Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
Aku akan selalu ada di sisimu


__ADS_3

Sari menatap wajah lelah David yang tengah terlelap di sampingnya. Ia memang egois, memaksakan sesuatu dengan kondisi yang tidak memungkinkan. Memang sebelumnya Sari tidak menginginkan Melvin hadir, ia tidak menginginkan petaka malam itu, walau akhirnya ia sudah menerima takdir itu. Namun, kesalahan David yang kedua kalinya, membuat Sari egois dan sesekali ingin memaksakan kehendak, berontak, karena bukan hanya pria bule itu saja yang selalu bisa memaksakan kehendak atas dirinya.


“Maaf, Mas. Aku masih ragu padamu.” Gumam Sari, sambil mengelus wajah pria tampan yang dengan segenap hati mencoba menjadi suami dan ayah yang baik untuk Sari juga Melvin.


Walau Sari telah memaafkan atas apa yang di lakukan David, tapi hati kecilnya masih ragu. Apalagi dengan track record ayah David sebelumnya yang memperlakukan Elvira seperti ini. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, bukan? Begitu pun yang Sari pahami. Sehingga ketika hal buruk itu terulang lagi, Sari bukanlah wanita lemah, dia mampu berdiri sendiri karena memiliki kemampuan dan finansial yang cukup untuk memenuhi kebutuhan anaknya nanti.


****


Hari ini, Sari sudah bersiap untuk pergi ke Malang. Ia mendadak memesan tiket tanpa memberitahu kedua orang tuanya. Ia pun sudah izin kepada suaminya, walau pun David tidak memberi jawaban iya dan tidak juga memberi jawaban tidak. Namun, Sari teteap berangkat untuk mengambil berkas-berkas di sana untuk di kirim ke Paris. Di sana, ia juga akan membuat Visa.


Ceklek


David keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan melilitkan handuk di pinggangnya. Sari menoleh ke arah suara itu. Tetapi, David tak membalas tatapan Sari.


Ya, David tidak berbicara sejak Sari meminta izin untuk pergi ke kampung halamannya. Ingin rasanya ia marah tapi tidak bisa. Ia hanya memendam kekesalannya dengan diam.


“Ini bajumu sudah ku siapkan.” Kata Sari sambil menyerahkan pakaian kerja suaminya lengkap.


David pun menerima uluran tangan Sari.


“Terima kasih.”


Lalu, ia memakai pakaian itu. Sari sengaja duduk di tepi ranjang, memperhatikan semua aktifitas suaminya.


“Kamu marah?” Tanya Sari.


“Apa aku boleh marah?” David balik bertanya.


“Aku tahu, kesalahanku banyak, aku selalu memberimu luka, pemaksa, possesive, dan tempramental. Jika aku sekarang marah, malah nantinya akan membuatmu semakin jauh dariku selamanya, dan aku tidak mau itu.”


Sari terdiam dan menunduk.


“Maaf.” Ucap Sari lirih.


“Jika Melvin saja tidak bisa membuatmu tidak pergi, apalagi aku.” Kata David lagi sambil menghampiri meja rias dan memakai jam tangannya.


“Kapan kamu berangkat?’ Tanya David lagi.


“Nanti siang.”


“Oh. Kalau begitu hati-hati. Maaf aku tak bisa mengantarmu ke bandara.”


Sari mengangguk. “Iya tidak apa, aku tahu kamu sibuk.”


David sedih, hatinya berkecambuk. Ingin rasanya ia mengunci Sari di kamar ini, agar tidak pergi. Kemudian, ia melangkahkan kakinya keluar kamar. Di ruang keluarga Nina sedang bermain bersama Melvin. David mengambil putranya dan menggendongnya.


“Mas, makan dulu.” Ucap Sari.


David menggeleng.


“Tidak perlu, aku tidak lapar.” David memberikan Melvin lagi pada Nina, tapi Sari dengan sigap menerima Melvin untuk di gendongnya.


Sari mengantar David yang sudah berjalan menuju pintu untuk keluar.


“Daah, papa.. Hati-hati di jalan.” Sari memegang tangan Melvin untuk melambaikan tangan ke atas.


David terenyuh melihat pemandangan ini. Pemandangan ini yang ia inginkan setiap hari. Di antar oleh anak istri saat berangkat kerja, melihat senyum manis Sari dan kegemasan Melvin, itu sangat membahagiakan.


David kembali mendekati Sari dan mengecup keningnya.


Cup


Kemudian, David ******* sebentar bibir tipis itu. Lalu, tersenyum.


