Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
fakta terungkap 3


__ADS_3

Sari dan Bianca berpelukan di pintu kedatangan Bandara Internasional Soekarno Hatta.


“Sari.. Ya ampun, kamu baik-baik saja? Aku dan Miss Inka mencarimu kemana-mana.” Ungkap Bianca.


Pada Acara tujuh bulanan kemarin, Sari memang tak mengundang Bianca. Ia hanya memberi kabar pada Inka.


“Aku baik, Miss. Miss Bi sendiri apa kabar? Udah punya anak berapa?” Tanya Sari.


“Mba, Ardi ke minimarket sana dulu ya.” Ardi menyela pembicaraan Sari dan Bianca. Ia menunjuk pada minimarket kecil yang masih berada di dalam bandara itu.


Sari mengangguk pada Ardi.


“Aku belum hamil, Sar. Tapi bulan ini udah telat sih. Cuma belum test, nanti aja kalau benar-benar sudah telat satu bulan.” Jawab Bianca.


“Mudah-mudahan jadi.” Ucap Sari tersenyum dan langsung di aminkan Bianca.


“Itu adikmu?” Tanya Bianca dan Sari pun mengangguk sambil keduanya manatap Ardi yang sedang berjalan menuju minimarket.


“Duduk dulu yuk, aku masih kangen.” Kata Bianca sambil membawa Sari duduk di tempat duduk yang ada di sana.


“Miss Bi, ngapain?” Tanya Sari.


“Aku jemput papa mama dari Surabaya, tapi ternyata aku sampai nya lebih awal, padahal papa mama baru tiba satu jam lagi.” Jawab Bianca sambil melihat jam yang ada di tangan kanannya.


“Oh iya, Sar. Aku prihatin dengan kasusmu waktu itu. Semua di butik tahu kejadian itu. Aku geram dengan tante Vivian bisa-bisanya dia mencoba menjebak Miss Inka. Lagian bisa-bisanya juga sahabatnya pak Rio suka sama istri sahabatnya. Menjijikkan.” Kata Bianca lagi denga penuh amarah.


“Maksudnya apa?” Tanya Sari bingung.


“Loh, malam itu, malam di hotel, hingga kamu hamil seperti ini kan ulahnya si biadab David itu. Untung Pak Rio gerak cepat, dia langsung memenjarakan tante Vivian. Syukurin, kesal aku.” Bianca masih berkata dengan menggebu-gebu.


Sari mngeryitkan dahinya.

__ADS_1


“Terus apa hubungannya dengan tante Vivian?” Sari bertanya lagi.


“Duh kamu gimana sih? kamu memang tidak tahu, tante Vivian itu hutang judi dengan Pak David, terus mereka berdua bersekongkol menjebak miss Inka. Jadi sebenarnya tante Vivian itu tidak sungguh-sungguh ingin memesan gaun, ia hanya menjebak miss Inka untuk datang ke hotel itu. Lalu bertemu denganmu dan di saat yang bersamaan ibu tiri Miss Inka meninggal dan kamu yang menggantikannya karena Miss Inka bertemu denganmu di sana.”


Pikiran Sari menerawang mengingat kejadian pada malam naas itu.


“Lalu apa hubungannya dengan..”


“Pak David? Pria brengsek itu?’


Sari mengangguk.


“Dia itu menyukai Miss Inka, Sar. Ingat Pak David pernah menjadi klien kita.”


Sari mengangguk.


“Itu karena dia ingin mendekati Miss Inka. Dia ingin merebut istri sahabatnya sendiri, karena menurut cerita Mas Dhani, dulu Pak rio dan Pak David sering berbagi wanita.”


Jedar.


“Jadi yang harusnya ada di kamar hotel itu Miss Inka?” Tanya Sari lirih


“Yap betul, Pak David itu tergila-gila sama Miss Inka. Tapi kamu yang jadi korban sampai hamil begini. Sari..” Bianca memeluk kembali tubuh Sari yang mematung.


Hati Sari seperti teriris mendengar fakta ini.


"Pasti pria brengsek itu tidak bertanggung jawab, karena menurut yang aku dengar dia pulang ke negaranya, padahal Pak Rio sudah mencari-carinya.”


Sari terdiam. Ia masih bingung dengan semua kenyataan ini.


Bianca melepas pelukannya dan memegang bahu Sari.

__ADS_1


“Sar, kamu memang kuat, wanita mandiri dan tangguh. Mungkin jika aku di posisimu, aku tidak akan sanggup. Apalagi kamu mempertahankan anak ini. luar biasa.” Bianca benar-benar mengagumi Sari dengan segala hal yang di alaminya.


“Tapi dia bertanggung jawab, Miss.” Kata Sari.


“Dia? Maksudmu Pak David?”


Sari mengangguk. “Dia sekarang suamiku.”


“Apa?’ Tanya Bianca terkejut.


“Benarkah?” Tanya Bianca lagi tak percaya.


Sari mengangguk pelan.


Bianca menyungging senyum terpaksa, pasalnya sedari tadi ia terus memaki nama David.


“Maaf, Sar. Aku pikir pria itu tidak bertanggung jawab.” Ucap Bianca lirih.


“Dia bertanggung jawab dengan anak ini.” Tunjuk Sari pada perutnya yang besar.


Bianca menghela nafasnya kasar. “Syukurlah.”


Tiba-tiba terdengar informasi dari pengeras suara bahwa pesawat yang di tumpangi kedua orang tua Binca sudah tiba. Bianca pun segera bangkit dari duduknya dan pamit.


“Sar, aku duluan ya, sepertinya itu pesawat mama papaku sudah tiba.”


Sari mengangguk dan tersenyum. Pikirannya masih melayang tentang apa yang di ucapkan Bianca tadi.


“Jaga dirimu ya, Sar. Kalau ada waktu main-main ke butik. Kami semua kangen kamu.” Bianca memeluk Sari lagi dan Sari pun menerima pelukan itu.


“Terima kasih, Miss.” Jawab Sari.

__ADS_1


Sari masih duduk di sana, hingga melihat Bianca yang lama-lama menjauh. Ia menghela nafasnya berat. Dadanya sesak. Apa yang ia pikirkan selama ini adalah benar. David perhatian, baik, dan bertanggung jawab padanya hanya karena bayi yang sedang ia kandung, karena sesungguhnya pria itu tak mencintainya.


Walau sebelumnya David pernah mengutarakan cinta, Sari masih tidak percaya, dan sekarang rasa tidak percaya itu mempunyai alasan. Ia semakin menyelimuti hatinya untuk tidak terbawa oleh perhatian dan sikap manis suaminya itu. Ia pun bertekad hanya menjalani pernikahan ini karena tanggung jawab, entah kapan cinta akan hadir, dia pun tidak tahu, karena dengan fakta ini, ia semakin takut untuk mencintai David.


__ADS_2