Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
Takut kehilangan


__ADS_3

Sari dan Inka tengah asyik berbincang, sementara Sukma menikmati hidangan yang tersedia di sana. Arah mata David yang sedang berbincang bersama Teguh dan Ardi, selalu melirik ke arah Sari dan Inka.


“Sar, waktu itu kenapa menghilang? Aku cari kamu kemana-mana. Aku juga ngga punya alamat rumah ini, karena kamu tulis di CV kantor bukan alamat ini.” Tanya Inka.


"Iya, Miss. Ibu sama bapak baru pindah ke sini tiga tahun yang lalu, jadi KTP aku masih alamat yang lama.” Jawab Sari.


“Miss, ternyata waktu itu di kamar yang Miss sebutkan, tidak ada tante Vivian, tapi yang ada Dia.” Sari menunjukkan arah matanya ke arah David yang memang sedang menatap Sari.


“Terus?” Tanya Inka lagi, seolah tidak menegtahui kejadian pada malam petaka itu. Ia ingin tahu versi Sari sendiri.


“Sepertinya Miss Inka dan tante Vivian mis komunikasi, jadi aku memasuki kamar yang salah, aku malah masuk ke kamar pak David yang sedang mabuk. Kemudian dia memaksa untuk..” Sari tak sanggup melanjutkan perkataannya.


“Tapi sekarang dia bertanggung jawab kan?” Tanya Inka lagi.


Sari mengangguk. “Sangat, bahkan dia sangat perhatian.”


Inka tersenyum. “Terkadang, kita perlu mencicipi rasa pahit untuk bisa merasakan manis.” Ia teringat saat- saat paling buruk bersama Mario.


Sari mengangguk. Ia pun setuju dengan pernyataan Inka, karena ia pun tahu kondisi terpahit mantan bosnya itu dulu.


“Terus gimana? Kak David ganas ngga? Kalau kata kak Rio, mereka sebelas dua belas.” Inka tertawa.


“Iya, ketulah saya, Miss. Padahal dulu kalau lagi ngeliat mesumnya Pak Rio ke Miss Inka, aku sebel banget. Sumpah sebel banget, eh sekarang malah dapet suami yang mesumnya seperti itu.” Sari menepuk jidatnya.


“Syukurin.” Ledek Inka dengan penuh tawa.


“Tapi suka kan?” Tanya Inka lagi sambil tersenyum.


Sari tertawa. "Iya ya, tapi kenapa malah suka ya di mesumin gitu?”


Kemudian, mereka tertawa lagi.


“Tuh, bekas merahnya masih keliatan. Tukang gigit juga?” Tangan Inka memegang bagian leher Sari yang tertutup oleh rambutnya.


“Ih, Miss. Udah di tutupin sama make up dan rambut. Emang masih keliatan?” Tanya Sari malu.


“Yah, aku kan pakarnya, jadi tau dong walaupun udah di samarkan.”

__ADS_1


Keduanya, kembali tergelak.


Tiba-tiba Sukma menghampiri kedua wanita yang memiliki suami dengan kegilaan yang sama.


“Ngomongin apa sih? Seru bangat.” Tanya Sukma.


“Entar juga kamu ngerti, Suk.” Jawab Inka.


“Ciye, yang mau nikah sama konglometar Dubai. Ati-ati yang brewok lebih ganas.” Celetuk Sari.


“Ganas apa sih?” Tanya Sukma bingung.


“Udah makan lagi sana.” Kata Inka sambi meminta Sukma mengambil makanan untuknya.


Inka dan Sari masih tertawa.


Di seberang sana, David justru sedang ketar ketir, hatinya dag dig dug khawatir dengan apa yang di perbincangkan kedua wanita di masa lalu dan masa kininya.


“Ar, aku ke kamar dulu.” Kata David. Ia ingin menenangkan diri di sana.


Elvira masih bersama Ratih, hingga semua tamu pulang satu persatu.


“Terima kasih ya, Miss.” Sari dan Inka berpelukan.


“Bahagia selalu ya, Sar.” Sambung Inka.


“Terima kasih.” Ucap sari Lagi.


Inka dan Sukma bersalaman denga seluruh anggota keluarga Sari, kecuali David yang sedang beristirahat di kamar.


“Daah.. hati-hati.” Sari dan keluarganya melambaikan tangan ke arah Inka dan mengantarnya hingga mobil.


Inka pun membalas lambaian tangan itu, hingga masuk ke mobil.


Di dalam mobil Inka baru menyadari ternyata selama ini Sari tidak tahu kronologis cerita sebenarnya pada kejadian malam petaka itu. Sari pun tidak tahu berita Vivian yang telah di jebloskan ke penjara oleh Mario, walaupun tidak lama, karena atas permintaan Inka, Mario menarik tuntutannya kebali. Sementara David tidak jadi di perkarakan oleh Mario, karena perubahan sahabatnya itu yang mau bertanggung jawab pada Sari dengan sungguh-sungguh hingga sekarang.


Acara tujuh bulanan itu, selesai tepat sebelum maghrib tiba. Sari pamit kepada orang tuanya dan Elvira untuk menemui David di kamarnya.

__ADS_1


Ceklek.


Ia melihat David yang sedang berbaring dan menghampirinya. Ia mendekati wajah David dan menyentuh kepalanya.


“Masih Pusing?” Tanya Sari lembut.


David bangkit dan mengelus wajah Sari, hingga wajah mereka tak berjarak.


“Apa yang kamu dan Inka bicarakan tadi? Kelihatannya serius hingga lupa dengan kehadiranku di sini.” Tanya David pura-pura mengeluh.


“Maaf.” Sari tertawa. Ia ingat lagi percakapannya dengan Inka tadi.


“Apa? Hmm..” David memainkan hidung Sari dengan hidungnya.


“Tidak ada. Miss Inka hanya bilang kamu dan Pak Rio sebelas dua belas. Sama-sama mesum dan tukang gigit.” Sari tertawa.


Jawaban Sari, sontak membuat David mengembangkan senyum. Ternyata Inka memang wanita baik. Mulai saat ini, ia tak lagi khawatir karena sahabat yang ia miliki benar-benar seperti saudara. Walau ia telah melakukan kesalahan, tapi Mario dan Inka tak membalasnya.


David tersenyum dan mengelus lagi wajah Sari.


“Mau aku gigit sekarang?” Tanya David dengan wajah mesumnya.


Sari menggeleng dan langsung menjauhkan wajahnya.


“Di luar ada mommy El. Ayo kita keluar.” Sari menarik lengan David.


“Aku di sini saja.”


“Ih, kenapa kamu jadi malas begini? Biasanya tidak.” Rengek Sari.


“Aku malas bertemu dengan yang lain, aku hanya ingin berduaan denganmu.”


Sari memicingkan matanya.


“Bagaimana kalau kita tinggal di London? Kita memulai hidup baru berdua di sana, hanya berdua. Wait, bertiga dengan calon anak kita.” David memajukan wajahnya dan memeluk perut Sari.


“Selesaikan dulu urusanmu dengan Mommy. Setelah itu, tereserah kamu membawaku kemana, aku akan ikut.” Sari mengelus kepala David yang sedang memeluk perutnya.

__ADS_1


Ia melihat sisi berbeda dari suaminya. David yang tengah di selimuti rasa takut akan kehilangan Sari, membuatnya seperti anak kecil saat ini. david begitu manja, padahal biasanya Sari yang selalu manja padanya.


David menenggakkan kepalanya dan tersenyum.


__ADS_2