
Dua mobil George, berhenti di sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas. Pikiran Elvira berkelana, mengingat setiap sudut yang pernah terjadi di sana. Lebih dari dua puluh lima tahun yang lalu, peristiwa buruk itu terjadi, peristiwa yang membuat Elvira sakit secara fisik dan psikis, peristiwa yang membuat Elvira tak lagi mau menikah dan lebih memilih mengabdikan hidupnya untuk anak-anak yang tidak memiliki orang tua atau di tinggalkan walau memiliki orang tua.
“Mom, Kita sudah sampai.” David menyadarkan Elvira dari lamunannya.
“Oh, iya.” Elvira pun turun dari mobil itu.
Dari kejauhan Samuel melebarkan senyum. Ia sangat bahagia, karena melihat sosok wanita yang sudah puluhan tahun ia rindukan. Wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, cinta yang hingga saat ini tak pernah pudar dari hatinya.
“Dav, anakku.” Sam langsung memeluk David yang sudah membentangkan tangannya.
“Paman sam. Aku merindukanmu.” Ucap David.
“Aku pun merindukanmu, Nak.” Sam dan David saling berpelukan erat.
“Bagaimana tanganmu?” Tanya David setelah pelukan itu mengendur.
“Semuanya baik, aku sehat.” Sam tersenyum lebar.
“Syukurlah.”
“Oh ya, mana istrimu?” Tanya Sam yang melihat dua wanita muda di sana. Sari dan Nina.
“Ini istriku, Paman.” David merangkul bahu Sari.
“Sudah ku duga, memang seperti ini seleramu kan?” Sam tertawa, begitu pun David dan George.
“Ya, selera kalian sama kalau dalam urusan wanita.” Celetuk George.
Sari pun malu karena ia menjadi bahan pembicaraan ketiga pria bule itu dengab usia berbeda.
Lalu, David mengenalkan keluarga Sari pada Sam. Ia juga mengenalkan Nina sebagai pengasuh anaknya.
“Ayah, Ibu. Ini paman saya. Adik papa.” Ucap David mengenalkan Sam pada Teguh dan Ratih dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Teguh dan Ratih tersenyum dan bersalaman. Sam pun melakukan hal yang sama. Mereka tak banyak bicara. Karena Sam sadar bahwa kedua orang tua istri keponakannya ini tidak bisa menggunakan bahasanya.
“Nancy.” David menghampiri pengasuh setianya itu.
“Dav.” Nancy pun membentangkan tangannya.
“Ah, akhirnya kamu pulang juga.” Nancy terharu.
“Ini, istriku. Nancy. Dia yang menjadikan hidupku lebih berwarna. Dia cantik kan?” David memandang Sari penuh cinta, membuat wajah Sari memerah.
“Dia terlalu berlebihan, Nan.” Sanggah Sari.
Nancy tertawa.
“Kamu memang cantik, Sayang. aku sangat tahu Dav, aku tau seleranya.” Ledek Nancy, membuat Sari semakin malu.
“Oh, kamu semakin cantik dengan wajah memerah seperti ini.” Ucap Nancy.
Sari kenal Nancy, karena sebelumnya David selalu mencertakan pengasuh setianya itu. Walau hanya seorang pengasuh, tapi Nancy adalah salah satu orang yang berarti untuk suaminya.
“Mana putramu?” Tanya Nancy.
Melvin yang sudah bangun pun langsung ia ambil dari gendongan Nina.
“Wah, sangat mirip denganmu, Dav. Tampan.” Ujar Nancy yang ingin menggendong Melvin, tapi Melvin menolak. Bayi bertubuh gembul itu memilih membentangkan tangannya ke arah Sari.
“Ini, GranMa, sayang.” Ucap Sari, membuat Nancy tersenyum lebar.
“Dia tampan sepertiku.” Celetuk Samuel, membuat semua tertawa.
“Ya, ya.. dia tampan seperti Paman dan George.” Kata David sambil tertawa.
Terlihat kecanggungan antara Elvira dan Samuel. Sedari tadi Elvira hanya diam dan tersenyum, sementara Sam hanya melirik ke arah Elvira. Lidah Sam kelu, ia bingung harus bicara apa pada wanita pujaannya ini, padahal kedatangannya sudah lama di nantikan.
