
Minggu ini, David tampak sibuk. Ia lebih sering berangkat pagi dan pulang larut malam. Ia hanya bisa mencuri-curi ciuman pada sang istri saat terlelap, karena setiap david pulang sari selalu sudah dalam keadaan terlelap.
Sari pun mulai merasa bosan sepanjang hari di dalam apartemen, walau ada Nina yang menemaninya berbincang, tapi tetap saja bosan. untuk menghilangkan kejenuhan, setiap sore menjelang maghrib, ia selalu melakukan video call pada keluarganya di Malang. Berbincang dengan Ardi, Ratih, dan terkadang Teguh ikut juga jika dia sudah berada di rumah, mengobati kerinduan pada keluarganya sekaligus pengusir kejenuhan.
David tahu hal ini, karena ia pun selalu memantau keadaan Sari melalui cctv yang terhubung pada ponselnya. Namun, ia tersenyum karena Sari tak pernah mengeluh di hadapannya.
Di kantor, David berusaha untuk menyelesaikan beberapa masalahnya. Ia ingin meluangkan hari esok untuk bersama Sari seharian. Sungguh, ia rindu menyentuh tubuh Sari, karena sudah hampir satu minggu ia tak menjenguk bayi yang ada dalam kandungan sang istri.
“Malik, birokrasi pembangunan jalan JJ sudah saya selesaikan, teknisnya kembali di jalani seperti plan sebelumnya.”
“Siap, Bos.” Jawab Malik patuh.
“Ada satu dokumen yang masih di tangan Angel. Minta segera bagian operasional menandatangani dan kirim ke PT. XYZ, agar proyek ini bisa mulai berjalan kembali.”
“Satu lagi, siapkan rapat koordinasi satu jam dari sekarang dan kosongkan jadwal saya besok.” Tegas David.
“Baik, Pak laksanakan.” Malik kembali mengagguk patuh.
Selesai memberi perintah pada orang-orang kepercayaannya. David kembali memegang ponselnya. Ia ingin mengethaui apa yang sedang Sari lakukan di rumah. Raut wajah David panik, karena tak melihat Sari di sudut-sudut cctv yang ia pasang. Ia kembali mengecek kamar tidurnya, ruang televisi, dapur, dan kamar mandi, tapi Sari tetap tidak ada. Hanya terlihat Nina yang sedang mensetrika pakaian di area laundy.
Baru saja David akan mem-vidoe call Sari, ternyata wanita yang ia cari muncul dengan membuka pintu utama. Sari baru saja sampai di rumah dengan membawa dua kantong belanjaan.
“Huft, kamu membuatku panik.” Gumam David.
Kemudian ia mendial nomor Sari.
Tut.. Tut.. Tut..
Sari merogoh saku dresnya. Ia melihat panggilan video call dari ‘bule gila’. Sari tersenyum, bukan tersenyum karena senang mendapat telepon dari sang suami, tapi tersenyum karena nama yang ia berikan di ponselnya. Ia belum merubah nama itu.
“Apa?” Sari mengangkat telepon itu dan menampilkan wajahnya.
“Dari mana?” Tanya David.
“Membeli perlengkapan untuk membuat kue. Ini!” Sari menunjukkan beberapa hasil belanjaannya.
“Sendiri?” Tanya David lagi.
Sari mengangguk. “Memang kenapa? Lagi pula supermarketnya dekat, hanya di lantai dasar.”
Apartemen yang David tempati memang langsung terhubung dengan mall besar di sebelahnya. Dari basement apartemennya hanya menyebrang sedikit, maka sudah berada di mall besar itu yang lengkap dengan suprmarket, restoran, toko-toko branded, bioskop, permainan anak, dan lain-lain.
“Tapi kamu belum izin padaku.” Ucap David dingin.
“Iya, maaf.”
“Sebagai hukumannya, tidak boleh tidur sebelum aku pulang.”
