Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
meluluhkan hati Sari


__ADS_3

Sesampainya di lobby, dengan hati-hati David mendudukkan sari di bangku penumpang samping kemudi, sementara Elvira di bangku penumpang belakang.


David mengemudi sendiri mobil sedan mewahnya yang berwarna hitam menuju apartemen.


“Ibu Ratih, sudah sampai di apartemenmu, Dav?” Tanya Ratih.


“Sudah, Mom. Tadi Malik mengabari.” Jawab David setengah menoleh ke belakang.


“Melvin anteng banget tidurnya, Sar. Sepertinya tadi dia minum susu hingga kenyang.” Ucap Elvira lagi memecahkan keheningan Sari dan David.


“Iya, Mom. Tadi Melvin lumayan lama menyusunya, tangan Sari sampai pegal.”


“Sampai di apartemen, nanti aku pijiti.” Sahut David.


Sari hanya diam, sedangkan Elvira hanya tersenyum. Sepertinya tidak sulit menyatukan mereka kembali, karena memang ada cinta pada hati keduanya. Pikir Elvira.


Tiga puluh menit, mereka akhirnya sampai di apartemen David.


David memarkirkan mobilnya di basement. Lalu, ia kembali membuka pintu mobil Sari dan menggendongnya kembali. Sementara, di basement itu, Nina sudah berdiri membantu membawakan barang-barang yang ada di dalam mobil.


David kembali menggendong Sari ala bridal menuju apartemennya.


“Ssshhh..” Sari merintih saat David berjalan terlalu cepat. Karena hentakan kakinya menggetarkan bagian perutnya.


“Kenapa, sakit?" tanya David, memberhentikan langkahnya.


Sari mengangguk sambil memegang perutnya.


“Sedikit, jalannya pelan-pelan saja.”


“Maaf.” Ucap David, lalu memelankan langkahnya.


Elvira melangkah lebih dulu dan Nina mengikuti dari belakang. Sementara David dan Sari berada jauh di belakang karena langkah David yang sangat pelan.


“jalanmu pelan sekali.” Protes Sari dengan nada ketus, melihat Nina dan Elvira yang sudah jauh di depan.


“Katamu, pelan-pelan saja.”


“Iya, tapi tidak sepelan ini juga. Apa kamu tidak pegal menggendongku lama.”


David menggeleng dengan senyum.


“Aku menyukainya. Aku suka menggendongmu seperti ini.”


“Jangan memulai! Atau turunkan saja aku di sini.” Ucap Sari lagi dengan ketus.


Namun, David tetap mengabaikan perkataan Sari. Ia tidak peduli dengan kata-kata Sari yang ketus dan dingin, yang penting Sari tetap berada di dalam pelukannya.


“Sari..” Panggil Ratih saat melihat putrinya masuk ke dalam apartemen.

__ADS_1


Ratih pun kini sedang menggendong Melvin.


“Sar, putramu tampan sekali.” Kata Ratih.


“Iya, Bu. Kan ayahnya tampan dan ibunya cantik.” Jawab Nina.


David tersenyum, tapi Sari mengeryitkan dahinya.


“Mas, turunin aku.” Ucap Sari, tapi lagi-lagi David mengabaikan perkataan Sari.


David malah menanggapi obrolan bersama Ratih dan Elvira terlebih dahulu.


“Bu, Mom. David membawa Sari ke kamar dulu ya.” Kata David, lalu melangkah ke dalam kamarnya.


Sari terkejut dengan dekorasi kamar ini, karena semuanya berbeda. Cat tembok yang tadinya berwarna grey, kini berubah menjadi ungu yang menjadi warna favoritnya. Lalu, David juga menata ulang isi kamar itu dari mulai lemari, meja rias, sofa, dan meja kecil, semuanya di letakkan berbeda. David sengaja melakukan ini, untuk menghilangkan trauma Sari pada kejadian itu, di mulai dari kamar ini.


Sari hanya mengedarkan pandangannya. Arah matanya menelusuri semua yang ada di dalam kamar ini. hal ini cukup membuat Sari nyaman di kamar ini, tanpa mengingat apa yang pernah terjadi di sini sebelumnya.


David meletakkan tubuh Sari perlahan, seperti sebuah porselen yang mudah pecah.


“Kamu mau aku bawakan makanan apa?” Tanya David.


