
Sari pamit lagi kepada David untuk mengunjungi panti asuhan yang Elvira pimpin.
“Aku ke sana lagi ya, Mas?” Tanya Sari pada David, sambil memasangkan dasi.
David menatap lekat wajah sang istri.
“Itu aktifitasmu sekarang?”
Sari mengangguk. “Aku menyukai anak kecil.”
“Kalau aku menyukaimu.” Ucap David dengan mengeratkan pinggang Sari pada dada bidangnya, membuat pundak Sari agak sedikit di tegakkan dan kepalanya pun sedikit mendongak.
“Gombal.”
David tersenyum, dan
Cup
Ia mel*m* bibir sang istri, mengecapnya lagi dan lagi. Bibir Sari pun terbuka, membalas pangutan lembut yang di berikan suaminya.
Setelah lama memangut bibir Sari, akhirnya David melepaskan pangutan itu. Ia mengelap sisa saliva di bibir Sari dengan jari telunjuknya.
“Jangan terlalu lelah! Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya.” Ujar David, sambil mengelus perut Sari.
“Aku akan menjaganya, kamu tenang saja.” Sari membalas perkataan suaminya dengan senyum manis.
David kembali merengkuh tubuh Sari dan memberi mencium lehernya. Ia menggigit kecil di bagian itu dan memberi tanda merah.
“Hmm... Kenapa di gigit lagi? Di sini sudah merah.” Sari menunjuk pada bagian lehernya yang lain yang sudah berwarna merah.
__ADS_1
David tertawa. “Agar pria di luar tak ada yang melirikmu, karena di sini sudah ada tanda kepemilikan dariku.”
Sari mengerucutkan bibirnya. “Dasar.”
David melepaskan pelukannya dan keluar kamar sambil tertawa senang.
Seperti ritual pagi sebelumnya, ia membawakan David makanan dan mengantarkan suaminya sampai depan pintu utama. David pun mengecup kening sang istri, sebelum ia benar-benar meninggalkan apartemen itu.
“Mas.” Sari menahan lengan David.
“Kapan-kapan kamu yang antar aku ke panti asuhan itu ya? Aku ingin kamu berkenalan dengan Mommy El, dia sangat baik dan ramah.”
“Ya, kapan-kapan.” Jawab David dengan senyum dan mengacak-ngacak rambut sang istri.
"Huft." Sari meniup rambutnya yang berantakan, David pun menoleh lagi ke arah sang istri sebelum benar-benar pergi, lalu tertawa.
****
“Kamu sendirian, sayang?” Tanya Elvira.
Elvira sangat senang dengan Sari, mereka terlihat sangat akrab dan seperti ibu dengan anak perempuannya.
“Dulu, Mommy juga ingin sekali punya anak perempuan, tapi mommy sudah tak bisa lagi punya anak, berharap dapat anak perempuan dari menantu mommy, tapi bertemu putra mommy pun tidak bisa.” Ucap Elvira lirih.
“Mommy bercerai?” Tanya Sari menatap intens wajah sedih Elvira.
“Kisah rumah tangga mommy dulu sangat pahit, Ri. Sedih untuk di ceritakan, semoga kamu dan suamimu selalu rukun ya.”
Sari tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
“Apa mommy tidak ingin bertemu dengan anak mommy?” Tanya Sari lagi sambil berjalan.
“Sangat ingin, tapi sepertinya anak mommy tidak ingin bertemu mommy.”
“Mommy tahu di mana putra mommy berada?”
Elvira menggeleng. “Mungkin di Inggris bersama pamannya.”
“Mommy dengar, suami mommy mengalami kecelakaan tunggal bersama ibunya. Mereka meninggal delapan tahun yang lalu.”
Sari semakin terkejut, karena semua cerita Elvira sama dengan cerita suaminya.
“Mengapa mommy meninggalkan keluarga mommy di sana?” pertanyan Sari membuat Elvira terdiam.