“Tapi kamu pulang selalu larut malam, aku ngantuk.”
“Tahan.”
Sari menampilkan wajahnya yang kesal. Ia memonyongkan bibirnya.
Dasar pemaksa.”
__ADS_1
David tersenyum.
“Ya sudah, aku ingin membuat kue. Aku tutup teleponnya.” Kata Sari lagi.
“Katakan sesuatu.” Kata David.
“Apa?” Tanya Sari.
“Kata manis sebelum menutup telepon.” Jawab David.
Sari mengeryitkan dahinya.
“Apa?” tanya Sari bingung. Ia bingung kata manis apa yang ia katakan untuk suaminya.
“Apa, terserah. Aku menunggu.” Ucap David dengan menopang dagunya sambi tersenyum.
“Hmm.. Cepat pulang, aku akan menunggumu. Jangan lupa makan dan jangan terlalu stres!” Kata Sari dengan lembut. Perhatiannya yang tulus dan ucapannya yang lembut, mampu membuat jantung David berdebar senang.
David kembali menyungging senyum. Sebenarnya ia ingin Sari mengatakan sayang atau sebuah ciuman virtual, sebelum ia menutup panggilan video call ini. Namun, kata-kata tadi pun sudah sangat membuat hati David berbunga-bunga, karena Sari menunjukkan perhatian padanya.
“Oke, lain kali beri tahu aku sebelum keluar rumah.” Kata david lagi.
Sari mengangguk. “Iya.”
“Miss you.” Ucap David tersenyum, sebelum akhirnya menutup panggilan video call itu.
Sari pun ikut menyungging senyum. Lalu, kembali membawa kantong belanjaannya menuju dapur. Ia ingin membuat rainbow cake dengan taburan keju di atasnya.
Sari bergelut di dapur, di temani oleh Nina.
“Kamu ngga mau sekolah lagi, Nin?” Tanya Sari.
“Bisalah, kalau kamu mau nanti aku daftarin kejar paket C, untuk dapat ijazah SMA.”
Mata Nina berbinar. Ia memang hanya tamatan SMP. Ia kabur dari rumah karena akan di jodohkan oleh orang tuanya. usia Nina saat ini baru 17 tahun. Nina berparas manis. Melihat Nina, mengingatkan Sari pada Ardi, karena usia mereka tidak jauh berbeda.
“Adikku, juga seusiamu. Sebentar lagi lulus.”
“Oh.” Nina mengangguk.
“Mungkin setelah ujian sekolahnya selesai, dia datang ke sini.” Kata Sari lagi, yang langsung di angguki Nina sambil memandang wajah Sari.
“Kok bisa ketemu Pak David, bagaimana ceritanya?” Tanya Sari lagi pada Nina.
“Awalnya saya kenal dengan Pak Malik, Bu. Terus, Pak Malik bilang ada pekerjaan buat saya, lalu saya langsung di kenalkan dengan Bapak di sini.”
“Oh. Kamu saudaranya Malik?”
“Bukan. Saya juga tidak sengaja ketemu Pak Malik. Kebetulan waktu itu saya sedang menyebrang di jalan raya. Sebenarnya salah saya yang menyebrang sembarangan, karena waktu itu saya lagi bingung mau tinggal di mana. Terus, mobil Pak Malik menabrak saya. Saya langsung di obati dan di cecar banyak pertanyaan. Akhirnya, beliau memberi saya pekerjaan ini. Alhamdulillah saya senang sekali, apalagi dapat majikan baik seperti Ibu.” Nina menceritakan dirinya panjang lebar, dengan mata yang berbinar dan senyum merekah.
Hati Sari tersentuh mendengar cerita Nina. Ternyata masih ada orang yang lebih sulit di banding perjuangannya dulu, ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota besar ini untuk menimba ilmu.
