Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
selesaikan urusan pertama


__ADS_3

Suasana di dalam mobil hening. Sari tak lagi mengeluarkan suara, setelah David membentaknya tadi. Tiba-tiba air bening dari matanya mengalir tanpa di minta. Kemudian, Ia lebih sering menolehkan pandangan ke arah jendela untuk menyembunyikan bulir-bulir bening yang tengah keluar dari matanya.


David merasa bersalah karena telah mengeluarkan suara yang agak keras pada istrinya, padahal ia tahu maksud istrinya itu baik. Sesekali David menoleh ke arah Sari yang memalingkan wajahnya ke jendela.


Saat lampu merah, David meraih tangan Sari dan menggengggamnya.


“Kamu marah?” Tanya David, sambil mengecup tangan Sari dari samping.


Sari langsung menghapus sisa-sisa bening air yang mengalir di pipinya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya sedang di genggam erat oleh sang suami.


“Sayang..” Panggil David lagi.


“Hmm,,,” Sari menoleh, pura-pura baru mendengar David bicara.


Sari menggeleng dan tersenyum.


Kemudian, lampu lalu lintas yang semula berwarna merah, kini beralih menjadi hijau. Lalu, David melepas genggaman tangannya yang menggenggam erat tangan Sari itu untuk kembali pada setir kemudi.


Sepanjang perjalanan Sari tak mengeluarkan suaranya, hingga mereka sampai di lobby apartemen.


“Sudah sampai.” Kata David dan Sari menunggu David membuka mobilnya yang masih terkunci.


Ceklek, Sari membuka pintu mobil itu sebelum keluar. Namun, pintu itu tak bisa terbuka. Sari menoleh ke arah David.


“Aku langsung ke kantor lagi.” Kata David yang menunggu Sari mengeluarkan suaranya.


Namun, Sari hanya mengangguk.


Tiba-tiba David memeluk Sari. “Maaf, seharusnya aku tidak membentakmu tadi, Maaf.’


Cup


David mencium bibir Sari yang masih membungkam. Beberapa kali David mencium bibir itu, agar Sari membuka mulutnya, tapi ia tetap diam. Merasa ciumannya tidak di balas Sari, akhirnya David melepas ciuman itu.


“Hati-hati.” Kata Sari, lalu membuka pintu mobil itu dan keluar.


Sari berjalan masuk ke dalam apartemen itu tanpa menoleh lagi ke belakang, padahal biasanya ia akan melambaikan tangannya ke arah David di iringi senyum yang manis sesaat sebelum suaminya pergi dan menjalankan mobilnya kembali.


David hanya menghelakan nafasnya kasar saat melihat punggung Sari yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Mungkin, jika tidak ada rapat penting di kantor, David akan memilih menemani Sari masuk ke dalam apartemen itu, karena ia tak suka melarut-larutkan masalah, terlebih ini dengan wanita yang ia cintai.


Sari berjalan menuju lift. Namun, langkah kakinya berputar dan berjalan kembali keluar. Ia melihat mobil David sudah tak di sana. Lalu, Sari berjalan menuju mall, ia ingin jalan-jalan untuk menghilangkan penat.


Sesampainya di mall yang jaraknya sangat dekat itu, Sari memasuki baby shop, ia melihat sepatu bayi yang lucu. Ingin rasanya ia membelinya, tapi ia ingat pesan Ratih yang tidak memperbolehkan membeli perlengkapan bayi sebelum menginjak usia tujuh bulan kehamilannya.


“Bagus sekali.” Gumam Sari, sambil memegang sepatu itu.


Dari luar toko, Rama yang baru saja sampai dari tugasnya di luar kota, hendak ingin membeli bahan makanan untuknya di dalam apartemen nanti. Lalu, ia melihat Sari yang tengah asyik memegang sepatu itu.


Kemudian, Sari keluar dari toko yang menyediakan segala macam perlengkapan bayi itu, sementara Rama masuk dan mengambil sepatu yang di pegang Sari tadi. Lalu dengan cepat ia ke kasir dan membayarnya. Kemudian, ia kembali mengikuti langkah Sari.


