Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
Rama, Melisa, dan Anita 2


__ADS_3

Melisa melaju kembali ke rumahnya, setelah mengantar Sari sampai dengan selamat di depan rumah minimalis tapi tetap mewah, yang David berikan satu tahun yang lalu.


"Sabar. Sabar." Melisa mengurut dada sendiri, agar ia tidak emosi ketika bertemu suaminya di rumah.


Setelah menempuh jarak sekitar empat puluh menit, Melisa sampai di depan rumahnya. Ia melihat mobil Rama yang sudah terparkir. Ia keluar dari mobil dan menggendong Edrick yang sudah terlelap. Anak itu memang selalu tertidur, jika sedang berada di dalam kendaraan.


Melisa membuka pintu rumahnya, sementara Rama yang juga baru pulang, masih duduk di ruang televisi dengan menggunakan pakaian yang sama sejak pagi.


Rama langsung berdiri dan menghampiri Melisa, setelah melihat kedatangannya.


"Sini, aku gendong." Kata Rama, karena Edrick semakin hari semakin berat.


Lalu, Rama membawa Edrick ke kamarnya. Di sana Nayna adik Edrick juga masih terlelap, padahal bayi berusia tujuh bulan itu sudah tidur selama dua jam. Setelah mencium kening kedua anaknya, Rama keluar dan menutup pintu kamar itu lagi. Ia melihat sang istri yang tengah berdiri di depan lemari es sembari meneguk air mineral.


"Haus?" Tanya Rama meledek, pasalnya Melisa tengah menenggak air mineral yang berukuran satu liter dan menghabiskan hampir separuh botol itu.


"Hmm." Melisa menjawab singkat.


Rama mengeryitkan dahinya. Biasanya sepulang ia kerja, sang istri selalu tersenyum dan menyambutnya dengan hangat serta manja.


"Tumben, jam segini baru pulang? Biasanya kamu selalu ada di rumah sebelum aku." Tanya Rama yang duduk di meja mini bar, menghadap ke arah sang istri yang masih berdiri di depan lemari es.


"Aku antar Sari pulang dulu." Jawab Melisa santai dan meletakkan kembali minuman itu ke dalam lemari es.


"Oh, tadi sedang ada Sari di tempatmu." Sahut Rama.


Melisa tak menggubris perkataan suaminya. Ia terus meluyur melewati Rama yang masih duduk di dekatnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Rama yang sudah mencekal lengan Melisa saat ia melintas.


"Ngga kenapa-napa, lagi capek aja." Jawab Melisa.


Sebelumnya, Melisa tidak pernah bersikap seperti ini. Ia tidak pernah mengeluh dan selalu melayani Rama dalam keadaan apapun.


Kemudian, Rama mengikuti langkah sang istri dari belakang.


"Hei, kamu kenapa? Tadi pagi tidak begini." Tanya Rama lagi sembari menarik lengan Melisa dari belakang.


Namun, Melisa menarik lagi lengannya.


"Tidak apa, hanya lelah." Jawab Melisa.


Semula, sesampainya di rumah, ia ingin berpositif thinking dan akan bertanya baik-baik pada Rama perihal apa yang ia lihat di jalan tadi. Namun, setelah melihat wajah Rama yang biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa, membuat Melisa kesal dan malas melihatnya.


"Aku ga suka, kalau ada permasalahan di larut-larut. Katakan ada apa?" Tanya Rama dengan raut wajah kesal sambil menahan pintu kamar mandi, saat Melisa hendak masuk ke tempat itu.


"Males. Harusnya ga perlu di tanya, kamu udah sadar sendiri kesalahannya apa." Jawab Melisa yang berusaha kabur dari kungkungan suaminya.


"Tunggu. Aku belum selesai bicara." Rama kembali menahan lengan istrinya.


Hampir dua tahun Rama menjadi suami Melisa. Tidak pernah sekalipun ia melihat Melisa marah seperti ini.


"Apaan sih." Melisa tetap menjauhkan diri dari Rama.


"Kamu mau mandi? Aku juga." Rama menutup pintu kamar mandi dan membuka pakaiannya.


"Ih, keluar. Ngapain juga buka baju depan aku."


"Kita mandi bersama."


