Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
~bonus chapter 8~


__ADS_3

“Mas, mana Mattew? Dia tidak jadi ke sini?” Tanya Sari pada suaminya yang tengah bermain bersama kedua anaknya.


“Dia malah ke Bali dulu bersama temannya.”


“Oh.”


“Papa, geyi.” Quinza tertawa, saat sang ayah menggelitiki wajahnya dengan dagunya yang berbulu kasar.


“Jenggotmu belum di cukur, Mas. Aku juga suka kegelian.” Kata Sari sembari melihat ekspresi putrinya.


“Biarin, sengaja.” David menoleh ke arah istrinya dengan senyum menyeringai.


Sari mencibir.


“Mama, lihat. Ini untuk mama.” Melvin menyerahkan lego berbentuk pesawat terbang yang baru saja ia pasang.


“Wah, terima kasih sayang.” Sari menerima pesawat terbang itu.


“Sama-sama, Ma.”


“Tama-tama.” Quinza menyahut.


“Untuk papa mana?” Tanya David pada Melvin.


“Ini.” Melvin menyerahkan lego berbentuk mobil besar, sama seperti mobil yang David dapatkan dari hasil arisan bersama keempat teman-temannya.


David tertawa. “Good boy.”


Ia mengangkat tubuh Melvin, hingga kedua anaknya duduk di kedua sisi pahanya.


“Mau, papa ajak berkeliling dengan mobil sebesar ini?” Tanya David pada kedua anaknya.


Melvin dan Quinza mengangguk.


“Papa akan ajak kalian berkeliling melihat gunung dan tebing-tebing tinggi.”


“No, mereka mau kamu ajak offroad?” Mata Sari membulat.


David tersenyum. “Kamu juga akan aku ajak kalau mau.”


“Apaan sih, mas. Mereka masih kecil kasihan.” Kata Sari mendekati suaminya dan duduk di samping.


“Ya udah kalo gitu menaiki gunung kembar milikmu saja.” Bisik David.


Sontak Sari langsung mencubit pinggang suaminya dengan keras.


“Aww. Ini namanya KDRT.” Teriak David sembari tertawa.


“Mama kasian papa.” Protes Melvin yang tersentak karena teriakan sang ayah. Begitu juga Quinza.


“Papa atit, Ma.” Rengek Quinza yang langsung memeluk sang ayah.


David tersenyum karena mendapatkan pembelaan dari kedua anaknya.


“Ngga, papa kuat. Nih mama cubit lagi.” Kata Sari.


“Aww.”


“Mama.” Teriak Melvin dan Quinza, malah Quinza hampir menangis melihat sang ayah kesakitan, padahal David hanya pura-pura sakit.


“Eh kok Quinza nangis.” Kata Sari yang mengulurkan tangannya untuk menggendong anak perempuannya. Namun, Quinza tak mau di gendong Sari dan memilih melingkarkan kedua tangannya pada leher sang ayah.


Melvin turun dari pangkuan sang ayah dan berlalu ke dalam.


“Tidak apa sayang. Mama sama Papa sedang becanda. Sama seperti Quinza kalo lagi becanda sama Abang.” David memeluk erat putrinya agar tak lagi menangis.


“Mama becanda sama papa, uluh uluh.. pinggangnya sakit ya, Pa.” Sari mengelus pinggang David dan mengelus kepala putrinya yang sedang dalam pelukan sang ayah.


Tangan David mengulur pada bahu Sari dan memeluknya. Ia tertawa.


“Semua sayang papa ya.”


Tak lama kemudian, Melvin berlari ke arah sang ayah. “Ini, Pa obati.”


Sari dan David mengeryitkan dahinya saat Melvin menyerahkan botol bet*dine kecil yang ia ambil dari kotak P3K yang tertempel di dinding.


“Tadi saya melihat Melvin menaiki ini, Bu. Untuk mengambil obat ini.” Ucap Nina yang muncul dari arah dapur, sembari membawa tangga kecil mainan yang sering Melvin gunakan untuk bermain.


"Ya, ampun."


Sari dan David pun tertawa, ternyata anak sekecil itu punya inisiatif untuk berempati.

__ADS_1


“Anak mama emang pintar.” Sari menggendong Melvin dan mendudukkan di pangkuannya.


