
"Sari.." Teriak Ratih gembira, saat memasuki ruang perawatan putrinya yang baru aaja melahirkan.
Sari tersenyum. Begitu pun juga David yang duduk di samping sang istri, sambil menyuapinya.
"Satu kali lagi, Sayang." David menyodorkan sendok yang berisi makanan di tangannya.
"Hmm.. udah kenyang." Rengek Sari dengan menggelengkan kepalanya.
"Ish, kamu manja banget." Kesal Ratih yang melihat Sari manja dengan suaminya.
"Ih, kok ibu yang protes, Mas David aja ga masalah." Jawab Sari.
Teguh yang melihat putri dan istrinya berdebat pun ikut menggeleng.
"Jangan mau Nak David di budakkin si Sari." Kata Ratih.
"Ih, ibu syirik aja." Sari memonyongkan bibirnya.
"Sudah sudah, kalian tuh berantem terus." Kata Teguh menengahi anak dan istrinya.
"Kalau begitu, kamu di temani ibu dulu ya, Sayang. Aku sama ayah beli makan siang." Ucap David.
Sari mengangguk.
"Ayah, di kantin, belikan ibu siomay ya." Teriak Ratih, saat David dan Teguh tengah keluar dari ruangan itu.
Teguh mengangguk dan menutup pintu ruangan itu kembali.
Ceklek
Tak lama kemudian, pintu ruangan Sari kembali terbuka.
"Waktunya menyusui." Ucap salah seorang suter mendorong box bayi ke hadapan Sari.
"Uuh, cucu eyang uti cantik banget sih." Ratih langsung menggendong bayi perempuan yang baru berusia satu hari.
"Sar, kamu sudah langsung pasang spiral?" Tanya Ratih.
Sari menggeleng.
"Ya, ampun. Kenapa tidak sekalian di pasang spriral setelah operasi." Ratih membulatkan matanya ke arah Sari.
"Emang kenapa, Bu? Sari takut dengan alat itu."
"Ya ampun Sari, nanti kamu brojol lagi, bagaimana? udah seperti kucing saja." Ucap Ratih.
"Apaan sih, Bu."
__ADS_1
"Ibu tau suamimu itu suka mencetak anak. Makanya ibu kasian sama kamu, nanti capek."
"Tapi Mas David suka punya anak banyak, lagian Sari juga ga merasa capek kok."
"Ih di bilangin. ngeyel." Ucap Ratih kesal dengan sikap Sari yang tidak bisa ia beritahu.
Lalu, Ratih memandang bayi mungil di tangannya dengan terus mengelus pipinya.
"Tapi ndak apa sih, kamu punya anak banyak, soalnya anak kamu ganteng dan cantik. Bibit bule sih ya." Ucap Ratih lagi.
Sari tertawa. "Bibit unggul ya, Bu."
Ratih pun ikut tertawa.
****
Seperti sewaktu Melvin baru lahir, David selalu siaga di tengah malam untuk bangun dan bergantian memberi ASI yang sudah Sari simpan di lemari es.
"Cup cup, Mimi susu di sini aja ya, karena Mama lagi istirahat. Kasihan Mama. Tuh liat tidurnya sampe ngiler." Ucap David tersenyum pada bayi perempuan yang saat ini berusia tiga minggu. Bayi itu pun ikut tertawa melihat sang ayah melebarkan bibirnya.
David dan Sari memberi nama Quinza Valeri Osborne pada anak kedua mereka ini. Quinza sudah di aqiqah tepat di tujuh hari setelah hari kelahirannya. Sama seperti Melvin, Quinza pun merayakan aqiqahnya di panti asuhan milik sang nenek yang saat ini tinggal di Inggris.
Elvira hanya bisa berkomunikasi dengan Sari dan David melalui video call. Hampir satu minggu sekali, Elvira menelepon untuk mengetahui perkembangan cucu perempuannya itu.
Sari mengerjapkan matanya dan melihat David terduduk di sampingnya sambil memberikan ASI melalui botol.