“Paman tidak menyapa ibuku?” tanya David meledek.
“Dia sudah seperti abege, Dav.” Tawa George.
__ADS_1
Sam ikut tertawa canggung.
“Hai, El.” Akhirnya Sam menyapa Elvira,
“Hai.” Jawab Elvira tersenyum.
“Hmm,, Apa kalian akan seperti ini sampai pagi?” Tanya David sambil menepuk bahu sang paman dan melewati mereka yang masih terlihat canggung.
Elvira mengeryitkan dahinya. Ia tak mengerti dengan sikap sang putra.
“Ayolah, Sam!” George pun tertawa, meledek sahabatnya dan berlalu mengekori David.
Ia mengedipkan satu matanya ke arah Sam, agar sahabatnya itu lebih berani untuk mengekspresikan hatinya.
Setelah, saling mengenalkan diri antara keluarga Sari dengan keluarga David. Mereka pun di ajak untuk menempati kamarnya masing-masing dan beristirahat sebentar, sebelum acara makan malam.
“Kamu lelah, Sayang?” David melingkarkan tangannya pada perut Sari.
Sari tengah berdiri sambil melihat foto-foto kecil David hingga remaja yang terpajang rapih di dalam kamarnya.
Sari menggeleng dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang David.
“Foto-foto kecilmu memang mirip Melvin.” Ucap Sari.
David mengangguk.
“Ya, apalagi di sana.” David menunjuk fotonya saat berusia Melvin sekarang.
Sari melepas pelukan itu dan menghampiri foto yang terpajang di atas meja belajarnya.
“Ya, ampun.. iya, mirip sekali.” Sari tersenyum lebar. Ia tak menyangka ternyata Melvin benar-benar reinkarnasi sang ayah.
David menghampiri lagi istrinya dan mendudukkan Sari di atas pangkuannya. Mereka duduk di tepi tempat tidur David. Ia memeluk pinggang Sari dan menaruh dagunya di pundak kanan Sari.
Sari mengalungkan tangannya di leher David. Lalu, satu tangannya kembali menelusuri tatto David yang tercetak di dada kanannya.
“Dulu, aku sangat takut dengan pria bertato. Karena pikirku orang bertato itu jahat.”
“Tapi justru kamu menaklukan pria jahat ini.”
Sari tersenyum.
“Kamu tidak jahat, hanya sangat menyebalkan. Sangat menyebalkan ya, ingat itu!”
David lagi-lagi tertawa.
“Berarti aku tidak jahat?” Tanya David lagi, sambil tertawa dan mengerutkan dahinya.
“Hmm.. jahat sih. Eh, tapi ngga juga sih.” Sari mengetuk-ngetuk dagunya.
“Dasar labil.” David menggulingkan Sari dan menindih tubuhnya.
“Mas, Melvin sama siapa?” Tanya Sari sambil menahan dada polos suaminya.
“Bersama Mommy dan Paman Sam.”
“Oh, kamu setuju jika mreka bersama?” Tanya Sari.
“Kenapa tidak? Aku rasa Mommy akan lebih bahagia dengannya, karena paman sam memiliki karakter yang berbanding terbalik dengan Daddy.”
Sari tersenyum dan mengangguk.
David langsung meyambar bibir Sari, saat ia tengah terdiam.
“Hmm...” Sari yang tak siap pun menjadi kuwalahan.
David ******* bibir sang istri dengan rakus. Lalu, melepasya.
“Mas.. kamu menyebalkan, aku hampir saja kehabisan nafas.” Rengek Sari.
David tertawa karena telah berhasil menjahili istrinya.
__ADS_1
“Maaf, Sayang.” Ia tertawa lagi.
****
Acara makan siang pun tiba. Semua orang berkumpul di ruang keluarga.
“Hai, apa kabar semua? Wow, malam ini rumah ini terlihat ramai, tidak seperti biasanya yang sepi seperti kuburan.” Ucap pria muda dengan wajah yang sedikit mirip dengan David.