Rama kehilangan jejak, Sari sudah tidak ada dalam pantauannya. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari sosok wanita yang masih bersemayam dalam hatinya.


“Mas Rama..” Panggil Sari yang melihat Rama tengah berdiri dengan pandangan kesana kemari.


Rama menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.

__ADS_1


Deg


Ia terkejut dengan sosok wanita yang ada di depannya, wanita yang sangat ia rindu, wanita yang ingin sekali ia peluk. Jantung Rama berdegup kencang, persis seperti pertama kali ia megucapkan cinta pada wanita ini.


“Sa..ri, hai.” Balas Rama di iringi senyum yang mulai mengembang di bibirnya.


Sari membalas senyum Rama, senyum manis yang sangat Rama rindukan.


“Kamu ngapain, Mas? Lagi mencari seseorang?” Tanya Sari.


“Ah enggak, hanya mampir saja.” Jawab David bohong.


“Oh.” Sari membulatkan bibirnya dan ia melihat Rama yang tengah membawa plastik berlogo baby shop yang tadi ia kunjungi.


“Kamu beli itu untuk anaknya kak Sisy?” Tanya Sari lagi menunjuk barang yang di bawa Rama.


Rama mengangguk ragu. “Iya.”


Kemudian, Sari kembali berjalan di ikuti Rama di sampingnya.


“Kamu tinggal di mana sekarang?” Tanya Rama, pura-pura tidak tahu.


“Di apartemen sebelah.” Jawab Sari sambil menunjukkan tangannya ke arah gedung menjulang tinggi yang berada persis di sebelah mall ini.


“Kamu masih kerja?” Tanya Rama lagi.


Sari menggeleng. “Tidak di bolehkan.”


“Possesive sekali suamimu.” Jawab Rama ketus.


“Tidak, dia hanya khawatir aku akan capek.”


Sari pun ikut tertawa. “Iya ya benar. Mungkin nanti aku akan mengajukan perjanjian itu setelah melahirkan.”


Lalu, mereka berhenti di depan cafe yang terdapat di dalam mall itu.


“Kamu sedang tidak buru-buru kan? Bagaimana kalau kita ngobrol dulu sebentar di sana?”Ajak Rama yang menunjuk pada cafe di depannya.


Sari terdiam.


“Sekarang, kita teman bukan?” Rama mengulurkan tangannya pada Sari.


Sari menatap mata Rama dan sesekali beralih pada kelima jarinya yang terbuka dan mengajak bersalaman.


“Aku sudah mengikhlaskanmu, tapi kita masih bisa menjadi teman kan?”


Sari tersenyum dan menerima uluran tangan Rama.


“Kenapa tidak.” Ungkap Sari.


“Kita teman.” Kata Sari lagi, mengepal erat jabatan langan itu.


“Ya, sama seperti sebelumnya, kita teman yang saling bertukar cerita tentang apapun.” Ucap Rama


Sari tersenyum.

__ADS_1


“Iya benar, kamu selalu menjadi tong sampahku.” Kata Sari sambil tertawa.


Ia ingat awal pertemuannya dengan Rama yang kemudian bertukar nomor ponsel, lalu sering bercerita melalui whatssapp, telepon langsung atau melalui video call. Beberapa tahun pertama berpacaran, Rama sangat perhatian, bahkan ia selalu menjadi tempat curhat Sari. Dengan senang hati, Rama mendengarkan keluhan-keluhan Sari, terutama tentang pekerjaan dan beberapa klien yang menyebalkan di kantornya. Rama selalu memberi tanggapan yang membuat Sari tenang dan lega setelah meluapkan keluhannya pada kekasihnya saat itu.


“Yuk, kita ke dalam!” Rama membukakan pintu cafe itu untuk Sari masuk.


