Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
fakta baru lagi


__ADS_3

Sari menunggu Ardi yang tak kunjung kembali dari minimarket. Akhirnya, ia bangkit dari duduknya dan berjalan gontai menemui adiknya di sana.


Ia melihat Ardi yang masih mengantri di kasir.


“Ar, lama banget sih.” Keluh Sari, saat sudah berada di dekat Ardi.


“Aku sedih ini dulu, mba. Laper.” Ia menunjukkan cup mie instan yang sudah di seduh dan siap makan.


“Ya ampun, dasar beruang. Bawaannya lapar terus.” Ucap Sari yang hanya di balas cengiran sang adik.


Ardi dan Sari sampai di depan kasir. Ardi repot mengeluarkan dompet di sakunya, karena kedua tangannya penuh membawa makanan dan minuman, hingga akhirnya Sari yang merogoh saku celana sang adik dan mengambil dompetnya. Sari melihat isi dompet itu.


“Uangmu banyak.” Sari mengeryitkan dahinya ke arah Ardi.


Tiba-tiba si kasir berkata, “Mba, Mas, ini ada produk baru, lebih enak dan ada rasanya.” Petugas kasir yang berjenis kelamin perempuan itu menunjukkan k*nd*m pada Sari dan Ardi.


Sari dan Ardi saling bertatapan.


“Ini rokok mba>’ Tanya Ardi polos, sambil mencoba menerima kotak merah yang bergambar pasangan perempuan dan wanita.


Plak. Sari menepak tangan sanga dik agar tak mengambil benda itu.


“Bukan Pak, Ini bukan rokok tapi k*nd*m.”


Sari tertawa, karena si mba kasir itu berpikir Sari dan Ardi adalah pasangan suami istri, mengingat saat ini Ardi tengah bersama wanita yang sedang hamil besar.


Ardi mengeryitkan dahinya.


“Ini bukan suami saya mba, ini tuh adik saya.” Kata Sari ada wanita kasir itu, membuat wanita itu tersipu malu karena telah menawarkan produk ke salah orang.


“Oh, Maaf mba, mas.” Ucap wanita kasir itu dan melanjutkan tugasnya.


Sari pun langsung membayar.


“Memang tampang saya setua itu ya, Mba?” Tanya Ardi.


Wanita kasir itu nyengir. “Maaf, Mas.”


Sari masih tertawa melihat ekspresi Ardi yang masih mengerucutkan bibirnya.


“Ah ngga enak nih, jalan sama ibu hamil. Pantesan dari tadi ngga ada cewek yang ngelirik Ardi di sini.” Keluh sang adik.


“Ih, mau banget di godain cewek.”


“Ya kan, dari tadi yang lewat ceweknya cakep-cakep.”


Sari tertawa lagi. Untung saja ada Ardi, rasa sedih yang tadi ia rasakan sedikit menghilang.


****


Di London, David berusaha menyelesaikan urusannya. Tangan Samuel pun semakin membaik.


Ceklek


David membuka pintu ruangan sang adik di kantor.


“Ups, sorry.” Katanya saat, melihat sang adik sedang bercumbu di kursi kebesarannya dengans eorang wanita.


Lalu, aktifitas mereka terhenti saat David tetap masuk ke dalam ruangan itu.


“Ketuk dulu sebelum masuk.’ Ucap Mattew, sang adik.


David tidak menghiraukan perkataannya. Ia tetap duduk di depan Mattew dan melempar berkas di mejanya.


“Tanda tangan.” Kata David dingin.

__ADS_1


Keduanya berkata dalam bahasa Inggris.


Lalu, wanita yang berada di pangkuan Mattew berdiri.


“Sayang, pulanglah, setelah ini aku akan kerumahmu.” Ucap Mattew, sambil memberi kecupan di tangan wanita itu sebelum pergi.


David melihat ke arah wanita itu dan wanita itu pun menagkap tatapan David dan langsung mengedipkan matanya. David tetap menampilkan wajah dingin tanpa senyum.


“Kelola perusahaan ini dengan benar, karena besok aku akan pulang.” Kata David.


“Pulang? Memang di sini bukan rumahmu?” Tanya Mattew yang selengeyan.


David menatap Mattew seperti dirinya dulu. Wajah Mattew hampir mirip dengan David, sikapnya pun sama seperti David muda, ketika ia masih di usia kepala dua.


“Aku pernah menjadi seperti itu, itu sangat melelahkan. Bersenag-senang tapi hampa.” Ucap david idngin dengan tatapan tajam.


Sontak Mattew terdiam, karena apa di ucapkan sang kakak itu benar. Ia selalu bersenang-senang, pesta, dan menghamburkan uang sang. Namun, hatinya tak mendapatkan kebahagiaan.


“Tempat pulangku bukan di sini, karena di sana aku punya anak dan istri. Jadi urus peningglahan Daddy dengan baik di sini.” Kata David, lalu meninggalkan sang adik yang masih terdiam di kursinya.


Diam-diam, sang adik mencari tahu, apa yang kakaknya lakukan di Indonesia. ia juga mencari tahu siapa istri sang kakak. Ia penasaran wanita yang bisa membuat kakaknya berubah, karena ia tahu persis bahwa sang kakak tak ubahnya seperti dirinya.