Sari merasakan cinta itu, ia merasakan pria ini memang sangat mencintainya, menginginkannya, tapi rasa takut Sari jauh lebih besar dari rasa cinta yang di hadirkan David untuknya.


Sari kembali ke dalam apartemen itu.


“Nin, aku sudah persiapkan ASI yang banyak di lemari es, cukup untuk 2 sampai 3 hari. Semua juga sudah di tulis tanggal-tanggalnya, jadi beri Melvin susu dengan tanggal yang paling lama dulu.” Titah Sari pada Nina.


Nina mengangguk. “Iya, Bu.”


“Tapi ibu ngga lama kan ke kampungnya?” Tanya Nina.


“Tidak, hanya satu malam saja kok.”


Nina mengangguk.


Kebetulan selama Sari pergi, Sari juga sudah meminta tolong pada Elvira untuk menginap di sini. dan untungnya Elvira tidak keberatan. Ia faham dengan apa yang di pikirkan Sari, karena hanya Elvira yang tahu tentang kejadian sebenarnya antara David dan Sari.


****


Sari sampai di Kota Malang. Ia berdiri di pintu kedatangan Bandar udara Abdurrachman Saleh. Sari hendak menaiki taksi langsung menuju rumahya.


“Ups, maaf.” Troli kecil Sari menabrak kaki seorang pria, karena mata Sari berlarian mencari taksi yang siap dan langsung meluncur.


Pria itu menoleh. “Tidak apa.”


“Eh, Sari.” Kata pria itu sambil menunjuk ke arah Sari.


“Eh, pak Dito.” Sari pun mengingat dengan jelas pria ini, karena memang pria ini belum berubah sejak Sari mengenalnya.


Dito adalah atasan Teguh yang pernah menyukai Sari dan mencoba meminangnya untuk menjadi istri kedua, dan Dito juga yang menjebak Teguh hingga menjadi pelaku utama korupsi pada waktu itu.


“Kamu mau pulang?”


Sari mengangguk. “Iya, pak.”


“Sendirian? Suamimu tidak ikut?” Tanya Dito lagi.


“Tidak, dia sedang sibuk.”


“Oh.”


Mereka pun berjalan beriringan hingga sampai di depan pintu keluar.


“Ayo, naik taksi bareng. Kita kan searah.” Ucap Dito yang sudah lebih dulu menyetop taksi di sana.


“Tidak usah, Pak. Terima kasih, bapak duluan saja.” Sari membentangkan tangannya dan mempersilahkan Dito untuk masuk lebih dulu ke dalam taksi itu.


“Ndak apa Sar. Malah jadi tidak bosan di dalam taksi sendirian. Ayo bareng saja.” Dito masih memaksa.


“Tidak, Pak. Terima kasih.” Sari membungkukkan sebagian tubuhnya sambil tersenyum.


Dito menghelakan nafasnya. “Oke, kalau begitu.”


Dito tersenyum licik dan berkata lagi sebelum menutup pintu taksi itu.


“Hati-hati Sari, sampai ketemu lagi.”


Ting. Dito mengedipkan satu matanya.


Sari mengeryitkan dahinya. “Dasar om-om ganjen.”


Di dalam taksi, Dito masih memikirkan cara untuk bisa bertemu Sari lagi, apalagi saat ini, Sari tidak sedang bersama suaminya.


“Ah, semakin cantik saja kamu, Sar. Tubuhmu pun semakin menggoda.” Gumam Dito sambil membayangkan pertemuan dengan Sari tadi.


Dua jam kemudian, Sari tiba di depan rumahnya.


Tok.. Tok.. Tok..

__ADS_1


“Ibu..” Panggil Sari.


Ceklek


Ratih membuka pintu dengan tergesa-gesa, ia pun sudah terlihat rapih.


“Loh, Sari. Kamu ngapain ke sini? kok ndak bilang-bilang.” Ucap Ratih terkejut melihat kehadiran sang putri tepat di depannya.


“Siapa, Bu?’ Teguh pun keluar.


“Loh, Sari? Kamu mengajak Melvin dan Nak David?” Tanya Teguh.


Sari menggeleng. “Ndak, Bu Yah. Sari ke sini Cuma sebentar. Cuma mau ambil ijazah dan berkas-berkas Sari aja, besok Sari sudah pulang lagi kok.”


“Oh. Tapi..” Kata Ratih.


“Iya, Tapi ayah sama Ibu sudah mau berangkat ke Kota Surabaya, Sar.”


“Ya..” Jawab Sari lirih.


“Lagi kamu ke sini ndak bilang-bilang.” Kata ratih menepuk bahu sari.


