Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
Tuhan selalu memberikan yang kita butuhkan


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu Rama dan Melisa menyandang status suami istri. Namun, belum pernah sekalipun ia menyentuh sang istri. Entah mengapa Rama masih segan untuk menyentuh Melisa. Ia khawatir Melisa akan menolak karena memang pernikahan ini terjadi atas dasar paksaan darinya.


“Twinkle, twinkle little star... How I wonder what you are... Up above the world so high... Like a diamond in the sky...”


Rama bernyanyi sambil menggendong Edrick di dalam dekapannya. Rama memang selalu seperti ini setiap malam. Ia tidak pernah absen untuk menidurkan Edrick di kamar tidurnya sendiri setelah pulang kerja atau kala sedang libur, dan Edrick pun kini sudah terbiasa tidur di dalam pelukan sang ayah. Bahkan bayi tampan itu akan menunggu sang ayah pulang di saat lembur pun, dia tahu akan ketidakhadiran sosok itu hingga matanya tak mau terpejam.


Melisa melihat Rama dari balik pintu kamar putranya itu. Ia terharu dengan tanggung jawab pria itu, karena selelah apapun Rama, pria itu tetap akan meluangkan waktunya untuk sang putra.


Saat ini, Mereka memang masih tinggal di rumah minimalis Melisa. Sang istri masih enggan untuk pindah ke apartemen Rama.


Melisa perlahan mendekati suaminya yang masih menggendong Edrick. Rama terus mengelus wajah tampan putranya.


“Apa dia sudah tidur?” Tanya Melisa, berdiri tepat di belakang Rama.


Wajah Rama menoleh ke arah Melisa dan tersenyum mengangguk.


“Sepertiya dia sudah terbiasa tidur denganmu.” Ucap Melisa lagi.


“Aku ingin menebus semua waktu yang terlewat bersamanya.” Jawab Rama yang memang tak ada ketika Melisa mengandung dan melahirkan.


Melisa terdiam.


Lalu, Rama meletakkan Edrick di tempat tidurnya. Bayi tampan itu sudah terlihat sangat terlelap. Melisa ikut mengecup pipi putranya, sebelum ia dan Rama sama-sama pergi dari kamar itu.


“Kamu sudah makan?” Tanya Melisa pada Rama yang baru pulang kerja, mandi, dan langsung ke kamar Edrick.


Rama menggeleng.


“Aku siapkan makan malam untukmu.”


“Terima kasih.” Rama mengikuti langkah istrinya menuju dapur.


Rama menelan salivanya, saat mengekori Melisa dari belakang. Pasalanya, Melisa berjalan lenggang lenggok bagai model, dengan balutan pakaian malam yang tipis dan sedikit terbuka di bagian dada, punggung belakang dan paha mulusnya yang terpampang nyata. Lekuk tubuh sang istri begitu menggoda.


“Uhuk.. Uhuk.. Uhuk...” Rama tersedak, saat salivanya sulit tertelan.


Melisa menoleh ke belakang dan menghentikan langkahnya agar sejajar dengan Rama.


“Kamu sakit?” Tanya Melisa dengan penuh perhatian.


“Tidak hany tersedak saja.”


“Oh..” Melisa dan Rama sampai di meja makan.


Ia menarik kursi di sana untuk suaminya.


“Duduklah, aku akan membawa makanan untukmu. Semua sudah aku panaskan.”


Rama tersenyum lebar. Melisa memang bisa di bilang istri yang tau akan kewajibannya. Ia selalu menyiapkan semua kebutuhan Rama, dari mulai menyiapkan pakaian, memasak, dan selalu terjaga hingga suaminya sampai di rumah.


“Terima kasih.” Ucap Rama, ketika Melisa sudah kembali ke meja makan dengan membawa beberapa makanan di sana.


Melisa mengambil nasi untuk sang suami. Ia mulai tau takaran makan suaminya.


“Dari mana kamu tahu aku suka ayam kecap?” Tanya Rama yang melihat menu makanan yang menggugah seleranya.


“Dari mama. Tadi siang mama dan Kak Sisy mampir ke sini, katanya Zidan mau main dengan Edrick.”


“Oh.” Rama mengangguk.


Melisa hanya menopangkan dagunya, sambil melihat Rama yang antusias memakan masakannya. Ia tersenyum. Kemudian, Rama menyadari hal itu. Ia menoleh ke arah Melisa.


