Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
lampu ajaib


__ADS_3

Melvin semakin bulat dan berisi, usianya pun sudah genap satu bulan setengah, atau lebih tepatnya 45 hari. Akikahnya juga sudah di lakukan kedua orang tuanya saat Melvin genap berusia dua minggu. David dan Sari mengadakan akikah untuk mensyukuri kelahiran Melvin Osborne di panti asuhan milik sang nenek.


Bayi gempal dengan berat badan 4.3 kilogram ini, sedang terus menangis.


David yang berada di kantor pun, selalu memantau anak dan istrinya melalui ponsel. Ia melihat Sari yang lelah tengah menenangkan putranya, di bantu Nina dan mbah uti nya atau mbah putri (panggilan Ratih) yang sebentar lagi akan pulang di jemput mbah akung nya (panggilan Teguh).


Ingin sekali rasanya David segera pulang dan membantu sang istri, tapi pekerjaannya tak bisa di wakilkan.


“Akhirnya, anakmu tidur juga, Sar.” Kata Ratih yang melihat Melvin tengah terlelap di box nya.


“Iya, Bu. Akhirnya, Sari bisa istirahat.”


“Yo, wis. Mangan dulu.” Kata Ratih lagi.


“Tapi, Sari lagi pingin banget bubur ayam.”


“Ya udah, Nina suruh cari bubur ayam dekat sini.”


“Tapi, Sari ingin bubur ayam dekat kantor Sari dulu, Bu. Enak banget, kalau sore begini baru buka.”


“Kantormu yang di butik milik Nak Inka itu.”


“Iya.” Sari mengangguk.


“Ke sana itu jauh dari sini?” Tanya Ratih.


“Bukan jauh lagi, Bu. Tapi jauh banget.”


“Yo wis, jangan minta yang aneh-aneh, nduk.” Kata Ratih lagi.


Di sebuah ruangan kerja yang cukup luas, David duduk dan melihat lagi ponselnya. Ia mendengar semua percakapan istri dan ibu mertuanya.


Satu jam kemudian.


Ting Tong..


Bel apartemen Sari berbunyi.


Nina, Sari, dan Ratih tengah menonton televisi. Mendengar suara bel, Nina segera melangkahkan kakinya ke arah pintu.


Ceklek.


“Pesanan makanan atas nama ibu Sari.” Ucap pria ojek online pengantar makanan.


“Hmm..Terima kasih, Pak.” Nina ragu, tapi tetap di terima.


Nina kembali menutup pintu itu dan masuk.


“Bu, ada kiriman bubur ayam.” Kata Nina.


Sari dan Ratih mengeryitkan dahinya.


Perlahan Sari membuka kotak makan itu.


“Hmm... bubur ayam dekat kantorku dulu.” Ucap Sari sumringah. Ia tak percaya bahwa keinginannya langsung terwujud.


“Loh, makanan ini kok bisa tau-tau ada. Siapa yang beli?” Tanya Ratih bingung.


Lalu, Sari menenggakkan kepalanya, ia melihat ada cctv di sana. Ia sadar siapa orang yang mengirimkan makanan ini.


“Sari punya lampu ajaib, Bu. Ngga perlu di gosok, cukup bilang apa yang kita mau, nanti juga datang.” Jawab Sari tersenyum menyeringai menatap cctv itu.


“Moso? kamu punya tuyul?”


“Sembarangan, Ibu..” teriak Sari pelan.

__ADS_1


Kemudian, mereka tertawa.


“Eh, Sar. Coba kamu ucap permintaan lagi? Ibu masih ngga percaya sama ucapan kamu.” Ucap Ratih di sela-sela makan mereka.


Sari tertawa melihat tingkah konyol sang ibu.


“Nih ya, Bu. Aku mau bunga, sepuket bunga mawar merah dan putih. Bunga yang janji akan kamu berikan saat aku ber ulang tahun.”


