Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
sejuta kenikmatan rasa


__ADS_3

“Nin, fotoin aku donk.” Ucap Ardi, menyodorkan ponselmya pada Nina.


Nina tersenyum, melihat Ardi dengan pose yang narsis.


“Kenapa? Jelek ya?” Tanya Ardi saat ia mengambil ponselnya dari tangan Nina.


Nina menggeleng. “Ngga kok.”


Lalu, mereka kembai berjalan. Ardi dan Nina berjalan-jalan ke kota tua. Sebenarnya, Nina menunggu Ardi mengajaknya berfoto bersama. Namun, Ardi tak melakukan itu, mengingat ia memiliki tambatan hati di tempat kelahirannya.


“Kamu sudah punya pacar, Nin?” Tanya Ardi, saat mereka menikmati makanan di pinggir jalan.


Nina menggeleng. “Memang pacar apa?”


“Kamu ngga tau pacar?”


Nina kembali menggeleng.


“OMG, aku kira aku doang yang dari kampung, ternyata masih ada yang lebih kampung lagi.”


“Maksudnya?” Nina tak mengerti perkataan Ardi.


“Eh, ngga apa-apa.” Ardi nyengir, menampilkan jejeran giginya.


“Laki-laki yang kamu sukai dan laki-laki itu pun menyukaimu, kalian saling mengutarakan perasaan dan berkomitmen.”


“Berkomitmen itu menikah?” Tanya Nina lagi.


Ardi mengangguk. “Ujungnya akan seperti itu.”


‘Oh.”Nina mengangguk.


“Di kampungku wanita yang sudah memasuki usia 16 tahun langsung di jodohkan dan di nikahkan. Mereka tidak pakai pacaran.” Kata Nina lagi.


Ardi hanya mengangguk dan mereka kembali menikmati makanan dan minuman di sana. Lalu, mereka saling bercerita. Ardi menceritakan pacarnya yang berada di Malang dan Nina menceritakan kisahnya hingga sampai di kota ini dan bekerja padda Sari.


Ardi membeli kerak telur, pesanan Sari. Nina pun membeli cenderamata berbentuk sepeda ontel, juga kaos oblong dengan gambar yang sama.


“Wah belanjaan kamu banyak juga, Nin.” Kata Ardi tersenyum.


“Kamu juga banyak.”


“Iya, ini oleh-oleh untuk teman-temanku di Malang.”


“Sama, ini juga untuk adik-adikku di kampung. Nanti kalau aku pulang kampung.” Nina tersenyum manis dan Ardi pun membalas senyum itu.

__ADS_1


Mereka menaiki kereta api, sama seperti ketika berangkat tadi.


“Sini, aku pegangi barang belanjaanmu.” Kata Ardi langsung meraih barang belanjaan yang Nina bawa, tangan mereka pun bersentuhan, hal itu cukup membuat hati Nina yang polos ikut tersentuh.


Nina memandang wajah Ardi yang tak sedang melihat ke arahnya.


Mereka pun menaik KRL. Di dalam kereta itu, terlihat hanya ada satu tempat duduk.


“Nina, duduk di sini.” Ardi menunjuk pada satu kursi kosong yang sengaja ia hadang agar orang lain tak mendudukinya.


Nina pun langsung berlari ke sana dan duduk. Ardi berdiri persis di depan Nina dengan barang bawaan yang ia taruh di kakinya.


Ardi menunduk dan melihat Nina yang sedang meilaht ke arahnya. Lalu, Ardi tersenyum manis, karena memang wajah Ardi manis dengan kulit sawo matang.


Nina pun ikut tersenyum.


****


Di sebuah apartemen, ada sepasang suami istri yang masih bergelut dalam kenikmatan. David masih terus melakukan penyatuan itu, serasa tak ada hari esok. Sudah berjam-jam David mendominasi tubuh Sari dan Sari hanya pasrah menerima perlakuan sang suami, karena ia pun menikmatinya.


“Mas..”


“Hmm..” jawab David dengan aktifitasnya.


