Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
akhir cerita Dito


__ADS_3

Di Malang, semua orang heboh membicarakan Dito, terutama di wilayah Sari dan sekitarnya, karena rumah orang tua Dito berada di wilayah yang tak jauh dari rumah Teguh.


Rumah Dito yang megah pun di sita oleh negara, jabatannya di copot, dan Dito terancam di ceraikan oleh sang istri. Ia menangis di dalam sel tahanan, meratapi nasibnya. Terlebih ketika, ia mendapatkan surat dari pengadilan agama. Ia baru menyadari bahwa semua ini terjadi karena ketamakannya. Walau ia sempat takut untuk melakukan hal ini sebelumnya, karena lambat laun apa yang dia lakukan akan tercium juga. Namun, haus akan kekuasaan dan harta menyilaukan semuanya. Seolah apa yang dia lakukan tak ada yang melihat.


Rama menjadi pengacara istri Dito yang bernama Melinda. Ayah Melinda adalah sahabat dari almarhum ayah Rama. Rama pun bisa seperti ini karena pengaruh ayah Melinda. Orang tua Melinda cukup mempunyai kuasa di pemerintahan dan tinggal di jakarta, sedangkan Melinda ikut Dito karena sang suami yang di pindah tugaskan di daerah itu. Ayah Melinda yang merasa di lempar kotoran oleh menantunya karena dua kasus memalukan ini, akhirnya meminta Rama untuk mengurus perceraian putrinya.


Melinda mempunyai adik yang bernama Melisa. Masih ingat dengan Melisa? Ya, setelah mendapat delapan ratus juta dari David, Melisa membuka usaha salon kecantikan dan pijat refleksi, karena hanya ini keahlian yang ia miliki. Berhubung dulu ketika di Bali, Melisa bekerja di tempat spa dan perawatan kecantikan juga pijat refleksi yang cukup terkenal, bahkan artis pun sering datang ke tempat itu, membuat Melisa sedikit banyak mengerti akan bisnis ini. Dengan berbekal kebaikan Sari yang akhirnya membuat David menandatangani nominal yang istrinya sebutkan itu.


Walau Melisa baru memiliki dua gerai yang berada di wilayah Jakarta dengan tempat yang jauh berbeda. Namun, kedua gerai itu berjalan dengan sangat baik dan memiliki omset dengan keuntungan yang sangat lumayan untuk kehidupannya sehari-hari dan untuk tabungan anak semata wayangnya kelak, karena Melisa tidak lagi tertarik untuk dekat dengan pria manapun, ia tak tertarik untuk menikah, tujuan hidupnya hanya Edrick, membesarkan anak itu dan berdua bersama tanpa memikirkan bagaimana status sosial sang anak nanti ketika ia mulai beranjak dewasa.


Melisa berbeda dengan Melinda yang pintar dan penurut. Ia keluar dari rumah hanya karena tak mau kuliah dengan jurusan yang sang ayah inginkan. Alhasil, Melisa merantau ke Bali. Ia terbawa gaya hidup luar bersama teman-temannya yang juga hedon, hingga bertemu dengan David dan menjadi teman tidurnya kala itu.


Melisa sudah melahirkan bayi yang juga berjenis kelamin laki-laki. Namun usianya lebih tua dua bulan dari Melvin. Bayi yang juga tampan itu di beri nama Edrick yang artinya kuat dan sehat, karena pada saat itu Melisa berjuang sendirian, mengandung Edrick hingga melahirkan sambil meniti usahanya sendiri. Ia tak di terima keluarganya saat pulang dan meminta bantuan karena dirinya tengah mengandung, oleh karenanya ia terpaksa berbuat licik pada David kala itu.


Melisa melihat berita di televisi satu bulan lalu, tentang sosok kakak iparnya yang sedang tersandung masalah besar. Ia memikirkan nasib sang kakak. Walau dengan kedua orang tuanya Melisa masih bersitegang, tapi tidak dengan sang kakak. Terkadang Melinda dan Melisa saling bertukar informasi walau hanya sebentar. Ia juga sudah dua kali menelepon untuk menanyakan keadaan sang kakak.


Melisa meraih ponselnya, sambil meninabobkan putranya, agar tetap terlelap di sampingnya. Ia mendial nomor sang kakak dengan panggilan video call melalui whatsapp.


Tut.. Tut.. Tut.. terlihat di sana dengan tulisan “berdering”


“Kak.” Panggil Melisa saat wajah Melinda sudah ada di layar ponselnya.


“Dek, apa kabarmu?” Tanya Melinda dengan wajah sumringah kepada sang adik yang berbeda cukup jauh usianya.


“Kok wajahmu biasa aja, Kak. Padahal aku sangat khawatir dengan keadaanmu.”


“Yah, mau bagaimana lagi? Lagian hubunganku dengan Mas Dito memang sudah lama tak harmonis. Mungkin memang seperti ini jalannya, Dek.” Jawab Melinda lirih.


Melisa mengangguk. Memang benar, kala itu Melinda di jodohkan oleh sang ayah dengan Dito, padahal Melinda juga sudah memiliki pacar. Namun kakaknya itu begitu penurut hingga tak mampu menentang keinginan sang ayah.


“Tenang, Kak. Kamu ngga sendirian. Aku akan ada buat mendukungmu.” Ucap Melisa.


Seketika Melinda meneteskan air mata.


