
Ardi berjalan menuju dapur dan melihat kakak iparnya yang sedang mengaduk susu dengan kaleng susu bergambar ibu hamil di sampingnya.
“Wah, suami idaman.” Ledek Ardi yang melewati sang kakak ipar untuk mengambil air mineral di lemari es.
David hanya tersenyum.
“Pulang jam berapa semalam?” Tanya David dan membalikkan badannya untuk berbincang dengan Ardi.
“Supir Mas David jemputnya lama, sampai sini jadi tengah malam.”
“Tapi yang penting kamu dan Nina baik-baik saja. “
Ardi mengagguk, sambil meneguk botol air mineral di tangannya.
“Mas, sepertinya lusa aku akan pulang, karena ada beberapa berkas yang harus di penuhi sebelum mulai masuk perkuliahan.” Ucap Ardi.
“Baiklah, nanti aku siapkan tiketnya.” David menepuk bahu Ardi dan melangkah menuju kamarnya dengan membawa segelas susu.
Ceklek.
David membuka pintu kamarnya. Sudah lama sekali ia tak melakukan ini. Kemudian, David membuka semua tirai jendela, agar sinar matahari pagi menyinari seluruh sudut kamar itu.
“Hmm...” Sari menggeliat dengan sinar matahari yang sedikit menyorot ke arahnya.
David menghampiri sang istri dengan mengulas senyum.
“Sudah bangun?”
Sari pun tersenyum, melihat segelas susu coklat yang sudah berada di tangan David.
“Selama aku pergi, kamu tak lupa meminum ini kan?”
Sari menggeleng, sambil nyengir.
David tertawa melihat ekspresi Sari yang seperti maling sedang terciduk.
“Kamu tidak pandai berbohong.” Ucap David yang tahu bahwa sang istri tidak setiap hari meminum susunya, karena terlihat dari kaleng susu besar yang masih terlihat penuh, padahal biasanya David akan membeli susu itu 3 atau 4 kaleng besar dalam satu bulan.
“Tidak boleh seperti itu.” David mencubit ujung hidung Sari dan menggoyangkannya hingga wajah Sari ikut bergoyang.
“Dia di sini akan kekurangan asupan gizi.” Ucap David lagi.
“Aku minum kok, tapi terkadang lupa.” Sahut Sari.
“Banyakan minumnya apa lupanya?” Tanya David
“Lupa.”
“Bohong.”
__ADS_1
“Bukan lupa, tapi ngga inget.” Jawab Sari dengan wajah imut.
David mengeryitkan dahinya.
“Memang apa bedanya lupa dengan tidak ingat?”
“Sama.”
“Terus?”
“ih, banyak tanya." Sari langsung meraih gelas yang ada di tangan David.
Glek.. Glek.. Glek..
Ia langusng menghabiskan susu itu.
“Tuh lihat habis kan!” Sari memperlihatkan gelas yang kosong itu dan meletakkannya di nakas yang berada persis di sampingnya.
Lalu, David mendekat, sementara Sari tahu betul maksudnya. Ia langsung menghapus jejak susu yang tertinggal di atas bibirnya. Sontak membuat David tertawa, hingga bahunya ikut bergoyang. Sungguh Sari begitu lucu dan menggemaskan.
Lalu, David menubruk tubuh Sari dan memeluknya erat.
“Mengapa ada wanita menggemaskan sepertimu? Hah. Ayo jawab? Kalau tidak aku gigit nanti.” Uccap David dengan penuh senyum.
David mulai menggelitiki pinggang Sari.
“Stop. Ih.. kamu jahil.” Sari menyingkirkan kedua tangan David yang perada di pinggangnya.
“Jawab dulu.”
“Mana aku tahu, aku harus jawab apa?” Ucap Sari dengan nafas terengah-engah setelah tertawa akibat ulah jahil sng suami.
“Berarti kamu minta aku gigit.”