Keesokan harinya, David berkemas dan segera berangkat menuju rumahnya. Sungguh ia sangat merindukan istrinya.


“Son, kapan kamu akan membawa istrimu ke sini?” Tanya Samuel.


David tersenyum. “Secepatnya, Uncle. Aku akan memperkenalkan padamu dan Nancy.”


“Apa dia se baik mommy mu?” Tanya Sam lagi.


David mengangguk.


“Dia sangat baik, dan selalu membuatku tertawa.” Jawab David sambil mengulas senyum.


Lalu, David pun ikut tertawa. Kemudian, mereka pun berpelukan.


“Aku senang melihatmu bahagia, Dav. Sana.. pulanglah.” Ucap Sam lagi, sambil menepuk bahu keponakannya.


****


Di saat yang sama. Sari berada di apartemennya. Ia lebih banyak diam, sejak bertemu Bianca. Ia menjadi tidak semangat beraktifitas.


“Mba, ayo donk katanya mau temenin aku jalan-jalan.” Rengek Ardi.


“Males, Ar. Mba masih capek.”


Keduanya masih duduk di ruang televisi.


“Ardi memeperhatikan Nina yang sedang memebrsihkan lantai.”


Plak. Sari memukul pelan pipi sang adik.


“Jaga matamu! Dari kemarin liatin Nina terus.” Ucap Sari ketus.


“Apaan sih, mba. Siapa yang ngeliatin dia terus. Ngga sengaja pandangan Ardi ke arah sana.” Ardi mennunjuk matanya ke arah Nina.


“Halah, alasan.”


“Kalau sore,dia kemana mba? Kok ngga ada.” Tanya Ardi pada sang kakak.


“Mau tau aja apa mau tau banget?” Ledek Sari.


“Au ah, ngga jadi Tanya.” Ujar Ardi kesal dan menatap kembali teelvisi di depanya.


“Nina, Ardi tanya, kamu kemana kalau sore. Ardi minta di temani jalan-jalan.” Teriak Sari pada Nina yang sedang membersihkan lantai.

__ADS_1


Nina menoleh dan mendekati manjikannya.


“Kalau sore saya sekolah, Den. Tapi kalau mau saya antar jalan-jalan besok ya Den, nanti saya zin dulu.” Jawab Nina dengan senyum manisnya.


“Mba, kok dari tadi dia manggil aku Den, emangnya namaku Raden.”


Sontak Sari tertawa.


“Nin, panggil Ardi dengan sebutan Mas aja, jangan Den.” Ucap Sari, sementara Ardi pura-pura cool dan cuek, sambil memakan makanan ringan di tangannya dengan tatapan yang masih pada televisi di depannya.


“Tuh, besok di temani Nina jalan-jalan.” Kata Sari lagi.


Ardi hanya mengangguk dengan tatapan yang masih menuju televisi.


“Ya udah, makasih Nina.” Kata Sari.


Nina mengangguk. “Iya bu.” Lalu pergi dan melanjutkan kembali aktifitasnya.


Sari bangkit dan hendak keluar dari apartemennya.


“Mau kemana, Mba?’


“Ke basement, parfum mba ada yang tertinggal di mobil mas David.” Jawab Sari.


Ia rindu menggunakan parfum itu. Parfum yang di berikan David beberapa bulan lalu. Namun, tertinggal saat ia akan pergi ke Malang.


“Perlu Ardi antar?”


Sari tersenyum sambil melangkahkan kakinya ke pintu.


“Ke basement bawah doank aja di antar.” Kata Sari mencibir.


Ceklek.


Sari membuka dan menutup kembali pintu apartemennya. Kemudian, ia berjalan menuju lift, tapi matanya melihat sosok pria yang sangat ia kenal sedang menutup pintu apartemennya dengan menunduk.


Perlahan, langkah Sari semakin dekat dengan pria itu.


“Mas Rama..” Panggil Sari.


Rama yang masih menunduk untuk mengunci pintu apartemen deng meneman key nya pun menoleh.


“Eh Sari, sudah lama tidak melihatmu.” Rama tersenyum ke arah Sari.


Sari mengeryitkan dahinya.


“Mas Rama, Tinggal di apartemen ini?” Tanya Sari bingung.


Rama mengangguk.


“Sudah berapa lama?”


“Hampir tiga bulan.”


“Oya, jadi kita tetanggaan?”


Rama mengangguk.


“Ternyata dunia tidak selebar daun kelor.” Kata Sari, sambil menggelengkan kepalanya mengetahui satu fakta baru ini.


Lalu, Sari kembali melangkahkan kakinya dan mereka pun berjalan beriringan menuju lift.


“Bukan, bukan dunia tidak selebar daun kelor. Tapi aku yang tidak bisa jauh darimu.” Kata Rama dalam hati, sambil menatap wanita yang ia rindukan.


Namun Sari tak sedang menatapnya. Pandangan Sari lurus ke depan dan sibuk melihat angka lift yang sedang berjalan.

__ADS_1


__ADS_2