satu perusahaan besar yang bosnya perempuan paruh baya itu mendukungku, mendukung perusahaanku untuk menangani tender itu karena katanya aku tipe pria penyayang istri."
__ADS_1
"Hmm.." Pipi Sari merona.
David pun mendekati istrinya dan memeluknya.
"Tidak akan ada wanita selain kamu di hatiku, Sayang. Karena Permata Sari Anindya Binti Teguh Prakoso cuma satu, yaitu kamu." Ucap David lagi membuat Sari semakin merona.
"Hmm.. kamu." Sari memukul pelan dada David.
Keduanya pun tertawa dan kembali berpelukan erat.
"By the way, Quinza sudah berapa bulan ya?" Tanya David ambigu.
"Dua hari lalu, baru genap satu bulan. Memang kenapa? kamu mau merayakan satu bulan Quinza?" Jawab Sari serius.
David menggeleng.
"Hmm.. Berarti masih tunggu delapan hari lagi ya?" David kembali bertanya.
"Mas." Sari langsung melepas pelukannya, setelah sadar ke arah mana pertanyaan sang suami.
David pun berlari keluar kamar.
"Kabur, aku bangunin macan tidur."
"Mas." Sari mencoba mengejar suaminya sembari menghentakkan kaki.
"Awas ya kamu."
David menoleh ke arah Sari sembari terus tertawa.
Di penghujung weekend. David bersama keempat sahabatnya berlibur di sebuah cottage dengan nuansa pantai alami nan indah.
Rey, Brian, Andre, dan Mario pun hadir di sana. David dan Sari sudah sampai lebih dulu. Di ikuti Andre dan Mario. Rey dan Brian menyusul selanjutnya.
"Woo, ada daddy David di sini." Ucap Brian saat tiba di sebuah restoran sebuah cottage yang terletak di pinggiran pantai.
Hari ini, Kelima cassanova berkumpul bersama para istri dan anak. Andre menjadi orang yang mengatur acara ini. Sudah lebih dari tiga bulan, mereka merencanakan bertemu tapi tak pernah berhasil. Ada saja salah satu di antara mereka yang tak bisa hadir. Dan, hari ini semua bisa hadir, walau pun dengan rencana dadakan dan tempat yang biasa saja. Namun, tidak mengurangi suasana kekeluargaan dan udara yang sejuk serta pemandangan yang indah.
"Ck, gue di ajak Rey dan Mario." Sahut David.
"Ya iyalah lu harus ikut juga."
"Emang dalam rangka apa sih kita kumpul begini?" Tanya Brian pada Rey dan Mario.
"Itu tuh, dia yang punya ide." Mario menunjuk Andre.
"Kita adain arisan." Kata Andre.
Sontak keempat cassanova itu bersorak.
"Lu kira kita geng emak-emak." celetuk Brian.
Mario dan Rey hanya tertawa.
__ADS_1
"Sekalian silaturahim, Bro. secara kita punya kesibukan beda-beda kan?" Sanggah Andre.
Rey mengangguk. "Bagus sih."
"Tapi arisannya jangan duit, nanti bini gue beneran ngetawain." Sahut Brian.
"Mobil Offroad." Ucap David.
"Setuju, terus kita ngoffroad bareng. Ah udah lama banget." Rey menambahi.
"Range Rover terbaru, deal." Kata Brian, sambil menyodorkan tangannya ke depan.
"Deal." Rey mengikuti Brian dan menempelkan lengannya pada punggung lengan Brian.
"Deal." David tersenyum dan menindih punggung tangan Rey.
"Okeh ajalah." Mario pun mengikuti.
"Asyik, trip pertama Gunung Kelud." Sahut Andre menenpelkan tangannya pada punggung tangan Mario.
"Yeaay.." Sorak kelima cassanova itu, membuat para istri menoleh me arah mereka.
"Ih, seru banget sih mereka." Kata Cinta.
Di seberang sana ada Inka, Cinta, Sari, Alisha, dan Sasha sedang bercengkrama sambil memantau keberadaan anak-anak mereka yang bermain bersama, walau pun ada para pengasuh yang juga menjaga anak-anak itu.
"Berarti gantian kita yang seru, Kak." Kata Sari.
"Ahahahaa..." Cinta tertawa dengan sedikit keras.
"Apaan sih lu, Ta. ngga jelas banget deh." sahut Inka.
"Ups, jayus banget ya gue." Cinta mengerutkan keningnya.
Tingkah Cinta pun akhirnya membuat para istri cassanova itu tertawa cukup kencang.
"Dih, emak-emak ngga mau kalah." Brian menoleh ke arah para istri yang berada di seberang, tidak jauh dari para suami mereka duduk.
Kelima pria itu pun menoleh ke arah istri-istri mereka.
"Biarin aja sih, biarin pada seneng. Istri senang, jatahpun tidak kurang." Sahut Mario.
"Eh bener-bener, hahahaha.." Andre tertawa geli dengan kata-kata Mario.
"Eh jangan gitu lu, Yo. Jangan bikin iri orang yang lagi puasa." sahut Brian dengan arah mata tertuju pada David.
"Ups. sorry." Mario tertawa.
"Derita lu, Bro. gue pernah ngerasain, sesek banget." Rey menambahi.
"Rese lu, pada. nyesel gue dateng ke sini." David berdiri dan meluyur untuk mengambil minuman yang di sajikan di meja prasmanan.
"Baper lu, kaya emak-emak yang lagi dapet." Celetuk Brian. Rey, Mario, dan Andre langsung tertawa geli.
__ADS_1
Sementara, David hanya menanggapi santai sembari meminum minuman dingin di tangannya. Ia pun ikut tersenyum mendengar ledekan teman-temannya itu.