“Iya, Nak. Ayah ada pertemuan di kota Surabaya dan ibu sekalian ikut karena sekalian hadir di nikahannya Mas Wahyu, anak sepupu ayah di sana. perwakilan saja yang penting salah satu keluarga kita ada yang hadir.”


Sari mengangguk. “Jadi Sari sendirian nih? Ya.. ngga seru.”


“Ya, mau gimana lagi, ini aja ibu sama ayah sudah rapih, tinggal jalan.” Kata Ratih lagi.


“Ya sudah, ayah dan ibu hati-hati di jalan.” Sari mencium punggung tangan Ratih dan Teguh.


“Yo wis, hati-hati di sini ya, Nduk.” Ucap Ratih.


Kemudian, Teguh dan Ratih masuk ke dalam mobilnya. Sari melambaikan tangannya ke atas. Lalu, masuk ke rumah itu. Langkah kakinya langsung menuju pada kamarnya. Sungguh ia rindu dengan kamarnya.


Sari masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintu rumahnya dari dalam. Sebenarnya Sari adalah orang yang penakut. Ia paling tidak pernah bisa di tinggal sendirian di rumah. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin ini balasan karena David enggan mengizinkannya pergi.


****


Langit semakin berwarna merah, terlihat bahwa sebentar lagi akan berubah menjadi gelap.


Di kantor, David seperti orang yang gelisah. Entah mengapa hatinya tidak tenang sedari tadi, padahal di kantor tidak ada masalah apapun, semua urusan pekerjaan aman dan terkendali.


“Kenapa, Bro. Dari tadi gelisah banget.” Tanya Abram yang melihat sahabatnya murung.


“I don't know. Aku juga ngga ngerti kenapa? Dari tadi perasaanku engga enak.” Jawab David.


“Coba lo telepon Melvin, siapa tahu dia rewel di sana.” Ucap Abram.


Lalu dengan cepat David melakukan apa yang Abram katakan. Ia langsung mendial nomor ponsel Nina melalui panggilan video call agar ia dapat melihat putranya langsung.


“Iya, Pak. Melvin anteng, dia malah sedang tidur nih.” Nina menunjukkan Melvin yang sedang terlelap.


“Bu Sari menyediakan banyak ASI di lemari es, jadi Melvin tidak kekurangan susu.” Ucap Nina lagi.


“Baguslah kalau begitu. Terima kasih, Nin.”


David menutup sambungan telepon itu.


“Istri lo pergi?” Tanya Abram.


“Iya, dia lagi ada di rumahnya.”


“Di Malang? Sendirian?” Tanya Abram lagi.


David mengangguk.


“Kok bisa? Lo ngga temenin? Lagi ada masalah?”


“Gue malah takutnya di sana istri lo kenapa-napa.” Kata Abram.


“Jangan nakut-nakutin lo, Bram.”


“Who knows.” Abram mengerdikkan bahunya.


“Udah ah, kerja lagi sana.” David membalikkan tubuhnya yang sedang bersandar pada ujung meja kerjanya.


Tiba-tiba tangan David tidak sengaja menyenggol bingkai foto Sari yang ia pajang di pinggir meja kerjanya itu.


Prak


Foto Sari terjatuh dan pecah.


David dan Abram melihat itu. Arah mata mereka sama-sama tertuju pada bingkai foto yang pecah di lantai.


“Lo harus nyusul istri lo ke Malang. Gue malah khawatir dia kenapa-napa di sana.” Kata Abram lagi.


David pun langsung melaksanakan saran sahabatnya. Ia meminta Malik untuk menyiapkan jet pribadi agar lebih cepat menuju rumah Teguh.


Glegar.. Jedar..


Bunyi petir sangat keras, membuat Sari ketakutan meringkuk di dalam kamar. Padahal hujan belum turun, tapi suara petir sudah menggelegar.


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu rumah Sari di ketuk. Beberapa kali ketukan itu terdengar.


Sari beranjak dari tempat tidurnya. Ia sudah selesai membereskan berkas-berkas yang akan ia bawa besok.


Lalu, Sari melangkahkan kakinya keluar.


Byur... terdengar hujan kini sudah membasahi kota.


Ceklek


Sari membuka pintu rumahnya. Terlihat Dito yang tengah berdiri di sana.


“Pak, Dito?” Tanya Sari terkejut.


“Sar, Maaf. Tadi aku keluar bawa motor, terus hujan turun persis di depan rumah kamu. Jadi aku numpang neduh ya.”


Sari bingung antara menjawab iya atau tidak, pasalnya saat ini ia hanya di rumah ini sendiri.


