
Fix, Rama menempati apartemen yang satu lantai dengan Sari. Ia sengaja menyewa salah satu apartemen yang dekat dengan lift, karena Sari akan melewati jalan ini, jika ia ingin keluar.
Rama berdiri lama di depan pintu masuk apartemennya. Ia menatap pintu apartemen Sari yang berjarak 5 pintu dari apartemen milik orang lain yang berjauhan. Lalu, ia membuka pintu apartemennya dan masuk.
Hari ini Rama merapihkan tempat tinggalnya yang baru, Walau Sofia melarang keras sang putra untuk pergi, tapi itu tak jadi penghalang. Ia tetap akan mengejar cintanya.
Di kamar yang lain, sepasang suami istri masih bergelut dengan selimut tebalnya. Mereka masih dalam keadaan polos, karena penyatuan semalam yang begitu indah dan nikmat di iringi perasaan yang menggelora dari keduanya.
David masih memejamkan matanya, sedangkan Sari sudah lebih dulu terjaga. Sari yang masih tertidur di dada David, tiba-tiba terbangun dan menggakkan kepalanya. Ia menatap wajah sang suami dan mengingat adegan panasnya semalam. Ia juga ingat dengan ungkapan cinta David saat ia melakukan pelepasan.
"I love you."
Sari menutup wajahnya, ia malu mengingat itu, karena ia pun membalas ungkapan cinta David.
"I love you too."
Sari tertawa sendiri, sambil menutup wajahnya. Tak lama kemudian, ia membuka matanya. Tiba-tiba David tengah menonton aksi malu sang istri. Ternyata, David sudah terjaga.
"Kenapa tertawa?" Tanya David dengan mengembangkan senyum, sambil mengelus rambut Sari.
Sari pun tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa."
David memajukan wajahnya, membuat tatapan mereka tak berjarak. Tangan David mengelus wajah Sari.
"Apapun yang terjadi, percayalah padaku." Ungkapnya.
Sari mengangguk dan tersenyum manis, membuat David pun ikut tersenyum.
"Mas.." Panggil Sari.
"Hmm.."
"Kapan aku di kenalkan dengan paman Sam?" Tanya Sari.
"Secepatnya, setelah kamu melahirkan dan anak kita sudah bisa di bawa perjalanan jauh. Tadinya aku ingin membawamu ke keluargaku di sana, tapi mengingat perjalanannya sangat jauh dan membutuhkan waktu seharian di pesawat, aku khawatir dengan kehamilanmu, aku khawatir akan berpengaruh buruk untuk anak kita." Jelas David panjang lebar.
Sari mengangguk. "Iya sih."
"Boleh aku tanya satu hal lagi?" Tanya Sari lagi.
"Apa?" David balik bertanya.
"Tapi janji ngga boleh marah." Sari menampilkan jari kelingkingnya.
"Iya." David pun ikut menempelkan jari kelingkingnya.
"Ibumu juga berasal dari sana?" Tanya Sari.
David menggeleng.
__ADS_1
"Kata Daddy, Mommy dari Indonesia. Hmm... wajahnya sama sepertimu. Dia cantik, senyumnya manis." Pikiran David melayang, mengingat senyum sang ibu saat ia masih duduk di taman kanak-kanak.
"Tapi kelakuannya berbanding terbalik darimu. Dia memang tak pernah memukulku, memarahiku, tapi aku sering melihatnya dengan pria lain. Dia sering membawa pria lain ke rumah saat Daddy bekerja, bahkan dia pergi meninggalkanku demi pria itu. Aku membencinya, sejak saat itu aku berjanji akan mempermainkan wanita dan tidak akan jatuh cinta pada wanita manapun." Kata David lagi dengan mata memerah.
Pada malam jebakan itu, David melihat Sari seperti melihat wajah sang ibu, membuat David semakin garang menghantam Sari tanpa ampun. Selain, ia kesal karena orang yang di harapkan hadir bukanlah Sari, Ia pun kesal karena wajah Sari sedikit banyak mirip dengan wanita yang paling ia benci.
Tiba-tiba Sari terdiam. Ia mulai ragu dengan ungkapan cinta David semalam.
"Lalu denganku?" Tanya Sari ambigu.
"Kamu adalah ibu dari anakku. Jelas itu berbeda." Jawab David, sambil mengelus perut Sari yang kian membesar.
Sari masih terdiam. Kalimat yang di lontarkan David tersirat, dan banyak spekulasi lain untuk bisa di artikan.
Lalu, Sari mengangguk pelan.
David pun melepas pelukannya. Ia bangkit dari tempat tidur.
"Aku akan buatkan kamu susu." Ucap David dan langsung meninggalkan kamar menuju dapur.
Sari pun ikut bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Ia menyalakan air di bath up, kemudian melepas selimutnya. Ia menatap tubuhnya yang polos di cermin.
"Apa dia mencintaiku?" Gumam Sari, sambil mengelus perutnya.
"Apa dia mencintaiku karenamu." Sari masih berinteraksi dengan calon bayi yang ada di perutnya.
