Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
~bonus chapter 11~


__ADS_3

“Mama bawa ini.” Melvin menyerahkan beberapa mainan lego yang belum sempat ia pasang, pada sang ibu.


Sari tengah merapihkan pakaian yang akan mereka bawa untuk liburan bersama keluarga Mario dan Inka di Lembang.


“Ini banyak sekali, Sayang. Di bawa beberapa saja ya!” sari mencoba bernegosiasi pada putranya.


“Semua, Ma. Melvin ingin main ini bersama abang Maher.”


“Sudahlah, turuti saja,” ucap David yang baru saja keluar dari kamar mandi sembari menggosok rambutnya dengan handuk kecil.


Di kamar itu, semua berkumpul. Melvin dan Quinza antusias membantu sang ibu merapihkan perlengkapan yang akan mereka bawa besok.


Quinza menghampiri ayahnya yang sedang duduk di meja rias, menghadap ke arah istri dan anaknya. David keluar dari kamar mandi dengan mengenakan boxer dan singlet berlengan.


“Papa, sini. Quin yang keringkan,” ucap Quinza dengan suara yang masih terdengar lucu.


Quinza memang sering membantu sang ayah untuk menggosokkan rambutnya, ketika rambut itu masih basah.


“Ini.” David tersenyum. Ia memang menyukai anak perempuan.


“Papa, ketinggian.” Quinza berjinjit agar dapat mengelus rambut sang ayah.


“Baiklah, kalau begitu Papa duduk di bawah.” David berdiri dan duduk di karpet berbulu tebal yang terletak di bawah sofa.


“Nah, kalo gini, Quin sampe.” Quinza nyengir menampilkan jejeran giginya yang rapih, putih, dan kecil-kecil.


Melvin duduk di atas tempat tidur bersama sang ibu dan membantunya. Walau pun menurut Sari Melvin bukan membantu, tapi malah semakin membuatnya tak kunjung selesai.


“Ma, yang ini juga di bawa,” ujar Melvin lagi pada sang ibu.


“Vin, please deh, kita ke sana hanya dua hari, tapi kamu bawa mainan seperti yang mau sebulan," protes Sari.


“Seru Ma kalau main sama Bang Maher.”


“Dia juga pasti membawa mainan. Jadi kamu ga usah bawa banyak-banyak.”


“Tuh, lihat. Mama sama Kakak Melvin berantem terus,” ucap David pada Quinza dengan arah mata menuju istri dan putrnya.


Quinza tertawa, sembari menutup mulutnya. Putri David ini memang sangat cantik. Tak ayal, jika di sekolah, ia selalu di goda oleh teman-temannya, padahal Quinza baru duduk di kelompok bermain, taman kanak kanak oun belum. Sari juga selalu disebut besan, dari salah satu ibu teman lelaki Quinza di sekolah itu.


“Sudah kering, Pa.” Quinza menyerahkan handuk kecil itu pada sang ayah.


“Oke, Thank you, Princes.”


“Your’e welcome,” jawab Quinza dengan bahasa yang sudah fasih sambil tersenyum manis.


“Oke, sudah selesai. Ayo tidur, karena besok kita harus bangun pagi pagi sekali. Kalau kesiangan berarti tidak jadi jalan,” seru Sari mengajak putra putrinya untuk kembali ke kamarnya masing-masing.


“Kakak tuh yang suka telat bangun, Ma,” Ledek Quinza.


“Ah, kamu juga.” sanggah Melvin.


“Aku selalu bangun pagi. Kakak ngga.” Quinza tak mau kalah.


“Iya deh,” Melvin akhirnya mengalah.


Melvin memang selalu mengalah pada sang adik. Ia sangat menyayangi sang adik yang manja dan cengeng ini.


“Ya, nanti papa bangunkan kalian. Ayo kita ke kamar!” David menggiring putra putrinya keluar dari kamar itu.


“Mama, siap-siap ya!” david mengedipkan satu matanya.

__ADS_1


“Ngapain?” tanya Sari.


“Program, memberi satu adik lagi untuk Melvin dan Quinza,” bisik David di telinga Sari, saat ia berlalu dari hadapan istrinya untuk membawa Melvin dan Quinza ke kamarnya masing-masing.


“Ish.” Sari mencubit pelan pinggang suaminya yang mesum.


Kebetulan, sudah satu minggu David puasa, karena Sari sedang mengalami masa periode. Dan sejak pagi, Sari baru saja selesai dari masa periode itu.


Entah mengapa kali ini Sari agak sulit mengandung? Padahal sebelumnya, ia sangat mudah bergaris dua. Apalagi, sudah hampir dua tahun, ia melepas alat kontrasepsi itu.


****


Pagi ini, Melvin terlihat riang. Ia tak sabar ingin bertemu Maher. Kedua anak laki-laki yang berbeda tiga tahun ini memang mudah akrab dan nyambung satu sama lain.


Saat ini Melvin berusia tujuh tahun, sedangkan Maher sepuluh tahun. Ketampanan Maher sudah sangat terlihat jelas. Gayanya yang cool dan serius, membuatnya merasa cocok dengan Melvin. Maher mewarisi karakter Inka yang serius dan dingin, sedangkan Mahira mewarisi karakter Mario yang agak selengeyan dan humoris.


"Yeay, akhirnya Papa mengajak kami jalan-jalan," ujar Melvin, saat ia sudah memasuki mobil dan duduk manis di kursi penumpang belakang bersama sang adik.


"Yeay." Quinza pun bersorak.


"Papa selalu menepati janji, Sayang," jawab David, yang baru aja duduk di kursi kemudi.


Sari ikut duduk di samping suaminya. "Ya, Papa memang selalu menepati janji."