Lima belas menit kemudian.


Ting Tong..


Nina berdiri.


“Eh, biar ibu yang buka. Bener ngga kalau itu bunga yang tadi Sari minta.” Ucap Ratih menahan Nina untuk membuka pintu.


Nina membereskan sisa makanan yang baru saja mereka makan.


Ceklek


Ratih membuka pintu itu. Ia melihat pria ojek online mengantarkan bunga sesuai permintaan Sari.


“Wah.. si Sari benar. Dia punya lampu ajaib.” Ratih tersenyum sumringah.


“Sari... ini bunga kamu.” Teriak Ratih dengan gembira membawa bunga itu ke dalam.


Sari menerimanya dan menghirup wangi bunga yang masih segar itu. Lalu, ia kembali melirik ke arah cctv dan tersenyum.


Di sana, David bahagia melihat senyum manis yang di tampilkan sang istri.


“Sar, Sar, Ibu mau juga donk.” Kata Ratih.


“Ibu mau apa?”


“Kalau itu, besok Bu. Kan ayah memang mau datang besok.”


“Iya, sih. Tidak bisa di hadirkan hari ini?”


“Segitu kangennya ya, Bu?”


Ratih nyengir dan mengangguk.


“Bu, ayah pernah marah sama ibu?” Tanya Sari


“Ya pasti pernah, mana ada rumah tangga yang tidak ada pertengkaran, karena hal itu wajar.”


“Ayah pernah kasar sama Ibu?” Tanya Sari lagi.


“Pernah dulu, waktu ibu baru melahirkan kamu, persis seperti kamu sekarang.” Ratih menarik nafasnya panjang.


Ia mengingat masa-masa awal pernikahannya bersama Teguh.


“Dulu, ayah dan ibu itu di jodohkan, sementara ibu sudah memiliki pacar. Ibu sangat mencintai pacar ibu, sampai setelah menikah pacar ibu masih berusaha kejar-kejar ibu."


“Oh ya, kok Sari ngga tau.” Ucap sang putri mendekati tempat duduk Ratih untuk mendengar ceritanya dengan seksama.


“Terus, ayah memergoki ibu yang kebetulan sedang bersama mantan ibu. Ayah marah dan terjadilah pertengkaran hebat. Ayahmu sempat memukul ibu dan berkata kasar, hingga ibu lari dari rumah. Ibu meminta cerai dan meninggalkanmu yang masih berusia delapan bulan.”


“Terus?” Tanya Sari antusias.


“Ibu salah, ayahmu juga salah karena terlalu emosional, padahal apa yang dia lihat itu tidak seperti apa yang ada di pikirannya. Ya, akhirnya, ayahmu berusaha untuk minta maaf dan tidak pernah lagi bersikap seperti itu. Lalu, ibu luluh dan memaafkannya karena ibu tahu bahwa cemburu ayahmu itu karena dia sangat mencintai ibu, dan itu adalah pertama sekaligus terakhir kami bertengkar hebat, karena setelah itu kami jadi lebih saling pengertian dan memahami satu sama lain. Malah sekarang, ibu ndak bisa jauh dari ayahmu” Jawab Ratih tersipu malu.


“Hmm...” Sari berpikir.


“Memangnya kenapa? Kamu dan Nak David tidak sedang dalam masalah besar kan?” Tanya Ratih.

__ADS_1


Sari meggeleng. “Tidak.”


****


Kata-kata Ratih masih terngiang di benak Sari.


“Ibu memaafkannya karena ibu tahu bahwa cemburu ayahmu itu karena dia sangat mencintai ibu.”


Sari mengelus wajah Melvin yang sangat mirip dengan sang ayah.


“Kamu mirip banget sih sama papa. Mama sampe ngga kebagian.” Kata Sari pada Melvin yang masih menyusu padanya.


Mata Melvin yang bulat melihat ke arah Sari, lalu melepas p*ting Sari dari bibirnya.


