
“Ngg...” David mengerang saat pelepasan itu tiba.
Ini adalah pelepasan David untuk kesekian kalinya, hingga waktu menunjukkan pukul dua malam. Sari di buat tidak tidur oleh sang suami. Baru saja Sari akan memejamkan mata, David kembali menggerayangi tubuhnya dan memintanya lagi.
“Aww.. Sssh..” Sari meringis saat David memeluknya erat.
“Kenapa, sayang?” Tanya David memajukan wajahnya ke arah Sari yang sedang berbaring.
“Aw.. Pa*ud*raku keras, sakit sekali.” Jawab Sari saat David memeluknya erat dan menyenggol gunung kembarnya.
“Tolong ambilkan pompa elektrik itu.” Sari menunjuk benda di meja riasnya.
ASI Sari melimpah, sehingga ia harus sering memompanya, karena biasanya Melvin memang sering sekali menyusu. Berjauhan sehari saja dengan bayi tampan itu, membuat air susu di gunung kembarnya semakin menunpuk, hingga menimbulkan rasa nyeri.
David yang masih lelah, dengan sigap tetap beranjak dari ranjang itu dan melangkah menuju tempat yang sari tunjuk.
“Ini.” David menyerahkan benda itu pada Sari.
“Aww.. Sakit sekali.” Sari meringis karena ia merasakan sakit di dada dan bagian kewanitaannya.
Sari berusaha bangkit dan duduk bersandar pada dinding tempat tidur.
“Menderita sekali jadi perempuan.” Keluh Sari sambil cemberut.
Melihat itu, David malah tersenyum.
“Maaf. Apa ini sangat sakit?” Tanya David memegang lembut kedua gunung kembar Sari yang biasanya kenyal menjadi keras dan bulat seperti buah apel.
Sari mengagguk. “Iya sakit, semua ini karena kamu.”
Ia memukul dada suaminya.
“Aku hamil karena kamu, melahirkan karena kamu, dan sekarang kamu juga buat aku sakit di sini. Hmm..” Rengek Sari sambil menunjuk bagian kewanitaannya.
“Maaf. Iya semua karena aku, Tapi aku kan bertanggung jawab.” Kata David lirih
Sari melirik suaminya dan tersenyum.
“Sini aku bantu.” David membantu memegang alat yang sedang menempel di salah satu gunung kembarnya.
“Besok pagi, kita pulang. Supaya ini tidak sakit lagi. Atau aku bantu meminumnya supaya tidak keras seperti ini.” Kata David.
“Aww..” Sari mencubit lengan David dengan cukup keras, hingga pria itu pun meringis.
“Sakit sayang.” David mengusapnya lengannya.
“Biarin, biar ngerasain sakit juga.”
“Makanya nanti ngga boleh kasar lagi sama aku, kurangi sifat tempramen kamu. karena menjadi ibu itu tidak mudah, apalagi menjadi istri kamu.”
David mengangguk dan tersenyum.
“Iya, Sayang.” Ia kembali meraih kepala Sari dengan satu tangannya yang mengganggur. Kemudian, mengecupnya.
__ADS_1
“Terima kasih.”
Sari menengadahkan kepala untuk melihat wajah David. Ia teresenyum dan David pun membalas senyum itu.
“Menyebalkan, bule jelek, aku kesal kenapa aku bisa mencintaimu.”
David tertawa. “Karena aku tampan.”
Sari menggeleng. “Karena kamu pemaksa.”
Mereka pun tertawa bersama.
Setelah tiga puluh menit, Sari memompa ASI nya. Ia memita sang suami untuk memasukkan hasil perahannya yang menjadi empat kantong itu ke lemari es, lengkap dengan penulisan tanggalnya.
“Aku tidur ya! Masih ada dua jam lagi untuk subuh, lumayan.” Ucap Sari lirih pada David yang ingin ke dapur untuk menaruh hasil perahan ASI itu.
David mengangguk dan menyelimuti tubuh istrinya yang masih polos.
“Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu.”
Sari mengangguk dengan kepala yang sudah menempel pada bantal.
****
“Hmm...” Sari menggeliat dan membuka matanya.
Ia melihat David yang masih tertidur di sampingnya. Kebiasaan Sari selalu tidur lagi setelah sholat subuh dan bangun kesiangan, berbeda dengan suaminya yang jarang tidur lagi setelah subuh, tapi kali ini David pun terlihat kelelahan hingga tertidur lagi setelah mereka sholat subuh berjamaah. Ya, setelah mandi bersama, biasanya mereka akan sholat masing-masing, tapi kali ini David sudah memulai untuk menjadi imam dan berjamaah bersama istrinya. Dan, biasanya David akan meminta jatah lagi setelah subuh. Tapi sekarang, ia ingin mengerti kondisi Sari, ia tidak ingin egois yang hanya memikirkan kesenangannya sendiri.