“Tapi maaf, ndak masuk ya pak. Bapak duduk di teras saja.” Jawab Sari dan langsung di angguki Dito.


“Iya, Sar, tidak apa. Tapi boleh saya di buatkan kopi? Saya kangen sama kopi enak buatan kamu.”


Sari mengangguk. “Iya, Pak. Sebentar.”


Sari masuk ke dalam rumahnya dan menutuo kembali pintu ruang tamu itu, membiarkan Dito berada di luar. Tapi sayangnya pintu itu tidak Sari kunci.


Sari berada di dapur dan hendak membuatkan Dito kopi. Namun, perlahan, Dito masuk ke dalam rumah itu. Ia melihat Sari yang sedang membuatkannya kopi dari belakang. Ia terus memandangi tubuh Sari yang semakin molek dan berisi. Tubuh yang sejak dulu ia bayangi untuk bisa di sentuh dan di rasakannya.


Tiba-tiba tangan Dito melingkar di pinggang Sari. Sontak membuat Sari terkejut. Sari langsung membalikkan tubuhnya dan mencoba melepas tangan Dito dari pinggangnya.


“Lepas. Apa-apaan ini pak.” Sari terus berontak, tapi ikatan tangan Dito di pinggang Sari semakin kuat.


Dito langsung mengangkat tubuh Sari dengan posisi seperti itu. Ia membawa Sari ke kamar yang terdekat dari dapur. Kamar itu adalah kamar Ardi.


“Pak, Lepas. Lepas atau saya teriak.”


“Teriaklah, tidak ada yang akan mendengarmu karena di luar hujan sangat lebat. Rintihanmu tidak akan terdengar.” Kata Dito licik.

__ADS_1


“B*jing*n.” Sari melempar semua benda ke arah Dito.


Namun, Dito tetap mendekat.


Cup


Dito mencium paksa bibir Sari. Tapi, Sari membungkam, ia tetap tak membuka bibirnya. Hingga Dito menggigit keras bibir bawah Sari agar terbuka.


“Ah. Apa yang mau bapak lakukan?” Sari memegang bibirnya yang berdarah.


“Dari dulu aku mau kamu, Sar. Kamu selalu menggoda imanku.” Ucap Dito dengan tangan yang sudah menggerayang ke tubuh Sari.


Sari menepis tangan Dito yang mencoba menjamahnya.


“Tolong..” Sari berteriak, saat Dito mulai mengkungkungnya dengan kuat.


“Hmm.... Tol..”


Cup


Dito kembali membungkam bibir Sari dan menelusuri lehernya. Ia mengikat tangan Sari dan mengunci kaki Sari


Di luar, mobil David baru saja tiba. Ia bergegas masuk rumah Sari, menerobos hujan yang sangat lebat hingga kemejanya basah dan celana panjangnya terkena percikan tanah yang menggenang.


“Sari..” Ucap David lirih saat ia memasuki rumah yang tidak di kunci itu.


David menelusuri kamar Sari, tapi tidak ada.


“Jangan..” Teriak Sari.


David mendengar teriakan itu. Lalu, ia menemukan istrinya yang sedang di paksa oleh seorang pria.


Bugh..


Davud langsung meninju Dito, hingga Dito tersungkur dan terjadilah pertikaian.


Bugh bugh..


Dito membalas pukulan David, karena postur tubuh Dito pun cukup tinggi besar walau tidak setinggi David.


Bugh Bugh


David kembali memukul wajah dan perut Dito, hingga Dito melemah di lantai.


David dengan cepat membantu Sari untuk bangkit.


“Kamu tidak apa-apa?” Tanya David panik.


Wajah David terlihat sangat panik. Hal itu membuat hati Sari teriris, ia merasa sangat bersalah pada suaminya.


Tiba-tiba Dito mengeluarkan pisau dan mengarahkan David yang sedang membelakanginya, karena ia sedang sibuk dengan Sari yang terbaring lemah.


“Awas, Mas.” Teriak Sari saat melihat Dito hendak menikam suaminya.


David langsung menoleh ke belakang, hingga lengan atasnya terkena goresan pisau yang sudah mendekat, dan dengan cepat mengambil pisau dari tangan Dito dengan cara mematahkan pergelangan tangannya.


“Aaa..” Dito meringis. Ia langsung pergi.


David mengejarnya hingga keluar rumah. Tapi Dito berlari lebih cepat.


“Lihat saja, kau tidak akan selamat.” Gumam David, saat melihat Dito menjauh.


“Sari.” Kemudian, iaa ingat keadaan sang istri di dalam sana.


