
Tidak terasa Sari dan keluarganya sudah berada di negara ini selama sepuluh hari. Mereka sudah berjalan keliling-keliling kota besar ini. Bahkan, ke tempat-tempat wisata terkenal di tempat ini. tidak lupa, Ardi mendokumentasikan setiap perjalanan mereka.
Semalam, Mat pun menginap di rumah besar keluarga Osborne, karena ia ikut bersama David dan keluarganya berjalan-jalan hingga tengah malam.
Ia bangun, lalu membuka jendela kamar. Matanya berkeliling menikmati matahari yang bersinar dan hamparan bunga serta rumput yang tertata rapih di halaman belakang rumah itu. Halaman belakang yang luas seperti sebuah taman.
Kemudian, mata Mat terdiam lama pada sosok wanita muda yang sedang menyuapi bayi berusia sembilan bulan. Mat tersenyum sambil bersidekap memegangi dagunya. Ia melihat senyum yang tulus dari seorang pengasuh. Melvin yang tengah duduk di stroler itu pun tertawa bersama pengasuhnya sambil menikmati sarapan pagi.
Mat bergegas memakai pakaiannya. Ia ingin menghampiri gadis di taman itu. Sesampainya di taman, ia menghampiri Nina.
“Hai.” Sapa Mat.
Nina langsung menoleh dan tersenyum. “Hai.”
Kedua nya terdiam. Mat pun bingung ingin berkata apa, karena mereka sama-sama tidak mengerti dengan bahasa masing-masing.
“Kamu sudah makan?” Tanya Mat dengan bahasa Inggris.
“Hmm..” Nina memasang wajah tak mengerti, hingga akhirnya Mat menggunakan bahasa tubuh.
Mat mengangkat tangan dan menyuapi ke mulut, memeragakan cara makan.
Nina menggeleng, karena memang dia belum sarapan. Lalu, Nina pun balik bertanya dengan menggunakan bahasa tubuh juga.
Mat menggeleng.
“Cofee?” Nina menawarkan akan membuat kopi untuk Mat dengan mengangkat gelas Melvin.
“Hmm... Kamu mau membuatkanku kopi?” Tanya Mat dengan gerakan tangan dan bibir yang slow motion.
Keduanya tertawa, karena mereka seperti orang bisu.
“Oke, aku buatkan kopi. Titip Melvin.” Kata Nina dengan bahasanya, meninggalkan Melvin yang telah menghabiskan makanannya bersama sang paman.
Mat hanya mengangguk, walau tak mengerti apa yang di katakan Nina. Ia hanya tau Nina akan membuatkannya kopi. Ia bertekad setelah ini, ia akan belajar bahasa Indonesia.
Tak lama kemudian, Nina membawa secangkir kopi ke taman itu. Mat tersenyum melihat Nina yang terus berjalan mendekat ke arahnya, sambil membawakan secangkir kopi untuknya.
“Ini.” Nina menyerahkan cangkir itu dengan senyum yang manis.
“Thank you.”
Nina mengangguk.
Mereka kembali terdiam. Mat bingung bagaimana memulai pembicaraan, begitu pun Nina. Hingga Akhirnya, Sari datang menghampiri putranya.
“Hai, Sayang. Sudah mandi?” Sari langsung mengangkat Melvin dari stroler itu.
“Belum, Bu. Den Melvin baru saja selesai sarapan.”
“Sudah makan ya, wah.. habis makanannya. Makin embul kamu.” Ucap Sari pada putranya, sambil mengusel ke perut bulat Melvin.
“Ma..ma..” Melvin tertawa, karena geli.
“Hai, Mat.” Sapa Sari pada adik suaminya.
“Hai.” Jawab Mat tersenyum pada kakak iparnya.
“Baiklah, aku mandikan Melvin. Silahkan kalian berbincang lagi.” Kata Sari dengan menggunakan bahasa Inggris.
“Aku tidak bisa berbicara dengannya.” Mat melirik ke arah Nina.
