
David dan Sari mulai bergegas untuk keberangkatannya menuju Jakarta. Selesai sarapan bersama keluarga Sari, mereka berpamitan. Sengaja, David pulang di kala weekend, sehingga orangtua Sari dan Ardi dapat mengantarnya.
“Jaga dirimu, Nak!” Ucap Teguh, saat ia melepas putri kesayangannya di Bandara.
Sari mencium punggung tangan Teguh dan memeluknya, begitu pun David.
“Jaga putri saya!” Ucap Teguh pada davi dan David langsung mengagguk.
“Saya akan jaga Sari dengan segenap jiwa saya, Yah.”
“Saya percaya, jangan kamu rusak kepercayaan saya padamu!”
“Baih, Yah.” David kembali mengangguk.
Lalu, sari beralih ke sang ibu.
“Nanti, Ibu sering main ke Jakarta ya.” Ucap Sari.
“Iya, Ndu. Kalau Jakarta masih mudah di jangkau, kalau Singapura, Ibu ndak sanggup.” Sahut Ratih, membuat semua tersenyum.
Lalu, Sari beralih pada Ardi. Sedangkan David mencium tangan Ratih.
“Kamu jangan nakal! Jaga ayah dan ibu.” Sari mengelus kepala sang adik.
“Iya, Mba. Oiya mba, Ardi nanti kuliah di Jakarta ya.”
“Ngga. Di malang aja temenin ibu sama Ayah.”
“Uuh, pelit.”
Sari menjulurkan lidahnya pada Ardi. Lalu, bergantian Ardi mencium tangan David dan memeluknya.
“Kalau, mba Sari nakal, gigit aja, Mas.” Ucap Ardi, saat pelukan mereka terlepas.
Sari langsung membulatkan matanya. Entah tahu dari mana sang adik tentang David yang suka menggigitnya.
Kemudian, mereka tertawa melihat ekspresi Sari. David dan Sari mulai berjalan menninggalkan keluarganya. Sesaat langkah David terhenti dan kembali mendekati Teguh.
“Oiya, Ayah. saya ingin ayah berhati-hati dengan atasan ayah yang bernama Dito. Menurut orang saya, lelaki itu tidak baik, dia banyak melakukan penggelapan uang negara dan sepak terjangnya sedang di awasi. Ayah harus lebih hati-hati memberikan tandatangan ayah.” david berkata persis di telinga Teguh.
“Terima kasih, Nak.” Teguh menepuk bahu David.
“Baiklah kami berangkat, daah.” Sari melambaikan tangannya, sebalum membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan.
“Sering-sering pulang ya, Nak.” Teriak Ratih dengan tangan yang masih melambai ke atas.
Sari dan David yang sudah berjalan jauh darinya pun menoleh dan membalas lambaian tangan sang ibu.
“Anak perempuan kita, akhirnya di ambil orang.” Kata Ratih lirih.
__ADS_1
“Memang sudah waktunya, Bu.” Teguh menggandeng istrinya untuk berjalan pulang.
****
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, David dan Sari tiba di sebuah apartemen besar di daerah Pusat Jakarta. David sengaja membeli apartemen yang dekat dengan kantor pusat yang akan ia buka.
David terus menggandeng sang istri selama perjalanan. Di dalam lift pun David merangkul pundak atau pinggang istrinya itu. Sari pun mulai terbiasa dengan David yang selalu menempel padanya.
Tut.. Tut.. Tut.. David memencet pasword apartemennya.
“Pasword ini adalah tanggal lahirmu.” Ucap David menoleh ke arah istrinya, sambil memencet tombol angka di sana.
Sari tersenyum dan memperhatikan suaminya.
Bip.
Kunci pintu terbuka.
Ceklek.
David menuntun Sari untuk jalan lebih dulu ke dalam. Mata Sari mengerlingkan setiap sudut ruangan itu. Dekorasinya tidak jauh berbeda dengan apartemen David yang di Singapura. Hampir isi ruangan ini dominan dengan warna putih. Sedangkan pada cat tembok semua berwarna biru langit.
“Kamu suka warna putih dan biru?” Tanya Sari.
David mengangguk.
“Aku suka kedua warna itu, karena putih lambang ketulusan, dan biru lambang kesetiaan.”