“Bu, saya foto ya.” Kata Nina yang kebetulan memegang ponsel baru yang di berikan Sari.


Ceklek.


Nina memoto kebersamaan David dengan aank istrinya semabri tertawa lepas. Nian terenyuh melihat kebahagiaan itu, pasalnya ia menjadi saksi suka duka yang telah di lalui pasangan muda ini. ia membayangkan diinya, apakah bisa bahagia seperti ini dengan pasangannya nanti? Pikirannya malah mengingat sosok Ardi yang sudah hampir dua tahun tidak bertemu.


Nina, kini sudah memasuki semester dua menjadi mahasiswa di akademi keperawatan swasta. Ia kuliah di pagi hari dan sorenya, iatetap membantu Sari. Saari pun tak keberatan, apalagi David karena David menyerahkan semua urusan rumah pada istrinya.


Seteleh lelah bermain dengan kedua orang tuanya, Sari dan David membawa putra putrinya ke kamar. mereka menidurkan masing-masing anak. Sari yang dekat dengan Melvin, menepuk b*k*ng anak itu hingga terlelap, begitu juga dengan David yang lebih dekat dengan Quinza, karena anak itu sedang lucu-lucunya.


David merangkul istrinya untuk keluar dari kamar itu. Di sana terlihat Nina sedang menunggu.


“Bu, saya mau bicara.” Kata Nina sembari melihat ke arah Sari dan David.


“Oke, saya tinggal duluan.” Ucap David pada istrinya yang merupakan bos di rumah ini.


“Ada apa, Nin?” Tanya Sari sembari berjalan ke sofa dan duduk di sana.


Sari mendekap bantal yang ada di sofa itu. Ia ingin mendengarkan Nina dengan seksama.


“Bu, saya mau izin.” Kata Nina menunduk.


“Hmm.” Sari menatap mata Nina lekat.


“Saya berterima kasih atas semua yang ibu berikan pada saya. Sungguh, Bu Sari baik sekali.” Nina menangis.


“Loh, kok malah nangis.” Kata Sari bingung .


“Ini yang saya khawatirkan kalau kuliah, Bu. Nantinya waktu saya akan sedikit di sini.


“Ya, tidak apa. Lagi pula ada Bi Lastri dan Bi Ijah. It’s oke.” Sari memang mempekerjakan dua orang maid lagi.


“Tapi saya juga ingin terus mengabdi di sini. saya ingin bekerja di sini terus.” Kata Nina sedih.


“Yah, itu memang ga mungkin, Nin. Saat kamu lulus kuliah, kamu harus mengabdi pada masyarakat, karena kan memang itu impian kamu.”


Nina pun memeluk majikannya. “Ibu baik banget, terima kasih.”


Sari menepuk pundak Nina. “Ya sama-sama.”


Nina mengangguk. “Setiap semester genap, saya harus praktek di rumah sakit, Bu.”


“Ya, sudah. lalu?”


“Saya dapat rumah sakit yang cukup jauh dari sini dans sepertinya saya akan kos.” Jawab Nina.


“Sudah dapat tempat kosannya?” Tanya Sari lagi.


Nina menggeleng. “Belum.”


“Uang sakumu cukup?” Tanya Sari lagi.


Nina mengangguk. “Lebih dari cukup hingga saya lulus nanti, Bu. Dan katanya kami juga mendapat uang saku dari rumah sakit selama praktek.”


“Ya sudah kalau begitu.”


“Tapi jika tidak praktek lagi, saya masih boleh kan ke sini lagi.”


“Tentu saja.” Sari mengangguk.


“Terima kasih, Bu.” Nina memeluk majikannya kembali. Majikan yang mungkin seribu satu di temui seperti ini.


David melihat adegan itu. Setelah mengambil mineral water dari dapur, ia menyandarkan tubuhnya di dinding, melihat adegan haru biru antara maid dengan majikannya. Ia tersenyum melihat kebaikan sang istri dan kembali menuju kamar.


“Lalu, kapan kamu akan mulai praktek dan mencari kos di sana?” Tanya Sari.


“Belum tau, Bu. Kebetulan prakteknya baru mulai bulan depan.” Jawab Nina.


“Assalamualaikum.” Tiba-tiba suara pri memasuki rumah Sari dan sudah berdiri di dalam.


