Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
Samuel dan Elvira


__ADS_3

Siang menjelang Sore, David pulang bersama Uncle Sam. Ia menyempatkan mampir ke sebuah apotek untuk membeli alat tes kehamilan, sesuai pesanan Sari sebelumnya.


“Mengapa kita berhenti di sini?” Tanya Sam menggunakan bahasa Inggris.


“Sebentar, Paman. Aku ingin membeli sesuatu.” Jawab David.


“Oke, aku tunggu di sini.” Sam menunggu di dalam mobil, sementara David keluar dan memasuki apotek itu sendiri.


Tak lama kemudian, David kembali membuka pintu mobilnya. Ia meletakkan benda yang baru saja di belinya tadi persis di samping.


Sam meraih benda itu,


“Istrimu hamil lagi?”


David mengangguk. “Sepertinya.”


“Waw, luar biasa kamu, Nak. Mesin pencetak anak.” Ledek Sam.


“Usiaku tidak muda lagi, Paman. Dan, aku ingin memiliki anak yang banyak. Jadi, ya.. tunggu apa lagi.” David tersenyum senang.


“Baiklah, Paman akui, Paman kalah dalam urusan cinta.”


David mengangguk dengan tangan tetap pada setir kemudi.


“Paman memang payah. Aku sudah susah payah membawa Mommy ke sini, tapi hingga hari ini kau belum juga mengutarakan maksudmu.” David menoleh ke arah Sam.


“Tidak semudah itu, Nak. Aku kenal betul sifat El. Dia tidak akan mudah menerima seseorang, apalagi ada masa lalu buruk yang membuatnya trauma hingga saat ini.”


“Kau mampu menghilangkan trauma itu, Paman.”


“Ya, betul. Aku mampu, tapi untuk memulainya itu, bagaimana?”


Bip.


Tiba-tiba David memberhentikan mobilnya persis di depan toko bunga.


“Mengapa kita berhenti lagi?” Tanya Sam bingung, sambil menolehkan kepalanya ke arah toko itu.


“Tadi katanya, paman bingung bagaimana untuk memulai mengutarakan maksudmu pada Mommy. Pergilah! Belikan mommy, mawar putih.”


Sam tersenyum, sambil menggerakkan ibu jarinya ke atas.


“Dasar nakal, playboy kadal.” Ledek Sam pada keponakannya.


David pun ikut tersenyum, ketika dengan cepat Sam melakukan perintahnya.


Tak lama kemudian, Sam kembali membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam.


“Sesuai saranmu.” Sam menunjukkan sepuket bunga mawar putih segar dan harum.


David tersenyum. “Bagus.”


Lalu, ia kembali menjalankan mobilnya.


David melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tiba di rumahnya, setelah kurang lebh tiga puluh menit kemudian.


“Oh, iya. Sejak kemarin aku tidak melihat Mat. Kemana dia?” Tanya David. Setelah menepikan mobilnya di halaman rumah besar itu.

__ADS_1


“Dia sedang berada di Birmingham, mengurus legalitas produk brand olahan makanan baru yang akan kami luncurkan.”


“Dia sudah mulai bertanggung jawab?”


“Ya.. Lumayan, sejak kepergian ibunya beberapa waktu lalu, cukup membuatnya berubah menjadi lebih baik.”


“Oh, ya. Aku sampai lupa. Kalau Mat masih dalam keadaan berduka.”


“Bukan urusan kita. Toh wanita itu juga bukan ibumu.” Ucap Sam malas membicarakan istri kedua kakaknya, yang membuat keluarganya sempat berantakan.


David mengangguk.


“Tunggu. Kau terlihat gemetar, Paman.” Ledek David, setelah kaki mereka sampai di depan pintu rumah keluarga Osborne.


“Oh, ya. Aku rasa tidak.”


David tertawa.


“Apa yang akan kau katakan, jika bertemu Mommy?”


“Memberikan bunga ini.” Jawab Sam.


“Hanya memberikan bunga ini? tidak dengan kata-kata manis?”


“Kata-kata manis seperti apa?”