David tersenyum. “Kamu seharusnya lebih tahu, karena filosofi ini aku dapat dari sini.”
Ia kembali merangkul sang istri dan mengajaknya masuk ke kamar.
“Istirahatlah dulu!” Ucap David.
Sari duduk di tepi tempat tidur. “Kita tidak pekerjakan asisten rumah tangga?”
David membuka bajunya dan mengganti dengan kaos oblong lengan pendek. Ia pun melepas celana panjangnya, menyisakan boxernya saja. Kemudian ia tersenyum ke arah Sari.
“Tentu saja. Besok pagi dia datang.” Jawab David
David menghampiri Sari yang masih duduk di sana.
“Aku tidak akan membuatmu repot dengan segala macam pekerjaan rumah. Cukup layani aku dan jaga anakku dengan baik.” Kata David lagi, dengan tangan yang terangkat untuk mengelus rambut Sari.
Sari memperhatikan lekat wajah sang suami. Dulu, ia amat takut dengan wajah ini. Namun, entah mengapa saat ini, wajah ini yang selalu ingin di lihatnya. Sari memperhatikan bagian bawah david yang agak menonjol, sejak suaminya menanggalkan celana panjangnya.
David pun ikut menunduk.
“Kamu mau ini!” Arah mata David ikut turun ke bawah dengan senyum menyeringai.
__ADS_1
Sari langsung menggeleng cepat.
“Tidak, apaan sih.” Wajah Sari meemrah karena malu.
“Iya, juga tidak apa. Aku suka jika kamu memintanya dahulu.” Ledek David.
Tiba-tiba, sari berdiri. “Aku akan siapkan makanan.”
“Aku sudah pesan makanan.” David melangkahkan kakinya menuju sofa menghadap jendela, memperlihatkan emandangan dengan gedung-gedung menjulang tinggi dan awan yang masih terang berwarna biru putih.
“Sini temani aku di sini.” David duduk di sofa dan membentangkan tangannya agar Sari masuk kedalam pelukannya.
“Kita istirahat dulu. Sini!”
Sari mendekati suaminya. Ia pun duduk di sana dan masuk kedalam pelukan David. Entah ini baaan hormon hamilnya, atau memang Sari yang sudah merasa nyaman dekat dengan David, karena saat ini sungguh Sari tak bisa jauh dari pria ini.
David tersenyum. Ia mulai merebahkan sedikit tubuhnya pada ujung sofa itu, dan membiarkan Sari tidur di di dada bidangnya. Tangan David mengelus perut Sari dari belakang.
“Besok kandunganmu harus di periksa.”
“Iya.” Sari mengangguk.
“Kira-kira, dia laki-laki atau perempuan?” Tanya David.
Sari menggeleng. “Aku tidak tahu.”
Lalu, Sari membalikkan tubuhnya. kedua telapak tangannya memegang dada David.
“Kamu ingin laki-laki atau perempuan?” sari balik bertanya.
“Apa saja yang penting sehat, walau kalau boleh memilih, aku ingin anak laki-laki.”
“Aku ingin perempuan, bajunya lucu-lucu. Apalagi kalau di pakai pernak pernik di rambut dan kepalanya, pasti emakin lucu.” Mata Sari berbinar membayangkan bayi yang di kandungnya lahir.
David tersenyum dan mengelus rambut istrinya, menyelipkan beberapa anak rambut Sari ke belakang telinganya, sambil mendengar ocehan Sari.
“Aku lihat kamu tidak pernah mual?” Tanya David lagi.
“Iya, aku juga ngga ngerti, aku biasa saja, hanya kadang sedikit cepat lelah.”
“Baguslah, jika dia tak menyusahkanmu.” Ucap David.
Mereka saling bertatapan dan tersenyum.
“Kamu bahagia?” Tiba-tiba David bertanya sesuatu yang membuat Sari terdiam.
Sari coba menelusuri hatinya. Jika ia jawab tidak itu tidak mungkin karena nyatanya ia selalu senang berada di dekat pria ini.
Sari mengangguk perlahan dengan mata yang masih beradu dengan kedua bola mata biru milik David.
__ADS_1
Senyum David langsung mengembang dan memeluk Sari erat.
“Aku lebih bahagia.”