Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
suami idaman


__ADS_3

David tersenyum dan meraih tangan Sari yang berada di wajahnya. Ia mengecup tangan itu berulang-ulang. Kemudian, David menempelkan hidungnya pada hidung Sari.


“Aku ingin kita kembali seperti dulu.”


David memeluk Sari yang masih duduk di sofa.


Cup


Ia ******* bibir itu, kembali memangutnya dengan lembut. Sari pun langsung membalas ciuman mesra dari suaminya. David menuntun kedua kaki Sari untuk melingkar pada pinggang yang sedang berlutut di depan Sari.


Kecapan itu terdengar nyaring. Mereka saling membelit lidah, mengeskpresikan hasrat melalui sebuah ciuman yang berubah menjadi panas.


David mengangkat tubuh Sari seperti koala, saat kedua kaki Sari melingkar dengan kuat di pinggang David. Ia pun membawa Sari menuju ranjang mereka. Ranjang yang berbeda, karena David telah menggantinya baru, tapi dengan kamar yang sama, kamar yang menjadi saksi penyatuan menyakitkan yang David lakukan sebelumnya.


David menindih Sari. Ia mengecup kening dan kedua bole mata Sari. Lalu, ia mengecup kedua pipinya.


“Maaf aku pernah menamparmu di sini.” Kata David sambil mengelus kedua pipi Sari dan mengecupnya lagi.


Kemudian, mengecup sekilas bibir dan beralih ke bagian leher jenjang Sari.


Sari diam dan tidak melawan. Ia pun menerima sentuhan itu. David menelusuri leher jenjang Sari dan menggigitnya di sana, mencetak banyak kismark hingga ke bagian bahu.


Sari hanya melenguh. Tangan david pun mulai meraba gunung kembarnya, hingga bagian sensitifnya.


Tiba-tiba tangan Sari menahan tangan David yang sudah berada di **** *************.


“Aku belum siap.” Ucap Sari lirih.


Sontak membuat David menghentikan aktifitasnya. Ia sadar, Sari akan seperti ini. ia kembali menempelkan hidungnya pada hidung Sari. Nafasnya masih memburu, kedua jantung mereka berdetak kencang.


“Aku akan menunggumu lagi hingga siap.”


David tersenyum dan mengelus wajah itu.


“Tapi, boleh aku tidur di sini?” Tanya David.


Sari langsung mengangguk.

__ADS_1


David pun langsung menjatuhkan dirinya di samping Sari dan memeluknya dan meraih tubuh Sari untuk tetap di peluk.


“Tidurlah.” Ucap David.


Sari pun perlahan memejamkan matanya. Keduanya tidur dengan saling berpelukan.


****


Oek.. Oek.. Oek..


Melvin menangis di tengah malam.


Sari berusaha membuka matanya, tapi terasa berat. David pun ikut terjaga karena tangisan bayi mereka yang semakin terdengar kencang.


“Hmm..” Sari melenguh an berusaha membuka matanya lagi.


Namun, david mencium kedua mata itu.


“Tidurlah, biar aku yang menjaganya.” Ucap David lembut.


“Kalau dia ingin menyusu, aku tinggalkan ASI di lemari es. Hangat kan dulu di sana.”


David mengelus rambut Sari dan menggeser anak rambut yang menutupi wajahnya.


“Maaf ya, Mas. Aku masih ngantuk banget.” Kata Sari lagi dengan mata yang kembali tertutup.


David tersenyum melihat tingkah Sari yang menggemaskan. Sari memang paling tidak bisa menahan kantuk, kalau Ratih menjulukinya "tukang tidur."


“Iya, tidurlah.”


Kemudian, David bangkit dan menghampiri tempat tidur Melvin. Ia menggendongnya dan membawa Melvin ke dapur untuk mengambil ASI di lemari es, sesuai perintah Sari tadi.


Di dapur, David sibuk memanaskan ASI sambil menggendong Melvin.


Ceklek


Teguh membuka pintu kamarnya. Ia ingin sekali minum. Lalu, ia melihat David pun sedang berada di sana.

__ADS_1


“Kamu sedang apa?” Tanya Teguh.


“Eh ayah. Ini Melvin rewel minta susu.”


“Memang Sari nya mana?”


“Sari sedang tidur, Yah. dia lelah, aku kasihan membangunkannya. Kebetulan Sari juga sudah menyediakan ini.” Jawab David sambil menunjuk satu botol susu.


Teguh terharu melihat perlakuan David pada putrinya. Ia ingat bahwa ia pun pernah berada di posisi David, membantu Ratih dalam mengurus Sari dan Ardi ketika kedua anak itu masih seumur Melvin.


Teguh tersenyum.


“Ayah kembali lagi ke kamar ya, Nak.” Teguh menepuk pundak David, saat ia selesai meminum air mineral di sana.


“Akung tidur dulu ya, kamu juga tidur lagi ya.” Ucap Teguh mengelus wajah Melvin sebelum ia pergi.


David mengangguk. ‘Iya, yah.”


Teguh kembali lafi ke kamarnya.


“Hmm...” Ratih melenguh, saat ranjangnya bergoyang karena gerakan Teguh yang mulai membaringkan lagi tubuhnya di sana.


Ratih membuka perlahan matanya.


“Ayah dari mana?”


“Minum.”


“Hmm...” Ratih kembali memeluk suaminya.


“Bu, sekarang ayah semakin yakin pada Nak David, dia memang pria terbaik untuk putri kita.”


Ratih mengangguk. “Ibu juga merasakan itu, sejak pertama kali dia meminta Sari.”


Teguh tersenyum. “Iya, Bu.”


Mereka pun tidur dengan saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2