Sari menghela nafasnya kasar. Ia tak tahu pernikahan yang ia jalani ini benar atas dasar cinta atau hanya sebuah tanggung jawab, tapi yang pasti ia bahagia. Entah mengapa hari-hari yang di jalani bersama David membuatnya senang, walau sering ada perdebatan di antara mereka, tapi hatinya senang dengan sikap manis dan perhatian David.
"Kamu semakin sexy, Sayang." Kata David persis di telinga David.
Hormon ibu hamil sangat menjijikkan. Libido Sari selalu naik, ketika mendapat sentuhan David sedikit saja, bahkan hanya dari sebuah suara yang menggoda dari suaminya. Hal itu sungguh membuatnya malu, karena dengan mudahnya Sari akan terhanyut dan memberi akses David untuk menjamah tubuhnya.
Benar saja, bibir David mulai menelusuri tubuh sintal istrinya. Sari pun memberikannya, membiarkan David memainkan tubuhnya, hingga penyatuan itu kembali terjadi.
****
"Mas, hari ini kan libur. Ayo jalan-jalan!" Rengek Sari yang bosan karena seharian hanya berada di kamar atau menonton televisi.
Berbeda dengan David yang malah suka dengan hal ini.
"Memang mau kemana?" Tanya David.
"Yang penting keluar. ke taman bawah aja juga ngga apa-apa kok." Jawab Sari.
Di apartemen ini memang terdapat fasilitas kolam renang di lantai atas dan taman buatan di lantai dasar. Taman buatan bergaya milenial dengan jalan yang menghubungkan antara apartemen dan mall. Taman itu juga di desain untuk para instagramable, karena banyak sudut-sudut unik untuk bersua foto.
Akhirnya, David menuruti keinginan sang istri. Mereka bersiap untuk keluar. Kemudan Sari dan David berjalan beriringan. Mereka melewati kamar apartemen Rama.
Rama pun mengintip dari pintu apartemennya. ia melihat Sari dan David yang sedang berjalan menuju lift. Rahangnya mengeras saat melihat David menggandeng pinggang Sari.
"Sari, aku rindu. sungguh aku merindukanmu." Gumam Rama dari dalam pintu apartemennya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Sari dan David sampai di tempat yang Sari inginkan. Di sana banyak sekali orang yang berfoto, ada muda mudi yang sedang berpacaran, ada yang berkelompok berfoto bersama teman-temannya, ada yang berfoto satu keluarga, bahkan ada wanita paruh baya berfoto dengan banyak anak kecil.
"Ramai ya, Mas." Ucap Sari, sambil mengerdarkan pandangannya.
"Iya." David hanya tertuju pada satu pandangan, yaitu sudut taman yang agak sepi dan di tumbuhi dengan banyak bunga.
"Kita ke sana!" Ucap David dan menarik tangan Sari.
Sari pun mengikuti langkah suaminya.
"Wah tempatnya indah." Sari melihat banyak bunga bermekaran dan air mancur yang di bawahnya terdapat banyak ikan.
"Sayang, aku ke sana dulu ya!" David menunjuk stand es krim jauh di seberang tempat Sari berdiri.
Sari pun mengangguk dan David meninggalkannya sebentar.
Sari mencoba berjalan lagi menuju bunga-bunga di sana. Ia tak sadar jika jalan di depannya itu terdapat tangga berundak yang cukup tinggi. Kaki Sari terpeleset dan ingin jatuh. Lalu, ada tangan seorang wanita yang menariknya dari belakang.
"Aaa..."
"Hati-hati, Nak." Ucap wanita paruh baya itu, yang Sari lihat saat wanita itu berfoto dengan banyak anak kecil.
Sari tersenyum menoleh ke arah wanita itu.
"Terima kasih, Bu."
Wanita paruh baya itu tersenyum dan menuntun Sari untuk duduk di taman.
"Mana suamimu?" Tanya wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, terukir dalam senyumnya yang manis.
"Sedang membelikanku es krim."
"Oh so sweet."
"Ibu tinggal di sini?" Tanya Sari pada wnaita itu.
"Tidak, saya ke sini hanya ingin menyenangkan mereka." Tunjuk wanita itu pada anak anak kecil yang jauh di sana.
"Oh itu cucu ibu?" Tanya Sari lagi.
"Bukan, mereka anak-anak panti tempat saya bekerja."
"Oh." Sari membulatkan bibirnya.
"Kita belum berkenalan." Ucap Sari.
"Oh iya, Nama saya Elvira Osborne. Di panti anak-anak selalu memanggil saya dengan sebutan Mommy El." Jawab wanita paruh baya itu dengan penuh senyum.
Deg
Jantung Sari berdetak kencang, saat wanita paruh baya ini mengucap nama belakang yang sama dengan nama belakang suaminya.
__ADS_1
"Apa nama belakang ini ada kaitannya? atau hanya kebetulan nama belakang mereka sama." Gumam Sari, sambil menatap lekat wajah wanita paruh baya itu.