
Tangan Sisy sudah gatal ingin mengirim foto itu kepada sang adik.
Tring..
Notifikasi pesan di ponsel Rama berbunyi. Foto Sofia yang sedang menggendong Edrick.
Rama meraih ponselnya dan membuka pesan itu.
“Ini siapa?” Tanya Rama masih melalui pesan whatsapp.
“Ini mama sama anaknya Melisa, mirip banget kamu waktu bayi. Kan di ruang keluarga ada tuh foto kamu seusia ini besar banget.” Jawab Sisy.
“Melisa siapa?” Tanya Rama lagi.
“Ya ampun, masa kamu ngga tau. Itu loh adiknya Melinda, anak om Surya dan tante Dian.”
“Oh.”
Rama menaruh kembali ponselnya. Ia mencoba ingat wanita yang kakaknya sebutkan tadi.
“Melisa?’ Gumam Rama.
“Apa wanita itu yang di maksud kak Sisy.” Gumam Rama sambil membayangkan wajah wanita yang ia temui di pengadilan agama tempo hari. Wanita sombong yang tak mau membalas uluran tangannya saat di perkenalkan oleh Melinda.
Sesampainya di rumah, Rama segera menyamakan foto yang di kirim Sisy dengan foto dirinya saat masih seusia Edrick sekarang, foto yang terpampang besar di sudut ruang tengah.
“Mirip kan?” Ucap Sofia dari belakang.
Rama mengangguk. Entah ini kebetulan, atau tidak. Ia terus mengingat wajah Melisa yang memang begitu familiar.
“Mama juga heran, anak ini bisa mirip sekali denganmu. Ya, walau katanya di dunia ini, kita memang punya wajah yang mirip dengan orang lain. Tapi anak ini tidak ada bedanya denganmu. Benar-benar ciplakanmu sekali.” Ujar Sofia tertawa.
“Di mana mama bertemu anak ini?” Tanya Rama.
“Di spa milik Melisa. Dia hebat loh, Nak. Dia memiliki salon kecantikan sendiri, sebelumnya yang mama dengar anak itu sempat kabur dari rumah dan menetap di Bali.”
“Bali?” Rama terus mencoba ingat wanita yang di sebutkan sang ibu.
“Iya, pulang dari Bali malah bawa anak, ngga tau anak siapa. Karena setahu mama, Melisa itu belum menikah.”
“Jangan-jangan itu anak kamu, Ram!” Celetuk Sisy dari arah dapur, sambil tertawa meledek.
Ia sudah siap menunggu di jemput oleh suaminya dan pulang ke rumahnya sendiri.
Deg.
Rama terkejut.
“Apaan sih, Kak.” Ia mencoba menampilkan wajah biasa.
“Lagian, mirip banget sih.” Ujar Sisy yang masih tertawa.
Tin.. Tin..
Bunyi klakson terdengar dari luar.
“Ma, Sisy pulang ya. Di depan udah ada mas Ihsan.” Sisy mencium sang ibu dan menepuk pundak sang adik.
“Kakak becanda, ngga usah di pikirin. Abis aneh aja, wajah anak itu bisa ngeplek sama kamu.” Sisy nyengir dan berlalu dari hadapan Sofia juga Rama.
__ADS_1
Rama semakin berfikir. Sepertinya ia perlu mencari tau teka-teki ini. Ia meninggalkan Sofia dan menuju ke kamar. Kemudian, ia membuka laci, di sana terlihat sebuah kuncir rambut berukuran besar dengan design bulu-bulu berwarna hitam. Ia mencium lagi aroma kuncir rambut itu yang sudah semakin hilang dari pertama kali ia menciumnya.
“Ya ampun, apa dia wanita itu?" Rama mulai mengingatnya.
#Flashback On
Ketika itu, Rama di tugaskan menjadi salah satu perwakilan untuk menghadiri acara seminar seluruh asosiasi lawyer se Indonesia di Bali selama tiga hari.
