Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
setiap manusia pernah berbuat salah


__ADS_3

David menepati janjinya. Malam tadi ia hanya melakukannya satu kali, tidak seperti biasa yang selalu melakukan berkali-kali, hingga Sari tak berdaya. Namun, kali ini ia tak memaksa.


Kedua mata Sari, tiba-tiba mengerjap dan terbuka. Ia tertidur di dada terbuka suaminya dengan posisi wajah yang menempel pada bagian dada yang tercetak gambar berwarna hitam. Bagian tubuh ini yang Sari ingat saat David memperkosanya pada malam itu. Cetak tato yang terlihat jelas menghiasi dada bidang pria bertubuh tinggi tegap itu sekarang adalah suaminya.


Sari menyentuh gambar itu dengan jari telunjuknya, membuat si empunya bergerak. Biasanya David akan bangun lebih dulu, tapi tidak untuk hari ini.


David bergerak dan mengeratkan pelukannya, membuat Sari menoleh ke wajahnya.


“Kamu sudah bangun?” Tanya Sari lembut.


“Maaf aku terlambat bangun dan belum membuatkanmu susu.” Ucap David yang masih berbaring.


“Tidak apa, terlewat satu hari tidak minum susu tidak masalah bukan?” Sari tersenyum menyeringai.


David ikut tersenyum. Sari seperti anak kecil yang kegirangan karena boleh bolos sekolah.


“Tidak boleh, harus tetap minum susu. Nanti aku buatkan.”


Sari kembali menidurkan kepalanya di dada itu.


“Apa membuat ini tidak sakit?” Sari masih memutar bagian yang tercetak gambar di dada itu dengan jari telunjuknya.


“Tidak.”


“Membuat ini bukannya pakai jarum?” Tanya Sari polos.


David tersenyum dan mengangguk.


“Terkena jarum saja sakit, apalagi hingga sepanjang ini.” Sari masih menelusuri gambar itu dengan telujuknya.


“Di negaramu membuat ini pasti sudah biasa.” Kata Sari lagi.


David mengangguk. “Tapi ini aku buat bukan di negaraku.”


“Di mana?” Tanya Sari antusias.


“Selandia baru.”


“Ini sama seperti miliknya Pak Rio, suami Miss Inka. Kalian membuatnya bersama?”

__ADS_1


“Kamu pernah melihat dada Mario?” Tanya David kesal.


“Hmm.. tidak sengaja.”


David sedikit bangkit dan menatap lekat wajah Sari.


“Kamu pernah liat bagian apa saja dari Mario?”


Sari langsung menggeleng.


“Tidak, hanya itu saja, karena waktu itu aku tidak sengaja memergoki mereka yang sedang bercumbu di ruang Miss Inka, lalu kemeja Pak Rio sedikit terbuka.”


“Oh.” David kembali mengendurka tubuhnya.


“Iya, kami membuat ini bersama saat di Selandia Baru bersama teman yang lain.” Ucap David lagi.


Mereka kembali terdiam. Tangan David terus mengelus rambut Sari.


“Mas..” Panggil Sari.


“Hmm..”


“Boleh aku tanya sesuatu?” Sari mendekatkan wajahnya pada David. Dadanya yang polos menempel pada dada David yang bidang.


“Aku belum pernah bertemu keluargamu. Apa mereka semua ada di Inggris?”


Deg.


David terkejut dengan pertanyaan Sari, walau memang seharusnya Sari mengetahui semua tentang dirinya. Namun, David masih belum siap untuk menceritakan ibunya.


"Di London, kerabatku hanya satu, namanya Samuel. aku biasa memanggilnya Uncle Sam. Dia adik ayahku."


Sari memandang lekat wajah David dengan serius.


"Ayah dan nenekku meninggal pada kecelakaan tunggal delapan tahun yang lalu."


"ibumu? atau saudaramu yang lain?" Tanya Sari.


"Aku anak tunggal. Ibuku, hmm.. Dia pergi dengan pria selingkuhannya saat aku berusia sepuluh tahun."

__ADS_1


"Lalu, apa dia masih hidup? Tinggal di mana ibumu sekarang?" Tanya Sari lagi.


Ia penasaran dengan ibu mertuanya, karena ia ingat saat malam kejadian naas itu, Sari sempat menyebut 'ibumu' pada David, lalu pria itu langsung kesal dan menghujamnya semakin keras.


David menggeleng. "Aku tidak tahu di mana dia sekarang."


"Tidak berusaha untuk mencarinya?"


"Untuk apa?"


"Ya, bagaimana pun dia ibumu, yang melahirkanmu. apapun kesalahannya, kita sebagai anak tetap harus memaafkan."


David menatap tajam istrinya.


"Dia tidak pantas mendapatkan maaf." Ucap David dengan rahang mengeras kala ingat masa kecilnya.


"Tidak bisa menjudge seseorang seperti itu. setiap manusia pasti pernah berbuat salah. Contohnya kamu, kamu juga pernah berbuat kesalahan besar padaku, tapi aku maafkan." Kata Sari dengan posisi tengkurap di dada David sambil memandang wajah suaminya.


Sedangkan David berbaring terlentang, membiarkan dadanya menjadi sandaran Sari.


David mengeryitkan dahinya.


Cup


David langsung ******* bibir Sari tanpa aba-aba. Ia memangutnya dengan menuntut. Sari berusaha memundurkan tubuhnya, agar pangutan itu terlepas. Namun, David menahan tengkuk Sari dan satu tangannya lagi, menahan pinggangnya. David terus memangut bibir itu tanpa jeda.


"Hmm..." Sari yang mulai kehabisan oksigen, memukul dada David.


Lalu, pria itu melepaskan pangutannya.


"Ih, menyebalkan." Sari kembali memukul dada bidang David.


"Kamu banyak bicara."


Sari bangkit, kemudian duduk. Sementara David masih berbaring. Jari telunjuk David menyentuh bagian belakang tubuh Sari yang polos.


Sari menoleh dengan mengerucutkan bibirnya.


"Kamu semakin cantik, jika marah." Kata David menyeringai, dengan tangan yang masih mengelus bagian belakang tubuh istrinya.

__ADS_1


Lalu, David ikut bangkit dan duduk bersejajar dengan Sari. Ia menyingkap rambut Sari dan menelusuri lagi bagian leher jenjangnya itu.


"Aku ingin lagi." Bisik David di telinga Sari.


__ADS_2