Sari tersenyum licik, karena kesal pada sang suami yang berjanji tidak akan memberi tanda merah di sana, tapi David tetap melakukannya. Alhasil, kini Sari harus menggunakan syal untuk menutupi tanda merah yang cukup banyak itu di lehernya.


"Kalau itu, aku tidak bisa untuk menepatinya, Sayang." David tertawa, melihat Sari yang cemberut.


"Malu nanti kalau ketemu Miss Inka." Sari masih merengek.


"Mungkin, dia malah akan lebih banyak dari yang aku lakukan padamu."


"Dasar," cibir Sari.


Setelah menempuh perjalanan lebih dari tiga jam, akhirnya David dan keluarga sampai di vila besar itu. David sengaja mengemudi kendaraannya tidak cepat dan tidak lambat.


Sedangkan Mario dan keluarganya sudah tiba lebih dulu.


"Abang Maher udah sampe, Pa," teriak Melvin saat melihat mobil Mario terparkir di sana.


"Iya, Sayang."


"Kakak Ira juga ada 'kan, Pa?" tanya Quinza.


"Ada dong." David menjawab kedua anaknya dengan sabar. Sedangkan Sari hanya tersenyum melihat putra putrinya senang.


David memarkirkan mobilnya persis di samping mobil Mario.


Mendengar deru mobil di luar, Mario dan kedua anaknya pun keluar.


"Hai." Mario melambaikan tangannya ke arah Melvin dan Quinza.


Begitupun dengan Maher dan Mahira. Tak lama kemudian, Inka pun bergabung bersama keluarganya.


"Mimi," panggil Sari sumringah dan langsung menghambur peluk ke tubuh Inka.


Inka pun membalasnya. "Sari, long time no see. Kangen banget."


"Sama, aku juga kangen banget, Miss."


Sari dan Inka masih berpelukan hingga tubuh mereka bergoyang ke kanan dan kiri.

__ADS_1


"Kayanya kalo mereka ketemu kita di cuekin, Yo, ucap David melihat Istrinya dan istri Mario malah asyik berdua.


"Asal pas tidur, kita ga dicuekin lagi. Awas aja kalo mereka minta tidur sekamar." jengkel Mario, yang pernah ditinggalkan Inka, saat terakhir mereka bertemu dan menginap bersama. Inka beserta kedua anaknya memilih tidur sekamar dengan Sari dan kedua anaknya, meninggalkan suami-suami mereka yang kesepian berada di kamar sendirian, karena Inka dan Sari masih ingin mengobrol sembari menidurkan anak-anak mereka.


"Tuh kan, baru dateng bini lu, gue langsung dicuekin. Padahal Inka dari tadi nempel sama gue."


David tertawa. "Biarakan mereka senang, Yo."


Saat ini saja Inka dan Sari sudah terlihat menelantarkan suaminya. Kedua wanita itu langsung bergandengan menuju dapur dan berbincang riang. Sementara, Melvin langsung antusias bermain dengn Maher dan Mahira mengajak Quinza ke sebuah ayunan kecil yang berada di taman depan vila itu.


Mario melihat keakraban dua wanita dewasa itu. Ia pub menyungging senyum.


"Dav, kita duduk di sana!" ajak Mario pada sahabtnya menuju Gazebo kecil.


Di sana, sudah ada beberapa berkas yang Mario keluarkan sebagai bahan diskusi pekerjaan mereka.


"Anak buahmu sudah membuat sketsanya?" tanya David.


"Masih mentah, Dav. Gue mau tanya pendapat lu dulu."


Mario dan David bekerjasama untuk membangun tempat rekreasi di kota ini, lengkap dengan penginapan, karena Lembang termasuk tempat wisata yang cukup digemari orang.


"Wah, Miss udah bikin pancake?" tanya Sari melihat ke arah oven yang menyala di sana.


Inka mengangguk. "Baru di masukkin. belum mekar."


"Rajin banget sih, Miss," ucap Sari.


"Dingin-dingin gini enaknya nyemil, Sar."


"Ya, buat kita dan anak-anak, tapi buat para suami kayanya ngga deh," jawab Sari.


Inka tertawa, karena tahu apa yang di maksud Sari. "ya, bener banget."


Kedua wanita itu pun ikut tertawa.


Inka menggunakan kaos lengan panjang garis horisontal dengan turtle neck, jenis kerah yang menutupi seluruh bagian leher, dipadu jeans panjang berwarna navy.


Sedangkan Sari menggunakan kaos lengan pendek dengan jewel neck, jenis kerah dengan garis leher berbentuk bulat sepanjang bahu, dipadu celana bahan tigaperlapan berwarna dark grey. Namun, Sari menambahkan kembali dengan syal di lehernya.


"Sekarang belum dingin, Sar. Masih siang udah pake syal aja," ledek Inka melirik ke arah syal Sari yang menjuntai.


"Biar variasi Miss, supaya lebih modis."


Inka tertawa. "Halah bilang aja buat nutupin tato semalam yang di buat si mister."


Sari tertawa. "Miss juga, pake kaos model kerah turtle. Pasti lebih banyak dari aku deh."


Inka tertawa. "Ngga lah."


"Bohong," ledek Sari, yang penasaran dan sedikt membuka Kerah turtle itu.


"Apaan sih, Sar." Inka tertawa.


"Pak Rio kan dari dulu ganas," ucap Sari.


"Suami kamu juga ganas," ledek Inka.


"Wah, banyak banget. Pak Rio emang jagonya," ledek Sari.


Lalu, Inka tak mau kalah. Ia pun menarik syal yang Sari gunakan.

__ADS_1


"Ah, sama." Inka tertawa geli.


Kedua wanita ini memiliki suami yang sebelas dua belas kelakuannya.


__ADS_2