Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
sedih di acuhkan


__ADS_3

“Suster, toloong..” Teriak Rama, sambil menggendong Sari.


Suster dan petugas di sana, segera menghampiri Rama dan Sari. Mereka langsung membawa sari ke ruang IGD.


Rama mondar mandir, ia gelisah, hatinya pun marah melihat kondisi Sari yang merintih minta tolong. Sungguh, sebenarnya ini adalah malam terakhir Rama berada di apartemen itu. Ia mulai akan melepas Sari, karena beberapa kali Rama memergoki kemesraannya bersama David. Beberapa kali juga Rama melihat tawa Sari yang terlihat bahagia dari balik dinding, dan di toko kue itu adalah kali terakhir Rama memberikan ucapan ulang tahun pada gadis pujaannya itu, karena setelah itu ia benar-benar akan menjadikan Sari sebagai kenangan terindah dan mengubur obsesinya.


Ceklek


Pria berjaket putih keluar dari ruang IGD itu.


“Bagaimana, Dok?” Tanya Rama panik.


“Pak, istri anda sudah kehilangan banyak air ketuban, kami harus mengambil tindakan operasi untuk mengeluarkan bayi sebelum air ketubannya kering.” Kata dokter itu.


“Lakukan apa saja dok, lakukan apa saja, yang penting keduanya selamat.” Jawab Rama.


Dokter itu mengangguk dan meminta Rama untuk menandatangani surat persetujuan.


Sari melakukan operasi caesar tanpa di dampingi suaminya. Mata Sari masih mengeluarkan air mata, rasa itu masih terlalu sakit untuk di ingat.


“Maaf, ya Bu. Saya mulai menyuntikkan anastesi, tahan karena agak sakit sedikit.” Ucap dokter anastesi, tapi Sari hanya diam.


Tidak ada yang lebih sakit dari apa yang di lakukan David, bahkan suntikan anastesi dan sobekan di perut Sari pun tak terasa sakit, di bandingkan perlakuan David tadi terhadapnya.


Dua jam Sari berada di ruang operasi, dan di saat iu pula Rama dengan gelisah menunggu di luar ruang operasi itu.


Di apartemen, David perlahan membuka matanya.


“Sari.” Ia langsung bangun dan memanggil nama istrinya.


David mengedarkan pandangan kamarnya yang berantakan. Barang-barang di nakas pun terlihat berantakan, karena Sari yang mencoba berjalan tertatih sehingga ada beberapa barang di sana yang terjatuh karena rambatan tangannya.


“Sari..” David baranjak dari tempat tidurnya dan dengan tergesa-gesa menuju kamar mandi, tapi ia tak menemukan sosok yang di cari.


Ia mulai sadar atas apa yang di lakukan pada istrinya. David melangkah kakinya keluar, lalu ia menangkap bercak darah yang berada di lantai. Ia pun berjongkok dan memegang sesuatu yang berwarna merah itu.


“Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan padamu Sari.” David mulai frustrasi.


Ia pun mencari Sari ke semua sudut ruangan di apartemennya. Ia tak menemukan siapapun, bahkan Nina pun tidak ada.


David keluar dari apartemennya, setelah memakai pakaian lengkap. Ia mondar mandir di bawah.


“Pak David baru pulang kerja?” Tanya security yang sudah berganti shift, ia baru melihat keberadaan David di tempat ini.


“Pak, Anda lihat istri saya?” Tanya David pada security di basement itu.

__ADS_1


“Saya lihat, pak. Malah saya yang bantu istri bapak masuk mobil bapak Rama yang ada di kamar 210.” Jawab security itu.


“Di bawa kemana Pak?” Tanya David lagi.


“Ke rumah sakit, pak. Karena sepertinya istri bapak mau melahirkan dan di bantu tetangga bapak.”


Dengan cepat David berlari menuju mobilnya.


“Terima kasih, Pak.” Teriak David.


David mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia memukul kepalanya sendiri.


“Stupid, bodoh.. bodoh.. mengapa kau lakukan ini lagi terhadapanya? Dasar pecundang, pria tak tahu di untung. Harusnya kamu bisa bicarakan baik-baik. Shit..” David terus mengumpat dan bergumam pada dirinya sendiri.


Kemudia ia sampai di rumah sakit yang security itu katakan.


David berlalri mencari keberadaan Sari, dan berdasarkan informasi suster, sari berada di ruang operasi. Benar saja, ia melihat Rama yang tengah duduk di sana.