“Kamu tidak makan?”


“Hmm..” Melisa tersadar dan menegakkan tubuhnya.


Ia mengeleng. “Aku tidak lapar.”


“Apa kamu diet?” Tanya Rama meledek.


“Tidak. Memang tidak lapar.” Melisa menggeleng.


“Yang benar? Kata Bi Tati, kamu memang menghindari makan malam, supaya tidak gendut.” Ucap Rama sambil mengunyah makanannya.


“Itu benar juga.”


“Makanlah! Ini enak sekali.”


Lagi-lagi Melisa menggeleng.


“aku tidak suka wanita kurus, aku lebih suka wanita berisi, agar enak di pegang.” Celetuk Rama, membuat Melisa merasa malu.


“Tapi aku tidak kurus.” Ketus Melisa.


“Memang tidak kurus, tapi lebih sedikit berisi juga tidak buruk.” Senyum Rama, walau saat ini Melisa sudah terlihat berisi. Ini hanya akal-akalan Rama agar istrinya mau makan bersama.

__ADS_1


“Baiklah, aku makan. Aku itu sebenarnya hobby makan, tapi kalau nanti aku gendut tanggung jawab ya.”


Rama tersenyum dan mengangguk. “Sekarang juga sudah bertanggung jawab kan? Walau sedikit terlambat.”


Melisa memoynongkan bibirnya. Akhirnya, ia menemani sang suami makan malam. Ini kali pertama, ia makan malam paska melahirkan.


Melisa memang tidak menyusui Edrick dengan ASI ekslusif. ASI nya hanya keluar sedikit setelah melahirkan, mungkin memang karena kondisi psikisnya yang berat saat itu membuat air susu Melisa tak keluar banyak. Padahal ia sudah mencoba beberapa treatment, tapi hasilnya tetap saja sama. Ia hanya bisa sesekali memberikan ASI di campur dengan susu formula, dan saat Edrick berusia tujuh bulan, Edrick sudah benar-benar hanya meminum susu formula saja.


Selesai makan malam, Melisa merapihkan piring-piring kotor di meja itu.


“Sini, aku bantu.” Rama meraih piring dari tangan Melisa untuk di bawanya ke dapur.


“Rama..” Panggil Melisa ragu.


“Hmm.” Rama yang sedang berdiri di wastafel dan mencuci tangannya itu, menoleh ke arah sang istri.


“Boleh, aku memanggilmu Mas? Karena sepertinya aku terlalu kurang ajar jika memanggilmu dengan sebutan nama, walau usia kita hanya terpaut dua tahun.”


Rama tertawa. “Terserah, yang penting kamu nyaman.”


Rama kembali berjalan melewati istrinya dan beralih menuju kamar. Sementara Melisa masih meringis sendiri. Ia bingung bagaimana caranya agar suaminya itu menyentuhnya. Apa yang salah dengan dirinya? Mengapa hingga kini Rama tak juga meminta haknya? Walau memang pernikahan ini hanya sebuah tanggung jawab terhadap Edrick, tapi apa tidak ada sedikit cinta untuknya?


Semua spekulasi buruk bermunculan dari benak Melisa. Ia ingin mengatakan ini, tapi mulutnya enggan untuk bicara.


Kemudian, Ia mengikuti langkah Rama yang masuk ke dalam kamarnya.


Rama duduk di tempat tidur. ia menyandarkan punggungnya di didnding tempat tidur. ia masih memainkan ponsel, sambil menurunkan makanan yang masih berkumpul di perutnya.


“Kamu mau langsung tidur?” Tanya Melisa pada Rama.


Rama mengangguk.


“Itu tidak baik, sedangkan kita baru saja makan malam.” Ucap Melisa lagi.


“Lalu, kita mau apa?” Tanya Rama.


Meisa mengerdikkan bahunya, sambil menggigit bibir bawahnya.


Rama tersenyum gemas.


“Mungkin olahraga malam, untuk membakar kalori setelah makan banyak tadi.” Celetuk Melisa tanpa sadar.


“Oh, ya. Kamu benar. Sudah lama sekali aku tidak olahraga malam.” Jawab Rama yang mengartikan olahraga malam dengan arti sebenarnya, berbeda dengan Melisa yang mengartikan olahraga malam sebagai aktifitas malam panas di ranjang antara suami dan istri.