Rama meninggalkan Sari, tepatnya dua minggu setelah pertunangan. Setelah itu, memang Rama sangat sibuk dan sering tak bertemu Sari, hingga tunangannya itu panik dan menemui Rama di kantornya.
Setelah acara seminar selesai, Rama dan kedua temannya yang bertemu di seminar itu berencana untuk ke club.
“Ram, ke club yuk. Refresh sebentar sebelum pulang.” Kata salah satu teman Rama.
“Boleh, gue juga pusing banget, capek.” Jawab Rama.
Akhirnya Rama dan dua orang temannya itu memgendarai mobil menuju club yang terletak tak jauh dari hotel tempat mereka menginap.
Bip.
Mobil mereka sampai di depan club.
“Uh..” Salah satu teman Rama langsung berjoged.
“Lumayan, Ram. Ngilangin stres.” Ucap salah satu temannya lagi, sambil berjoged.
Mereka pun sudah berada di meja bar. Rama dan kedua temannya duduk di sana.
Rama langsung memesan satu botol dengan kadar alkohol yang cukup tinggi.
“Lo minum ini? Nanti mabok lo.” Ucap salah satu teman rama memperingatkan.
“Dasar. Kalau mabok pulang sendiri ya, gue males ah ngurusin orang mabok.” Ujar teman Rama lagi.
“Iya, soalnya besok pagi kita pulang, kalau nanti mabok terus tidur sama cewek, bangun siang, telat naik pesawat dah.” Salah satu teman Rama memperingatkan lagi.
Namun, Rama tetap meminum alkohol itu sendiri. Ia duduk di meja bar, sementara kedua temannya berjoged bersama pengunjung yang lainnya di sana.
Rama mulai kehilangan sedikit kesadarannya. Lalu ia menghentikan bartender untuk tak mengisi gelasnya lagi. Ia membayar minuman itu dan pergi menuju toilet.
Bruk.
Rama menubruk seorang wanita yang juga sedang dalam keadaan mabuk berat. Wanita itu hampir saja tersungkur ke lantai, tapi Rama dengan cepat memegang pinggang wanita itu. Aroma tubuh wanita itu sangat menggoda birahi tunangan Sari kala itu. Pakaian wanita itu pun sangat sexy, dengan riasan make-up yang cukup tebal dan bibir yang tercetak merah menyala. Tidak ada laki-laki yang tidak tergoda dengan penampilan wanita itu saat ini. Namun, ia mencoba menepis godaan itu.
Wanita itu adalah Melisa.
Rama membantu memapah wanita itu.
“Apa mau saya antar pulang?’ Tanya Rama pada Melisa.
Namun, Melisa tak menjawab.
Kemudian, Kaki Melisa tersandung. “Ah.”
Suara Melisa seperti sebuah desahan, membuat rasa ingin Rama semakin memuncak. Rama menggendong Melisa ala bridal.
“Ini salahmu. Aku sudah menahan dengan sekuat tenaga tapi kamu malah mendesah.” Kata Rama pada Melisa yang belum begitu sadar seratus persen.
Rama menyewa kamar di sana. ia meletakkan Melisa di ranjang dan dengan cepat Rama membuka pakai Melisa yang tak berdaya.
__ADS_1
“Ah.” Desah Melisa saat Rama berusaha membuka pakaiannya dengan cepat.
Melisa menatap wajah Rama, ia mengerjapkan kedua matanya.
“Maafkan aku honey. Ini salahmu karena telah menggodaku.” Ucap Rama dengan nada berat dan sensual.
Melisa masih mengerjapkan matanya menatap raut wajah Rama dengan seksama dan merekam di otaknya.
“Cepatlah.” Ucap Melisa yang juga menginginkan sentuhan itu.
Rama tersenyum dan memulai aksinya. Rama menelusuri tubuh Melisa dengan lembut. Sungguh ia sangat menyukai aroma yang ada di tubuh wanita ini. aroma yang mampu membuatnya sangat bergairah.
