Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
hamil lagi


__ADS_3

Hari ini Sari dan David benar-benar seperti pasangan yang tengah honeymoon. Mereka seharian di tinggal berdua di rumah sebesar ini oleh keluarganya.


Sedangkan David, jangan di tanya. Ia sangat senang dengan kondisi ini. Sari terus berada dalam pelukannya. Ia merasa hari ini, ada yang sedikit berbeda dengan sang istri. Sari agak lebih agresif, ketika berhubungan. Namun, ia sangat menyukainya, ia menyukai ke agresifan istrinya di ranjang dan itu membuatnya semakin tergoda dan menginginkannya lagi.


“Mas, mereka kapan pulang? Ini sudah hampir gelap.” Tanya Sari pada suaminya yang sedang memeluk tubuhnya yang polos.


Di sini, matahari lebih lama bersinar di banding tenggelam. Jika di Indonesia pukul enam sore sudah petang dan matahari mulai tenggelam, berbeda dengan tempat ini. Di kampung halaman David ini, waktu Ashar menunjukkan pukul lima sore, sedangkan Maghrib menunjukkan pukul sembilan malam.


“Mungkin sebentar lagi.” Jawab David, dengan tangan yang terus mengelus bahu polos istrinya.


“Hoek..” Tiba-tiba perut Sari terasa mual.


Sari dengan cepat, bangkit dan melepaskan diri dari pelukan suaminya. David pun ikut bangkit dan memeluk bahu istrinya.


“Kamu kenapa? Masih pusing? Apa masih jetleg?” Tanya David bertubi-tubi.


Sari menggeleng.


“Ngga tau, ini kenapa ya?”


“Aku panggil dokter ya.” David segera turun dari tempat tidur.


Namun, Sari mencekal lengan suaminya.


“Tidak perlu. Nanti saja.”


“Sayang, aku tidak mau kamu kenapa-napa.”


“Iya, aku ga apa-apa kok. Mungkin masuk angin aja.” Sanggah Sari, agar suaminya tidak khawatir berlebihan.


“Apa kamu hamil?” Tanya David.


Ia kembali mendekati sang istri dan menggelayutkan kepalanya di bahu Sari.


“Apa iya, ya?” Gumam Sari yang terdengar jelas oleh suaminya.


“Ya ampun. Jangan-jangan iya.” Sari dengan cepat menggerakkan bahunya untuk berhadapan dengan wajah suaminya, membuat David sedikit terhuyung.


“Mas. Bagaimana ini?”


“Bagaimana apanya?” David balik bertanya.


“Hmm.. Melvin baru memasuki usia sembilan bulan, masa sudah mau punya adik. Kamu sih selalu tidak mau kalau aku suruh pakai pengaman.” Rengek Sari.


“Tidak enak, Sayang. lebih enak langsung. Lagi pula katanya kamu juga sudah siap untuk hamil lagi kan?”


Sari menggeleng.


“Sekarang aku jadi takut.”

__ADS_1


“Hey, kenapa takut? Ada aku. Tidak apa, Sayang. Aku akan selalu ada untuk membantumu mengurus anak-anak kita nanti. Janji.” David menjulurkan jari kelingkingnya.


Sari ikut mengangkat jari kelingkingnya dan di satukan pada jari David. Memang sebelumnya, David sudah membuktikan ucapannya itu. Semasa Melvin di dalam kandungan hingga anak itu lahir, David selalu ada untuk membantu dan menjaganya.


“Hmm.. Tapi sakitnya masih terasa. Kamu kan tidak merasakan.” Sari merengek lagi.


“Kamu harus tanggung jawab.” Sari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


David tertawa. Ia membuka telapak tangan Sari yang menutupi wajahnya.


“Memang selama ini, aku tidak bertanggung jawab. Hmm..” David mengusap anak rambut yang menutupi wajah Sari dan menyelipkannya di belakang telinga Sari.


“Aku takut operasi lagi saat melahirkan nanti.”


“Aku akan cari treatment yang membuatmu tidak terlalu kesakitan ketika melahirkan.” Jawab David menenangkan.


“Memang ada?”


“Ada. Di sini ada. Kalau perlu kamu melahirkan di sini. Teman-temanku banyak yang menjadi dokter di sini.”


“Jauh.”


“Dasar manja.” David menarik ujung hidung Sari dan memeluknya.


Sari tersenyum, sambil melingkarkan tangannya di pinggang David dan merebahkan kepalanya di dada bidang itu.