"Nggak." Melisa mendorong tubuh suaminya untuk keluar.


"Ngga mau, aku mau kita mandi bersama." Rama memeluk tubuh istrinya dan menggiringnya ke bath up.


Kemudian, Ia kembali membuka seluruh pakaian hingga benar-benar polos.


Melisa menahan tawanya saat melihat tubuh suaminya yang polos. Sedangkan Rama senang melihat raut wajah istrinya yang tak lagi kesal.

__ADS_1


"Apaan sih, Ram. Engga tau malu. Pakai lagi bajunya!" Sontak Melisa menutup wajahnya dengan nada manja, saat Rama mendekat.


"Ck, biarin aja, sama istri sendiri ini." Kata Rama santai.


Rama terus berjalan mendekati istrinya dan meraih tangan Melisa yang menutupi wajahnya.


"Engga. kamu pakai dulu bajunya." Melisa tetap mempertahankan posisinya. Lalu, Rama dengan cepat menurunkan celana tiga perempat yang Melisa kenakan.


"Apaan sih, Ram." Melisa sedikit tertawa karena cara Rama membuka paksa pakaiannya pun sembari bercanda.


"Rama. Hmm.."


"Biarin, aku bikin kamu berteriak enak daripada berteriak kesal." Rama membuka seluruh pakaian istrinya hingga polos dan menggerayangi tubhh itu dengan bbiburnya.


"Hmm.." Melisa menggeliat. Hingga penyatuan itu terjadi.


"Aku lagi kesal sama kamu." Rengek Melisa di tengah penyatuan mereka.


"Kamu melihatnya?" Tanya Rama di sela-sela penyatuan itu.


"Siapa dia?" Melisa malah balik bertanya.


"Teman. kebetulan kami bertemu di sana karena dia sedang proses cerai dengan suaminya."


"Hmm.. Ram pelan sedikit." Protes Melisa saat Rama melakukannya dengan sedikit kasar.


"Maaf, aku gregetan." Ucap Rama sambil nyengir.


"Teman seperti apa dia? Apa kalian pernah lebih dekat dari sekedar teman?" Tanya Melisa lagi.


Rama mengangguk. Ia pun ingin selalu jujur pada istrinya.


"Kami bersahabat sejak SMA, lalu menjadi partner s*x sejak kuliah."


Sontak Melihat mendorong suaminya, hingga penyatuan itu pun terlepas.


"Tapi itu dulu, masa lalu. Sayang. Empat tahun kami tidak pernah berkomunikasi bahkan bertemu. Dan, hari ini hanya kebetulan. Sumpah." Rama mengangkat kedua jarinya ke atas.


"Sekarang dia janda, pasti dia mau menggodamu kembali."


Rama mendekati wajah istrinya dan menciumnya. Memangut bibir Melisa dengan lembut.


"Aku tidak tergoda dengannya, karena dia tidak memiliki dada sebesar ini." Rama meremas buah dada istrinya dengan nada sensual.


"Aww." Rintih Melisa saat Rama mencubit p*t*ngnya.


"Dia juga tidak memiliki bibir semanis ini." Rama kembali mencium bibir Melisa.


"Dan, dia tidak se hot kamu." Rama kembali memberikan penyatuan.


"Ih... nyebelin." Melisa meraung dan memukul dada Rama pelan.


Rama tertawa. "Kamu paling cantik dan paling hot dari semua wanita yang aku kenal. Jadi buat apa aku tergoda dengan yang lain."


"Bohong. Awas kalau bohong! Kalau kamu sakitin aku, aku akan lebih sakitin kamu."


"Serem banget sih ngomongnya." Rama kembali menghentakan dengan keras penyatuan itu sembari sesekali mencium bibir wanita yang tengah merintih di depannya.


"Rama pelan, Ah." Melisa kesal dan kembali memukul bahu suaminya yang sedang mendekapnya, membuat Rama tertawa.


****


Dret.. Dret.. Dret..


Ponsel Rama berbunyi.


"Ram, telepon kamu bunyi terus tuh." Teriak Melisa, karena Rama sedang asyik bermain bersama Edrick dan Nayna di ruang keluarga. Sedangkan Melisa merapihkan pakaian yang baru saja di setrika Bi Tati ke dalam lemari miliknya.