“Ya ampun, Ayolah Paman. Apa kau tidak pernah merayu wanita?” David menepuk jidatnya.


“Seperti ini.” David mengambil bunga itu dari tangan Sam, lalu memeragakannya seolah-olah Elvira berada tepat di depannya.


Namun, arah mata Sam justru tertuju pada seseorang yang berdiri di depan David.


“Terima kasih, sayang.” Sari tersenyum sumringah. Setelah membuka pintu rumah itu.


“Sayang.” Ucap David terkejut.


“Ini untukku? Indah sekali, kamu memang suami terbaik.” Kata Sari yang juga menggunakan bahasa inggris.


Sam menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Bungaku.”


“Sorry, Paman. Besok aku belikan yang baru.” David nyengir dan melewati sang paman yang masih berdiri di depan pintu.


“Maaf.” Kata David yang kembali menoleh ke arah pamannya.


Sam menanggapi malas. Lalu, David tersenyum.


“Kenapa?” Mata Sari melirik ke arah Sam dan David bergantian.


“Tidak apa.” David tersenyum dan merangkul bahu Sari.


“Suka bunganya?” Tanya David.


Sari mencium aroma bunga itu. “Suka banget. Makasih ya.”


David mengangguk dan tersenyum. Mereka berjalan mennuju kamar.

__ADS_1


“Oh iya. Aku sudah belikan ini. Ayo di coba! Aku ingin lihat hasilnya.” David menyerahkan alat tes kehamilan pada Sari.


“Nanti pagi saja, agar lebih akurat.”


“Oke.”


Sari membantu melepaskan ikatan dasi di leher suaminya dan ia juga menyiapkan air hangat serta baju ganti untuk David.


****


“El, sedang apa?” Tanya Sam basa-basi.


Ia tahu betul, jika Elvira senang menata bunga segar yang di ambil dari taman rumah itu dan meletakkannya di sudut ruangan.


Sam memetik satu tangkai bungan di sana. Ia menyembunyikannya di belakang.


“Kau masih sendiri? Tidak ingin ada orang yang menemanimu di hari tua nanti?” Tanya Sam.


Namun, Elvira tetap dengan aktivitasnya. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini. ia tersenyum sambil membungkukkan dirinya mengambil beberapa tangkai bunga yang terlihat bagus.


“Kau juga masih sendiri. Masih belum adakah wanita yang mengisi hari-harimu di sini?” Tanya Elvira yang sudah menegakkan tubuhnya, sambil menatap wajah Sam.


“Aku.. Hmm.. Aku tidak bisa menemukan wanita sepertimu.”


“Uhuk.. uhukk. Uhukk..” Elvira tiba-tiba tersedak sengaja.


“Benarkah? Aku tidak percaya.”


Elvira menggeleng dan tertawa.


“Aku berbanding terbalik dengan Jason, bahkan aku juga kalah dengan putramu. Saat ini, dia sudah akan memiliki anak kedua, sedangkan aku memiliki istri pun belum.”


“Anak kedua? Maksudmu menantuku hamil lagi?”


Sam mengangguk. “Sepertinya, karena tadi Dav membeli alat tes kehamilan dan berkata seperti itu padaku.”


“Oh, Ya Tuhan. Terima kasih.” Elvira mengusap wajahnya.


“Bagaimana dengan kita?” Tanya Sam yag melihat Elvira bergegas meninggalkannya.


“Kita?”


“Ya, aku sudah menunggumu lama.”


Elvira terdiam.


“Aku tidak tahu, Sam.”


“El, aku ingin menikmati hari tuaku bersamamu. Ku mohon!”


Elvira tersenyum dan menangkup kedua bahu Sam.


“Akan aku pikirkan.”


Lalu, ia pergi ke dalam rumah dan meninggalkan Sam yang masih berdiri di sana. Sam mengeluarkan tangannya, yang dari tadi ia sembunyikan di belakang. Mata terpejam, sambil mencium setangkai bunga yang ia pegang.


Berbincang dengan Elvira tadi, membuatnya lupa bahwa ia sempat memetik setangkai bunga ini untuk wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.

__ADS_1


__ADS_2