Ia sungguh tak menyangka akan secepat ini untuk hamil kembali, padahal menurut konsultasinya pada dokter yang menangani treatment ASI ekslusif, seorang ibu yang sedang dalam masa memberikan ASI ekslusif itu sama saja sebagai KB alami, sehingga ia merasa aman-aman saja pada saat sang suami tak mau menggunakan pengamannya ketika berhubungan.


Ia menengadahkan kepala untuk melihat wajah suaminya dengan intens.


“Hmm..” David menatap mata istrinya.


Sari tersenyum.


“Aku cinta kamu.”


David pun tersenyum lebar.


“Aku juga.” David sekilas mengecup bibir istrinya. Lalu menggendong Sari.


“Kita mandi sebelum semuanya pulang.”


Sari mengangguk.


****


Keesokan paginya. Sari tengah mengaduk-aduk susu formula untuk Melvin.


“Sar, kok Ibu lihat kamu sudah tak lagi menyusui Melvin. Dia baru sembilan bulan, sudah di kasih sufor.” Ratih menegur putrinya.

__ADS_1


“ASI Sari semakin sedikit, Bu.”


Ratih terdiam. Lalu, Sari pamit dan berlalu dari hadapan ibunya. Ia menghampiri Melvin yang tengah berada dalam gendongan sang ayah.


“Nah, itu dia mama. Mamam dulu sama mama ya.” Ucap Teguh yang sedang berdiri di taman belakang yang tak jauh dari arah dapur.


Pagi ini, David izin meninggalkan Sari untuk pergi bersama Sam dan George mengunjungi pabrik warisan dari ayahnya. Mumpung, ia sedang berada di sini. ia tak menyia-nyiakan waktu untuk sekalian meninjau perusahaan ayahnya itu.


“Yah, Masa si Sari sudah tidak memberi Melvin ASI.” Ucap ratih mengadu pada suaminya.


“Loh, Ayah kira botol ini isinya ASI kamu, Sar.” Kata Teguh, sambil memegang botol susu yang sudah Melvin pegang sendiri.


Melvin tertawa ke arah sang kakek sambil mengemut ****** botol susu itu di mulutnya.


“Ngga tau Yah, ASI Sari semakin kering.”


“Kamu KB?” Tanya Ratih.


Sari langsung menggeleng.


“Hmm.. Apa kamu hamil lagi?” Tanya Teguh.


“Kok Ayah tahu.” Sahut Sari.


“Lah wong, dulu ibumu itu manja banget, jadi Ayah selalu siaga mengurus kalian. Ayah tahu betul, ciri-ciri wanita hamil.” Jawab Teguh, membuat Sari semakin bergelayutan pada pundak sang ayah.


“Ya, namanya wanita hamil itu pasti manja Ayah. melahirkan itu sakit tau, jadi memang para suami harus bertanggung jawab, membantu istrinya, dan membuat istrinya senyaman mungkin.” Sanggah Ratih pada suaminya.


“Tunggu, Jadi kamu sekarang hamil lagi, Sar? Ya ampun, Melvin belum genap satu tahun sudah melendung lagi. Piye toh, Sar.” Kata Ratih lagi.


Sari hanya nyengir, menanggapi protes ibunya.


“Ya, mau gimana lagi bu.”


Sementara teguh hanya tertawa. Ia tidak kaget dengan berita ini.


“Ya wis, Bu. Ada suaminya ini. biarin aja Sari hamil lagi, emang kenapa?”


“Ya ndak apa pak. Ibu cuma kasihan saja sama Melvin dan sama Sari nya juga nanti yang akan kerepotan ngurus anak kecil-kecil.”


“Awas Sari, kamu harus tetap jaga penampilan. Jangan mentang-mentang repot ngurus anak, terus penampilan jadi kucel. Nanti Nak David ilfil lihat kamu.” Ujar sang ibu.


“Emang Ilfil itu apa, Bu?” Tanya teguh meledek.


Sari tak henti-hentinya mengulas senyum. Ibunya tidak tahu, bahwa Sari saat ini sudah jadi milyarder, semua harta David adalah miliknya yang sudah di sahkan resmi di atas materai dan di hadapan notaris langsung. Pastinya Sari tidak akan repot mengurus anak-anaknya sendiri, karena ia akan dengan mudah menyewa pengasuh bayi berapapun yang ia mau.


“Ilfil itu apa, Nduk? Ardi itu suka nyebut begitu kalau lihat perempuan yang tidak dia suka.” Tanya Ratih pada Sari.


Sari dan teguh tertawa.

__ADS_1


“Ibu.. Ibu.. Sok tau banget sih.” Kata Sari.


__ADS_2