Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
fakta terungkap 1


__ADS_3

David tiba di Bandara Udara Internasional Heathrow, London. Ia tiba dengan pesawat first class, setelah menempuh perjalanan empat belas setengah jam dan satu kali transit.


Setelah lebih dari delapan tahun, akhirnya ia menginjakkan kakinya ke negeri ini lagi. Negara tempat kelahirannya, yang menyimpan banyak kenangan suka dan duka. Ia langsung menuju rumah yang sudah lama tak ia tempati. Rumah yang hanya ada pembantu yang mengasuhnya sejak kecil.


David memberi tahu uncle Sam, bahwa saat ia telah tiba.


Kemudian, Ia menaiki taksi dan berjalan menuju kediaman sang ayah. Sesampainya di sana, ia berdiri di bawah terik matahari yang cukup cerah, menatap rumah itu, berdiri lama di luar, pikirannya melayang saat ia masih kecil, saat ia di tinggal sang ibu dan saat ia juga harus di tinggal sang ayah.


“Tuan Muda..” Sapa Nancy, yang tak lain adalah pengasuh David sejak kecil.


Nancy yang semakin tua, berjalan pelan menghampiri David.


“Dav..” Panggil Nancy lagi.


Sejak kecil David tidak suka di panggil tuan muda oleh Nancy, terkecuai oleh maid yang lain, karena bagi David, Nancy sudah seperti ibu untuknya.


“Nancy..” David memeluk wanita paruh baya yang mengabdikan hidupnya pada keluarga David.


“Kemana saja kamu?” Nancy memeluk erat tubuh tuan mudanya.


(Semua percakapan di sini dalam bahasa Inggris)


“Aku merindukanmu, Dav. Aku selalu menunggu kedatanganmu.” Nancy menangis di pelukan David.


David menerima pelukan itu, ia pun rindu dengan perhatian pengasuhnya ini.


‘I’m fine. Selama ini aku di indonesia. Di sana sangat menyenangkan.” Pikiran David melayang membayangkan sang istri, sambil tersenyum.


Nancy ikut tersenyum, pasalnya setelah kepergian Elvira, David menjadi anak yang jarang tersenyum dan mudah marah. Apalagi sejak kepergian sang ayah, wajahnya semakin tidak bersahabat, dingin dan cuek.


“Sepertinya kamu banyak berubah.” Nancy tersenyum.


Mereka berjalan memasuki rumah besar itu. Nancy berjalan dengan terus dalam dekapan majikannya.


“Iya, Nancy. Di sana aku menemukan kebahagiaan, menemukan wanita yang aku cintai, bahkan saat ini dia sedang mengandung anakku.” David menceritakan hidupnya kini dengan antusias.


“Benarkah? Mengapa tidak kau bawa wanita itu.” Jawab nancy dengan gembira.


Senyum mengembang di keduanya.

__ADS_1


“Dia sedang hamil besar, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada bayi kami, jika aku mengajaknya. Mungkin setelah dia melahirkan, aku pasti akan membawanya menemuimu dan Uncle.” Ucap David.


Nancy kembali mengembang senyum.


“Oiya, ada satu lagi Nancy. Apa kau tahu Mommy sekarang juga tinggal di sana?” Tanya David.


Deg


Jantung Nancy berdetak. Sesungguhnya ia pun tahu apa yang terjadi pada Elvira dulu.


“Kau bertemu dengannya?” Tanya Nancy.


“Apa kau tahu yang terjadi sebenarnya? Apa kau juga tahu bahwa Mommy tidak selingkuh dan pergi bersama pria selingkuhannya itu? Jawab Nancy.” Tiba-tiba David mencecar banyak pertanyaan pada pelayan setianya itu. Ia pun menggoyangkan kedua bahu Nancy.


“Maaf Dav, aku hanya seorang pelayan. Tidak ada hak untukku mencampuri urusan majikanku.”


David terdiam, karena perkataan Nancy ada benarnya.


“Aku bertemu dengannya, nancy. Di sana aku bertemu Mommy.” Ucap David lirih.


“Sekarang, sudah saatnya aku mengetahui apa yang tidak aku ketahui.” Ucapnya lagi.


Nancy mengangguk.


David mengangguk dan tersenyum. Ia memang rindu kamarnya, ia ingin istirahat sejenak di sana.


Lalu, David melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur itu. Kemudian, ia bangkit lagi, ia melihat foto-foto, tempelan-tempelan di dindingnya, serta fotonya bersama sang ayah.


“Apa yang ayah lakukan? Mengapa ayah membiarkan aku membencinya?” Tanya David pada foto yang ia pegang.


Tak lama kemudian, ia rindu Sari. Ia langsung merogoh saku celananya dan mendial nomor sang istri.


“My litle Wife” Nama yang tertera di ponsel David.


Tut.. tut.. Tut.. David menelepon Sari melalui video call.


Sesaat panggilan itu tak terjawab, tapi beberapa detik kemudian muncul wajah Sari yang hanya menggunakan pakaian dalam.


“Hai, kamu sudah sampai?” Sari meletakkan ponselnya di depan cermin, sambil melanjutkan aktifitasnya yang ingin memakai pakaian, setelah mandi sore.

__ADS_1


“Stop, jangan di pakai! Biar seperti itu.’ Kata David, membuat Sari tak jadi memakai dres bermotif batik selutut tanpa lengan itu.


Sari menggelengkan kepalanya.


“Hei, dasar bule mesum, apa kamu menyukaiku dengan tidak berpakaian seperti ini?”


David tertawa dan mengangguk. “Aku ingin melihat keadaan anakku.”


Mata David tertuju pada perut bulat Sari yang polos.


“Tunjukkan dia padaku.”


Perlahan Sari menunjukkan perutnya yang bulat pada kamera itu.


“Aku merindukanmu, andai kamu bisa ikut kemarin.” Keluh David.


Sari menampilkan lagi wajahnya. “makanya, cepat selesaikan urusanmu dan cepat pulang.”


David tersenyum. ‘Itu pasti.”


Sari dan David berbicara dengan bahasa Indonesia.


“Baiklah, Jaga dirimu di sana, aku menunggumu di sini.” Kata Sari tersenyum.


David mengangguk, lalu menutup panggilan telepon itu.


Tak lama kemudian, Nancy mengetuk kamar David.


Tok.. tok..


Ceklek.


David membuka pintu kamarnya.


“Dav.. Tuan Sam..”


“Ada apa uncle Sam? Nancy bicara yang benar.” David menggoyangkan bahu Nancy yang terlihat panik.


“Tuan Sam, kecelakaan di pabrik.”

__ADS_1


David langsung panik. Ia langsung mengambil outhernya yang tebal dan berjalan keluar.


“Dav.. hati-hati.. “Teriak Nancy saat David berjalan keluar dengan tergesa-gesa.


__ADS_2