“Kenapa menutup mata? Katamu kita akan olah raga? Ayo aku sudah siap.” Rama turun dari tempat tidurnya. Ia berdiri sambil membentakan tagannya ke atas untuk melakukan pemanasan sebelum berolahraga.


“Ngga jadi. Aku tidur saja.” Melisa menarik selimut dan menutup tubuhnya hingga kepala dengan selimut itu.


Rama tertawa. Ia tau maksud istrinya. Ia hanya ingin menjahili Melisa saja.


Perlahan, Rama menaiki tempat tidur itu lagi. Ia menarik selimut yang membungkus Melisa hingga tak terlihat.


“Kok malah kamu yang tidur. Baru makan, sudah tidur. Nanti gemuk loh.” Kata Rama meledek sang istri.


“Biarin.” Jawab Melisa, dengan tetap memejamkan matanya paksa.


Lalu Rama mendekati Melisa persis di samping tubuh istrinya yang sedang berbaring dan berkata persis di telinga itu, “tapi aku ingin olahraga.”


“Olahraga saja sendiri. Aku mau tidur.” Jawab Melisa ketus. Ia kesal dengan suaminya yang tidak peka.


“Yakin, tidak mau menemaniku olahraga malam?”


Melisa menggeleng.


“Bagaimana kalau aku memulai olahraga malam itu sekarang. Apa boleh?” Tanya Rama yang gemas dengan sikap istrinya, membuat ia semakin tergoda.


“Terserah kamu.”


“Baiklah kalau begitu, aku sudah mendapatkan izin.”


Rama langsung menindih tubuh Melisa, membuat wanita itu terkejut.


“Kamu mau apa?” Mata Melisa terbuka, karena memang ia belum tertidur.


“Olahraga malam.”


Perlahan, wajah Rama mendekat ke wajah Melisa. Ia mencium bibir ranum istrinya. Ia ******* sekilas. Namun luamtannya itu langsung di balas oleh Melisa, membuat Rama semakin memperdalam ciumannya. Ia semakin rakus menelusuri rongga mulut Melisa, hingga suara kecapan dari ciuman panas itu terdengar cepat dan terus berulang, seperti insan yang tengah merindu akan ciuman itu.


“Mmpphh..” Melisa melenguh saat Rama melepas pangutan itu.


Rama memberikan ruang agar Melisa menghirup udara sebanyak-banyaknya. Lalu, Ia kembali memangut bibir itu.


Setelah puas, Rama memainkan bibir istrinya. Kemudian, ia melepaskan.


“Aku suka bibir ini.” Rama mengusap bibir Melisa yang basah dengan ibu jarinya.

__ADS_1


“Mengapa kamu tidak pernah menyentuhku?” Tanya Melisa lirih.


“Aku sangat ingin, tapi aku menunggumu memberikannya. Aku takut kamu menolak karena dosaku banyak terhadapmu.”


Melisa terdiam.


“Itu bukan salahmu. Memang keadaannya seperti itu.” Melisa mencoba menghilangkan rasa bersalah Rama.


“Tetap saja, aku seperti pria yang tidak bertanggung jawab, membiarkanmu menganduk dan melahirkan Edrick seorang diri.”


“Hey, aku tidak apa-apa. Aku ikhlas menjalaninya.” Melisa menangkup wajah Rama.


“Terima kasih.” Rama kembali mencium bibir Melisa sekilas.


“Sekarang, apa aku boleh?”


Dengan cepat Melisa mengangguk.


“Aku adalah milikmu. Kapanpun kamu menginginkannya, lakukanlah!”


Bibir Rama langsung tersenyum lebar. Ia senang sekali dengan pernyataan Melisa tadi. Lalu, Rama melanjutkan aktifitasnya. Dengan lembut, ia menelusuri leher jenjang Melisa, dadanya, perutnya, dan berakhir pada bagian senitifnya. Lama, Rama bermain di sana. Mata Melisa sayu, ia menggigit terus bibir bawahnya, sambil merasakan kenikmatan yang sudah lama tak ia rasakan. Terakhir kali ia merasakan kenikmatan, hingga terbang ke kangit ke tujuh ini adalah saat di club bersama Rama dua tahun silam. Setelah itu, ia tak lagi berhubungan badan dengan pria manapun, hingga dua bulan kemudian tubuhnya mulai terasa berbeda. Ia sering mual dan tidak nafsu makan.