__ADS_1


"Angkat saja." Jawab Rama yang juga berteriak.


Lalu, Melisa mendekati ponsel Rama yang tergelatk di nakas samping tempat tidurnya. Ia melihat nama di ponsel itu tertera 'Anita', persis seperti nama yang di sebutkan Sari.


Melisa langsung keluar kamar dan memberikan ponsel itu pada Rama.


"Nih, dia telepon. Berisik dari tadi bunyi ga berhenti." Melisa menyodorkan ponsel itu ke dada Rama.


Kemudian, Rama mengambil dan melihatnya.


"Halo." Rama mengangkat telepon itu persis di hadapan Melisa. Ia pun me-loudspeaker, agar Melsa mendengar percakapan itu.


"Ram, besok bisa kita ketemu lagi. Aku ada perlu sama kamu." Kata Melisa di sana.


Rama berjalan mengekori Melisa yang sedang kesal. Ia juga menarik dres Melisa.


"Ck, Apa sih." Melisa menyingkirkan tangan Rama dari bajunya.


"Sorry, An. Istriku galak. Aku ga berani kita ketemuan. Mata dia ada di mana-mana. Dia aja tahu kalau sore ini kita ketemu dan aku mengantarmu, padahal itu tidak di sengaja."


Sontak Melisa menoleh ke belakang dan membulatkan matanya.


"Tuh, An. aku lagi di pelototin istriku. Sorry ya."


"Tapi, Ram.." Sahut Anita terpotong, karena Rama langsung menutup sambungan teleponnya.


Di sana, Anita kesal bukan kepalang. Sepertinya, Rama memang sudah sangat jauh berubah, pikirnya.


"Hei, masih marah?" Rama kembali mendekati istrinya yang sedang merajuk.


"Aku buat kamu teriak lagi nih, seperti di kamar mandi tadi." Kata Rama lagi, sembari menggelayut di pundak Melisa yang sedang menaruh pakaian ke lemari.


"Ih, apa sih." Melisa menggoyangkan bahunya agar Rama tidak menempelkan dagunya di sana.


"Kamu aja masih simpen nomor dia." Ucap Melisa ketus.


"Ya kan semua nomor teman aku ada di sini." Sambung Rama.


"Nih ponselku lihat, kami tidak pernah komunikasi. Bahkan aku juga tidak mempassword ponselku supaya kamu dapat melihat bebas."


"Ga perlu." Jawab Melisa.


"Sini." Tapi kini Melisa menyambar ponsel yang di pegang Rama.


Melisa menghapus nomor Anita dan memblokir semua whatsapp juga media sosial yang ada nama itu.


Rama hanya tersenyum. Ia senang, jika Melisa cemburu padanya, karena itu berarti istrinya itu sangat mencintainya.


Melisa mendongak dan menatap Rama yang duduk di tepi ranjang.


"Apa ketawa-ketawa? Ga ada yang lucu." Kata Melisa cemberut.


"Lucu lihat wajahmu yang cemberut, bikin orang kepengen lagi tau ga sih."


Sontak Melisa menatap suaminya tajam. Bisa-bisanya Rama bertingkah santai dan seolah tak terjadi apa-apa padahal suasana sedang genting.


Rama tak henti-hentinya mengulas senyum.


"Ini." Melisa kembali menyerahkan ponsel Rama setelah puas menghapus semua kontak dan nama yang berhubungan dengan Anita.


Rama tersenyum dan menerima ponselnya. Ia mengutak-atik isi ponsel itu.


"Kok, cuma nama Anita aja yang di hapus. Nomor teman wanita ku di sini masih banyak loh." Kata Rama memancing.


"Oh gitu." Melisa bertolak pinggang dan menghampiri Rama dengan memegang gunting.


"Ampun." Rama tertawa sembari berlari menghindari Melisa yang mendekatinya, hingga keluar dari kamar itu.

__ADS_1


"Awas kamu, macem-macem aku potong sekalian." Kata Melisa dengan menggerakkan gunting itu ke atas.


"Uuuh, takut." Ledek Rama, sambil mengerdikkan bahunya dan tertawa.


__ADS_2