“Waalaikumusalan. Ardi.” Mata Sari mebulat, pasalnya sang adik tidak memberi kabar apapun untuk datang ke rumahnya.


Sari berdiri dan menghampiri Ardi yang terlihat lebih macho dengan tubuh atletis dan rambut cepak juga wajah yang semakin dewasa.


“Kamu kok ga bilang-bilang mau pulang.” Sari memukul lengan sang adik.


“Orang tuh ya, baru ketemu di peluk. Ini mah main pukul aja.” Cibir Ardi.


“Iya deh, sorry.” Sari pun memeluk sang adik dan Ardi membalasnya.

__ADS_1


“Kangen banget sama mbanya Ardi yang makin hari makin montok.”


Sari langsung melepas pelukannya dan membulatkan mata. “Tau dari mana kata-kata itu.’


“Ya elah, Mba. Ardi udah gede kali.” Ardi pun menghampiri Nina yang masih duduk di sofa.


“Hai, Nin. Apa kabar?” Ardi mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh Nina.


Nina tersenyum lebar. “Baik.”


“Ngomong-ngomong katanya kamu jadi perawat?” Tanya Ardi.


Nina mengangguk sembari menunduk dan tersenyum.


“Wah selamat. Hebat.” Ardi menepuk bahu Nina dan menatap wajah wanita muda itu.


“Ekhem. Ada orang di sini.”


“Eh.” Ardi mengalihkan pandangannya ke arah Sari.


“Kok kamu ga langsung nemuin ibu sama ayah di panti?” Tanya Sari.


“Aku kira ayah sama ibu di sini.” Jawab Ardi.


“Halah alasan, bilang aja mau ketemu yang lain di sini.” Kata Sari.


“Apaan sih, Mba.” Ardi semakin tersipu malu, begitu pun Nina.


“Wah ada tamu malam-malam.” Suara David tiba0tiba datang.


“Eh, iya nih Mas. Apa kabar?” Ardi menghampiri kakak iparnya dan mencium punggung tangannya.


“Baik.”


“Ardi kira ibu sama ayah di sini. jadi Ardi langsung kesini, kebetulan dua minggu di bolehkan istirahat.”


Ardi tugas dua tahun di Papua dan sekarang baru mendapat izin untuk pulang.


“Mba, aku bawa karaka nih.” Ardi memperlihatkan kepiting besar pada jinjingan yang ia letakkan di lantai.


“Wah.”


Nina pun langsung mengambilnya dan mmbawanya ke dapur.


“Ya udah, Ar. Isirahat dulu sana. besok kita berbincang lagi.” Kata David yang merangkul istrinya.


“Oke. Besok sepertinya Ardi juga mau langsung menemui Ibu dan Ayah di panti.”


David dan Sari tersenyum.


“Nanti sekalian ke panti sama Mba. Kebetulan sudah satu minggu mba juga blum ke sana.”


“Oke.” Ardi pun membwa kembali barang bawaannya dan melangkah menuju kamar tamu.


“Nin, tolong antar Ardi ke kamarnya.” Kata David yang berjalan menuju kamarnya sembari tetap merangkul sang istri.


Nina mengangguk. “Iya, Pak.”


Di sana Ardi dan nin merasa canggung. Mereka berjalan beriringan. Pasalnya ini kali pertama Ardi menginjak rumah baru sang kakak. Langkah kaki mereka pun terhenti tepat di sebuah kamar dengan pintu yang sudah di bukakan oleh Nina.


“Ini kamarnya, Mas.” Kata Nina.


Ardi tersenyum. “Makasih ya.”


Nina mengangguk dan membalas senyum Ardi dsengan senyum yang tak kalah manis.


“Kalau begitu, saya permisi. Mas.”


Ardi mengangguk. Namun, sesaat ia berbalik lagi.


“Nin.”


“Hmm.” Nina pun langsung menoleh.


“Aku kagen kamu.”


Pernyataan Ardi sontak membuat wajah Nina memerah. “Saya juga.”


Nina langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Ardi yang masih berdiri di ambang pintu.


Ardi tersenyum, tapi tak lama kemudian senyum itu memudar. Ia mengingat Dinda.

__ADS_1


__ADS_2