Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
nenek lampir


__ADS_3

Wanita yang mengaku hamil anak David tak kunjung datang. Padahal Sari dan suaminya sudah menunggu hingga larut malam.


Kini Sari dan David berada di kamar mereka. Keduanya tidur dalam satu ranjang. Namun, mood Sari masih antara setengah percaya pada suaminya. Tubuhnya berbaring membelakangi tubuh David.


Posisi berbaring David tetap menghadap punggung sang istri. Ia mengangkat tangannya perlahan, mengelus pundak Sari dari atas hingga pinggang dengan telunjuknya, terus menerus sambil berkata.


"Aku tahu kamu masih belum tidur."


"Sayang.." Panggil David lembut. Namun Sari tak kunjung menjawab.


David selalu memanggil Sari dengan sebutan itu, padahal tak pernah sekalipun ia mengatakan cinta padanya.


"Permatasari Anindya." Panggil David lagi.


Mata Sari terpejam, tapi bibirnya menyungging senyum. Ia tak menjawab panggilan suaminya dari tadi.


David memajukan tubuhnya dan melihat ke arah Sari yang tidur membelakanginya.


"Kamu benar sudah tidur?" Tanya David dengan menongolkan kepalanya di bahu Sari.


Lalu, ia menelusuri leher Sari dan menggigitnya.


"Aww.." Sontak Sari langsung membuka matanya dan menoleh ke arah David.


"Ish apa sih, Mas?" Rengek Sari, sambil memegang lehernya.


David tersenyum merasa tak bersalah.


"Aku tahu kamu belum tidur kan?"


Sari kembali membalikkan tubuhnya. "Nyebelin banget sih."


"Kamu masih marah?" Tanya David.


Kemudian Sari bangun dan membalikkan tubuhnya lagi ke arah David. yang masih berbaring.


"Aku marah karena aku ngga tau masa lalu kamu, keluargamu." Ucap Sari kesal.


"Baiklah. Apa yang ingin kamu tahu? Asking me."


"Berapa banyak kamu melakukan hubungan s*x dengan wanita sebelum aku?"


David mengerdikkan bahunya.


"Tak bisa di hitung."


"Apa?" Sari membulatkan matanya dengan tangan yang sudah bertengger di pinggangnya.


"Di tempatku, itu hal biasa, pria berusia 18 tahun pasti sudah pernah melakukan s*x, karena di usia itu kami sudah mendapatkan pelajaran cara memakai k*nd*m."

__ADS_1


"Oh my good. generasi macam apa itu." Sari mengerucutkan keningnya.


David tersenyum melihat ekspresi polos sang istri.


"Apa tidak takut kena penyakit?" Tanya Sari heran dengan gaya hidup orang luar.


"Aku selalu menggunakan pengaman."


"Berapa kali berhubungan intim dengan wanita itu?" Tanya Sari lagi.


"Wanita mana?" David balik bertanya, pura-pura tidak tahu.


"Wanita yang mengaku hamil anakmu itu lah." Ucap Sari geram.


"Aku belum bertemu orangnya, jadi tidak tahu wanita yang mana."


"Memang ada berapa wanita dalam hidupmu?" Tanya Sari lagi dengan kesal.


Lagi-lagi David mengerdikkan bahunya.


"Berapa ya? tidak ingat." Jawab David santai.


"Berarti wanitamu sebelum aku, banyak jumlahnya, hingga kamu lupa." Ucap Sari gemas.


"Ya ampun, aku menikahi lelaki macam apa ini?" Gumam Sari dengan suara agak keras, sambil menepuk jidatnya.


"Itu hanya having s*x, jika aku melakukannya padamu itu making love." Ucap David.


David menggeleng.


"Having s*x hanya kontak fisik, sedangkan making love itu melakukannya di sertai dengan emosi dan perasaan."


"Jadi kamu mempunyai perasaan padaku?" Tanya Sari pura-pura tak mengerti dengan ucapan David tadi.


David mengangguk.


"Perasaan apa?"


"Mau nya apa?" David balik bertanya.


"Dasar laki-laki tidak peka." Sari memukul dada David.


Lalu, David langsung meraih tangan Sari dan merangkul untuk memeluk tubuhnya, berbaring di dadanya.


"Setelah menyentuhmu pada malam itu, aku tak lagi bisa menyentuh wanita lain." Kata David lirih di telinga Sari.


Kalimat ini sukses membuat pipi Sari merona. Entah ia harus percaya atau tidak atau harus bahagia, karena kata-kata yang di lontarkan David terdengar tulus dan bersungguh-sungguh.


"Tidurlah, ini sudah sangat larut." David memeluk Sari dan mengelus kepalanya, hingga Sari terlelap di dada bidang suaminya.

__ADS_1


David mengecup pucuk kepala Sari.


"Love you."


Ia pun ikut memejamkan matanya. Sementara Sari sudah terbang di alam mimpi.


****


Pagi ini, seperti biasa, David membuatkan Sari susu hamil dengan rasa coklat. Ia juga menyiapkan roti sandwich kesukaan sang istri.


David membawa makanan itu menuju kamarnya.


Ceklek.


Ia melihat Sari yang masih meringkuk. Sari melenguh, saat David membuka tirai jendela, membuat cahaya matahari itu masuk ke dalam kamarnya.


Perlahan Sari membuka matanya. Tiba-tiba bunyi suara aneh di dalam kamar itu.


"Duuuuuuttt.."


"Eh, maaf. keceplosan." Ucap Sari sambil memegang bokongnya.


David tersenyum menahan tawanya, sambil tetap membuka semua tirai di sana. Ia menoleh ke arah Sari.


"Sudah biasa." Katanya.


"Aku berusaha tahan tapi ngga bisa." Ucap Sari manja.


David masih tersenyum dan menghampiri sang istri.


"Ya, jangan di tahan! katamu itu bagus, jadi gas di dalam perutmu sebagian keluar dan tidak lagi kembung."


David mengacak-acak rambut istrinya yang berantakan karena baru bangun tidur.


"Dasar nenek lampir. Ayo habiskan susumu!" Kata David lagi, menyodorkan segelas susu ke arah Sari.


Sari pun menerimanya.


"Kamu tidak kerja?" Tanya Sari, setelah menghabiskan susu itu dan melihat David yang masih berpakaian santai.


David mendekatkan wajahnya pada Sari.


Cup


Ia mel*m* bibir atas Sari. Bibir yang penuh dengan coklat sisa susu yang tadi ia minum. Lalu, David ******* juga bibir bawahnya, membuat pangutan panas di pagi hari.


"Mmpphh.." Sari melenguh dan David melepas pangutan itu.


Ia menghapus sisa salivanya yang menempel di bibir Sari dengan ibu jarinya.

__ADS_1


"Aku menunggu wanita itu datang lagi, karena sepertinya dia tidak sungguh sungguh ingin menemuiku, tapi hanya ingin menemuimu dan menghasutmu." Ucap David tegas.


__ADS_2