“Terima kasih, Dek. Maaf waktu itu kakak sibuk dan tidak berada di sisimu saat kamu sendirian berjuang.”


“Tidak masalah, Kak. Toh semua sudah terlewati.”

__ADS_1


“Lalu, bagaimana nasib pernikahan kakak dan Mas Dito?” Tanya Melisa.


“Kakak sedang proses cerai, di bantu oleh anak sahabat ayah, dia pengacara terkenal, semoga urusan kakak sama mas Dito cepat selesai di tangan dia.”


“Siapa dia, kak? Maksudku pengacaranya?” Tanya Melisa.


“Rama Adhitya. Kamu pasti tahu.”


Melisa menggeleng.


“Ngga tahu, Kak. Aku tuh jarang nonton televisi, apalagi infotaiment. Ngga sempet.”


“Iya deh, yang udah jadi pengusaha. Btw, Orangnya ganteng loh, Dek. Abis di tinggal nikah pacarnya. Rada dingin gitu, tapi mungkin kamu bisa menghangatkan hatinya.”


“Apaan sih, kak? Kenal aja ngga.”


“Makanya temani kakak di pengadilan besok. Nanti kakak kenalkan kamu sama dia.”


“Iya.” Melisa mengangguk.


Tak lama kemudian, perbincangan mereka pun berakhir. Melisa menutup panggilan teleponnya.


Pagi ini, Melisa sudah bersiap untuk menepati janjinya yang akan menemani sang kakak di pengadilan agama. Menurut cerita sang kakak, proses perceraiannya sangat cepat, berhubung Dito memiliki semua syarat buruk yang memberatkan dan memudahkan hak asuh juga proses cerai itu.


“Mba Tati, titip Edrick ya. Saya sepertinya akan lama.” Ucap Melisa pada pengasuh Edrick yang sudah lama menemaninya.


“Iya, Bu.” Tati meengangguk.


Melisa tampak santai dengan pakaian sederhananya. Ia kini sudah meninggalkan pakaian-pakaian minimnya. Ia lebih suka memakai pakaian yang kasual seperti saat ini, Melisa hanya mengenakan kaos putih dan celana bahan tiga perempat dengan warna coklat susu. Ia juga melilitkan syal berwarna sama dengan pakaian bawahnya. Melisa menguncir kuda rambutnya yang panjang dan berwarna kecoklatan. Ia tidak tampak seperti wanita yang sudah memiliki anak, karena perutnya rata, dan tubuhnya pun ramping tinggi seperti model dan seperti wanita yang belum melahirkan.


Melisa menaiki mobil sedannya yang berwarna grey. Ia mengendarai mobil itu dan sampai di parkiran tempat yang Melinda sampaikan.


Ia memasuki gedung itu, terlihat Melinda sedang duduk di temani sang ibu.


“Bunda..” Panggil lirih Melisa yang enggan mendekati sang kakak, karena ia bingung harus bertemu juga dengan sang ibu.


Tiba-tiba, arah mata Melinda tertuju pada Melisa yang hendak membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


“Dek..” Teriak Melinda, membuat Melisa diam mematung.


Sang ibu mengikuti arah mata Melinda.


“Itu Melisa, Bun.” Ucap Melinda pada sang ibu.


Dian nama sang ibu itu pun menatap lurus ke depan, saat Melisa membalikkan tubuhnya.


“Melisa..” Panggil Dian yang sangat rindu dengan putri bungsunya.


Dian berlari menghampiri Melisa.


“Nak, apa kabarmu? Kamu sehat?”


Melisa membuka kaca mata hitamnya. “Sehat, Bun.”


“Maafkan Bunda, Nak.” Dian memeluk Melisa dan meneteskan air mata.


Melinda pun menghampiri sang adik dan memeluknya.


Rama yang baru saja keluar dari ruang pengadilan pun menghampiri Melinda dan ibunya.


“Mel, giliran kamu. Ayo masuk!” Ucap Rama meminta Melinda untuk masuk ke ruang pengadilan.


Melinda dan Dian melepaskan pelukannya pada Melisa.


“Dek, ini yang kakak ceritakan. Namanya Rama.”


Deg


Jantung Melisa berdetak kencang saat melihat wajah Rama. Wajah yang ia ingat betul saat ia sedang mabuk dan bertubrukan pada pria dengan wajah itu, dengan tahi lalat yang ada di samping kanan matanya dan alis yang sedikit menyambung.


Rama mengulurkan tangannya pada Melisa. Rama lupa-lupa ingat dengan wajah wanita itu. Berbeda dengan Melisa yang sangat ingat dengan wajah Rama, membuatnya enggan untuk berjabat tangan. Melisa khawatir Rama ingat akan dirinya dan mengambil putra semata wayangnya dari hidupnya.


“Hmm.. Aku kesini untuk memberi support kakak. Ayo kita ke dalam.” Melisa meninggalkan Rama yang sudah mengulurkan tangannya.


Ia lebih memilih menggandeng kakak dan ibunya untuk memasuki ruang sidang itu.

__ADS_1


“Sial, angkuh sekali wanita itu.” Gumam Rama, yang sama sekali tak mengingat Melisa. Lagi pula tampilan Melisa saat ini sangat jauh berbeda dengan wanita yang ia temui di club delapan belas bulan yang lalu.


__ADS_2