David langsung menuju kamar Ardi. Ia menghampiri Sari yang tengah duduk di tepi ranjang Ardi dengan deraian air mata. Sari sangat berantakan.


David memeluk tubuh Sari. Untungnya David datang tepat waktu.


“Kamu tidak apa-apa? Apa yang dia sentuh?”


Sari menggeleng. Memang, pakaian dalam Sari masih lengkap, ia masih menggunakannya dan Dito belum sempat membukanya paksa.


“Maafkan aku, Mas. Maaf karena aku tidak mendengarkanmu.” Sari menangis di dada David.


Namun, sesaat Sari terkejut karena lengan David mengeluarkan banyak darah.


“Mas.. tanganmu.” Sari melepaskan pelukannya.


David pun menoleh. “Tidak apa.”


“Tidak ini harus di obati.”


Sari bergegas keluar dan mengambil kotak P3K di dapur. Ia mengambil tangan David dan di letakkan di pahanya. Perlahan ia mengobati luka sobekan yang cukup panjang.


David menatap wajah sari intens.


“Aku harus melewati banyak pria untuk bisa mengambilmu.” Ucap David lirih.


“Hmm...” Sari yang sedang mennunduk dan fokus mengobati luka itu pun langsung menengadahkan kepalanya melihat ke arah David.


David tersenyum. Sari pun ikut tersenyum.


Cup


David ******* bibir Sari. Terus ia mengecup bibir itu lembut.


“Apa dia menyentuh bibir ini?” Tanya David.


Sari langsung mengangguk lemah.


David memegang kepala Sari. Lukanya baru saja selesai di perban.


“Aku akan menghilangkan jejak sentuhan pria itu.” Kata David.


Sari pun langsung mengangguk cepat.


“Iya, sentuh aku, Mas. Hilangkan jejak pria itu dari tubuhku.”


David langsung menggendong Sari menuju kamarnya. Ia pun membaringkan tubuh Sari di ranjang itu. Ranjang milik Sari, ranjang yang menjadi saksi ketika pertama kali David menyentuh istrinya sejak ia mengucapkan ijab qobul di depan Syek Ahmad, Teguh, dan kedua sahabatnya itu. Ranjang yang menjadi saksi hilangnya trauma Sari akan sentuhan kasar seorang David.


Kini ia pun melakukan yang kedua kalinya, menghilangkan trauma Sari karena ulahnya yang ia lakukan untuk kedua kalinya juga menghilangkan jejak sentuhan dari pria yang tidak bertanggung jawab itu.


Perlahan, penyatuan itu pun terjadi lagi. Sari dengan senang hati memberi ruang suaminya untuk menyentuhnya dan terus menyentuhnya semakin dalam. David tak tinggal diam, ia pun dengan senang hati meluapkan hasrat yang di tahan selama lebih dari empat bulan.


“Aku mencintaimu, Mas. Aku akan tetap selalu berada di sisimu. Aku tidak akan meninggalkanmu dan Melvin. Karena kalian adalah hidupku sekarang.” Ucap Sari, membuat David tersenyum sumringah, hingga tak terasa air matanya keluar dari sudut mata itu.


“Kamu juga hidupku, cintaku, dan aku tak pernah bisa jauh darimu.” Balas David.


Ia kembali merengkuh tubuh itu, melakukan penyatuan yang tiada henti dan tak pernah puas, di iringi guyuran air hujan serta udara dingin yang membuat keinginan itu terus menggebu.


________________________________________________


Dear sahabat-sahabatku, terima kasih karena telah setia menunggu update yang terkadang cepat dan terkadang lama (sering lama nya yah 😁🤭)


Maaf, karena sering membuat kalian gregetan dengan tingkah Sari dan David di tengah puasa kalian. Walau sebenarnya itu tujuan aku sih, membuat kalian kesel hehehehehe..


Happy Eid Mubarak


Mohon maaf lahir batin, semoga puasa kita di terima dan mudah-mudahan kita di pertemukan kembali di Ramadhan tahun depan dalam keadaan sehat dan keluarga yang lengkap.. Aamiin.


Aku libur dulu dua hari ya.. Eh btw tapi ini udah end belum? karena cinta Sari dan David sepertinya sudah mendarah daging. Kalaupun di teruskan paling akan ada keuwuan mereka aja sama si gemes Melvin. masih mau? nanti di selipkan sedikit cerita Nina dan Rama yang akhirnya menikah dengan siapa? hayo.. hehehehehe ngga penting ya 😜

__ADS_1


lope lope.. Sekali lagi "HAPPY EID MUBARAK" 😘😍😍❤❤


__ADS_2