
“Akhirnya, kamu move on juga, Ram. Kakak seneng banget lihatnya.” Ucap Sisy saat melihat sang adik tengah memakai tuxedo.
Rama tersenyum.
“Iya, Kak. Semua memang sudah ada waktunya.”
Sisy pun mengangguk.
Di kamar mempelai wanita, Melisa pun di temani oleh sang kakak.
“Dek, kakak ga nyangka banget kamu bisa secepat ini menikah sama pengacara itu. Ternyata perceraian kakak ada hikmahnya ya.” Ucap Melinda.
“Eh, kakak jangan berkata seperti itu.”
“Lah, memang iya, Dek. Semua ada hikmahnya.” Melinda tersenyum.
“Kalau kakak tidak bercerai, kan kamu belum tentu bertemu Rama.”
“Kalau jodoh pasti akan bertemu bagaimana pun jalannya, Kak.” Jawab Melisa.
Melinda tersenyum bahagia.
“Ternyata, adiknya kakak sudah dewasa ya.”
“Ya, iyalah udah emak-emak juga.” Melisa mencibir.
Rama bersiap duduk di hadapan penghulu, Surya dan satu saksi dari kelurga Surya, sementara di sampingnya kiri sudah ada Rudy yang menemani sebagai saksi dari mempelai pria.
Melisa berjalan perlahan menuju tempat duduk yang sudah tersedia di sebelah kanan Rama. Ia tampak cantik dan anggun, hingga Rama melihat calon istriny itu tak berkedip.
“Ya, ampun Melisa cantik banget, Jeng.” Ucap Sofia pada Dian.
Ibu Rama dan Melisa duduk di seberang mempelai.
Dian mengangguk. Ia lega, karena akhirnya putri bungsu yang selama ini jauh darinya telah pulang, terlebih lagi putri yang selalu susah di atur itu berjodoh dengan orang yang tepat menurut mereka.
“Baiklah, bisa kita mulai?” Tanya sang penghulu yang di angguki semua orang di sana.
Surya menarik tangan Rama dan menjabatnya tangannya dengan sempurna.
“Saya nikahkan dan kawinkan putri saya yang bernama Melisa Adinda Prakoso binti Surya Prakoso dengan mas kawin berupa emas batang sebesar seratus gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai.” Surya mengepal erat tangan Rama untuk isyarat agar menyambungkan perkatannya.
“Saya terima nikah dan kawinnya ananda Melisa Adinda Prakoso binti Surya Prakoso dengan mas kawin tersebut di bayar tunai.” Jawab Rama lantang tanpa ada kata yang terselip atau salah.
Melisa menoleh ke arah pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Ia tak menyangka pria yang pernah menyentuhnya dalam satu malam dan menghasilkan seorang Edrick, bisa se gentle ini.
“Alhamdulillah.” Seru semua orang di sana.
“Barakallahulakuma wa baraka alaikuma wajam’a baynakuma fii khoir..” Sahut pak penghulu dengan segenap doa yang di panjatkan untuk kedua mempelai dan semua orang yang hadir pun mengaminkannya.
Lalu, Rama dan Melisa berdiri memperlihatkan cincin yang di sematkan di jari manis keduanya, juga memperlihatkan kedua buku nikah dengan warna berbeda. Sang fotografer, keluarga, dan teman dekat ikut memfoto prosesi sakral itu. Mereka menjadi saksi kebahagiaan yang baru akan di mulai oleh kedua insan ini.
“Cium.. cium.. cium..” Teriak para hadirin di sana, terutama teman-teman Rama.
Kedua mempelai tersipu malu. Lalu, perlahan Rama mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri. Walau ia pernah menyentuh tubuh Melisa sebelumnya, tapi hari ini terasa begitu canggung.
Rama melihat bibir sang istri yang menggoda, sama seperti waktu pertama kali ia melihatnya. Namun, Rama beralih ke keningnya. Ia mengecup kening itu lama dan dengan penuh kelembutan.
“Aku janji akan menjadi suami yang baik untukmu dan ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti.” Ujar Rama pelan.
Melisa terharu. Tanpa di sadari, air mata itu menggenang di pelupuk matanya.
“Terima kasih.” Ucapnya lirih.
Kemudian, Rama dan Melisa bersimpuh di kaki kedua orang tua mereka bergantian. Rama menangis, ketika berada di pelukan Surya, ia menangisi perbuatan buruknya terhadap putri dari pria yang berjasa dalam keluarganya, walau Surya tak mengetahui itu. Lalu, Melisa pun menangis saat berada di pelukan Dian, ia menangisi berbagai tingkah buruknya yang membuat sang ibu kecewa.