“Aa...” Sari berusaha menghindar dengan menggeserkan tubuhnya ke atas dan masih dalam posisi berbaring.
Dengan cepat, David menarik kedua kaki Sari, agar kembali sejajar dengannya.
“Mas..” Sari menutup leher dan dadanya dengan kedua tangan menyilang, karena saat ini tubuh Sari masih dalam keadaan polos.
“Jangan macem-macem ya, nanti aku marah.” Sari mengerucutkan bibirnya.
“Jadi nenek lampir?’ Tanya David meledek.
Namun, David tetap menggigit bahu Sari.
“Aww.. Mas, jelek.. ih.. nyebelin.” Rengek Sari memukul dada suaminya.
Ia pun menoleh ke samping untuk melihat bahunya yang biru dan menoleh ke sampingnya lagi yang juga terlihat biru.
__ADS_1
“Mas jahat, ini memar.” Rengek Sari, yang seolah ingin menangis.
David memang selalu meluapkan hasratnya, tidak peduli Sari suka atau tidak.
Kemudian, ia mengelus bahu Sari yang berwarna merah keungu-unguan.
“Maaf, aku terlalu gemas.”
Lalu, David mencium bahu Sari itu berkali-kali.
“Maaf, ya udah aku mandikan ya.”
David dengan cepat membopong Sari dan membawanya menuju kamar mandi yang berada di kamar itu. Kemudian, Sari di letakkan di bath up.
“Sudah, sana keluar, aku mandi sendiri.” Rengek Sari lagi, mengibaskan tangnnya agar David keluar. Ia tak mau David memanfaatkan situasi ini.
Benar saja, pria bule itu tengah membuka seluruh pakaiannya.
“Aku rindu memandikanmu.” Ucap David yang kini ikut masuk ke dalam bath up yang sama.
Sari hanya bisa menghelakan nafasnya kasar dan merengek, mengerucutkan bibirnya, membuat David semakin tertawa gemas.
****
Ardi terus menekan remot televisi, ia merasa bosan karena sejak pagi hingga Siang, Sari tak keluar kamar, hanya David yang mondar mandir membawakan makanan dan minuman ke kamarnya. Ia kembali menoleh ke arah David yang baru saja masuk ke kamarnya dengan membawa makanan yang dia buat untuk istrinya.
“Oh iya, Ar. Jika kamu lapar, kamu bisa ke restoran di mall bawah. Maaf aku hanya membuat ini untuk kakakmu.” Ucap David dan memberikan Ardi uang ratusan ribu sepuluh lembar.
Ardi langsung mengembang senyum, melihat uang berwarna merah semua.
“Okey, mas.” Ardi menunjukkan sau ibu jarinya ke atas.
“Oh, iya. Mas David ngga kerja?” Tanya Ardi.
David menggeleng dan mengedipkan matanya, lalu ia kembali memasuki kamar.
Nina pun melihat tingkah majikannya yang tak biasa. Ia berdiri di belakang Ardi sambil memegang alat pembersih debu. Nina melihat David tak berkedip, karena David hanya mengenakan boxer dengan roti sobek yang terpampang nyata.
“Sensor, masih kecil.” Ardi menutup mata Nina, setelah ia menoleh kebelakang dan menemukan sosok gadus itu tengah berdiri dengan mulut menganga.
“Pak David sebelumnya, tidak pernah seperti itu kalau keluar kamar.”
“Biarin aja sih, dia lagi kangen-kangenan sama istrinya. Mending kamu ikut aku ke mall bawah yuk.” Ajak Ardi.
“Tapi, aku belum selesai.” Nina melihat alat pembersih yang ia pegang.
“Ya udah sini aku bantu selesaikan.” Ardi memegang alat yang di pegang Nina itu dan Nina memegang pekerjaan yang lain.
Nina tersenyum. Adik majikannya ini selain tampan juga baik hati. Nina semakin mengagumi Ardi.
__ADS_1