Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
memiliki lima anak


__ADS_3

David dan Sari berpamitan kepada Ratih dan Teguh. mereka sudah siap untuk berangkat kembali ke Jakarta. Sudah dua hari, Melvin di tinggal dan hanya di asuh oleh Elvira dan Nina. Teguh kembali memeluk Menantu laki-laki satu-satunya itu, begitu pun Ratih.


“Nak, kamu harus sabar ya ngadepin Sari. Anak ini walaupun anak pertama tapi manjanya ngga ketulungan, mau menang senndiri, terus cerobohnya juga. Pokoknya kamu harus sabar menghadapi Sari ya.” Kata Ratih.


“Emang iya, aku segitu jeleknya, Bu.” Sari memonyongkan bibirnya.


David tersenyum melihat ekspresi kesal sang istri di sampingnya. Ia terus merangkul pundak Sari.


“Suami istri itu saling melengkapi. Berbahagialah kalian.” Sambung Teguh.


David mengangguk. “Terima kasih Ayah Ibu. Kami pamit.”


“Daah Ayah.” Sari mencium seluruh wajah Teguh. lalu bergantian mencium seluruh wajah Ratih.


“Daah, Ibu. Sehat-sehat ya, ayah dan Ibu di sini.”


Teguh dan Ratih mengangguk.


“Oh iya, hampir saja ibu lupa.” Ratih segera ke dalam rumah dan berlari lagi keluar.


“Ini, Ibu buatkan Nak David syal, supaya kalau lembur atau kemalaman bekerja, tidak kedinginan.” Ucap Ratih lagi, sambil menyerahkan syal berbahan wol berwarna abu-abu tua.


“Wah, terima kasih Bu.” David menerima benda itu dengan senyum yang lebar.


Sari menyilangkan kedua tangannya di dada.


“Kok mas David doank sih yang ibu bikinin ini, Sari ngga? Ibu pilih kasih, sebenarnya anak ibu itu Sari apa dia?”


David tertawa.


“Ya, kalian berdua anak Ibu.” Ratih mencium kening David dan Sari.


“Sudah tidak usah cemburu, sana pulang.” Teguh mengacak-acak rambut putrinya, sambil tertawa.


Sari masih memonyongkan bibirnya. David meraih bahu dan kepala Sari untuk mengikuti langkahnya dan masuk ke dalam mobil.


Mereka pun melambaikan tangannya, saat mobil yang di bawa supir sewaan Malik melaju. Teguh merangkul Ratih, sambil membalas lambaian tangan itu.


“Seneng ya, udah ambil hati ibu dan ayah.” Ucap Sari yang melihat David tak berhenti mengulas senyum di dalam mobil.


“Aku juga sudah ambil hati putrinya, jadi tidak sulit mengambil hati orang tuanya.” Jawab David, yang kembai merengkuh tubuh Sari dari samping.


Sari ikut tertawa. Kecemburuannya hanya iseng saja, padahal ia merasa senang bahwa David bisa mengambil hati kedua orang tuanya. Ia sedikit membandingkan ketika bersama Rama dulu, Rama tidak bisa sedekat ini dengan keluarganya.


Sari memalingkan wajahnya ke arah jendela, sambil tersenyum. Dan, David melihat senyum itu.


“Kenapa?” Tanya David, dengan tubuh sari yang masih menempel di dadanya.


Sari menggeleng. “Tidak apa-apa.”


“Ayo, kamu mikir apa?”


“Mau tau aja.”


“Iya, aku mau tau semua tentang kamu dan semua yang ada di pikiranmu.”


“Beneran mau tau?” Tanya Sari tersenyum, sambil menggeserkan tubuhnya untuk menatap wajah suaminya.


David mengangguk.


“Hah, takdir memang aneh, padahal aku dulu mati-matian menghindari pria yang usianya jauh lebih tua. Eh, sekarang, aku malah dapat suami om-om juga.”


Dulu, sejak Sari duduk di bangku SMP. Sari pernah di sukai oleh tetangga yang rumahnya tak jauh darinya. Usia pria itu lebih tua sedikit dari David. Pria itu berbeda 12 tahun lebih tua dari Sari. Setiap hari, pria itu tak lelah mengejar Sari, bahkan menunggu Sari saat berangkat sekolah dan sudah berdiri di depan gerbang sekolah Sari untuk menjemputnya saat pulang. Namun, Sari tidak pernah pulang tepat waktu untuk menghindari pria itu agar pergi lebih dulu. Hingga, Sari lulus SMA, pria itu meminta Sari pada Teguh. Namun, Sari menolak dan untungnya ia di terima di Universitas Jakarta. Sehigga, mereka pun tak lagi bertemu, dan kini pria itu bersama keluarganya pindah ke Kalimantan. (Cerita masa lalu Sari sekilas dan tidak ada hubungannya di masa depan)

__ADS_1


David mengeryitkan dahinya.


“Kalau aku om-om ganteng.”


Sari mencibir. “Hmm.. lebih tepatnya om-om mesum.”


Mereka pun tertawa. Tak lama kemudian, mereka sampai di bandara. Mereka berjalan beriringan. David tak lepas menggenggam tangan Sari saat berjalan.


“Sayang, kita naik jet pribadiku.” David menunjuk arah pesawat yang akan mereka naiki.


“Oh, pantas arahnya tidak seperti menuju pesawat biasa.”