“Kalau begitu, aku akan daftarkan kamu untuk melanjutkan SMA, kamu ambil kelas sore. Jadi nanti setelah pekerjaanmu selelsai, kamu bisa belajar.” Kata Sari lagi.
“Terima kasih, Bu.” Mata Nina berkaca-kaca.
__ADS_1
Sari tersenyum dan mengangguk.
****
Sari menunggu suaminya pulang dengan menonton televisi. Lagi-lagi ia melirik ke arah jam dinding, sudah tepat pukul sepuluh malam, tapi David tak kunjung datang. Ia masih duduk di sofa, lalu ia merubah posisi duduknya menjadi berbaring.
Tubuh Sari semakin berisi, pipinya pun agak sedikit membulat. Hal ini sering menjadi ledekan keluarganya saat video call. Perut Sari pun sudah terlihat sedikit membuncit dengan dada yang agak lebih besar. Hal ini semakin membuat David gemas dengan Sari.
David tiba di apartemennya. Ia dengan cepat melangkahkan kakinya, walau sesekali ia memijat tengkuknya karena lelah. Namun, pasti ketika sudah melihat sang istri, lelah itu akan hilang.
Tak lama kemudian, ia sampai di depan pintu apartemennya. Ia langsung menekan tombol yang ada di gagang pintu.
Bip.
Ceklek.
David membuka pintu apartemennya, lalu masuk perlahan. Seteah beberpa langkah, ia melihat Sari yang sedang berbaring di sofa dengan televisi yang masih menyala.
“Dasar tukang tidur, sudah aku bilang jangan tidur sebelum aku pulang.” Gumam David, sambil tetap tersenyum melihat wajah Sari yang bagai anak kecil sedang meringkuk di sofa.
David berjongkok, mendekati wajah sang istri yang sedang tertidur pulas, hingga wajah keduanya tak berjarak. Ia mengelus wajah mungil itu dan merapihkan anak rambut yang menutupi wajah Sari.
“Aku mendambakan saat-saat seperti ini. Mendambakan seseorang yang akan menungguku saat pulang kerja, menemaniku saat lelah. Dan itu adalah kamu.” Gumam David yang kembali mengulas senyum.
Ia mengingat saat-saat pertemuannya dengan Sari. Pertemukan yang buruk, tapi sangat berkesan baginya. Lalu, senyum di bibir David hilang saat ia mengingat kekhawatirannya, jika Sari mengetahui bahwa yang ingin ia jebak saat itu adalah Inka.
“Apa kamu akan mengerti, jika aku mengatakan sebenarnya?” Ia masih bergumam, sambil terus mengelus wajah Sari.
“Lebih baik kamu tidak mengetahui itu.” Gumam David lagi.
Lalu ia mengangkat tubuh Sari perlahan. Ia membaringkan Sari di tempat tidurnya.
“Hmm..” Sari menggeliat, perlahan ia pun membuka matanya. Ia melihat wajah tampan David persis di dekat wajahnya.
“Kamu sudah pulang? Maaf aku ketiduran.”
David tersenyum. “Tidak apa.”
“Kamu sudah makan? Kalau belum aku siapkan.”
“I’m very hungry.”
Perlahan Sari mencoba membuka matanya. Sungguh ia sangat kantuk.
“Kalau begitu aku buatkan makanan.” Ucap Sari lirih dengan tubuh yang masih terbaring.
“Aku lapar ingin memakanmu.”
“Hmm...” Sari masih setengah sadar mendengar perkataan David, karena sesekali matanya masih mengerjap dan belum terbuka sempurna.
David semakin gemas dengan tingkah Sari.
“Tapi aku ngantuk.” Jawab Sari polos, dengan mata yang hampir terbuka sempurna.
“Tapi sekarang kamu sudah bangun kan?” Tanya David dengan senyum menyeringai.
__ADS_1
“Tapi sebentar saja.” Rengek Sari.
“Kalau itu, aku tidak bisa janji.”