“Dia tidak mengerti bahasaku dan aku tidak mengerti bahasanya.” Mat berkata lagi pada Sari.
Sari hanya tersenyum sambil menggendong Melvin.
__ADS_1
“Kalau begitu belajarlah bahasa Indonesia, Mat.” Jawab Sari.
“Ajari aku, Sari!” Rengek Mat.
“Minta izin dulu pada kakakmu.” Ucap Sari tersenyum , lalu pergi meninggalkan Mat dan Nina yang masih duduk berdua di taman itu.
Sari memasuki kamarnya dan meletakkan Melvin di atas temapt tidur. Ia menyiapkan air hangat untuk putranya mandi. Sedangkan, Melvin yang semakin aktif itu pun merangkak menghampiri sang ayah yang masih terlelap di sana. Melvin meraba wajah sang ayah, hingga David terusik dan membuka matanya.
Sari keluar dari kamar mandi dan melihat suami dan anaknya sedang tertawa.
“Mas, kita pulang lusa?” Tanya Sari.
“Iya, tapi hari ini, kita ke dokter dulu. Kamu harus periksa dia.” David mengelus perut rata istrinya.
Melvin pun mengikuti sang ayah. ia ikut memegang perut ibunya.
“Ada dede di sini ya, sayang.”
“Ye....” Tawa riang Melvin sambil bertepuk tangan.
Sari dan David ikut tertawa melihat ekspresi Melvin yang sok tahu.
“Kita akan melakukan perjalanan panjang, makanya kiat periksa dulu dan meminta saran dokter untuk kenyamanan kamu selama di perjalanan nanti.” Kata David lagi.
Sari mengangguk.
“Siap, Papa.” Sari mengangkat kelima jarinya dan di tempelkan ke keningnya.
“Yaap, Pa...pa.” Melvin pun mengikuti gerakan sang ibu.
David dan Sari kembali tertawa. Pria bule itu sangat bahagia. Ia memeluk Sari dan Melvin ke dada bidangnya yang lebar, lalu mengecup kening mereka.
“Kalian adalah hidupku. Di tambah ini.” Arah mata David tertuju pada perut Sari.
“Ya, alhamdulillah.” Jawab David dengan mengecup kening istrinya lagi.
****
Dua hari kemudian, Sari dan keluarganya bersiap untuk kembali ke tanah air. Ratih tengah repot mengemasi semua barang-barang untuk di masukkan ke kopernya.
“Bu, ini kenapa ada garpu dan sendok di sini. Ada pisau juga lagi?” Tanya Teguh.
“Ini pisaunya bagus, Yah. Sedok garpu nya juga unik banget.”
“Ya, ampun, Bu. Nanti di bandara, ibu kena tangkap lo karena bawa senjata tajam, lagian logam seperti ini ndak akan lolos saat boarding.” Ucap Teguh memperingatkan istrinya.
“Moso, Yah.” Ratih masih ngeyel.
“Beneran, Bu.” Lalu, Teguh mengeluarkan benda itu lagi dari koper.
“Yah, Yah. Ini bagus, ibu mau bawa pulang.”
“Apa sih, Bu?” Tanya Sari mendekati orang tuanya yang sedang berdebat.
Lalu, Teguh menceritakan kelakuan istrinya.
“Ayah benar, Bu. Ibu nanti malah di tangkap loh.” Kata Sari, membuat Ratih ciut.
“Yo wis lah kalau begitu.” Ratih pun menyerah.
“Di sana juga ada kok, Bu. Nanti Sari beliin deh yang sama persis seperti ini kalau memang ibu suka.” Kata Sari lagi.
“Bener ya, Nduk.” Ratih memeluk putrinya.
Di dapur, Samuel masih bersma Elvira.
__ADS_1
“El, aku menunggu jawabanmu. Hingga kau ingin pergi lagi, kau belum juga memberi jawaban.” Kata Sam.