Namun, Sari tak menjawab pertanyaan David. Justru ia mengajukan permintaan yang lain.


“Aku tidak mau, kita sekamar.” Ucap Sari.


“Aku tidak akan tidur di sini.” David menunjuk ranjang yang Sari tempati.


“Jika kamu meminta aku untuk tidak tidur di kamar ini. aku tidak bisa. Aku ingin menjaga kalian di sini, aku ingin merasakan kebersamaan keluarga kecil kita, walau hanya enam bulan dari sekarang.” Ucap David lirih.


Sari mengalihkan pandangannya ke arah box bayi yang David tempatkan persis di samping ranjangnya. Sebenarnya Sari mengurangi kontak mata dengan David. Ia tak ingin David melihatnya menangis dan lemah.


Keduanya sangat dekat. David duduk di pinggir ranjang, berada persis di depan Sari tanpa jarak.


“Ekhem.. Maaf ya. Ibu masuk ke dalam, Ibu mau taruh Malvin di sini.” Suara Ratih, menegakkan tubuh David.


“Iya, Bu.”


Ratih menaruh Melvin di box bayi yang berada persis di samping ranjang Sari.


“Sar, Mau mommy buatkan makanan apa? Ibu menyusui itu cepat lapar lho.” Kata Elvira yang tiba-tiba muncul ke dalam kamar David.


Sari tersenyum ke arah elvira. “Apa saja, Mom. Semua makanan Mommy, Sari suka.”


Ia pun kembali menoleh ke arah Ratih yang sumringah menatap cucunya. Tiba-tiba hati Sari ikut terhanyut oleh kehangatan yang di berikan kedua wanita paruh baya yang menjadi ibunya ini. Entahlah, apa ia mampu untuk berpisah pada David dan melukai hati keluarganya terutama Elvira dan Ratih.


****


Tak lama kemudian, Elvira datang ke kamar David dengan membawa banyak makanan.

__ADS_1


“Ayo sayang, di makan ya.”


Sari mengangguk dan memeluk tubuh Elvira.


“Terima kasih, Mom.”


Elvira tersenyum.


“Mommy menginap?” Tanya Sari.


Elvira menggeleng.


“Nanti, Mommy akan menginap kalau ibumu sudah pulang. Sementara ibumu di sini, mommy akan menyelesaikan urusan di panti dulu.”


Sari mengangguk.


“Jadi, Mommy dan ibumu bisa bergantian menjagamu dan Melvin di sini. karena lusa, pasti David sudah mulai kerja lagi. Iya kan, Dav?”


David mengangguk dan tersenyum. Ternyata sang ibu sangat pengertian. Ia sangat beruntung, memiliki dua ibu yang baik seperti Ratih dan Elvira.


“Oekk.. Oekk.” Malvin menangis.


Dengan sigap, Elvira berdiri.


“Sudah, Mom. Biar David saja yang menggendongnya. Mommy istirahatlah di ruang keluarga dan tolong temani ibu Ratih di sana.”


“Baiklah, Nak.” Elvira tersenyum, lalu mengelus rambut David dan Malvin.


Kemudian keluar dari kamar itu.


“Jangan lupa makanannya di habiskan ya!” Ucap Elvira lagi pada Sari, sebelum menutup pintu kamar.


Sari mengangguk dan tersenyum membalas ucapan Elvira.


“Mas, Sini. sepertinya Malvin haus lagi.” Ucap Sari yang tak tega melihat putranya menangis.


“Kamu makanlah dulu, biar Malvin bersamaku.”


Lalu, Sari menuruti dan memakan smoked salmon buatan Elvira.


Setelah selesai makan, Sari kembali meminta Malvin pada David untuk ia susui. Perlahan Sari membuka kancing kemejanya dan menampilkan bahu mulusnya yang terbuka.


David memandang tubuh Sari. Ia ingin sekali menggigit bahu itu, apalagi Sari membiarkan David melihatnya menyusui, menampilkan salah satu gunung kembar Sari yang padat.


Sari menoleh ke arah David.


“Kamu lihat apa?” Tanya sari ketus.


David seperti maling yang ketahuan mengambil barang. Ia langsung mengalihkan pandangan ke sembarang arah saat Sari membulatkan mata ke arahnya.

__ADS_1


“Tidak, tidak lihat apa-apa.”


__ADS_2