Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
Aku bisa mendapatkanmu kembali


__ADS_3

Setelah pulang kerja, Ihsan bergegas melajukan mobilnya ke rumah sang mertua untuk menjemput anak dan istrinya. Rama pun sudah berada di rumah itu. Ia menikmati waktu istirahatnya, setelah penat dengan aktifitas kerja dari pagi hingga sore.


Rama menatap televisi, sambil memangku anak laki-laki yang berusia enam bulan. Anak itu adalah keponakannya yang bernama Azka.


“Sini, sama mama.” Kata Sisy yang tiba-tiba duduk di samping sang adik dan meraih sang anak dari gendongan adiknya.


Rama memberikan Azka pada ibunya. Sisy baru saja menyiapkan makanan pendamping ASI untuk anaknya, lalu menitipkan sebentar pada sang adik.


Sisy menatap lekat sang adik, sambil menyuapi anaknya. Ia melihat sang adik yang tak lagi seperti dulu. Rama sekarang lebih pendiam dan tak banyak bicara, sikapnya lebih dingin dan cuek apalagi dengan lawan jenisnya.


“Anita apa kabarnya?” Tanya Sisy pada Rama.


Hubungan Sisy dengan adiknya itu sangat dekat. Sejak kecil, Rama selalu cerita apapun pada Sisy, bahkan mengenai pacar dan mengenai gaya hidup Rama dengan Anita. Tidak ada satu rahasia pun yang Sisy tidak tahu tentang sang adik.


Rama mengerdikkan bahunya.


“Kalau Sari apa kabar?” Sisy bertanya lagi.


Rama menoleh ke arah sang kakak, lalu mengerdikkan lagi bahunya.


“Sudah lah, Ram. Kamu harus move on. Aku sedih liat kamu seperti ini. Seperti bukan Rama yang kakak kenal.” Ucap Sisy.


“Jadikan semua ini sebagai pelajaran buatmu, supaya nanti tidak melakukan kesalahan yang sama. Bertanggung jawablah pada Anita, Ram. Kakak juga perempuan, kasihan Anita bolak balik ke sini mencarimu.” Sisy berkata lagi.


“Apa yang harus aku pertanggung jawabkan, Kak? Kami melakukan itu hanya karena gaya hidup. Gaya hidup yang sudah mulai aku hentikan.” Jawab Rama.


“Tapi Anita mencintaimu, Ram.”


“Tapi aku tidak, Kak. Aku tetap mencintai Sari.”


“Tapi Sari sudah menikah. Apa yang mau kamu harapkan lagi?”


“Mereka menikah bukan karena cinta.” Jawab Rama dengan tatapan kembali ke arah televisi.


“Kalau perempuan, jika sudah memliki anak, cinta akan datang seiring berjalannya waktu, Ram. Lagi pula apa kamu yakin Sari masih menicntaimu?” Tanya Sisy.


“Sari sangat mencintaiku, Kak.”


“Itu dulu, dengan apa yang telah kamu lakukan padanya, Kakak yakin rasa cinta di hati Sari pun memudar.”


Rama menoleh lagi ke arah sang kakak dan menatapnya lekat.

__ADS_1


“Kakak perempuan, jika kakak yang jadi Sari, kakak sudah tidak lagi ada rasa padamu.” Ucap Sisy santai.


“Apa sih, ribut-ribut?” Tanya Sofia yang keluar dari kamarnya.


Rama menatap ibunya malas.


“Ram, Jangan seperti itu ke mama. Aku yang jadi serba salah meninggalkan kalian berdua yang ngga pernah akur.” Ucap Sisy yang selalu menjadi penengah antara ibu dan adiknya yang sering berselisih walau dalam hal kecil.


Sejak hari itu, Rama menjadi sensitif, apalagi dengan ibunya. Ia mengingat hal-hal buruk yang pernah Sari keluhkan tentang ibunya, tapi dia tetap membela sang ibu. Rama juga ingat ketika Sari pernah di rendahkan oleh sang ibu di depan teman-teman dan saudara-saudaranya. Namun, saat itu Sari tetap tersenyum dan tidak marah. Semua itu, membuat hubungan ibu dan anak itu semakin merenggang.


Ceklek.


Ihsan membuka pintu rumah Sofia, ia langsung menuju ke arah istri dan anaknya.


“Assalamualaikum, Ma." Ihsan mencium tangan Sofia.


“Halo anak papa.” Lalu, ia mencium dan menggendong putranya yang sedang makan.


“Hai, Ram apa kabar? Makin kusut aja.” Ledek Ihsan.


“Mas.” Sisy memperingatkan suaminya.


“Eh iya, tadi aku ketemu Sari.” Ucap Ihsan, sambil menggendong putranya.


“Di mana?” Tanyanya antusias.


“Wuih, semangat banget, Ram.” Ledek Ihsan lagi.


“Di kantor.” Jawab Ihhsan.


“Sari kerja di kantormu, Mas?” Tanya Sisy.


Ihsan langsung menggeleng. “Lebih dari itu.”


“Maksudnya?” Tanya Rama.


“Halah, ngapain sih, ngomongin perempuan kampung itu.” Celetuk Sofia.


“Ih, mama jangan salah! Sari sekarang bukan lagi perempuan kampung loh. Dia istri pengusaha Inggris.”


“Apa?” Tanya Rama.

__ADS_1


“Maksudmu?” Tanya Sofia.


“Kalau ngomong yang jelas, Mas.” Sahut Sisy.


“Duh, pada tegang banget sih pada.” Jawab Ihsan santai.


“Ya, tadi tuh, aku ngga sengaja liat Sari di gandeng bos besar aku. Dan kata sekretaris bos besar aku itu, Sari istrinya. Pantesan lo kalah saing, Bro.” Ihsan menepuk lengan Rama.


Kemudain duduk Rama kembali mengendur.


“jadi benar, Dia menikah dengan pria itu.” Gumam Rama, yang tahu tentang David.


“Emang sekarang lo kerja sama David, Mas?” Tanya Rama pada Ihsan.


“Jadi? Lo udah tau Sari nikah sama Pak David?” Ihsan balik bertanya.


Rama mengangguk.


“Ah, mama ngga percaya. Kamu salah orang kali, San.” Sahut Sofia.


“Beneran, Ma. Sari makin cantik loh, Ram. Sayang ngga jadi mantu Mama.” Jawab Ihsan antusias, membuat Rama semakin mendidih dan membuat Sofia kesal.


Rama bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan keluarganya yang masih berada di sana.


“Kamu sih, mas.” Sisy memarahi suaminya yang suka asal bicara.


“Ya kan aku ngomong apa adanya, sayang.”


“Lagian orang kampung seperti Sari, biar pun di poles seperti apa juga tetap aja penampilannya kampungan.” Ujar Sofia.


“Mama.” Sisy memperingatkan sang ibu.


Sofia ikut pergi dari anak dan menantunya yang masih di sana.


“Lah kok pada pergi semua?” Tanya Ihsan polos.


“Gara-gara kamu. Ya udah kita pulang aja.” Sisy meraih Azka dari tangan sang ayah, lalu membersihkan mulutnya yang berantakan dengan sisia makanan.


****


Rama masih menatap foto kebersamaannya dengan Sari di ponsel miliknya. Ia pun membuka beberapa video yang pernah Sari kirim, padahal sebelumnya Rama paling malas melihat video itu, tapi setelah kehilangan Sari, ia baru merasakan arti Sari untuknya.

__ADS_1


“Aku pasti bisa mendapatkanmu kembali.”


__ADS_2