Ia menempelkan kepalanya di bahu David yang sedang membelakanginya.
"Hey, kenapa kami bangun? Tidur saja, malam ini biar aku yang menjaganya." Kata David.
"Hoam.. Tapi besok masih hari kerja, nanti kamu ngantuk di kantor."
David mengangkat tangannya dan mengelus kepala Sari yang menempel di bahunya.
"Udah kamu saja yang tidur."
Duuuutt.. Sari kentut.
"Maaf keceplosan, sepertinya aku mules." Sari langsung bangun dan beranjak dari tempat tidur itu.
"Dasar tukang kentut." David menepuk bokong sang istri sebelum Sari pergi ke kamar mandi.
"Aww.. jail." Sari mengerucutkan bibirnya. Sementara David hanya tertawa gemas.
****
"Mas.. Sarapan dulu." Teriak Sari dari arah dapur, sambil menyiapkan makanan untuk Melvin. Sementara Quinza di pegang oleh Nina di ruang keluarga.
__ADS_1
"Iya, Sayang." David berlari menuju dapur. Ia tergesa-gesa karena kesiangan.
"Tuh kan aku bilang semalam aku saja yang bangun. sekarang kamu jadi kesiangan." Kata Sari.
"Tidak, apa. Sayang. hanya terlambat sedikit. Muaach." David mengecup kening Sari.
"Mas sarapan dulu. Paling tidak minum susunya dulu." Sari menyodorkan gelas yang berisi susu putih.
"Sebenarnya aku lebih suka kemasan susu milikmu di banding ini." David menerima gelas itu.
"Ish apa sih, pago-pagi udah mesum. Masih puasa." Ledek Sari dengan penuh suara sensual di akhir kalimatnya.
Lalu dengan cepat David menghabiskan air yang ada di gelas itu. Kemudian, ia menghampiri Sari yang tengah membelakangi kursi makan Melvin.
David melingkarkan tangannya di pinggang Sari dan mencium bibirnya.
"Kalau begitu sementara, sarapanku ini saja."
David kembali ******* bibir Sari yang berwarna merah jambu. Sari pun mengalungkan kedua tangannya di leher David. Pangutan mereka semakin dalam dan lama.
"Bu, dede Quin su.." Perkataan Nina terpotong karena melihat majikannya yang sedang berciuman.
Walaupun ini kesekian kalinya Nina memergoki kemesuman majikannya itu, tetap saja ia canggung melihat hal yang tabu ini. Apalagi, Nina sama sekali belum pernah merasakannya.
Nina pun kembali berjalan ke ruang keluarga dan meninggalkan kedua majikannya yang tak menyadari kehadiran Nina.
"Mmppphh.." David melepaskan pangutan itu, setelah Sari mengerang.
"Mas, aku hampir kehabisan oksigen." Protes Sari karena pangutan suaminya yang tak kunjung usai.
David tertawa. "Abis aku suka."
"Ih kamu." Sari pun tertawa sambil memukul.lengan suaminya.
"Sudah sana berangkat. Hati-hati, Hubby! Semabgat kerjanya ya." Kata Sari dengan senyum yang manis.
David hanya memandangi senyum manis istrinya.
"Dih, kok malah bengong. Sana berangkat!"
"Kamu pake senyum semanis itu sih. Aku jadi enggan pergi dari sini." Kata David.
"Haish.." Sari melemahkan tubuhnya.
David semakin tertawa dan menghampiri Melvin yang masih asyik dengan makanannya. Ia mengceup kening putranya, lalu menghampiri putrinya yang sedang bersama Nina. Ia pun mengecup pipi Quinza.
Sari mengantar David hingga pintu utama. David pun kembali mengecup kening Sari, sebelum pergi. Ia tak henti-hentinya mengulas senyum. Sungguh lengkap sudah kebahagiaannya kini. Hanya satu yang belum ia wujudkan untuk sang istri, yaitu membelikannya sebuah rumah, karena selama ini ia masih tinggal di apartemen, walaupun apartemen itu cukup luas.
__ADS_1