“Supaya lebih cepat.” Jawab David.


“Tapi ini pemborosan.”


David tersenyum dan menuntun istrinya untuk menaiki jet itu. Sejenak Sari terkesima dengan design di dalamnya.


“Wah ini pasti mahal.” Kata Sari.


“Tidak ada yang mahal jika itu untukmu dan anak-anak kita.”


“Anak-anak kita?’ Tanya Sari mendengar perkataan suaminya yang ambigu.


David mengangguk.


“Kalau kamu menyebut anak-anak berarti anak kita akan lebih dari satu. Berarti kita kan memiliki dua anak.”


“No.” David menggeleng, sambil mengajak Sari duduk.


“Berapa?” Tanya Sari lagi.


Keduanya sudah duduk berdampingan.


“What?” Sari terkejut.


“Ayah juga mendoakan seperti itu.”


“Tidak, tidak. Kamu kira aku kucing.”


David tertawa. “Memang mirip.”


“Mirip apa?”


“Kucing. Lucu, imut dan menggemaskan.” David mencubit pipi Sari.


“Hmm...” Rengek Sari, membayangkan memiliki lima anak.


****


Setelah menempuh satu jam di atas awan dan dua jam di daratan. Mereka pun sampai di apartemen.


“Capek?” Tanya David pada Sari yang masih di peluknya saat mereka menunggu lift untuk naik menuju apartemennya.


“Oh, ya ampun.” Sari menepuk jidatnya.


“Ada apa?”


David mengajak Sari untuk memasuki lift saat lift itu sudah terbuka.


“Berkas aku ketinggalan.”


“Berkas apa?” Tanya David pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


“Aku kan pulang untuk mengambil berkas-berkas itu.”


David melepaskan pelukannya. “Kamu akan tetap ke Paris?”


“Jadi ngga ya? Tapi itu mimpiku.” Jawab Sari yang hanya ingin mengerjai David dan melihat sejauh mana suaminya bisa menahan emosi.


David tak lagi memeluk Sari. Aura wajahnya dingin.


“Hey, kenapa?” Sari meraih tangan David yang keluar lebih dulu dari dalam lift.


“Aku kira saat ini, Aku dan Melvin adalah mimpimu. Kami tujuan hidupmu, sama sepertiku yang menempatkanmu serta anak-anak kita sebagai mimpi dan tujuan hidupku.” Ucap David lirih sambil terus berjalan.


“Hey.” Sari menarik lengan David dari belakang.


David menoleh


Cup


Sari ******* bibir suaminya. David pun langsung membalas ciuman itu, tangan kirinya memeluk pinggang Sari dan tangan kanannya memegang tengkuk Sari. Mereka berciuman dengan durasi yang cukup lama, hingga terdengar suara kecapan berkali-kali.


David dan Sari berciuman persis di depan pintu apartemen tetangganya.


Ceklek


Pintu apartemen tetangganya itu pun terbuka, melihat pemandangan dua sejoli yang sedang berciuman panas.


“Ekhem.” Suara deheman itu terdengar jelas.


“Mphh..” Sari melepas pangutan itu.


“Maaf pak.” Sari tersenyum ke arah pria tua yang memakai tongkat untuk berjalan.


David pun sedikit membungkuk ke arah pria tua itu. Sedangkan pria tua itu hanya membalas dengan gelengan kepala.


“Dasar anak muda zaman sekarang, tidak lihat tempat.” Gerutu pria tua itu yang terdengar jelas oleh David dan Sari saat ia melewatinya.


David dan Sari hanya tertawa. Kemudian, David memeluk tubuh Sari untuk kembali berjalan.


“Gara-gara kamu.” Sari memukul pelan dada suaminya.


“Loh, kamu kan yang cium aku duluan.” Sanggah David yang terus mengembangkan senyum.


“Tapi, kamu yang ngambek duluan.”


“Jadi? Begitu caramu menghilangkan marahku? Baiklah aku ngambek lagi saja.” Ucap David tersenyum sambil menekan tombol yang menempel di gagang pintu apartemennya.


Bip. Pintu itu terbuka.


“Itu sih, mau mu.” Sari memukul pelan lengan David sambil tertawa.


Mereka pun masuk ke dalam apartemen itu dan terlihat Melvin sedang berada dalam gendongan Elvira.


“Anak mama..” Sari langsung menghampiri Melvin dan mengambilnya dari tangan Elvira.


“Melvin ngga rewel kan, Mom?” Tanya Sari yang terus menciumi pipi bulat Melvin.


Elvira menggeleng. “Sama sekali tidak. Mommy mengurus Melvin seperti dejavu. Ingat ketika mengurusmu.”


Elvira menatap David dan David pun memeluk sang ibu dari samping.


“Memang ya, kamu anak papa banget. Asal nanti kalau sudah besar jangan bandel seperti papamu, jangan mainin perempuan, jangan cepet marah, dan jangan mesum. Ya..” Sari mengangkat putranya dan berkata seolah Melvin mengerti maksud sang ibu.


Bayi tampan itu pun tertawa ke arah Sari, menampilkan dua gigi putih di atas yang baru saja tumbuh. Begitu pula Elvira yang tertawa mendengar penuturan menantunya. Sedangkan, David hanya tersenyum sambil menggaruk dagunya yang di penuhi bulu-bulu halus.

__ADS_1


__ADS_2