Bugh


David langsung memukul Rama, hingga Rama tersungkur dan darah segar langsung keluar dari sudut bibirnya.


“Kurang ajar, kau menghancurkan rumah tanggaku. Kau mau merebut istriku? Hah.” Teriak David pada Rama.


“Apa kau tidak punya kaca? Siapa yang menjadi perebut di sini. Aku calon suami Sari, hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi, Sari menjadi istriku. Wanita yang selalu aku jaga kehormatannya, tapi tiba-tiba kau meerebutnya paksa, hingga dia harus mengandung anakmu dan menikahimu karena anak yang ia kandung. Dasar baj*ng*n, dan sekarang kau pun membuatnya menderita lagi.”


Bugh


Rama membalas pukulan David.


Bugh.. Bugh.. Bugh..


David terdiam dan menerima pukulan itu, menelaah setiap perkataan Rama.


“Stop, Pak.” Suster datang dan berteriak memanggil security.


Tubuh Rama di tahan oleh security rumah sakit, begitu juga dengan David.


“Mohon jangan ribut, Pak. Ini rumah sakit.” Ucap suster itu.


Ceklek


Ruang operasi terbuka.


“Suami Permatasari Anindya.” Kata suter dari dalam ruang operasi itu.

__ADS_1


“Saya.” David dan Rama memajukan diri menghampiri suster itu bersamaan.


Suster itu pun mengeryitkan dahinya.


“Jadi suami nyonya Sari siapa?” Tanya Suster itu bingung.


“Saya, Sus.” David mengacungkan tangannya.


“Hmm.. tapi tadi nyonya Sari memanggil nama Rama.” Kata Suster itu lagi, membuat hati David mencelos.


“Saya, Sus.” Rama mengacungkan jarinya, dan di persilahkan masuk.


“Tapi, Suster, saya suaminya, yang di dalam itu anak dan istri saya.” Teriak David.


Namun, tubuh David di tahan oleh security di sana.


“Tenang, pak.” Ucap security itu.


David terus meraung dan meminta masuk, hingga akhirnya, David masuk paksa dan mengancam akan menuntut rumah sakit ini, jika ia masih tak di izinkan masuk. Akhirnya, David di izinkan masuk dan melihat Rama selesai mengadzani bayinya.


“Anakku.” David langsung menyambar putranya yang ada dalam gendongan Rama.


“Bu, Ayo gendong anak ibu!” Kata Suster membujuk sari yang tak mau menggendong anaknya karena wajah bayi itu mirip sekali dengan David.


Rama menghampiri Sari, sedangkan David hanya menatap Sari dari jarak yang cukup jauh sambil menggendong putranya.


“Sar, putramu menangis. Ayo gendong! Dia bersama ayahnya.” Rama menunjuk David dan bayi yang baru saja Sari lahirkan.


Namun, Sari tak menoleh ke arah yang di tunjukkan Rama. Tatapannya tetap lurus ke depan.


“Sus, apa saya tidak di pindahkan ke ruang perawatan?” Tanya Sari.


“Iya, Bu. Kami akan pindahkan ibu ke ruang perawatan. Tapi sebelumnya, gendong bayi ibu dulu, karena kami akan menaruh bayi ibu ke ruang bayi.” Kata suster itu.


Namun, Sari menggeleng. “Bawa saya langsung ke ruang perawatan saja, Sus.”


Hati David benar-benar hancur, karena Sari tak menganggap keberadaannya dan bayi yang baru saja di lahirkannya. Ini memang salahnya, salahnya karena telah mengkasari Sari untuk yang kedua kalinya. Ia ingat pertanyaan Sari sesaat setelah ia selesai mengucap janji di hadapan orang tua Sari, Syekh Ahmad, dan para saksi.


“Kalau kamu lupa dan memperlakukan aku seperti sebelumnya, bagaimana?” Tanya Sari yang pada saat itu masih trauma dan belum mau di sentuh oleh suaminya.


“Kamu boleh meninggalkanku.” Jawab David.


David ingat kata-kata itu dan menangis. Ia terus mencium bayi mungil yang masih dalam gendongannya.


“Maaf kan papa, sayang. Maaf karena papa telah membuatmu jauh dari ibumu.” Ucap David lirih.

__ADS_1


“Maafkan aku, Sari.” David kembali menangis, memeluk bayinya.


Rama melihat ke arah David, lalu ke arah Sari. Ia sedih melihat pasangan suami istri di hadapannya. Ia sadar obsesinya telah merenggut kebahagiaan kedua orang ini.


__ADS_2