Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
~bonus chapter 6~


__ADS_3

Sari menggeliat, saat David tengah mengulum p*t*ng nya. Matanya terbuka merasakan sensasi menggairahkan itu.


“Mas.” Panggil Sari dengan suara sensual.


Pagi-pagi, David memang sering seperti ini, mentang-mentang kepunyaannya sudah kembali, karena Sari sudah tak lagi memberikan ASI pada Quinza.


“Hmm..” Jawab David dengan mulut dan tangan yang sedang sibuk.


Tangannya bergerilya mengelus bagian belakang Sari yang tak pernah menggunakan segitiga pengaman ketika tidur.


“Semalam kan udah.” Kata Sari.


David melepasnya mulutnya dari satu gunung kembar Sari yang semakin lebih besar.


“Aku ingin lagi. Semalam kan kamu yang ingin, sekarang aku yang ingin.” Senyum David menyeringai.


“Ih, nyebelin.” Sari merona, karena semalam memang ia yang mengajak sang suami untuk bercumbu dan melakukan penyatuan, karena entah mengapa rasa ingin untuk melakukan itu semakin meningkat akhir-akhir ini.


David mengelus area vital Sari. ia memainkan jarinya di sana, hingga Sari merasa menginginkannya juga.


“Kapan kamu buka alat kontrasepsi itu.” Kata David, yang menginginkan Sari hamil lagi.


Entah mengapa melihat perut Sari membulat semakin membuatnya bergairah, walau tidak seperti itu pun istrinya selalu membuatnya bergairah. Namun, bentuk tubuh Sari yang bulat saat hamil, membuat libidonya naik berkali lipat.


“Quinza belum dua tahun, Mas. Ah.” Sari merasakan geli, tapi enak.


“Memang kamu mau punya anak lagi?” Tanya Sari dan mencoba menyingkarkan tangan nakal itu dari area sensitifnya.


David mengangguk. “Itu pun kalau kamu siap. Kalau belum siap tidak apa, nanti saja.”


Sari tersenyum. Suaminya memang sangat pengertian.


“Istirahat dulu ya, aku lagi menikmati kelucuan anak-anak sekarang.” Jawab Sari.


David mengangguk. “Tapi satu kali lagi ya.” Ia menaik turunkan alisnya.


“I’m yours.” Jawab Sari tersenyum.


David membalas dengan senyum yang lebar. Kemudian, melanjutkan aksinya.


****

__ADS_1


“Aaaa...” Teriak Sari, saat ia naik ke alat timbangan digital di dalam kamarnya. Setiap bangun tidur, Sari memang selalu mengecek berat badannya sebelum melakukan aktfitas.


“Ada apa, Sayang?” Tanya David yang langsung keluar dari kamar mandi, mendengar teriakan sang istri. Padahal saat ini, David tengah menggosok gigi.


“Hmm... berat badanku naik lagi dua kilo.” Ucap Sari merengek.


“Ck. Aku kira ada apa.” David kembali melanjutkan menggosok giginya.


Ia pun kembali ke dalam kamar mandi dan membersihkan mulutnya. Tak lama, ia keluar dari kamar mandi itu dan mendapati sang istri yang masih bolak balik menaiki alat pengukur berat badan di sana.


“Ya udah sih, ga apa-apa.” Kata David berdiri di depan cermin sambil memakai kaos singletnya.


“Hmm,. Padahal aku udah ngga makan malam loh.” Rengek Sari lagi.


“Emang kenapa? Seperti ini bagus kok. Aku suka.”


Sari mendekati suaminya yang berdiri di depan cermin.


“Dadaku kok sekarang gede banget ya? Padahal udah ga nyusuin.” Keluh Sari saat melihat dirinya di cermin.


“Kan, gantian aku yang sering menyusu setiap malam.” Ucap David tersenyum menyeringai.


“Aa..” Rengek Sari sembari memukul dada suaminya pelan.


David memeluk istrinya dari belakang. “Aku suka semua yang ada di dirimu. Apalagi sekarang, semakin berisi dan semakin cantik.


“Oiya, sepertinya besok Matt akan tiba ke sini.” Kata David.


“Oh, ya? Tumben.”


“Katanya dia mau berlibur. Dia memintaku untuk meneruskan usaha Papa di sana.” David kembali memakai pakaiannya.


“Lalu? Kita tinggal di Inggris?” Tanya Sari terkejut.


“Entahlah, aku belum menjawab. Dia malah ingin menginvestasikan uangnya di sini.”


“Kok, tiba-tiba?” Tanya Sari tak percaya dengan sikap adik tiri suaminya itu.


“Pasti dia punya maksud untuk itu, tapi entahlah?”


“Maksud apa?”

__ADS_1


“Ya, mungkin dia ingin memiliki istri orang Indonesia, sama sepertiku dulu.”


Sari menarik nafasnya kasar. “Jangan bilang, adikmu menyukai Nina?”


David mengangguk. “Sepertinya.”


“Kalau begitu, nanti saat dia tiba, jangan tinggal di sini! Dia pasti akan mengganggu Nina setiap hari.”


“Dia pasti akan menginap di sini, Sayang. mana mungkin dia mau tinggal di hotel.”


“Hmm.. adikmu menyusahkan sekali.”


“Kamu tahu, dia sudah mahir berbahasa Indonesia.”


Sari tertawa. “Niat sekali dia.”


“Keluarga Osborne, memang pantang menyerah jika menginginkan sesuatu.” Ucap david jumawa.


“Bukan pantang menyerah, tapi pemaksa.” Sari mencibir suaminya.


David langsung memeluk erat sang istri. “Tapi suka kan?”


“Ngga.” Sari berusaha melepas pelukan suaminya sembari tertawa.


“Masa? Bilang ga mau, lagi capek. Tapi kalau udah di rangsang ketagihan dan minta lagi “ Ucap david meledek.


“Apaan sih.” Sari merona dan segera pergi dari hadapan suaminya yang kelewat mesum.


“Eits, morning kiss nya belum.”


David pun meraih pinggang Sari dan ******* bibir itu. Bukan David namanya kalau tidak sebentar memanngut bibir Sari. ia akan mengecap bibir itu berkali-kali, hingga sang istri hampir kehabisan oksigen.


“Mmpphh.. Mas, bisa ga sih kasih jeda dulu.”


David menggeleng dan tertawa. Ia senang sekali melihat istrinya cemberut, karena Sari semakin menggemaskan bila marah.


“Ish.. “ Sari meninju perut David yang keras.


Namun, David malah meraih tubuh itu lagi untuk di peluk.


“Mood boosterku.” Katanya sembari mencium pucuk kepala sang istri dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2