“Kita berbeda keyakinan, Sam. Dulu waktu aku menikah dengan Jason, kami terpaksa menikah dengan berbeda keyakinan karena sudah ada David di perutku dan ibumu tidak menyukaiku.”
“Tapi sekarang tidak ada lagi keluargaku yang tidak menyukaimu.” Jawab Sam.
Elvira tersenyum, karena memang saat ini Sam tinggallah seorang diri.
“Aku tidak ingin kamu mengikuti keyakinanku hanya karena kita ingin bersama.”
“Kenapa tidak? Aku sudah sedikit belajar tentang keyakinanmu di sini.”
“Sudahlah, Sam.” Elvira ingin pergi dari hadapan pria itu, tapi tangannya di cekal.
“El.” Wajah Sam terlihat sedih dengan suara yang lirih.
“Bagaimana jika aku siap untuk pindah mengikuti keyakinanmu dan kamu pindah tinggal di sini?”
Elvira terdiam.
“Itu juga masalahnya, aku punya panti asuhan di sana. aku tidak akan bisa tinggal bersamamu di sini.”
“Tega sekali kau, El.”
“Cinta memang tidak harus memiliki, Sam. Banyak perbedaan di antara kita.” Kata Elvira.
“Tapi putramu bisa, David juga awalnya berbeda dengan istrinya, tapi cinta menyatukan mereka.”
“Itu takdir, Sam.”
“Dan, aku percaya takdir, El.” Kata Sam lirih.
Elvira menghempaskan nafasnya kasar.
“Aku juga mengikuti alur hidup yang sudah Tuhan gariskan padaku, Sam.” Elvira tersenyum, lalu meninggalkan Sam yang masih berdiri di sana.
"Aku juga. Tapi kali ini aku tidak akan diam saja. aku akan menjemput takdirku. Tunggu aku di sana. El." Gumam Sam, melihat Elvira yang lama-lama menghilang dari hadapannya.
Beberapa jam kemudian, George dan Samuel pun mengantar David, Sari dan keluarganya ke bandara. Walau mereka menggunakan jet pribadi, tapi tetap harus melewati rangkaian pemeriksaan. Sari pun di perbolehkan melakukan perjalanan panjang dengan tetap istirahat yang cukup dan tidak membuatnya lelah.
Kali ini David harus menahan hasratnya, karena menurut dokter usia kandungan Sari masih terlalu dini dan akan lebih baik jika tidak berhubungan beberapa minggu ke depan.
Sesampainya di bandara internsional di kota London. George dan Sam memeluk David. Semua anggota keluarga sari pun menyalami George dan Samuel bergantian.
“Lain waktu datanglah ke sini lagi, Dav.” Ucap Sam.
“Tentu, paman.”
“Ya, aku juga senang sekali melihat kediaman Osborne ramai.” Sahut George.
“Tunggu..” Tiba-tiba suara Mat dari kejauhan terdengar.
Mat tampak terengah-engah berlari menghampiri David dan keluarganya. Ia memeluk sang kakak, begitu pun David. Ia juga memeluk tubuh sang adik.
“Bolehkah lain waktu aku mampir ke tempatmu, Kak?” Tanya Mat.
“Tentu saja.” Jawab David tersenyum.
Lalu, Mat juga menghampiri Nina, setelah bersalaman pada keluarga Sari yang lainnya.
“Pertemuan kedua kita nanti, aku pastikan aku sudah bisa bahasamu, supaya kita tidak menggunakan bahasa tubuh lagi.” Ucap Mat pada Nina yang hanya tersenyum saja.
“Sampai jumpa lagi.” Mat mengedipkan satu matanya pada Nina.
Ardi yang melihat itu, menjadi kesal. Entah mengapa ia tak rela jika Nina di dekati Mat, padahal ia sendiri sudah memiliki kekasih. Mungkin karena Nina sudah dianggap seperti adik baginya atau memang Ardi memiliki perasaan lain, perasaan seorang lelaki kepada perempuannya. Entahlah, ia masih tak mengerti.
__ADS_1