Rama melakukannya dengan sangat lembut, persis seperti yang ia lakukan saat pertama kali bertemu dengan wanita naka ini di sebuah club.


“Tubuhmu selalu membuatku tergoda, Sayang.” Kata Rama di sela-sela aktifitas panasnya.


Ya, Rama memang mengagumi tubuh Melisa sejak pertama kali bertemu wanita ini. Akhirnya, Tuhan memberikan apa yang ia butuhkan, tapi bukan apa yang di inginkan, karena nyatanya keinginan untuk memiliki Sari hanya sebuah keinginan dan bukanlah kebutuhannya.


****


Di London. David dan Sari hanya di tinggal berdua di rumah besar ini. semua naggota keluarganya di ajak jalan-jalan oleh George dan Samuel. Melvin pun ikut serta bersama grandMa, grandFa, Nancy, Ardi, dan juga Nina.


“Sayang, Kok sepi.” Kata Sari dari arah belakang tubuh David yangs sedang menyiapkan miuman hangat untuk sang istri.


Sari melingkarkan tangannya pada pingga David dari samping.


“Semua pergi. George mengajak ayah, dan Ardi ke Wembley Park untuk menonton langsung pertandingan Manchester United dengan Liverpool di stadium Wembley. Sedangkan, Uncle Sam mengajak para wanita ke London Bridge. Mereka ingin melihat jembatan luas itu dan mengelilingi daerah di sana.”


“Wah, pasti indah, aku juga belum pernah melihat jembatan itu, katanya bisa terbelah sendiri?” Tanya Sari antusias.


David tertawa. “Iya, nanti kita ke sana berdua, tapi saat kondisimu sudah lebih baik.”


“Bagaimana? Apa masih pusing? Aku sengaja tidak membangunkanmu, karena sebelumnya kamu selalu mengeluh pusing.”


“Iya, tadi pagi kepalaku pusing sekali.”


“Apa masih jetleg? Padahal kita sudah dua hari di sini.”


“Entahlah. Hanya kadang-kadang saja. Sekarang sudah tidak lagi.’


“Baguslah, kalau begitu. Ayo makan dulu sarapanmu ini sudah sanat siang tapi perutmu belum terisi apapun.”


Sari mengangguk, lalu membuka mulutnya, karena tangan David sudah siap untuk menyuapi sang istri.


“Hmm.. Burger buatanmu enak.” Sari mengambil makanan itu dari tangan David.


“Makanlah yang banyak, aku membuatnya lebih dari satu.” David mennunjuk ke piring yang terletak di atas kitchen set yang luas itu.


Sari tersenyum dan menggeleng. “Itu kebanyakan.”


“Agar staminamu kuat, karena setelah ini aku yang akan memakanmu.” Ledek David, sambil menaik turunkan alisnya.


Sari tertawa. Ia tahu persis dengan kelakuan suaminya.


“Kapan mereka pulang?” Sari bertanya tentang keberadaan keluarganya.


“Mungkin malam.”


“Oh, Pantas saja.” Sari tersenyum sambil mengunyah makananya.


“Kamu tahu, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu berdua kita di sini.” David mendekati Sari dan memeluk tubuh mungil istrinya yang sedang duduk di kursi tinggi ala cafe itu.


“Bagaimana kalau sekarang aku tidak usah pakai baju?” Tanya Sari meledek suaminya yang mesum.


David tertawa, persis di belakang telinga Sari. hembusan nafasnya meremang menyentuh kulit lehernya.


“Kamu memang selalu tau apa yang aku butuhkan.” Jawab David, yang lasung menggendong Sari ala bridal.


“Tunggu, aku belum minum.” Sari menaham lengan David yang akan memabwanya menuju kamar mereka.


Tanga Sari meraih gelas yang sudah David sediakan. Ia meminaum di dalam gendongan suaminya.


“Dasar mesum.” Ledek Sari, setelah ia meletakkan gelas itu asal.


Padahal isi kepala David tidak se mesum itu, ia hanya ingin bermesraan, bersenda gurau, sambil sedikit bercumbu, mengingat saat ini sang istri sedang tak enak badan. Walau pun nantinya, ia tidak janji untuk tidak melakukan penyatuan, karena Sari sendiri yang terkadang menggoda untuk minta di sentuh lebih.

__ADS_1


__ADS_2