Kemudian mereka duduk berhadapan. Mereka berbincang hangat, sudah tak ada lagi kecanggungan seperti pertemuan terakhir mereka kala itu di kasir sebuah restoran.


Sedangkan di kantor, David tengah mendengarkan bagian operasional mempersentasikan sebuha proyek yang sedang ia garap. Entah ia merasa rapat kali ini sungguh tidk konsentrasi. Beberapa kali Malik mengingatkan perkataan david yang sebelumnya ia ingin tanyakan pada bagian inni, tapi lupa untuk di tanyakan sekarang.


“Bos.. Bos..” Panggil Malik membuyarkan lamunan David.


“Oh, iya. Sepertinya hari ini saya sedang tidak berkonsentrasi. Rapat di lanjutkan besok.” Kata David menutup rapat mereka.


Kemudian, semua karyawan keluar dari ruangan itu, terlihat Ihsan yang kecewa karena sudah mempersiapkan persentasi dengan matang, tapi tidak jadi tampil.


David masih duduk dan memijat pelipisnya.


“Kenapa, Bro?” Abram menepuk pundak David.


“Lagi banyak pikiran.”


“Pikiran apa? Sepertinya gue liat sejak menikah, lo sering banget tersenyum dan tertawa sendiri.”


“Emang gue gila.” Jawab David ketus, yang langsung di balas oleh tawa Abram.


Di ruang rapat itu, hanya tersisa mereka berdua.


“Ibu gue datang lagi.”


“Apa?” Abram terkejut mendnegar penuturan sahabatnya.


David mengangguk.


“Gue masih shock, Bram. Gue ngga tahu bisa nerima dia apa ngga.”


“Wait, wait, lo ketemu ibu lo di mana?” Tanya Abram.


“Dia menolong Sari saat istri gue ingin jatuh di tangga. Lalu, mereka berkenalan dan akrab.” Kemudian David menceritakan pada Abram, hingga akhirnya ia bertemu dengan sang ibu.


“Itu takdir, Bro. Memang ini saatnya lo belajar untuk menghilangkan rasa benci lo sama ibu lo itu. Kalau menurut gue, ngga ada salahnya, lo coba lakukan saran istri lo. Mungkin uncle Sam mengetahui cerita sebenarnya, tapi dia belum merasa tepat untuk ngasih tau kebenaran itu sama lo. Saran gue temui uncle Sam, supaya lo dapat informasi dari dua sisi.”


David terdiam mendengar saran dari sahabatnya itu.


“Ya udah, sekarang lo pulang sana, selesaikan urusan lo dulu sama bini lo. Supaya ngga kusut gini.”


Lalu, David bangkit dari duduknya.


“Dasar bucin lo.” Ledek Abram tertawa, melihat perubahan sahabatnya, karena baru kali ini ia melihat David benar-benar mencintai seorang wanita.


Di cafe sebuah mall, Sari dan David selesai berbincang. Mereka masih tertawa bercerita tentang hal-hal lucu saat masih bersama, ketika berjalan menuju lift.


“Maaf aku tak mengantarmu, nanti bule gila itu cemburu dan menghajarku.” Ujar Rama.


Sari tertawa. “Iya benar, dia memang bule gila.”

__ADS_1


Kemudian, Sari masuk ke dalam lift, sedangkan Rama melambaikan tangannya hingga lift itu tertutup. Sari tersenyum, berbincang dengan Rama sejenak membuat rasa sedihnya hilang. Entah apa yang ia rasakan pada Rama. Sekilas ia merasa bersalah, tapi ia meyakinkan diri bahwa hubungannya dengan Rama hanya teman.


Di dalam mobil, David mengendarai mobilnya dengan cepat. Ia ingin sekali cepat bertemu dengan sang istri. Perasaannya tak karuan. Apa ini sebuah ikatan batin antara dirinya dan sang istri? karena di sana Sari sedang bersama pria yang dulu pernah mengisi hatinya, pria yang pernah di pujanya dan menjadi satu-satuya dalam hatinya.


__ADS_2