Tiba-tiba pria ini sudah ada di ruang keluarga tanpa permisi atau salam.
“Dia adikku, Mattew.” Ucap david pada Teguh, Ratih, dan Sari.
“Kamu punya adik, Nak?” Tanya Teguh.
“Punya ayah, dari istri kedua setelah bercerai dari mommy.” Jawab David yang tidak menceritakan detail tentang keluarganya.
“Oh.” Teguh membulatkan bibirnya, begitu pun Ratih.
“Ganteng juga sepertimu, Nak.” Sahut Ratih.
“Ibu.” Sari memperingatkan bahwa saat ini keadaan sedang tidak baik.
“Apa dia istrimu?” Tanya Mat yang langsung menghampiri Sari dan melihatnya dari ujung kepala hingga kaki.
“Jaga matamu! Jangan melihat istriku sepert itu!” Ucap David menghalangi Sari yang sedang berhadapan dekat dengan sang adik.
“Wow, beginilah kakakku, pelit.” Ucap Mat.
“Jaga sikapmu, Mat! Jika kau macam-macam, aku tidak akan segan untuk..”
“Untuk membunuhku? Aku memang hanya adik tirimu, tapi aku tetap saudaramu bukan. Kita memiliki jiwa dari pria yang sama. Kita memiliki selera yang sama. Bukan begitu?”
Mat masih waras. Ia tak akan menganggu istri David, walau ia pun menyukai wajah yang seperti itu. Namun, Mat pun memiliki rasa takut yang cukup tinggi pada sang kakak. Apalagi dengan trade record David sebelumnya yang cukup bengal dan brutal. Ia yakin, David akan lebih brutal jika miliknya di sentuh, sama seperti dirinya.
“Mat. Tinggalkan tempat ini!” George berusaha melerai perseteruan adik kakak ini.
“ini adalah rumah ayahku, berarti rumahku juga. Aku ingin menginap di sini malam ini, besok dan lusa. Aku juga ingin menyambut kedatangan keluarga kakakku. Apa itu salah?” Mat mengerdikkan bahunya.
Semua terdiam. Apalagi Ratih dan Teguh yang tidak faham betul bahasanya dan kondisi yang terjadi. Ardi dan Nina juga.
Elvira memilih menyibukkan diri dengan Melvin. Ia pun tak mau banyak berurusan dengan anak madunya itu.
Sam bagkit dari duduknya dan menghampiri Mattew.
“Mat, jika kau menganggap kami keluarga. Maka bersikaplah seperti keluarga.”
“Oke.”
“Hai, aku Mat adik David.” Ucap Mat, sambil mengulurkan tangannya pada Teguh. Teguh pun membalas uluran tangan itu.
Kemudian ia melakukan hal yang sama pada Ratih, dan Ardi. Lalu, pada Elvira.
“Hai, Mommy El. Apa kabarmu?”
“Baik, Mat.” Elvira tersenyum.
“Hai David junior.” Mat mencubit pipi Melvin.
“Hai, cantik.” Mat tersenyum pada Nina. Senyum manis dengan suara lebih lembut dari sapaannya pada yang lain dengan mengulurkan tangan seperti seorang pangeran yang tengah mengajak dansa sang putri.
Nina bingung. Ia melihat ke arah Sari dan Sari mengangguk, meminta Nina untuk menuruti pria yang ada di depannya itu. Sedangkan Ardi, sudah terlihat geram, karena Mat menggoda Nina.
“Saya Nina.” Jawab Nina dengan senyum yang manis.
“Oh, imut sekali. Cantik sekali. Aku suka.” Mat memandang Nina dengan intens, membuat kedua bola mata Mat dan Nina bertemu.
Nina yang tak mengerti perkataan Mat pun, tetap tersenyum manis. Ia hanya menghargai Mat yang merupakan adik dari majikannya itu.
“Nina, kenapa pasang wajah seperti itu sih.” Gerutu Ardi dalam hati.
“Sudah sesi perkenalannya. Sekarang Ayo kita makan, aku sudah sangat lapar.” Ucap George, mencairkan suasana yang menegang saat kehadiran Mat muncul.
__ADS_1