“Sebentar, Sayang.” Ucap David.


Lalu, ia mengerang melepaskan pelapasan yang lama di pendamnya, hingga tubuhnya pun ambruk di samping sang istri.


David meraih tubuh Sari dan memeluknya, membelai lembut rambut panjangnya dan mencium keningnya.


“Terima kasih, sayang.”


Sari tersenyum.


“Maaf, papa terlalu lama, kamu baik-baik saja di sana ya, sayang.” Ucap David lagi pada perut besar Sari.


Sari terdiam, melihat perlakuan David pada bayi yang ia kandung. Sangat terlihat betapa David sangat menyayangi bayi ini, membuat Sari kembali berasumsi bahwa David menyayanginya karena bayi ini, bayi yang masih ada dalam perutnya.


Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Ardi dan Nina belum kembali, padahal mereka pamit sejak sebelum Ashar. Sari pun lupa dengan keberadaan sang adik. Ia terlalu lelah dan ingin sekali memejamkan matanya. Namun, David seolah belum ingin menyelesaikan aktifitasnya saat ini, karena ia begitu rindu tubuh itu. Bibirnya masih terus menelusuri tengkuk dan pundak Sari. Ia pun sesekali menggigit area itu, hingga Sari tak jadi memejamkan matanya.


“Mas, aku capek.” Rengek Sari karena aktifitas David yang tak kunjung berhenti.


“Kamu tidur saja. Aku hanya rindu tubuhmu.” David masih melanjutkan aktfitasnya.


“Aww.. sakit mas, jangan di gigit!” Protes Sari saat David lagi-lagi menggigit pundaknya.

__ADS_1


David hanya tersenyum.


Sari menghela nafasnya kasar.


Dret.. Dret.. Dret..


Ponsel Sari berdering dan langsung mencoba melepas tangan David yang mengukungnya. Namun, David menahan tubuh Sari, agar tidak bangkit.


“Biar, aku yang mengangkatnya.” David bangkit dan menghampiri ponsel Sari yang berada di atas meja rias.


Di sana tertera nama “Ardi.”


“Halo, mba.” Suara Ardi terdengar panik, saat David mengangkat panggilan video call itu..


“Kenapa, Ar?” Tanya David yang menampilkan dada telanjangnya.


“Eh, Mas David sudah pulang?” Tanya Ardi malu, yang melihat kondisi kakak iparnya saat ini.


“Iya.” Jawab David.


“Mas, Ardi ke sasar nih, boleh minta tolong jemput?”


“Di mana?’


Ardi pun memberitahukan keberadaannya dengan menampilkan area sekelilingnya.


“Tunggu di sana, supir mas akan jemput.” Ucap David dan menutup pangilan video call itu.


Ardi dan Nina sama-sama masih baru berada di kota ini. ketika arah pulang tadi, mereka menaiki kereta yang salah. Alhasil, saat ini mereka terdampar di bogor.


Sari sudah bengkit dan menyandarkan tubuhnya pada dinding ranjang. Ia menatap David yang sedang berbicara dengan Ardi melalui ponsel miliknya.


Kemudian, David pun memerintahkan supirnya untuk menjemput Ardi sesaat setelah Ardi menutup teleponnya.


“Ardi kenapa, Mas?” Tanya Sari.


“Adikmu ke sasar, tapi tenang saja, nanti supirku menjemputnya.”


“Ya ampun.” Sari kembali menyandarkan tubuhnya di dinding itu.


Dan David kembali menaiki ranjang itu, lalu mendekat.


“Boleh aku melakukannya lagi? Sebelum Ardi dan Nina datang.” Ucap David dengan wajah innocent, membuat Sari tak mampu untuk menolaknya.


Kemudian, mereka kembali merengkuh surga dunia yang tercipta oleh berjuta kenikmatan rasa. Sesaat, rasa itu menghilangkan semua kegundahan hati Sari. Kegundahan yang ia rasakan setelah perbincangannya dengan Bianca beberapa waktu lalu.

__ADS_1


__ADS_2