Melvin tertawa, membuat Sari ikut tertawa.


“Anak ganteng, ngga apa wajah kamu mirip papa, tapi kelakuannya jangan ya!” Ucap Sari lagi.


“Kelakuan siapa?” Tanya David tepat di telinga Sari yang tengah duduk di sofa dengan posisi menghadap jendela kamar.


Sontak Sari langsung menoleh, membuat bibirnya dan bibir David bertemu.


Sari memundurkan tubuhnya. Ia sangat malu.


“Kamu sudah pulang?”


David mengangguk dan tersenyum melihat tingkah Sari yang malu-malu.


Kemudian, ia memeluk Sari dari belakang degan wajah berada di pundak Sari sambil mengelus wajah putranya yang berada di gendongan sang ibu.


“Dia masih rewel?” Tanya David persis di telinga belakang Sari.


Hembusan Nafas David persis mengenai tengkuk leher Sari yang terbuka karena rambutnya yang di gelung tinggi ke atas dengan kemeja bagian atas yang nyaris semua di turunkan untuk menampilkan gunung kembarnya yang sedang di nikmati sang buah hati, membuat mata Sari sedikit terpejam dan menggigit bibir bawahnya, merasakan sensasi geli itu.


“Sudah tidak lagi.” Jawab Sari.


Perlahan David mengecup punggung terbuka itu dengan lembut. Ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.


Katakanlah, Sari memang bodoh. Ia tak bisa menolak sentuhan suaminya, walau sudah beberapa kali di sakiti, karena sikap manis David seolah mampu melenyapkan sikap buruk yang pernah ia lakukan. David memang pintar meluluhkan hati wanita. Dia memang pantas di juluki playboy, karena setelah menyakiti, lalu menggendongnya tinggi bak permaisuri yang di puja dan di puji.


Bibir David terus menelusuri punggung dan bahu itu. Sementara Sari hanya menikmati sentuhan itu dengan terus menggigit bibir bawahnya. Melvin yang masih bayi, bermain sendiri, menggerakkan kakinya dan menggigit jemari tangannya di pangkuan sang ibu.


“Aku merindukanmu, sangat rindu.”


“Hmm..” Sari menoleh ke belakang, mencoba menatap wajah suaminya.


Lalu, dengan cepat David berjongkong, mengambil Melvin dari pangkuan Sari, menggendong dan meletakkan kepala Melvin pada pundaknya, agar bayi itu membelakangi kedua orang tuanya.


Cup


David ******* bibir Sari, sebelum ia bangkit dan membawa Melvin keluar. David masih menikmati bibir Sari. Cukup lama ia memangut bibir itu dengan lembut dan di luar kesadaran, Sari pun membalasnya.


“Mmpphh..” Sari melenguh saat merasakan oksigen di rongga dadanya menipis.


David pun menyudahi pangutan itu.


"Lain kali, jangan kamu gigit bibirmu. Biar aku saja yang menggigitnya.” Ucap David dengan sensual, lalu pergi meninggalkan Sari yang masih mematung di sana, sambil membawa Melvin keluar.


Sari masih diam di posisinya. Ia merutuki dirinya yang tak bisa menolak sentuhan itu. Padahal Sari ingin memberi suaminya pelajaran dulu, sebelum ia benar-benar menerima maaf pria itu lagi.


“Hmm...” Sari merengek, menghentakkan kakinya dan mengacak-acak rambutnya.


David menoleh ke arah Sari, sebelum menutup pintu kamar itu. Bibirnya mengembang senyum yang lebar, karena ia tahu bahwa Sari pun mencintainya, walau tak pernah kata itu keluar dari bibir istrinya. Namun bagi David, sikap Sari jauh lebih menyenangkan di banding sebuah kata-kata.


Begitulah bedanya pria dan wanita.

__ADS_1


__ADS_2