“Kamu sebenarnya baik dan aku mencintaimu karena itu.” Sari mengecup sekilas bibir dan pipi David. Namun, David tetap tak terjaga.
Sari menurunkan kakinya ke lantai. Ia beralih menuju dapur, perutnya terasa lapar.
“Ibu punya apa ya buat di masak?” Gumam Sari sambil mencari bahan makanan di dapur.
Sari membuka lemari es. Kemudian, membuka sisa nasi yang ada di tempat penanak nasi.
“Lumayan, cukup buat dua orang.” Sari kembali menutup penanak nasi itu dan menyiapkan bumbu untuk membuat nasi goreng.
Di kamar, David menggeliat dan merubah posisinya menyamping untuk memeluk tubuh istrinya di sana. Kemudian, ia meraba keberadaan Sari yang dari semalam ada di sampingnya.
“Sari.” David langsung terbangun dan memanggil nama sang istri.
Ia bergegas turun dari tempat tidur itu dan keluar kamar. Harum amsakan Sari sudah terasa dari luar kamar itu. David melangkah menuju dapur. Ia tersenyum melihat Sari yang membelakanginya tengah berkutat dengan segala alat tempur dapur.
“Hmm.. harum.” Ucap pria bule ini di telinga Sari. Ia melingkarkan tangannya di pinggang itu.
Sari tersenyum dan menoleh sekilas. “Kamu sudah bangun?”
David mengangguk. “Aku terbangun karena kamu tak ada di sampingku.”
Sari mengeryitkan dahinya, lalu ia memaatikan kompor itu dan membalikkan tubuhnya. David merunduk agar kepalanya bisa sejajar dengan wajah istrinya. Sedangkan Sari mengusap lembut wajah itu.
“Kamu takut kehilanganku?” Tanya Sari, yang langsung di angguki David.
__ADS_1
“Sangat, karena aku pernah mengalaminya dua kali.” Jawab David.
“Dua kali, bukannya satu kali?” Tanya Sari bingung, karena ia merasa kabur dari pria ini hanya sekali, yaitu saat David mengasarinya dalam keadaan hamil tua dan perutnya sakit.
“Satu kalinya lagi, saat pertama kali aku memaksamu di hotel.”
“Memang, ketika itu kamu sudah merasa takut kehilanganku? Kan pada saat itu kita tidak saling kenal.” Tanya Sari lagi.
“Tapi saat itu aku sudah merasa kehilangan, kehilangan akan.. Hmm..” David ragu untuk meneruskan kalimatnya.
“Hmm.. Apa?” Tanya Sari dengan intens menatap mata suaminya.
Pria bule tertawa melihat ekspresi Sari yang serius.
“Tapi jangan marah!”
“Pasti jawabannya ngga enak.” Ucap Sari.
“Kehilangan akan rasa tubuhmu yang nikmat.”
“Tuh kan jawabannya pasti ke arah itu.” Sari memukul dada David.
“Dulu mommy El ngidam kamu apa ya? Sampai se mesum ini.” Kata Sari lagi sambil menggelengkan kepalanya dan kembali membalikkan tubuhnya ke arah kompor.
“Tapi suka kan?” Goda David yang langsung menempelkan kepalanya lagi di bahu Sari.
“Suka ngga ya?” Sari pura-pura tidak tahu rasa itu.
David membalikkan tubuh istrinya lagi.
Cup
Ia ******* bibir Sari yang masih manis dan rasa coklat. Ia terus mengecap bibir itu. Sari sudah bisa mengimbangi ciuman panas suaminya. Memang David paling lihai dalam hal berciuman dan urusan ranjang.
“Hmm.. kamu habis minum susu coklat?” Tanya David setelah melepas pangutan itu dan menggendong tubuh Sari, melingkarkan kedua kakinya pada pinggang David.
Sari mengangguk. “Aku tidak pernah lupa dengan pesanmu.”
Ia menaik turunkan kedua alisnya. Pasalnya David paling bawel untuk menyuruhnya meminum susu untuk ibu yang menyusui dan sekarang Sari sudah terbiasa akan hal itu.
David kembali membawa Sari ke kamarnya.
“Mas, nasi gorengnya sudah matang.” Ucap Sari yang masih berada dalam gendongan David.
“Satu ronde lagi, boleh ya.” David tersenyum memiringkan wajahnya.
Sari menghelakan nafas kasar. “Aku lapar. Memang kamu tidak lapar.”
“Sarapan kamu dulu.”
“Hmm...” Sari merengek.
“Ibu, Ayah... tolong, kapan kalian pulang?” Teriak Sari seperti anak kecil, membuat David semakin gemas.
__ADS_1