Berbagai wejangan dari para orang tua itu di dengar dengan seksama oleh Rama dan Melisa. Sementara Edrick berada dalam gendongan Melinda. Suasana haru sangat terasa, sedih dan bahagia menjadi satu.
****
Di sebuah apartemen mewah, Sari dan David juga tengah bersiap untuk menghadiri pernikahan yang akan di gelar satu jam lagi. Sari terlihat sangat cantik dengan balutan gaun yang berwarna pink muda, warna kegemaran Sari. lalu, Melvin menggunakan jas kecil yang senada dengan sang ayah. Melvin terlihat tampan walau di usianya yang baru menginjak delapan bulan. Nina pun akan di boyong untuk menemani Melvin di sana.
__ADS_1
“Sudah siap? Ayo kita berangkat!” Ucap David.
Nina mendorong Melvin di stroler yang mirip seperti sepeda kecil. Melvin di dudukkan di sana. mereka keluar terlebih dahulu, sebelum David menutup pintu apartemen itu.
“Kamu cantik sekali sayang.” Ucap David sesaat, sambil menutup apartemen itu. Ia merasakan wangi aroma parfum sang istri yang membuatnya bergairah.
David sempat-sempatnya memeluk pinggang Sari dan menggigit leher itu, membuat tanda merah lagi di sana.
“Hmm, Mas. Ih.” Sari mencoba melepas lengan David yang merangkul erat pinggangnya. Ia pun melihat ke arah Nina, memastikan asistennya itu tak menengok ke belakang.
Untung saja, Nina tetap berjalan dan mendorong Melvin ke arah lift.
“Kita sudah siap mau jalan, Mas.” Rengek Sari menangkap sinyal aneh suaminya.
“Iya, aku tahu.” David merangkul sang istri, setelah menutup pintu dan menekan tombol di sana untuk di kunci.
Ia tertawa senang, karena telah membuat tanda kepemilikan itu, sambil merangkul tubuh sari berjalan beriringan. Sementara Sari memonyongkan bibirnya. Ia kesal karena sang suami terkadang meminta di saat yang tidak tepat dan sikap possesivenya yang berlebihan.
“Just kidding, Sayang.” Ucap David lagi saat mereka menunggu di depan lift.
“Tapi, bagus juga.” David mengelus leher istrinya yang memerah.
Sari dengan cepat menutup hasil karya kemesuman sang suami dengan rambutnya. Ia mnarik rambut yang tergerai ke belakang itu menjadi ke depan. David menyeringai, ia kembali mendekat pada sang istri di dalam lift.
“Mas, Ih, ada Nina.”
Nina menoleh saat namanya di sebut dan melihat kemesuman majikannya yang sudah biasa ia lihat. Nina hanya tersenyum.
Empat puluh menit kemudin, David dan keluarganya sampai di hotel tempat pernikahan itu di gelar.
“Wah, mewah ya, Mas.” Ucap Sari saat mereka sudah berada di dalam.
David merangkul Sari, ia sadar bahwa Sari tak merasakan pernikahan yang seperti ini, karena saat itu mereka menikah dengan keadaan yang sangat sederhana.
“Kamu ingin pernikahan kita di gelar seperti ini?” Tanya David di telinga Sari.
“Apaan sih, kita kan sudah menikah, memang mau menikah lagi?”
"Kamu lupa kalau sekarang aku sudah menjadi milyarder, tidak perlu pernikahan mewah, yang penting assetku banyak.” Ucap Sari sambil nyengir kuda, menampilkan jejeran giginya yang rapih.
David ikut tersenyum. Ternyata di balik kepolosan, kecantikan, dan kebawelan sang istri, tersimpan hati yang sangat baik dan luas seluas samudera.
David kembali merengkuh tubuh Sari.
“Kita memberi ucapan selamat dulu kepada mempelai, Mas.” Ucap Sari.
Lalu mereka pun berjalan menuju pelaminan.
“Eh pak David.” Ihsan langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat pada bos besarnya, saat David tengah berjalan menuju pelaminan.
“Loh, kamu di sini?” Tanya David.
“Iya, Pak.” Ihsan mengangguk.
“Sari..” Panggil Sisy yang sedang menggendong anaknya.
“Kak Sisy.” Sari dan Sisy pun langsung berpelukan.
“Mas, Ini kakaknya Mas Rama.” Sari memperkenalkan Sisy.
