Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
kampung halaman 1


__ADS_3

“Mas.. Cepet. Yang lain sudah nunggu di bawah.” Panggil Sari, berdiri di depan pintu apartemen itu.


Teguh, Ratih, Elvira, Nina, dan Ardi sudah siap barangkat ke bandara. Mereka menunggu Sari dan David yang masih berada di lantai dua.


Malik pun sudah menunggu di lobby bersama keluarga Sari di sana. Ia di temani satu orang supir lagi untuk mengendarai mobil yang lain.


“Iya, tunggu Sayang. aku memastikan semua aman sebelum di tiinggalkan.” Jawab David yang masih berada di dalam.


“Sudah. Ayo!” ia melangkah dengan cepat ke tempat Sari berdiri dan menggandeng tangan sang istri untuk keluar.


Tidak lupa, ia mengunci apartemennya dengan kode yang baru, sesuai permintaan Sari, yaitu tanggal pernikahan mereka.


David melangkah menuju lift dengan wajah berseri. Entah mengapa ia sangat senang akan pulang ke kampung halaman bersama dengan istri, anak, dan keluarganya yang lain. Di tambah, Elvira yang juga mau untuk di ajak ke tempat yang membuatnya terluka itu. Walau awalnya sulit sekali membujuk Elvira untuk bisa ikut hari ini, tapi akhirnya wanita yang melahirkan David 36 tahun silam itu luluh dan mau ikut bersamanya.


“Ya ampun, kalian itu selalu lama.” Kata Ratih yang melihat Sari dan David baru sampai di lobby.


“Maaf, tadi mas David mengecek dan memastikan apartemen aman untuk di tinggal.” Sanggah Sari.


“Oke, ayo kita berangkat!” Ucap David.


Kedua rombongan keluarga ini, memasuki moobil dan berjalan menuju bandara. Mereka semua sudah mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang di dalam pesawat. Apalagi ini adalah pengalaman pertama bagi Ratih, Teguh, Nina, dan Ardi menaiki pesawat dalam waktu yang cukup lama.


Setelah satu jam menempuh perjalanan menuju bandara Halim Perdana Kusuma. Kedua rombongan keluarga itu berjalan menuju jet pribadi yang sudah di pesan David.


“Malik, saya titip perusahaan padamu.” Kata David menepuk bahu asistennya itu, sebelum ia pergi.


“Siap, Bos. Jangan khawatir. Bersenang-senanglah!” Jawab Malik tersenyum.

__ADS_1


“Oh ya, satu hal lagi. Jangan terlalu keras pada Angel, nanti kamu yang menyesal.” Ledek David.


Malik hanya membalas dengan tersenyum dan melambaikan tangannya saat Sari serta keluarga bos nya itu akan benar-benar pergi.


Kemudian, Rombongan keluarga itu naik ke dalam pesawat satu persatu.


“Wah, kok pesawatnya beda ya Pak, dengan pesawat yang kita naiki saat ke Jakarta dan Singapura.” Kata Ratih saat memasuki jet itu.


“Ibu, ini itu pesawat pribadi, jadi tidak seperti pesawat komersil yang kita naiki sebelumnya.” Jawab Teguh.


“Oh, begitu.” Ratih membulatkan bibirnya.


“Iya, Bu.” Sari merangkul Ratih yang masih terpaku dengan kemewahan isi dekorasi di dalam pesawat itu.


“Ini kamar ibu. Ayah dan Ibu bisa istirahat di sini, karena perjalanan kita lumayan lama.” Ujar sari lagi.


“Ibu, Ibu malu-maluin aja sih.” Kata Teguh.


Di tempat yang agak berjauhan, sari melihat David tengah asyik bersama Melvin dan Elvira sedang duduk berhadapan dan bersenda gurau. Sementara Nina dan Ardi juga sedang duduk mengobrol, melepas kerinduan sambil bercerita tentang sekolahnya masing-masing di kursi yang ada di seberang David.


“Ya Allah, terima kasih. Ibu ndak nyangka kamu bisa jadi wong sugih seperti ini, Sar.” Tiba-tiba Ratih menangis.


“Ih, kok ibu nangis sih?” Tanya Sari bingung. Ia merangkul Ratih yang masih terisak tersedu-sedu.


Teguh pun mencoba menenangkan istrinya.


“Udah, Bu. Malu ada besan, nanti Nak David ke sini kalau lihat Ibu menangis seperti ini.” Kata Teguh.

__ADS_1


“Ibu terharu, Pak.” Ratih masih terisak, justru kali ini isakannya semakin kencang, membuat Ardi menoleh ke suara itu, David dan Elvira juga.


Mereka menghampiri Ratih.


“Ibu kenapa, Mba?” Tanya Ardi yang sudah berdiri di belakang Teguh.


“Sayang, apa semuanya baik-baik saja? Apa ibu merasa tidak nyaman?” Tanya David pada Sari.


“Tidak, Tidak, Ibu tidak apa-apa. Dia hanya terharu karena kamu mengajak kami ke negaramu dan menggunakan akomodasi sebagus ini.” Jawab Teguh.


“Ooh.” Semua ikut ber’oh’ ria, kecuali Sari dan Teguh yang memang mengetahui sebab sebenarnya Ratih menangis.


David mendekati Ratih dan merangkul pundaknya.


“Semua yang saya punya adalah milik Sari, Bu.”


“Terima kasih, Nak david. Terima kasih karena telah mencintai anak Ibu sebesar ini.” Ratih masih terisak.


“Saya juga terima kasih pada Sari karena telah mencintai saya sebesar ini.” David tersenyum ke arah sang istri.


“Tutup mata!” Perintah Ardi dan telapak tangan Ardi pun sudah menutup wajah Nina yang berdiri di sebelahnya.


“Memang kenapa tutup mata?” Tanya Sari bingung.


“Karena pasti setelah ini Mba Sari dan Mas David akan berciuman.” Jawab Ardi polos.


“Apaan sih.” Sari mentoyor jidat sang adik.

__ADS_1


Lalu, semuanya tertawa. Mereka adalah saksi betapa mesumnya pasangan ini, karena mereka semua pernah memergoki Sari dan David yang sedang berciuman, bahkan bercumbu.


__ADS_2