Mereka sampai di sebuah taman. Keduanya duduk di bangku itu berdampingan.
“Mommy sangat mencintai pria itu, pria bertubuh tinggi tegap dengan paras yang tampan. Saat itu mommy adalah staf di perusahaan miliknya. Kebetulan dia pemilik pabrik makanan olahan, dan mommy adalah buruh pabrik di sana. hingga akhirnya, ia pun melirik mommy, meminta mommy untuk datang keruangannya dan memberikan jabatan menjadi staf. Kami dekat, hingga akhirnya mommy hamil. Ibunya tak merestui kami, karena mommy hanya seorang buruh pabrik, tapi karena hasil USG pada saat itu menunjukkan bayi yang mommy kandung adalah anak laki-laki, ibu suami mommy itu langsung setuju dan kami menikah. Ternyata suami mommy tidak sebaik yang selama ini ia perlihatkan sebelum kami menikah. Lambat laun sikap kasarnya terlihat. Ia pun sering membawa wanita ke dalam ruangannya, yang ternyata wanita itu adalah mantan kekasihnya. Mereka kemudian berhubungan di belakang mommy. Delapan tahun mommy bertahan untuk putra mommy, tapi sepertinya sia-sia. Mommy selalu di bantu oleh adiknya yang bernama Samuel, dia baik dan ttulus, walau akhirnya mommy tahu ternyata sudah lama dia mencintai mommy saat mommy masih bekerja di pabrik, tapi mommy sudah lebih dulu kepincut oleh kakaknya. Hingga akhirnya, Sam membantu mommy untuk pergi melalui sahabatnya yang bernama Paul. Semua keluarga tahunya Paul adalah kekasih gelap mommy, padahal dia yang membantu mommy untuk keluar dari negara itu dan membantu memulangkan mommy ke sini. mommy seperti hidup dalam sangkar emas, bergelimang harta tapi tak bahagia. Tidak bisa pulang ke negara sendiri karena suami mommy mencekal semua visa dan paspor mommy, hingga Paul membereskan semuanya. Mommy pasrah ketika putra mommy pun mengira mommy telah pergi dengan selingkuhan mommy. Tapi tidak apa, biarlah dia mengira mommy yang salah dalam hal ini, yang penting dia tak membenci ayahnya.”
Elvira bercerita panjang lebar dengan deraian air mata. Entah mengapa Elvira percaya pada Sari, entah mengapa ia mau menceritakan hidupnya pada seorang gadis yang baru beberapa hari di kenalnya. Namun rasanya, Elvira lega setelah menceritakan kisah sedihnya pada orang lain, karena selama ini kisah sedihnya hanya ia pendam sendiri. Elvira tak memiliki keluarga, oleh karenanya ia pergi keluar negeri untuk mencari peruntungan nasib. Namun, di sana ia malah mendapatkan nasib yang buruk.
Elvira mengambil uang suaminya ratusan euro, sebelum ia pergi. Hal itu pula yang membuat nenek David geram bukan kepalang. Lalu, ia membangun panti asuhan dan bisnis kuliner kecil-kecilan di beberapa tempat.
“Oh iya, kita keasyikan bercerita, hingga mommy lupa menyuruhmu makan. Ayo kita ke dapur, mommy sudah buatkan smoked salmon lagi, dan mommy juga sudah siapkan untuk kamu bawa pulang.” Elvira mengajak Sari ke dapur.
Tak lama kemudian ia memperlihatkan tempat makan berwarna ungu.
“Tara.. ini buat kamu bawa pulang. Di makan sampai habis, oke!” Elvira memasukkan tempat makan itu ke dalam kantong go green.
Sari tersenyum. “Terima kasih, Mom. Dia pasti akan menyukai makanan ini.”
__ADS_1
Elvira mengeryitkan dahinya. “Dia siapa?”
“Eh, Sari maksudnya, Mom.” Sari menunjuk dirinya sendiri.