Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
mood booster


__ADS_3

Sari mengerjapkan kedua matanya. Matahari yang menyorot dari jendela, membuatnya ingin membuka mata, walau sebenarnya tubuhnya belum ingin bergerak. Ia lelah karena David menggempurnya sedari semalam. Pria bule yang kini menjadi suaminya itu melakukan berkali-kali, membuat tubuh Sari seakan remuk dan tak bertulang.


“Hmm...” Sari menggeliat, tubuh polosnya terbuka, lalu ia menutupnya kembali dengan selimut tebal itu.


“Selamat pagi, sayang.” David membawakan susu hamil untuk sang istri.


“Kamu sudah rapih?” Tanya Sari yang melihat suaminya sudah lengkap memakai kemeja putih dan celana hitam panjang.


“Aku berangkat pagi. Nanti sore aku pulang dan kita ke dokter kandungan.” Ucap David, yang kemudian duduk di tepi ranjang menyodorkan segelas besar susu kepada Sari.


Sari menatap malas gelas yang di pegang David. Pasalnya ia tak terlalu menyukai susu apalagi susu putih.


“Sebanyak ini harus di habiskan?” Tanya Sari yang mulai bangkit, sambil membereskan selimutnya agar tetap menutupi tubuh polosnya itu.


“Kamu tidak suka susu?”


Sari menggeleng. “Susu putih itu rasanya ngga enak, eneg.”


David kembali tersenyum melihat ekspresi Sari yang seperti anak kecil.


“Di coba dulu, ini enak dan baik untuk anak kita.”


Dengan terpaksa, Sari menerima gelas itu. Lalu meminumnya. Tak lupa ia memencet ujung hidungnya, agar tak terasa bau amis yang menyengat dari susu itu. Lalu, ia mulai meminumnya.


David terus tertawa, karena Sari benar-benar seperti anak kecil.


“Habiskan!” Kata David, saat Sari menyerahkan gelas yang masih tersisa sedikit.


“Kenyang.” Jawab Sari, sambil memegang perutnya.


“Sedikit lagi.”


Sari menggeleng. “Nanti aku muntah.”


David menyerah. “Baiklah.”


Ia kembali menaruh gelas itu di nakas.


Sari mencoba bangkit dari tempat tidur. “Ah.”


David segera membantu istrinya untuk duduk. “Maaf, semalam aku terlalu bersemangat.”

__ADS_1


Sari tersenyum. “Tidak apa.”


Ia menurunkan kakinya ke lantai. Sementara David berjalan menuju lemari dan mengambil dasinya. Sari langsung turun dari tempat tidur dan mencoba berjalan menghampiri David.


“Sini aku pakaikan.” Ucap Sari, yang langsung mengambil dasi itu dari tangan David.


Sari ingin memakaikan suaminya dasi. Namun, tangannya sibuk memegang selimut tebal itu, dan menyelipkan ke sisi kiri untuk mengunci agar selimut itu tak jatuh, tapi tetap saja selimut itu akan jatuh lagi.


“Sini, aku pegang selimutnya.” Kata David dengan senyum.


Sari membalas senyum David. Ia memakaikan dasi suaminya, sementara David tetap memegang selimut Sari dari samping.


Wajah Sari terlihat serius, walau dia agak lama memakaikannya. David menatap intens wajah Sari yang sedang serius.


“Sudah.” Sari menepuk pelan dada David.


‘Aku juga pegal.” David melepas pegangannya pada selimut tebal yang menutupi tubuh polos Sari. Alhasil selimut itu langsung jatuh ke lantai.


“Aaa..” Sari langsung berjongkok.


David ikut berjongkok dan tertawa. “Aku sudah melihat semuanya.”


Sari mendorong tubuh David yang sedang berjongkok, hingga ia terduduk di lantai.


Sari hendak berlari, tapi ujung selimut itu di tahan David.


“Ih, lepas.” Sari membulatkan matanya


David menggeleng.


“Nanti, selimutnya lepas lagi.” Rengek Sari.


David tersenyum dan semakin kuat menarik ujung selimut itu.


“Cium dulu.” David menaikkan alisnya.


Akhirnya, Sari menyerah. Ia mendekat ke arah suaminya lagi.


“Pemaksa.” Ucap Sari kesal.


Namun tak di gubris oleh David. Ia menarik pinggang Sari dan langsung menempelkan bibirnya.

__ADS_1


Cup.


David ******* bibir itu. Ia terus memainkan bibir Sari dan lama mengecap bibir rasa susu putih itu.


Sari pun langsung membalas ciuman itu, ia ikut terbuai dalam permainan bibir suaminya. Memang David sangat lihai dalam hal ini, pantas saja ia di sebut playboy.


“Mmpph..” Sari mulai kehabisan oksigen, dan David menyudahi pangutan itu.


David menenmpelkan keningnya pada kening Sari, walau ia harus lebih mununduk.


“Kamu belum sarapan? Tunggu aku, aku berpakaian dulu.” Ucap Sari lirih, saat wajah mereka tak berjarak. Hempasan nafas keduanya pun beradu.


“Aku tidak lapar, karena sudah di charge dari semalam hingga pagi.” Jawab David, kemudian melepaskan pelukan mereka.


Lalu, David langsung mengambil jasnya.


Sari yang masih menggenggam selimut itu di dadanya, ikut berjalan keluar mengikuti langkah suaminya dan mengantarnya sampai pintu utama.


“Ini Nina, orang yang akan membantu dan menemanimu di sini.” David memperkenalkan asisten rumah tangga baru untuk istrinya.


Nina mengulurkan tangannya untuk bersalaman pada Sari dengan senyum yang tertahan. Pasalnya ia melihat majikan wanitanya ini yang masih berantakan, di tambah bau bercinta yang melekat di tubuh dan aromanya. Leher dan pundak Sari yang terbuka pun menampilkan banyak tanda merah.


“Oh. Iya.” Sari menerima uluran tangan itu, sambil melirik dirinya sendiri.


Ia nyengir. “Maaf ya.”


Sungguh ia malu melihat kondisinya saat ini. Entah apa penilaian Nina terhadapnya, apalagi ini kesan pertama bagi Nina.


“Baiklah, Sayang. Aku berangkat.” David merangkul pundak Sari dan bersama berjalan menuju pintu utama.


“Aku ingin mangantarkan makan siang untukmu.” Ucap Sari, sebelum David pergi.


“Memang tahu alamat kantorku yang baru?”


“Kirimkan alamatnya ke whatsappku, ya.”


“Iya sexy.” David mengacak-acak rambut Sari.


Kemudian dengan jahilnya, tangan David sengaja melepas genggaman tangan Sari yang sedang memegang selimut untuk mengunci selimut itu agar tidak jatuh. Alhasil selimut itu melorot dan hampir tergoyak ke lantai. Namun dengan cepat Sari menahannya dan dengan cepat pula, David menyentuh dua gunung kembar sari yang terlihat, karena selimut itu hanya bias tertahan di pinggulnya.


“Ish. Menyebalkan.” Sari memonyongkan bibirnya. Ia langsung membenarkan selimut itu kembali.

__ADS_1


David tertawa. Lalu mengambil kepala Sari dan mengecup keningnya. Ia masih terus tertawa, hingga membuka pintu dan keluar. Sementara Sari masih merengut, memonyongkan bibirnya.


Tingkah Sari memang selalu menjadi mood boosternya. David semakin bersemangat dalam menjalani hidupnya kini.


__ADS_2