“Mpphh..” Suara Melisa tertahan karena pangutan Rama yang tak kunjung usai, hingga akhirnya Rama melepaskan pangutan itu dan membuat nafas Melisa semakin naik turun.
“Kamu. Tolong jangan berhenti!” Melisa meracau. Ia juga menyukai sentuhan Rama.
Rama semakin memperdalam sentuhannya. Ia menerobos bagian kewanitaan Melisa, hingga satu jam dan menembakkan benih tanpa pengaman tepat di dalam rahim wanita itu.
“Hmmm..” Rama mengerang dan tumbang di atas tubuh Melisa.
Rama lupa bahwa apa yang ia lakukan itu tanpa pengaman, padahal bersama Anita, ia tak pernah sekalipun melupakan pengaman ketika akan berhubungan. Namun dengan wanita ini, ia seperti terhipnotis dan melupakan hal penting itu.
Satu jam Rama tertidur berpelukan bersama Melisa, hingga ponselnya berdering.
Dret.. Dret.. Dret..
Kedua mata Rama mencoba untuk terbuka, tangannya meraih ponsel yang ia taruh di samping ranjang itu.
“Hallo.”
“Wah ngapain lo? Suara lo berat begitu Tidur sama cewek ya? Ayo pulang. Kita ngga bisa bermalam di sini. besok pagi harus pulang.” Ucap temannya yang ikut bersama ke club ini.
“Oke, tunggu sebentar.” Jawab Rama yang mulai bangun dari tidurnya.
Dengan perlahan, ia melepas pelukannya kepada Melisa.
“Hmm..” Melisa menggeliat.
“Jangan pergi!” Ucap Melisa dengan suara manja.
Rama tersenyum. “Maaf sayang. aku harus pergi.”
Rama mencium pucuk kepala Melisa, membuat Melisa merasa tersanjung karena ketika bersama David, ia tak pernah berterima kasih atau sekedar mengecup keningnya setelah memakainya.
Rama pun memakai bajunya kembali dan pergi meninggalkan Melisa yang masih tertidur dalam keadaan polos.
Ketika di dalam mobil bersama kedua temannya, Rama sadar bahwa ada yang ikut menempel di lengan kanannya. Ya, itu adalah kuncir rambut Melisa yang berwarna hitam. Rama tertawa saat kedua temannya itu meledek. Ia ingat saat itu, ia ingin melihat rambut Melisa tergerai, karena akan semakin cantik dan menggairahkan. Lalu, ia membukanya dan menyantelkan kuncir rambut itu di tangannya.
#Flashback Off
“Oh my God. Apa wanita itu adalah kamu.” Gumam Rama mengingat pertemuannya dengan Melisa di pengadilan Agama.
Sedikit ia ingat mata itu, walau saat pertemuan terakhirnya kemarin Melisa sedang tak menggunakan eye shadow dan maskara. Ia ingat parfum itu, walau Rama hanya mencium aroma itu sekilas saat Melisa melintas. Ia ingat bibir itu, walau warnanya tidak semerah saat berada di club waktu itu.
“Aku meniduri putri om Surya? Apa dia anakku?” Rama memukul kepalanya berkali-kali.
Memang kebiasannya itu sangat buruk, hingga lupa dengan siapa ia pernah tidur, bahkan ia lupa pernah menanam benih pada seorang wanita. Ia ingat betul saat meniduri Melisa, ia tak menggunakan pengaman karena kejadian itu begitu cepat.
“Maafkan aku om, aku akan menebus semua kesalahan ini.” Rama meneteskan air mata, karena justru ia telah menyakiti anak dari orang yang sangat berjasa dalam karirnya, berjasa dalam kelangsungan hidup keluarganya, karena paska ayahnya meninggal, Surya selalu membantu keluarga Rama dalam hal materil dan immateril dan Surya sudah seperti ayah baginya, karena selalu mendukung apa yang ia cita-citakan.
__ADS_1