Sisy dan David saling berjabat tangan.
“Dan saya suaminya Sisy, Pak.” Kata Ihsan.
“Oh.” David semakin terkejut, ternyata akses Rama yang selalu mendekati istrinya waktu itu terjawab sudah, karena memang ada akses yang menghubungkan mereka untuk saling berdekatan dan itu bukan karena Sari yang menginginkan kedekatan itu.
“Aku sudah menganggap keluarga Mas Rama sebagai keluargaku, Mas. Kamu tidak keberatan kan?” Tanya Sari sambil menggandeng lengan suaminya.
“Kalau sekarang tidak keberatan sama sekali karena Rama sudah menikah, tapi jika belum aku masih keberatan.”
Sari memukul pelan dada David yang menempel dekat dengan kepalanya.
__ADS_1
“Dasar posseive.”
“Mesum juga.” David menambahi sendiri.
Mereka pun tertawa.
Kebahagiaan Sari dan Davd di saksikan oleh Sofia dan Rudy yang melihat mereka semakin dekat meuju pelaminan, di temani oleh Ihsan dan Sisy, Nina pun mengekori di belakang.
Rama dan Melisa pun melirik ke arah David dan Sari, mereka melihat kebahagiaan itu.
Sari tersenyum, ketika dirinya semakin dekat dengan mantan calon mertuanya itu.
“Mama, selamat ya.” Sari mengulurkan tangannya pada Sofia, dan untuk kali pertama Sofia tersenyum pada Sari, lalu merengkuh tubuhnya untuk di peluk.
“Maafkan sikap mama selama ini ya, Sar.” Ucap Sofia saat berada dalam pelukan Sari.
“Sama-sama, Ma. Maafkan juga sikap Sari yang mungkin kurang berkenan ke mama.”
Sesaat berpelukan, kemudian mereka melepas pelukan itu. Keduanya tersenyum, begitu juga Sisy yang berada di belakangnya.
“Oh, iya ini Pak David bos Ihsan di kantor sekaligus suami Sari, Ma.” Ucap Ihsan.
Sofia tersenyum malu, karena memang ia pernah bertemu dengan pria bule ini.
Setelah bersalaman dengan Sofia dan Rudy. Sari beralih pada kedua mempelai. Ia menyalami Rama.
“Selamat ya, Mas. Akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu.” Sari tersenyum dan melepas jabatan tangannya, karena Rama cukup lama memegang tangan Sari dan ia takut David akan mengartikan lain.
Kemudian, Sari beralih pada Melisa dan berpelukan.
“Terima kasih, Sar.” Ucap Melisa tersenyum.
David pun berjabat tangan pada Rama.
“Terima kasih, Dav. Karena kamu telah menolong Melisa saat itu, entah bagaimana keadaannya jika kau tak memberinya bantuan pada saat itu.” Ucap Rama yang langsung memeluk David.
David menepuk bahu Rama. “Sudah jalannya seperti ini.”
Rama mengangguk. “Iya, tapi tetap aku harus berterima kasih banyak padamu.”
David tersenyum. Lalu, beralih pada Melisa.
“Selamat Mel. Kita memang tidak pernah menyangka kepada siapa hati akan berlabuh.” Kata David.
“Benar sekali. Terima kasih, Dav.” Jawab Melisa.
“Aku pun berterima kasih dan minta maaf.” Ucap David tersenyum sambil menjabat erat tangan melisa dan melirik lagi ke arah Rama.
Rama dan Melisa mengangguk.
Kedua pasangan suami istri ini bernostalgia di atas pelaminan, membuat antri para undangan yang lain yang ingin menyalami kedua mempelai itu.
“Ayo, kita berfoto dulu.” Ucap Rama.
“Ayo.. Ayo..” Kata Melisa.
“Oke.” Sari mengambil posisi di samping Melisa dan David mengambil posisi di samping Rama.
David pun mengambil Melvin dan menggendongnya. Sementara Melisa meminta Edrick untuk segera naik ke pelaminan dan di gendong depan oleh Rama.
“Cheerrss..”
Ceklek
Foto mereka semua tengah tertawa, menampilkan jejeran giginya masing-masing menunjukkan betapa mereka terlihat bahagia.
“Satu lagi. Gaya bebas ya.” Kata Melisa.
Ceklek.
David membentangkan lengan kanannya sementara lengan kirinya menggendong Melvin. Sari dan Melisa bergandengan sambil memonyongkan bibirnya. Kemudian Rama melebarkan mulutnya sambil tertawa.
__ADS_1