Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
anak jaman sekarang


__ADS_3

"Haduh, ini si Sari lama amat sih? Ngasih kopi, mbok ya ndak keluar-keluar.” Gumam Ratih kesal, karena tak ada yang membantunya di dapur.


Ratih kembali melihat jam dinding. Sebantar lagi sudah akan masuk waktu zuhur, tapi masakannya belum ada satupun yang selesai.


Ratih menghampiri kamar Sari. Tangannya sudah terangkat dan akan mengetuk pintu itu. Namun, suara sari mengurungkan niat Ratih untuk menyentuh pintu itu.


“Mas, Hmm.... Mas David, Hmm....” Suara Sari lirih.


Deg.


Ratih panas dingin mendengar suara putrinya yang sedang mendesah.


“Ampun ini anak, kalau di dengar Ardi bisa bahaya.” Gumam Ratih, sambil menggelengkan kepalanya.


Di kamar Sari, sepasang suami istri itu tengah bergumul dalam peraduan. Dua jam David berada di atas tubuh Sari, menghujamnya tak berhenti. Memang pria bule itu sangat kuat, hasratnya begitu tinggi. Hal itu juga di rasakan David, ia masih tak mau menyudahi penyatuannya. Hingga akhirnya ia menyerah, karena melihat Sari yang semakin lelah tak berdaya.


“Nggg...” David mengerang dengan suara tertahan, ia sadar saat ini tengah berada di rumah Sari.


Ia pun ambuk di atas tubuh Sari. Lama ia berada di sana dengan tubuh yang lemah. Tangan Sari terangkat dan mengelus kepala David.


“Dia suamiku sekarang. Hidupku untuknya dan untuk anak-anakku nanti.” Gumam Sari dalam hati dengan mengulas senyum.


Ia bertekad akan menjadi istri yang baik.


David tertidur di samping tubuh Sari dengan tetap melingkarkan tangannya apda pinggang itu. Sari mencoba untuk bangun, ia lupa telah meninggalkan ibunya sendirian di dapur.

__ADS_1


“Aww..Ssshh..” Sari merintih, saat akan bangun dan merasakan perutnya yang sakit.


David yang masih setengah tiudr, mendengar rintihan sang istri.


“Kamu kenapa?” Tanya David panik.


“Apa aku menyakitinya?” David semakin panik.


“Sedikit. Sepertinya perutku keram.”


“Apa aku terlalu lama melakukannya?’


“Mungkin.” Sari tersenyum melihat kepanikan David.


“Aku ingin ke kamar mandi.” Sari menutup asal tubuhnya yang polos dengan kain seadanya yang ada di dekatnya. Ia mulai menurunkan kakinya ke lantai dengan berat.


“Sari kenapa, Nak?” Tanya Ratih bingung, saat ia melihat David menggendong putrinya.


David hendak melewati Ratih, untuk menuju kamar mandi.


“Perutnya sakit, Bu.”Jawab David, arah matanya menunjuk Sari yang sedang lemas.


Mata Ratih memperhatikan putrinya yang sedang dalam gendongan pria bule bertubuh tinggi tegap. Tubuh Sari hanya di tutupi kain asal, bagian leher dan pundaknya terbuka, menampilkan tanda merah yang banyak di sana. di tambah David yang hanya mengenakan boxer dan bertelanjang dada.


“Ya ampun, anak jaman sekarang.” Gumam Ratih tertunduk malu.

__ADS_1


“Iya, ya, sana ke kamar mandi dulu.” Ucap Ratih yang kemudian membalikkan tubuhnya menghadap kompor.


“Oalah, untung di rumah ini cuma ada aku.” Ratih masih bergumam sendiri.


Ia heran dengan apa yang di lihatnya. Seumur-umur menjadi istri dan berpuluh-puluh tahun melayani suami, Teguh tak pernah sampai membuatnya seperti apa yang ia lihat pada putrinya tadi.


David memsauki kamar mandi dan mendudukkan Sari di atas kolam air. Mengingat kloset di kamar mandi ini bukanlah kloset duduk, sehingga membuat david bingung untuk mendudukkan istrinya di mana.


“Aku bisa sendiri. Sudah sana keluar!” Kata sari yang masih menahan senyumnya. Ia malu dengan keadaannya saat ini.


“Aku pernah memandikanmu.”


“Tapi di sini, kamar rmandinya sempit. Semakin sempit jika kamu juga berada di sini.” Ucap Sari.


"Sebenarnya tidak masalah, yang penting berdua denganmu." Ledek David, membuat wajah Sari merona.


“Apaan sih.” Sari memukul dada David.


“Baiklah, aku keluar. Tapi benar kamu bisa melakukannya sendiri?”


Sari mengangguk dengan tetap menyungging senyum.


“Iya.”


Akhirnya, David keluar dan menutup kembali pintu kamar mandi itu dari luar.

__ADS_1


“Dasar, bulgil. Kuat banget. Huff..” Gumam Sari kesal.


__ADS_2