Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
~bonus chapter 1~


__ADS_3

“Hmm.. Aku ga suka , Mas.” Sari menggelengkan kepala, saat David berusaha menyuapi brokoli rebus ke dalam mulutnya.


“ini enak, sayang. bagus untuk anak kita yang ada di perutmu.”


“Aku ga suka, pahit, Mas.” Sari menutup mulutnya.


“Kamu kalah sama Melvin, tuh liat dia asyik sekali makan ini.” David menunjuk ke arah Melvin, sambil memakan sayuran hijau itu ke mulutnya lagi.


Melvin duduk di meja makannya sendiri, sambil menikmati sayuran hijau kesukaannya. Sementara, David dan Sari duduk di meja makan yang dekat dengannya.


“Aku belum mendapatkan morning kiss.” Kata David yang kini mendekati istrinya.


David mencium bibir sang istri, lalu bibir Sari terbuka menerima ciuman suaminya dan perlahan David memindahkan brokoli itu ke dalam mulut Sari.


“Hmm..” Sari mendorong tubuh David dan berlari ke arah wastafel.


Ia membuang isi yang ada di dalam mulutnya.


“Kamu ngeselin banget sih, Mas.” Sari membulatkan matanya.


David tertawa geli, hingga memegang perutnya.


“Kamu harus suka sayuran, Sayang.”


“Aku suka sayuran, tapi tidak dengan sayuran itu.” Jawab Sari manja.


David meenghampiri Sari yang masih berdiri di wastafel, karena rasa mualnya tak mau berhenti.


“Loh kok jadi di muntahin semuanya?” Tanya David yang akhirnya merasa bersalah karena telah menjahili sang istri.


“Eneg. Hoek.." Sari kembali memuntahkan isi di dalam perutnya yang hanya berisikan susu coklat.


“Maaf, Sayang.” Ucap David lirih sambil memijat tengkuk Sari.


Ia berlari ke kamarya untuk mengambil minyak angin. Sari akan lebih baik, jika menghirup aroma terapi pada minyak angin itu.


“Ini.” David kembali dan menyerahkan benda itu pada Sari.


Sari menerimanya da menghirup aroma itu.


“Maaf ya, Sayang.” David kembali merengkuh tubuh sang istri.


“Aku bilang ngga suka, rasanya pahit, Mas.”


“Iya, iya, Maaf.” Sari melingkarkan lengannya di perut David.

__ADS_1


“Mau istirahat?” Tanya David lembut.


“Tapi kamu ngga boleh kerja.” Pinta Sari merengek.


Kehamilan Sari kali ini benar-benar merepotkan dan sangat manja.


“Hmm... Baiklah, aku akan bicara pada Malik.” David mengangguk.


“Yeaay..” Tawa Sari riang.


David pun tersenyum.


“Nina, tolong rapihkan Melvin setelah selesai makan. aku bawa ibu istirahat di kamar.” Kata David pada Nina yang baru saja muncul.


“Baik, Pak.” Jawab Nina menundukkan sebagian tubuhnya.


David langsung mengkondisikan jadwal dengan Malik, karena ketidakhadiran dirinya yang sangat mendadak hari ini di kantor. Lalu, ia kembali membuatkan susu coklat yang tadi di keluarkan dari dalam perut Sari.


Perlahan David memasuki kamarnya dengan membawa segelas susu coklat. Ia melihat Sari yang sedang duduk di sofa, sambil menonton televisi yang menyuguhkan iklan properti.


“Kamu ingin rumah seperti itu?” Tanya David yang melihat arah mata sang istri yang tak berkedip ke arah televisi.


David duduk di samping Sari dan menyodorkan segelas susu coklat. Sari pun menoleh ke arah suaminya dan menerima gelas itu. Ia meminumnya sedikit-sedikit.


“Bukankah, kita membutuhkan rumah yang besar, agar anak-anak bisa main dengan leluasa.”


Sari menggeleng. “Tapi aku penakut, jika rumahnya terlalu besar, nanti aku jarang keluar kamar.”


David tertawa. “Bagus kalau begitu, jadi kamu selalu menemaniku di kamar dan anak-anak akan ada pengasuhnya satu-satu.”


“Ish, bukan seperti itu.” Sari memukul dada David.


“Dasar, kamu benar-benar mesum. Heran aku.” Sari mencibir.


David pun kembali tertawa.


“Loh, aku kan hanya membalas perkataanmu.”


Sari meminum habis susu coklat yang di berikan suaminya.


“Jika kamu mau, akan ku pesankan rumah itu untukmu.” Kata David lagi.


Sari menggeleng.


“Nanti saja, jika dia sudah lahir.” Sari mengusap perutnya yang sudah terlihat sedikit buncit.

__ADS_1


David pun ikut mengelus perut itu dari samping.


Kemudian, Sari menyandarkan kepalanya di dada David.


“Mas, besok aku boleh ya ke butik miss Inka.”


“Buat apa?” Tanya David possesive.


“Ketemu teman-teman lama di sana. Aku kangen mereka, Mas.”


“Cukup kangen kamu untuk aku saja.”


“Mas, permintaan ibu hamil itu harus di turuti. Kalau tidak nanti..” Perkataan Sari terpotong.


“Nanti bayinya ngeces.” David menyambungkan kalimat Sari.


“Nah, itu tahu.”


David tersenyum.


“Baiklah, besok aku antar, tapi tidak boleh lama-lama. Dan, kamu harus di temani Nina.”


“Iya, aku juga mau bawa Melvin, sekalian pulangnya mampir ke supermarket untuk beli stok kebutuhan dapur.”


David mengangguk.


“Good, nanti supir kantor akan menjemputmu.”


“Oke, siap.” Sari memberi hormat pada suaminya.


David menggeleng dan gemas. Ia meraih kepala Sari dan mencium bibirnya.


“Aku mau lagi.” Ucap David sensual.


“Mas..” Rengek Sari.


“Aku memintamu libur bukan untuk ini, ya.” Ucap Sari memperingatkan suaminya yang mesum.


David tersenyum.


“Tapi sayang, jika di rumah tak melakukan ini. apalagi perut buncitmu membuatku lebih bergairah.” Jawab David yang dengan leluasa menggendong Sari menuju singgasananya, tempat mereka meluapkan kenikmatan bersama, tempat mereka setiap kali melewati malam panjangnya, dan tempat meluapkan rasa cinta yang menggebu dari dalam diri keduanya.


Sungguh, nikmat manalagi yang kamu dustakan.


Kini, keduanya pun bergelut peluh, meninggalkan Melvin bersama Nina berdua di luar kamar. Untungnya, Melvin bukan anak yang cengeng. Ia selalu memberi ruang untuk orang tuanya bersama, dan tenang bermain sendiri sambil di temani sang pengasuh yang juga mengerjakan tugas lain.

__ADS_1


__ADS_2